H.U.R.T

H.U.R.T
Ada Yang Salah



Untuk berpura-pura buta dan tuli ternyata sangat lah susah. Di luar kendalinya, Darren justru menajamkan pendengaran, mencuri dengar apa yang sedang Austin dan Isabell bahas. Hanya percakapan ringan dan santai, tapi Darren benar-benar terusik. Bukan main gilanya, ia mengakui hal itu. Tidak ada kata yang lebih pantas untuk disematkan padanya selain kata gila.


Sesekali Austin melemparkan lelucon yang mengundang tawa Isabell dan disaat mendengar tawa tertahan gadis itu, Darren tergoda untuk melirik.


Dahinya mengernyit melihat tawa Isabell yang begitu lepas. Seingatnya, Isabell adalah pelakon yang buruk. Tapi kali ini, Darren melihat bahwa Isabell benar-benar menikmati lelucon yang dilontarkan Austin. Manik gadis itu bahkan mengeluarkan air mata, tangannya memukul-mukul lengan Austin, memberi isyarat pada pria itu agar menghentikan leluconnya. Sejak kapan Isabell begitu bebas dengan Austin, pria yang selama ini selalu membuatnya salah tingkah.


Sikap dan gestur tubuh Isabell tidak sedang berpura-pura. Isabell tidak sedang berlakon. Gadis itu menikmati saat-saat bersama Austin. Laut dan insiden benar-benar membawa perubahan luar biasa untuk keduanya. Jika ditanya pendapatnya tentang perkembangan hubungan Austin dan Isabell, Darren mengakui ia akan kesulitan untuk memberikan jawaban. Apakah ia merasa senang untuk hubungan keduanya atau ia harus bersedih untuk dirinya.


Tidak ingin repot-repot memikirkan jawabannya, Darren kembali menatap Isabell dari balik kelopak matanya yang lebat. Isabell masih tertawa. Tidak ada yang salah dengan tawa Isabell, karena selama ini gadis itu memang senantiasa tertawa dan tersenyum, menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Satu-satunya yang tidak bisa Isabell sembunyikan adalah perasaannya pada Austin. Darren berani bertaruh bahwa semua tahu jika Isabell sejak remaja sudah menyukai Austin, dan Austin bukan pria tampan yang lugu, ia lebih tahu daripada siapa pun. Pertumbuhan adiknya itu seiring dengan kenakalannya bergaul dengan wanita. Austin pakar dalam hal wanita.


Pertanyaannya, apakah Isabell dalam waktu singkat berhasil membuat Austin menyadari kecantikan tersembunyi di balik kaca mata tebal dan gigi berpagar itu?


Kecantikan murni yang belum tersentuh. Begitulah Darren menggambarkan sosok Isabell.


"Jadi katakan, Isabell, kenapa Superman selalu mengenakan pakaian dengan huruf S?"


Isabell tampak berpikir. Terlihat sangat berusaha keras. Karena sebelumnya Austin melontarkan teka teki dengan jawaban tidak terduga. Terakhir, Austin bertanya tentang rumah tangga seperti apa yang terlihat indah dan Isabell menggeleng, menyerah karena tidak tahu jawabannya setelah sebelumya Isabell mencoba menjawab rumah tangga yang di dalamnya ada cinta dan kasih sayang. Ya, jawaban polos yang sangat klasik. Lalu Austin menjawab dengan lempeng, rumah tangga yang indah adalah rumah tangga kita kelak. Wajah Isabell bersemu merah, tersipu malu. Darren berani bersumpah bahwa jantung gadis itu sudah melompat-lompat bersalto ria di dalam sana.


Austin ahli memainkan semua yang ada di dalam dirinya untuk menaklukkan seorang wanita. Tangannya lihai memanjakan dan memberikan apa yang para gadis inginkan. Mulutnya terlatih melontarkan kalimat-kalimat manis memabukkan dan terkadang mengandung racun mematikan. Untuk gadis polos seperti Isabell, Austin tidak perlu mengerahkan semua keahliannya karena yang Darren perhatikan sebuah teka teki konyol pun berhasil membuat gadis itu tersipu, layaknya kucing persia betina yang bertemu dengan kucing jantan liar yang sangar.


Beberapa teka teki yang dilontarkan Austin, Isabell tidak mampu menjawabnya dengan benar. Apakah kali ini Isabell bisa memberikan jawaban? Darren tidak yakin.


"Kau menyukai mobil balap, bukan? Aku akan membiarkanmu mengemudikan mobilku jika kau berhasil menebak."


Darren cukup terkejut dengan hobi yang dimiliki gadis itu.


Kecantikan yang tersembunyi ternyata menyembunyikan keliaran rupanya. Darren membatin.


Mendengar Austin mengetahui apa yang disukai Isabell, Darren kembali membuat kesimpulan bahwa sepertinya Austin memang sudah tertarik dengan Isabell. Selama ini, Darren mengira Austin tidak akan pernah tertarik pada gadis seperti Isabell. Tapi sepertinya ia salah.


