
"Apa saja yang kau lakukan selain belanja?" Austin memulai percakapan sementara Isabell mempersiapkan piring untuknya, menatap makanan yang sudah disediakan pelayan. Benar-benar tipikal istri idaman.
"Aku pergi menonton," Isabel menarik selembar tisu untuk memberihkan sendok yang akan digunakan Austin.
Austin memperhatikan semua yang dilakukan gadis itu. Tidak perlu waktu lama untuk bisa menebak kesukaan Isabell. Isabell gadis feminin yang menyukai segala sesuatu yang hangat.
"Menonton? Kau suka menonton?"
"Aku tidak membencinya."
Austin menyimpulkan bahwa Isabell tidak terlalu suka menonton. Austin menebak jika Isabell melakukannya karena sedang bosan, sekedar untuk mengisi waktu luang.
"Aku tidak tahu makanan apa yang ingin kau nikmati."
"Duduklah. Aku akan mengambilnya sendiri," Austin menarik kursi yang ada di sebelahnya. Saat Isabell duduk, aroma segar tercium dengan samar. Austin berdehem. Jiwa kelakiannya selalu cepat bereaksi setiap mencium aroma kefemininan.
"Jadi film apa yang kau tonton?"
"Aku tidak tahu judulnya. Kebetulan film itu yang diputar saat aku ada di sana. Aku juga tidak tahu film tersebut menceritakan tentang apa. Aku ketiduran."
Tebakan Austin tidak meleset sama sekali. Isabell memilih menonton hanya ingin menghabiskan waktu luang.
"Kau membuang-buang uang saudaramu lagi untuk selembar tiket yang tidak kau nikmati."
"Aku menggunakan uangku," Isabell membela diri. Austin tertawa melihat reaksi gadis itu.
"Ceritakan kepadaku apa yang kau sukai?" Austin mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Setidaknya aku harus tahu tentang apa yang disukai kekasihku."
Wajah Isabell merona seketika. Darahnya berdesir hebat dan tubuhnya seolah terbakar. Tidak ada yang salah dengan ucapan Austin. Pria itu tidak sedang membual dengan menyebutnya kekasih. Saat menuju pulang, mereka memang resmi menjalin hubungan. Keduanya sepakat untuk menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih sebelum melanjutkan pertunangan mereka.
Jika hubungan mereka berjalan dengan baik, mereka akan memenuhi keinginan keluarga. Bertunangan.
"Menonton atau membaca?" Austin melihat Isabell mengalami kebingungan jika diminta menceritakan tentang apa yang ia sukai.
"Membaca. Aku sering menghabiskan soreku di perpustakaan istana."
Austin mengangguk, "Lain kali kita akan pergi ke Morgan Library. Tapi aku tidak terlalu suka membaca, aku lebih suka menonton. Action adalah favoritku," aku Austin dengan jujur.
Austin teman mengobrol yang sangat baik. Pria itu mampu mencairkan suasana dan menghilangkan jarak serta kekakuan yang ada. Austin bertanya tentang apa yang disukai Isabell, tapi pria itu juga membeberkan apa yang ia sukai agar Isabell tahu. Karena ia yakin, Isabell tidak akan bertanya apa yang ia sukai. Terbukti saat Isabell berhenti melayaninya saat hendak mengambil makanan. Isabell lebih memilih memperhatikan daripada bertanya. Dan tentang kopi yang ia sukai dan omellet yang Darren sukai, Isabell mengetahuinya dari hasil pengamatannya selama tinggal di sini. Isabell memperhatikan segala sesuatunya, bukan bertanya kepada ibunya.
"Action?" Isabell menggigit bibirnya, terlihat gelisah.
"Apa kau akan memaksaku menyukai buku yang sedang kau baca?" tanya Austin kemudian.
Isabell menggeleng, mana berani dia melakukan hal itu. Bisa-bisa Austin bosan dengannya. Seleranya juga bukan novel true love yang bisa menciptakan keromantisan diantara suatu hubungan. Dia menyukai bacaan sejarah dan juga cerita dongeng seorang putri raja yang selalu berakhir happy ending. Ia berharap memiliki akhir yang sama suatu hari nanti.
"Kalau begitu aku juga tidak akan melakukan yang sama. Kau tidak harus menyukai apa yang kusukai."
Aiih! Bagaimana Isabell tidak semakin jatuh hati pada Austin. Pria itu benar-benar sangat perhatian juga pengertian.
"Cokelat atau vanilla?" Austin kembali bertanya.
"Vanilla."
"Akan kuingat. Kau alergi cokelat?"
"Tidak."
"Aku tidak menyukai sesuatu yang manis tapi aku juga tidak akan mati jika menikmatinya. Aku suka pedas."
