H.U.R.T

H.U.R.T
Aku Oke?



Harry dengan beberapa pengawal mengunjungi desa lain. Menyebarkan foto Lexi sebanyak mungkin. Tidak satu pun dari warga mengaku pernah melihat Lexi.


Harry menyugar rambutnya, benar-benar merasa sangat frustasi. Sudah empat bulan berlalu dan dia belum menemukan setitik harapan sama sekali. Ia bahkan sudah membayar penyelam handal untuk kembali memeriksa ke sepanjang sungai. Bahkan sekedar jejak yang menunjukkan bahwa Lexi pernah tenggelam di sana tidak ditemukan. Saat mengangkat mobil yang gadis itu kendarai, tidak ada barang-barang Lexi yang ditemukan di sana. Selain mobil yang digunakan memang mobil Olivia, Lexi memang tidak membawa apa-apa. Hanya mengenakan pakaian juga cincin pernikahan.


"Apa yang harus kulakukan, Lexi?" Ia bertanya pada air yang mengalir dengan tenang, ketenangan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang saat ini dia rasakan.


"Harusnya aku melakukan apa yang dilakukan Steve saat itu," Ia tersenyum getir mengingat bagaimana Steve terjun tanpa berpikir panjang. Dan kini, ia tahu cerita di balik kenekatan yang dilakukan pria bajiingan itu setelah persidangan.


Harry baru mengetahui riwayat hidup Steve, dan menyadari jika Steve adalah pria yang selama ini dikunjungi Lexi di pemakaman.


"Setidaknya dengan terjun bersamamu, aku merasakan apa yang kau rasakan saat itu. Andai, hanya salah satu dari kita yang bisa selamat, tidak akan ada lagi penyesalan bagiku karena setidaknya aku sudah melakukan tugasku sebagai suami." Harry mengambil sebuah batu, melemparnya secara sembarang.


Selama empat bulan ini, hidupnya tidak pernah tenang. Ia dihantui rasa bersalah sehingga menimbulkan kemarahan pada dirinya sendiri. Merasa menjadi pria paling buruk karena tidak bisa melindungi wanita yang baru ia nikahi.


Harry juga mencemooh dirinya saat melihat mobil Lexi terjun bebas yang ia lakukan adalah menatapnya tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.


Dia adalah pria yang dipilih Lexi, pria yang sama dengan dengan pemuda yang mengaku tergila-gila pada Lexi sejak belasan tahun lalu. Apa yang sudah ia lakukan kepada Lexi untuk membuktikan perasaannya tersebut? Seingat Harry, ia tidak melakukan apa pun selain mengutarakan perasaannya dan menunggu dengan manis hingga akhirnya Lexi datang kepadanya, menawarkan pernikahan.


"Harry, ini sudah sore, sebaiknya kita kembali ke hotel."


Harry menarik napas panjang, menengadahkan kepala, melihat langit yang sudah berubah warna.


"Kau seperti senja, terasa menyenangkan namun tak bertahan lama. Senja juga telah mengajarkan apa arti dari mengikhlaskan. Apakah aku harus mengikhlaskanmu, Lexi?"


Perlahan ia beranjak dari tempatnya. Menjauh dari pinggiran sungai menuju mobilnya.


"Ke bar," Ia memberi perintah kepada asisten yang merangkap sebagai sopir juga temannya. Menghilangkan kewarasan dan kesadarannya adalah penghiburan yang ia lakukan untuk melupakan rasa bersalahnya walau hanya sejenak.


"Mr. Geonandes mengatakan...."


"Ayahku tidak akan mengetahuinya jika kau tidak memberitahu, Jeff. Kau sudah memesan hotel?"


"Hotel yang biasa. Adikmu, Isabel juga akan datang dua hari lagi. Dia akan menginap di hotel yang sama. Tepatnya di kamar yang sama. Karena hari itu, kita sudah harus kembali. Ada pekerjaan yang harus kau tangani langsung dan beberapa acara yang menuntut agar kau hadir."


"Bisakah kau bersikap lebih manusiawi, Jeff? Aku masih dalam suasana berkabung dan kau memberikanku begitu banyak pekerjaan, heh?"


"Maafkan aku. Itu adalah tanggungjawabmu. Mr. Geonandes juga tidak ingin kau berlarut-larut dalam kesedihan."


"Tahu apa dia tentang apa yang kurasakan. Menjengkelkan!"


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mobil berhenti di depan sebuah bar yang biasa ia kunjungi.


"Tidak usah mengikutiku, Jeff. Kembali lah ke hotel. Istirahatlah. Austin akan ada di dalam sana."


"Aku harus memastikannya."


"Kau membantah, Jeff?"


"Harry..."


"Tinggalkan mobilnya dan batalkan semua pertemuanku dua hari ke depan. Pesankan satu lagi kamar untuk kutempati. Biarkan Isabel menempati kamar yang biasa. Hubungi Isabel terlebih dahulu, apa kedatangannya sudah pasti."