"Benarkah?" Manik kelabu itu berbinar-binar di balik kacamata itu. Astaga! Darren bisa melihatnya, bahkan dari jarak yang bisa dikatakan jauh dalam posisi berbaring.


"Aku tidak pernah berbohong."


Hampir-hampir Darren mengeluarkan decakan mencemooh. Berbohong adalah keahlian semua insan. Darren meyakini bahwa semua manusia yang hidup di zaman ini pernah berbohong walau hanya satu kali. Dan Austin mengatakan tidak pernah berbohong, heh?


Darren berhasil menahan diri untuk tidak melontarkan sindiran kepada adiknya. Jika ia membuka suara, ia akan ketahuan bahwa sejak tadi ia mengawasi interaksi keduanya. Itu akan sangat memalukan. Isabell akan memandangnya dengan sorot mata menuduh yang seolah mengatakan, hei penguping, sopankah tindakanmu ini?


Tetapi Darren berani bertaruh mengorbankan 50 persen sahamnya bahwa Isabell mempercayai apa yang dikatakan Austin tentang kebohongan yang tidak pernah pria itu lakukan.


"Disaat kau mengatakan seperti itu, kau sudah berbohong, Aus." Jawaban Isabell di luar dugaan. Darren refleks mengucap syukur kepada Tuhan karena tidak ada lawan yang diajaknya untuk bertaruh. 50 persen sahamnya masih aman.


Austin tergelak, "Terkadang kepintaranmu tidak terduga," Austin mengacak gemas rambut Isabell yang digulung sehingga membuat beberapa helai rambut lepas dari ikatannya.


"Untukmu, aku tidak berbohong. Kau akan menunggangi mobilku. Berpacu dengan angin."


"Aku tidak sabar."


"Berikan jawaban yang benar kalau begitu, Darling. Hanya satu kali kesempatan."


"Hm, mungkin ukuran M atau XL kebesaran."


"Wow!! Kau menjawabnya dengan benar!" Austin berseru tanpa menyembunyikan kekagetannya. Tadinya Austin mengira jika Isabell akan menjawab jika bukan S bukan Superman namanya.


"Benarkah?" Isabell tidak kalah terkejut. Ia hanya menjawab asal. Gadis itu berdiri kembali bertanya pada Austin apa jawaban yang ia berikan sungguh benar. Austin menganggukkan kepala. Isabell melompat-lompat kegirangan.


Darren tidak menyangka gadis yang terlihat seperti kelici itu mampu meliuk-liukkan mobil balap dengan kecepatan tinggi. Sial! Fantasinya langsung beraksi membayangkan rambut panjang itu tergerai dengan bebas dan menari-nari di udara diterpa hembusan angin yang dengan lancang mencuri aroma rambut tersebut dan memainkannya.


Ya ampun, aku benar-benar pria brengsek yang serakah.


Di sisa-sisa kewarasannya, Darren memberikan makian berupa peringatan kepada dirinya yang seolah haus akan wanita bernama Isabell.


Ya.Ya. kehausan ini, dia lah penyebabnya! Oh Tuhan. Ini memalukan.


Darren mengusap wajahnya dengan tangannya yang terbebas dari infus dan sialnya merupakan tangan yang terluka. Umpatan kasar meluncur mulus dari mulutnya. Austin dan Isabell kompak menoleh. Isabell menunjukkan ekspresi bingung dan kaget. Mimik yang selalu ia tunjukkan saat bertatapan dengan Darren. Sementara Austin hanya menukik alisnya dengan geli.


"Sepertinya luka itu membawa banyak masalah padamu," selorohnya tanpa menunjukkan keprihatinan seolah bukan lagi dirinya yang terlihat sangat frustasi saat Darren dilarikan ke rumah sakit.


"Sangat," Darren menjawab singkat.


"Butuh bantuan?"


"Aku ingin duduk, punggungku terasa panas."


Austin segera mendekati ranjang dan mengatur posisi ranjang.


"Terima kasih,"


"Tidak usah sungkan."


"Ini membosankan."


"Ya, aku merasakannya."


"Pergilah keluar, bawa Isabell dari sini." Karena aku sudah tidak tahan melihat tingkah kalian berdua. Aku tidak ingin terlihat lebih konyol lagi dari ini.


"Kau yakin?"


"Hmm.''


"Hubungi aku."


"Ya."


Keduanya pun segera keluar dari ruangan. Begitu ia sendirian di sana, ia menemukan dirinya semakin resah dan cemas. Tidak ada yang bisa ia lihat. Tidak ada yang menarik di kamar rumah sakit. Semuanya terasa hampa dan sepi. Seperti hatinya yang kosong. Sekalinya memiliki penghuni, hanya sebatas lewat saja kerena penghuninya sudah ada yang memiliki.


