
Barakallah Fii Umrik, Nelis. Semoga apa yang di-aamiin-kan segera diijabah yang Kuasa.
.
.
.
"Kau sudah terlalu banyak minum."
Olivia merebut botol dari tangan Austin. Sudah dua hari pria itu tinggal bersamanya dan yang dilakukan Austin hanya bergumul dengan alkohol. Jelas sekali jika Austin ingin membuat dirinya mabuk hingga tidak sadarkan diri.
Pria itu benar-benar terlihat sangat kacau dan berantakan. Wajah kusutnya terlihat mengerikan. Mata merah karena di bawah pengaruh alkohol semakin terlihat tajam saat kedua irisnya memancarkan kemarahan juga kekecewaan.
Olivia turun dari kursi, berdiri di belakang Austin. Tangannya terulur di pundak pria itu. Ia memberikan pijatan di sana.
"Kau ingin bercerita?"
Austin menggeleng karena ia tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan karena terbiasa memendam sendiri. Apakah ia sudah keterlaluan atas sikap kurang ajarnya tadi? Kini ia bertanya-tanya tentang hal itu. Namun, tidak ia pungkiri ada kelegaan yang ia rasakan saat meluapkan apa yang ia rasakan. Ya, ia merasakan perbedaan itu. Benarkah demikian atau ia yang terlalu sentimen?
"Aku memiliki saudari perempuan. Saudari kembar tepatnya. Kembar identik. Tapi ibuku lebih menyayanginya. Hal itu kadang membuatku marah, kenapa harus ada perbedaan. Tidak bisakah mereka para orang tua bersikap sama rata. Apa kelebihan saudaraku dan apa kekuranganku? Bukankah hal semacam itu harusnya dibicarakan bukannya malah pilih kasih."
Austin mengembuskan napas dengan jengah. Kepalanya serasa dihentak-hentak. Mabuk bercampur pikirannya yang bak benang kusut.
Ponselnya berdering berulang kali. Panggilan dari sang Ibu, dan ia mengabaikannya.
"Entahlah, mungkin kita terlalu berandalan karena menyukai balap liar," sahutnya malas dan ngawur.
"Terkadang aku ingin berada di posisi saudariku dan terkadang aku marah dan ingin dia pergi dari hadapanku. Bagaimana denganmu?"
"Kepalaku serasa mau pecah. Aku hanya marah kepada ayahku."
"Sebaiknya kau tidur. Kau butuh istirahat," ucap Olivia sembari menuntun Austin menuju kamar.
Austin tidak melakukan penolakan sama sekali. Ia beranjak dari kursi tanpa mengucapkan satu kata pun. Ia benar-benar mabuk berat. Di dalam kamar, Austin juga tidak bersuara saat Olivia mulai membantunya melepaskan baju dan sepatunya.
"Kemarilah, aku akan bernyanyi untukmu," Olivia merebahkan kepala Austin di atas pangkuannya. "Esok pagi saat kau bangun, semuanya sudah lebih baik. Walau sebenarnya terkadang, meluapkan kemarahan itu sangat penting."
Jemari Olivia mengusap-usap lembut helaian rambut Austin yang setengah gondrong. Mata pria itu masih menerawang jauh, pikirannya melayang entah kemana.
Olivia mulai melantunkan lagu dengan suara merdu yang menenangkan. Jemarinya berpindah ke wajah Austin, membelai rahang yang mulai dipenuhi oleh cambang. Ia mengarahkan kepala pria itu agar menatapnya. Saat manik Olivia dan tatapan kosong Austin bertemu, Olivia menyunggingkan senyum terbaiknya. Ia tuntun tangan Austin menyentuh wajahnya. "Bagaimana jika kita bersenang-senang?"
Austin tertawa samar sebagai respon.
"Melakukan hal gila untuk meluapkan apa yang kita rasakan. Semacam pemberontakan?"
š
Steve akhirnya kembali ke Virginia. Helikopternya mendarat di salah satu helipad yang tidak jauh dari rumah yang ditempati Lexi. Saat ia turun, salah satu anak buahnya menyambutnya seraya memberikan kunci mobil yang akan ia kendarai menuju kediaman Lexi. Ia melihat jam masih menunjukkan angka 10 malam. Berharap gadisnya itu belum tidur. Astaga, Ia merindukannya! 13 tahun bisa ia tahan. Dua hari, hampir mau mati rasanya.
⢠Sudah tidur?
Sembari mengemudikan mobil, ia mengirim pesan singkat kepada Lexi. Tiga menit berlalu belum ada jawaban, tapi ia masih sabar menunggu.
Ponselnya berdenting, ia tersenyum saat melihat layar menampilkan nama Lexi di sana.
^^^ā¢Sudah^^^
Steve tersenyum sembari menarikan jemarinya di atas layar ponsel. Bagaimana bisa orang yang sudah tidur membalas pesan.