"Mr. Willson menghubungi...."


"Aku akan mengunjungi mereka besok hari. Pergilah."


____


"Zenia,"


Zenia memperkenalkan diri kepada lima manusia yang merupakan teman saudarinya. Malvyn, Harold, Theodor, Belinda dan Carla. Seperti yang dikatakan Zetta, teman-temannya sangat ramah dan memang sangat oke. Lumayan untuk menyegarkan mata.


"Zetta mungkin akan kembali besok, kuharap kalian tetap bisa menikmati liburan ini. Mari kuantar ke rumah yang akan kalian tempati. Carla dan Belinda, kalian berdua bisa tinggal di rumah bersamaku."


"Terima kasih, Zenia. Kau baik sekali. Aku khawatir jika harus tidur satu atap dengan Theodor. Dia pria yang mengaku menderita sleep walking." Carla berkata yang langsung mendapat pelototan tajam dari pria yang bersangkutan.


"Aku memang menderita gangguan tersebut!"


"Oh yeah?! Aku tidak percaya. Kau hanya beralasan agar bisa masuk ke dalam kamar para wanita. Kau ingin mengintip Belinda, benar 'kan?"


Theodor mengidikkan bahu, "Setidaknya kau tidak melayangkan fitnah yang mengatakan aku ingin mengintipmu, Carla. Tidak ada yang bisa diintip darimu yang serba minimalis." Theodor melayangkan tatapan mengejek yang membuat Carla berang seketika. Ia menerjang pria itu dan Theodor berhasil berkelit dan melarikan diri.


"Lupakan mereka, Jadi mana rumah yang akan kami tempati, Zenia." Malvyn bertanya, pria dengan tinggi yang lumayan. Memiliki iris yang senada dengan air laut. Biru menenangkan.


"Oh, rumah yang di sebelah rumahku," Zenia menunjuk dan membimbing Malvyn, Harold dan Belinda.


"Ada beberapa hal yang ingin kubeli. Di mana aku bisa membeli perlengkapan pria, Zenia?" Malvyn kembali bertanya. Harold dan Belinda sudah bergabung dengan Carla dan Theodor setelah meletakkan barang-barang mereka di rumah.


"Seperti yang kau lihat, aku tidak membawa apa pun selaian pakaian yang kukenakan." Malvyn menjelaskan.


Zenia tersenyum, "Kau harus pergi ke desa. Kau bisa membeli apa pun di toserba milik Mrs. Dowson."


"Desa?"


"Hmm... Kau harus mengendarai mobil ke sana. Di sini ada tempat penyewaan mobil." Zenia berhenti bicara saat melihat Steve turun dari mobil. Pria itu pergi ke desa menjemput mobilnya juga belanja barang-barang yang pria itu butuhkan.


Steve mengenakan celana pendek dengan kaos kebesaran yang bagian tangannya sengaja di potong hingga menciptakan lubang yang cukup besar. Bagian lehernya juga mengalami hal serupa hingga mempertontonkan dadaanya. Pria itu mengenakan topi dengan model terbalik. Terlihat seperti bandit penggoda. Zenia refleks menyentuh lehernya, bayangan kurang ajar tentang Steve yang mendaratkan ciuman di sana tiba-tiba mengusiknya.


"Sekarang, bagaimana aku bisa sampai ke sana, Zenia? Kami belum memiliki mobil."


"Aku akan mencari solusinya... Auuuwww..." Ia tiba-tiba menjerit saat pasir masuk ke matanya akibat lemparan Harold yang tidak mengenai Belinda yang lari ke arah mereka.


"Oh, maaf, Zenia..." Belinda meminta maaf. Zenia menyunggingkan senyum meski matanya terasa perih luar biasa, bahkan sudah mengeluarkan air mata.


"Tidak apa-apa. Hal seperti ini biasa terjadi."


"Kau harus mencucinya. Biar kulihat dulu," Malvyn merangkum wajahnya. "Biarkan aku meniupnya."


Steve yang baru selesai memindahkan barang belanjaannya, menatap ke tengah keramaian di pantai.


"Teman-teman Zetta sudah datang?" Ia bermonolog sambil menghitung jumlah manusia yang terlihat.


Matanya melebar seketika begitu matanya menangkap sosok Zenia. Gadis itu menggenggam tangan pria yang merangkum wajahnya. Posisi keduanya memang terlihat tidak menguntungkan dari titik di mana Steve berada saat ini.


"Apa yang kau lakukan, keparat?!" Ia mendorong Malvyn hingga telentang di atas pasir, kemudian ia menarik leher pria itu, memaksanya berdiri dan sebelum Malvyn menyadari apa yang akan terjadi, Steve sudah melayangkan bogemannya.


"Hei, Dude, apa yang kau lakukan?" Harold dan Theodor menghampiri, berniat melerai dengan menahan kedua tangan Steve. Sayang, Steve bukanlah tandingan mereka. Dengan mudah Steve menyingkirkan dua pria itu dan kembali menyerang Malvyn. Bibir pria itu sudah mengeluarkan cukup banyak darah. Jeritan Belinda, Carla dan Zenia tidak ia hiraukan.