Darren menekan bel, ia membutuhkan obat tidur juga obat penghilang rasa sakit. Tidur adalah satu-satunya yang ia butuhkan saat ini. Ia berharap begitu ia bangun, ia sudah tidak berada di kamar rumah sakit. Ck! Luka ini membuatnya terlihat lemah. Ia akan mengurus kepulangannya. Setelah ia bangun.


"Aku akan memasukkan obatnya, Mr. Willson."


"Ya, silakan. Berikan aku obat yang bisa membuatku tidur dengan segera."


"Obat ini akan membuatmu tidur. Kau hanya perlu menunggu beberapa saat, Mr. Willson."


"Aku ingin pulang nanti malam. Tolong minta bagian administrasi mengurus semuanya."


Perawat itu tampak bingung. Willson yang satu ini memang sedikit aneh. Selain sikapnya yang kaku dan dingin, pria itu juga suka mengambil keputusan sendiri tanpa berunding.


"Anda tidak bisa ...''


"Pasien menolak dirawat di rumah sakit. Kami memiliki rumah sakit sendiri dan aku ingin dipindahkan ke sana."


Dan terkadang sombong. Ya, Willson Hospital, milik kakeknya. Tidak ada yang tidak mengenal hospital tersebut. Selain sejarahnya yang cukup unik hingga rumah sakit itu menjadi milik Willson, hospital tersebut juga terkenal dengan para dokter yang ahli dalam bidangnya serta memberi pengobatan gratis bagi mereka yang tidak mampu.


"Baik, saya akan mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada dokter yang menangani Anda sebelum meminta pihak administrasi mengurus semuanya."


"Lakukan dengan cepat."


Juga tidak sabaran, perawat itu membatin.


___


"Jossie dan anak-anaknya tadi datang menjenguk saudaramu."


Austin dan Isabell memilih untuk bersantai di coffee shop yang berseberangan dengan rumah sakit. Austin memesan beberapa cake dan juga minuman segar.


"Oh yeah?" Austin menyeruput minumannya, menanggapi dengan malas.


"Ya."


"Hmm, apa yang mereka bicarakan?"


"Aku tidak terlalu memperhatikannya."


"Isabell...''


"Ya."


"Ceritakan padaku tentang masa kecilmu." Austin memiliki alasan kenapa membawa Isabell keluar. Ia ingin menyelidiki gadis itu. Seperti yang dikatakan Steve, memperkecil dugaan dengan menghilangkan Jossie dan anak-anaknya.


Austin tidak bisa menunggu dan mencari asal-usul Isabell melalui orang terdekat gadis itu. Austin juga tidak suka membuang-buang waktu, jika bisa bertanya langsung kepada objeknya kenapa harus mempersulit diri dengan mencari informasi ke sana kemari.


Penembakan ini tidak bisa Austin abaikan begitu saja. Ia merasa tertantang juga terhina. Diserang secara diam-diam, heh? Ia ingin bertarung secara terang-terangan.


"Tidak ada yang menarik."


"Aku akan mendengarkan."


"Kenapa tiba-tiba sekali."


"Karena sebentar lagi kita akan menjadi keluarga."


"Aku juga tidak yakin."


Alis Austin menukik bingung, "Tidak yakin?"


"Aku tidak yakin mengingat semuanya. Dan mungkin aku memang tidak ingin mengingatnya."


"Aku tidak mengerti."


"Seperti yang kau tahu, aku adalah putri dari Philip Geonandes dari wanita simpanannya. Alasan yang membuat permaisuri begitu membenciku. Aku tidak menyalahkan ibu, reaksinya itu sesuatu yang sangat wajar."


"Apa kau ingat, kapan tepatnya kau dibawa ke Istana?"


"Saat usiaku 5 atau mungkin 6 tahun. Ya, kira-kira seperti itu."


"Siapa yang membawamu?"


"Salah satu pengawal, mungkin."


"Mungkin?"


"Aku tidak mengingatnya dengan jelas. Mungkin juga ayah yang membawaku."


"Apa yang kau ingat?"


Aku dihukum di toilet, di ruangan sempit dalam keadaan gelap. Tatapan permaisuri yang penuh dengan kebencian.


"Apa yang kuingat? Aku sering bermain game bersama Harry. Ambisiku di balik setir kemudi terlatih saat aku dan Harry bermain game."


"Bagaimana dengan Ibumu, Isabell. Siapa nama ibumu?"


Isabell tampak mengerutkan hidungnya. Di sana, Austin mulai merasa ada yang salah dengan Isabell.


"Ibuku?"


"Ya, Ibumu. Siapa nama ibu yang melahirkanmu?"


Isabell tersentak, terkejut dengan pertanyaan tersebut, mendadak gugup, wajahnya pucat pasi, bibirnya gemetar.


"Ada yang salah di sini," Austin bergumam.


Sepertinya Steve benar, Isabell ada hubungannya dengan Bartoli.