Isabell merekam semua apa yang sedang mereka bicarakan. Kesukaan Austin, ia harus mengingatnya. Isabell bahkan berjanji dalam hatinya bahwa ia akan belajar menyukai apa yang menjadi minat pria itu, kecuali film action tentunya. Ia benar-benar tidak menyukainya.
"Laut, gunung?"
"Aku menyukai keduanya.".
Berkencan? Ah, kata yang begitu familiar tetapi bagi Isabell seperti kata keramat. Ia belum pernah berkencan seumur hidupnya. Austin adalah pria yang ia sukai sejak lama dan pria itu juga lah yang menjadi kekasihnya sekarang dan Austin baru saja mengajaknya berkencan. Tidak ada alasan baginya untuk menolak.
"Apakah diantara barang-barang yang kau belanjakan tadi kau membeli bikini?"
Dan kefrontalan pria ini selalu mampu membuat Isabell salah tingkah.
"Sepertinya tidak," tebak Austin.
"Apakah aku perlu membelinya?"
"Jika kita ke pantai, tentu saja kau memerlukan bikini. Nanti kau bisa memeriksanya ke kamar Lexi. Mungkin saja ada bikininya yang cocok untukmu. Tapi jika kau tidak nyaman memakai barang milik orang lain, kita bisa membelinya."
"Kau suka balap liar?"
"Aku pernah melihatnya beberapa kali," bohong Isabell. Gadis itu tahu bahwa Austin sangat menyukai balap liar.
"Dalam minggu ini aku akan bertanding, apakah kau mau ikut denganku?"
Lagi dan lagi, Isabell tidak akan menolak kesempatan ini. Ia menyukai keliaran Austin dan ia penasaran seperti apa pergaulan pria itu. Dan untuk mengetahui itu semua, ia harus terjun ke dunia Austin agar bisa mengenal pria itu lebih dekat. Ia menyukai kebebasan Austin dalam menikmati dan menjalani hidup. Austin melakukan segela sesuatu yang membuatnya senang tanpa meminta pendapat orang lain atau memikirkan pendapat orang lain tentangnya. Hidupnya adalah miliknya. Austin pernah mengatakan seperti itu kepadanya dan Isabell menyukai motto pria itu. Tidak ada yang berhak mengekang atau pun mengatur hidupnya.
"Aku memiliki banyak teman wanita."
Isabell terdiam. Butuh waktu untuk mencerna ucapan Austin. Apakah itu pemberitahuan atau penegasan atau justru sebuah peringatan agar Isabell mempersiapkan diri.
"Para wanita yang liar dan sebagian tergila-gila kepadaku."
Dan akhirnya Isabell sampai pada kesimpulan bahwa Austin sengaja memberi tahunya dengan jelas sebagai sebuah bentuk peringatan. Poin penting yang harus Isabell ingat adalah Austin tidak suka diatur! Pria itu memiliki aturan tersendiri dalam hidupnya.
"Siapa yang tergila-gila padamu?"
Suara Darren menarik perhatian keduanya. Pria itu melintasi ruangan, menarik kursi yang berseberangan dengan Austin dan Isabell.
"Para wanita di luar sana," Austin menjawab dengan penuh percaya diri. "Aku mengajak Isabell untuk menonton pertandinganku beberapa hari lagi."
"Kudengar lawanmu kali ini juga tangguh."
"Itulah yang kudengar."
"Kudengar mereka juga memiliki kelompok. Street gang. Kau pernah mendengarnya?"
Austin tampak berpikir, di detik 15, pria itu menggeleng. "Aku akan bertanya pada Beth."
"Beth ikut bertanding?"
"Tidak. Dia hanya akan menjadi penonton. Pergilah ke kamarmu. Mungkin kau akan bosan mendengar percakapan kami." Austin menatap Isabell.
"Aku akan membersihkan piringnya terlebih dahulu. Apakah kau ingin makan?" Isabell bertanya kepada Darren.
"Tidak," sahut Darren dengan singkat.
Pun Isabell segera berdiri, membawa piring kotor Austin untuk ia cuci. Beberapa saat kemudian, Isabell kembali ke meja. Kedua bersaudara itu menatapnya dan tatapan Isabell tertuju pada Austin, pria yang sudah menjadi kekasihnya hari ini.
"Aku akan kembali ke kamar."
"Hmm, istirahatlah. Kita akan melalui hari yang melelahkan besok. Jika kau tidak memiliki sun block, kau bisa mencarinya di kamar Lexi. Jika tidak, tuliskan di dalam daftar yang kita belanjakan esok hari."
"Aku akan ke kamar Lexi sebelum ke kamarku," pamit gadis itu.
"Kau mau ke pantai?" Darren bertanya setelah Isabell sudah tidak terlihat.
"Kau mau ikut bergabung? Besok adalah akhir pekan. Isabell sudah berbulan-bulan di sini dan kita belum pernah mengajaknya bermain."
"Aku akan memikirkannya malam ini."