"Oh Tuhan, siapa pria ganas ini dan apa yang sedang dia lakukan? Apakah di sini tidak ada keamanan, Zenia?"


"A-aku tidak tahu."


"Bagaimana bisa kau tidak tahu?" Harold bertanya, mewakili pertanyaan serupa yang ingin dilayangkan teman-temannya yang lain.


"Hei, Dude, hentikan, kau bisa membunuh temanku!" Theodor berdiri di antara Steve dan Malvyn dan pria malang berhati pahlawan itu justru mendapat bogeman mentah dari Steve.


"Sialan! Dia seperti singa kelaparan. Pria ini tidak waras, apa yang harus kita lakukan? Katakan sesuatu Zenia. Di mana keamanan pantai ini?"


"S-Steven Percy. Hentikan!"


Zenia berlari mendekati keduanya, berdiri diantara dua pria itu, seperti yang dilakukan Theodor. Ia memberanikan diri memeluk Steve, memejamkan mata, bersiap menerima pukulan dari Steve.


Tidak ada pukulan, tidak ada suara selain hembusan angin yang beradu dengan gelombang air laut juga tarikan napas yang tidak teratur.


Zenia tengadah, menemukan Steve yang menunduk menatapnya dengan tatapan marah.


"Ma-mataku kelilipan," adunya terbata-bata.


Steve langsung merangkum wajahnya, meniup perlahan mata indah yang menenangkan itu.


"Di-dia mencoba membantuku. Membantu meniupnya."


Steve menunjukkan reaksi terkejut untuk sepersekian detik, seperti sudah menyadari kesilafannya. Ia menoleh ke belakang punggung Zenia, melihat wajah Malvyn yang hampir babak belur, sedang dibantu kedua temannya untuk berdiri.


"Apakah mereka lebih oke dariku?"


"Hah?" Jelas itu bukan pertanyaan yang diharapkan Zenia keluar dari mulut Steve. Maaf, harusnya Steve meminta maaf karena menyerang tanpa alasan.


"Kau tertarik pada mereka?"


"Apa?"


"Pergunakan matamu hanya untuk melihatku saja. Jangan mendekati pria mana pun tanpa sepengetahuanku. Jadi, katakan, siapa yang lebih oke?"


"Apa maksudmu?"


"Kau menyukai mereka atau menyukaiku?"


"Aku tidak mengerti...."


"Menyukaiku atau dia?" Steve menunjuk Malvyn dengan menggunakan dagunya. Malvyn menatap kepadanya dengan penuh dendam dan Steve tidak peduli sama sekali.


"Kenapa..."


"Jawab!"


"Aku..."


"Aku akan menghajar mereka bertiga jika kau memberikan jawaban yang tidak kusukai. Menyukaiku atau dia?"


Zenia terang saja bingung dengan sikap dan tindakan konyol Steve yang tidak masuk akal.


"Sepertinya kau ingin melihat aku menghajar mereka kembali."


"Tidak...tidak... Jangan lakukan itu. Aku... Aku menyukaimu."


"Menyukaiku?"


Zenia mengangguk.


"Bagus." Ia melepaskan Zenia dan berjalan mendekati Malvyn. Harold dan Theodor terlihat waspada.


Steve berdiri di hadapan mereka, menggaruk hidung dengan gaya menyebalkan.


"Gadis itu menyukaiku, tergila-gila kepadaku."


"Yang kudengar kau memaksanya untuk mengatakan agar menyukaimu. Menyukai berbeda dengan tergila-gila," Theodor menimpali dengan sengit. Steve tidak menanggapi protes yang memang benar adanya.


Steve justru kembali berkata, "Jangan mengganggunya, mengusiknya atau pun memandanginya. Aku minta maaf atas kesalahpahaman ini." Steve mengulurkan tangan. Malvyn melirik sekilas lalu melongos, tidak menerima permintaan maaf dari Steve.


Steve menarik tangannya kembali tanpa terusik dengan penolakan Malvyn. "Ayo, kita pergi." Steve menggenggam tangan Zenia. Zenia menatap teman-teman adiknya dengan tatapan bersalah.


"Jangan memancingku," suara berat penuh ancaman. Steve mempererat genggaman tangannya, membuat gadis itu segera mengalihkan tatapannya.


"Matamu masih sakit?"


Zenia hanya menggeleng.


"Jawab jika aku sedang bertanya."


"Tidak. Kau sudah meniupnya. Pasirnya kabur karena takut."


Steve mengullum senyumnya, geli mendengar jawaban bernada ejekan itu. "Jadi kau menyukaiku?"


"I-iya, aku menyukaimu." Zenia mengangguk cepat.


"Aku oke?"


"O-oke. Sangat oke."


"Hmm," Steve mengangkat tangan Zenia untuk ia kecup punggung tangannya.


"Aku tahu aku oke."