⢠Jam 22. 05, apa yang kau lakukan di jam 22. 02 hingga jam 22. 04. Aku mengirimmu pesan di jam 22. 01."
^^^⢠Kemana kau dua hari ini?^^^
Alih-alih menjawab pertanyaan Steve, Lexi justru mempertanyakan keberadaan pria itu, membuat perasaan Steve meletup-letup tidak karuan. Hanya karena Lexi mempertanyakan keberadaannya, ia seperti sedang menerima pernyataan cinta dari gadis itu.
ā¢Merindukanku?
^^^ā¢Aku menyediakan perangkap di balkon, tepat di dekat jendela. Jebakanku sia-sia karena tikus penyusup itu tidak datang selama dua hari ini. Katakan, haruskah aku membereskan jebakanku tersebut?^^^
ā¢Aku harus berhati-hati kalau begitu.
^^^ā¢Kau akan datang?^^^
ā¢Katakan kau merindukanku.
^^^ā¢š„“^^^
Tawa Steve pecah meski ia tidak tahu apa arti di balik emot tersebut.
"Astaga, dia menggemaskan sekali."
Sementara, Lexi yang tadi bersiap hendak tidur, merungut setelah membaca ulang pesan teks yang dikirim Steven.
"Dia mau datang atau tidak? Kenapa dia tidak membalas pesanku?"
Ya ampun, memangnya apa yang akan dibalas melihat emot bibir bergelombang yang tidak diketahui artinya.
Ketukan di pintu sontak membuat Lexi terkejut sampai-sampai ponselnya jatuh menimpa wajahnya. Emot yang asal ia kirim tanpa mengetahui artinya ternyata merupakan suatu pertanda.
"Apakah dia sudah datang? Tumben sekali dia tahu caranya masuk ke rumah dengan benar. Astaga, dia menghindari jebakanku?" Lexi menyingkap selimut dan tanpa ia sadari ia setengah berlari, terlalu bersemangat untuk membuka pintu.
"Jebakanku sia-sia jika begini, kau tidak asyik,- Austin?!!" Lexi melompat ke dalam pelukan adiknya.
"Euuyy... Kau bau sekali. Kau mabuk!"
Austin mendorong Lexi masuk dan mengunci pintu dengan segera. Penampilan pria itu masih sangat kacau, tatapannya kosong seolah tidak ada jiwa di sana.
"Astaga, aku penasaran berapa banyak minuman mematikan itu kau masukkan ke dalam mulutmu. Tunggu di sini, aku akan mengambilkan air hangat juga pil penghilang mabuk."
Lexi melewati Austin begitu saja. Namun, saat tangannya hendak memutar kunci, Austin menarik tangannya lalu mendorongnya dengan cukup keras ke dinding pintu.
"Auuchh!!" Lexi meringis.
"Astaga, kau mendorongku terlalu kuat, boy!"
Kedua tangannya mencoba mendorong tubuh Austin yang sedang memerangkapnya. Tubuh besar Austin tidak bergerak sama sekali.
"Duduklah di sana. Aku hanya sebentar. Kau memiliki masalah?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Lexi, Austin tiba-tiba menyerang Lexi. Menyerang mulut gadis itu dengan sangat kasar dan brutal. Aksinya tersebut terang saja membuat Lexi terkejut setengah mampuss.
Lexi meronta, mencoba mendorong tubuh Austin. Tidak berhasil sama sekali karena yang terjadi, Austin justru semakin merapatkan tubuh mereka. Lexi menghindari ciuman Austin yang semakin liar dan gerakannya tersebut justru memberi ruang pada Austin untuk mencicipi lehernya.
Austin memberikan banyak tanda di sana. Tangisan Lexi tidak dihiraukan pria itu. Austin seakan tuli dan buta. Di tengah ketakutan juga tangisannya, Lexi masih berusaha menyelamatkan diri dengan melayangkan pukulan ke punggung Austin. Sayang, pukulannya itu tidak berarti apa-apa. Austin dengan mudah menahan kedua tangannya.
Srek!
Austin merobek piyama yang dikenakan Lexi. Memamerkan bahunya yang mulus. Lexi menggeleng ketakutan.
"A-Aus- Austin...."
Mulutnya kembali dibungkam, dihajar dengan kasar dan liar. Tanpa melepaskan bibir mereka, Austin membawa Lexi ke tempat tidur. Menjatuhkan diri mereka ke sana hingga tubuh kekar Austin menimpa tubuh Lexi.
Tangan Austin mulai aktif, sobekan di bahu semakin lebar dan dengan satu kali hentakan kuat, piyama itu lepas dari tubuh Lexi, menyisakan dalaman.
"TIDAAAKKKK!!!"
.
.
.
Koment yang banyak Dongš„“š„“
Satu kata untuk Austin?