
"Wuaah, aku merasa tersanjung kau mengetahui secuil kehidupan pribadiku, Willson. Jadi kau memata-mataiku?" Steve memandang Darren dari balik bulu matanya yang lebat dan lentik. Terlihat tajam dan menghunus.
"Kau akan terkejut jika tahu bahwa aku mengetahui lebih dari yang kau duga, Ivarez. Ah, ataukah aku harus memanggilmu, Steven Percy?!"
Steven bergeming, untuk waktu yang cukup panjang, kedua pria itu hanya saling menatap. Sementara Pax, hanya memperhatikan kedua pria itu.
Steve menepis kasar tangan Darren dari kerah bajunya, membersihkan bajunya dari jejak tangan Darren disusul dengan tawa yang dipenuhi dengan rasa kebencian juga jijik.
"Aku sibuk memikirkan cara bagaimana memperkenalkan diri dengan benar, ternyata yang kulakukan hanya lah sia-sia." Steve berkata sambil menggertakkan gigi, usahanya untuk mengendalikan diri terlihat jelas pada otot-otot dadaa serta bahunya. "Berhubung tidak ada yang harus disembunyikan lagi," Ia sengaja menggantung kalimatnya. Kini tatapannya terpaku pada Pax Willson masih dengan mimik serupa. Penuh kebencian. "Lexi adalah milikku!" Itu adalah pernyataan kepemilkan yang penuh nada berkuasa khas laki-laki.
Sebuah dengusan kasar terdengar, "Untuk menjadikannya senjata demi membalaskan dendammu?" tandas Darren dengan sengit.
"Sepertinya aku perlu meralat ucapanku tentang kau yang mengetahui secuil kehidupanku. Sepertinya kau begitu peduli kepadaku, sehingga kau menggunakan waktumu yang berharga untuk mengawasiku." Tatapan Steve tidak beralih sama sekali dari Pax, meski kalimat itu dilontarkan kepada Darren. Kebencian Steve pada sosok di hadapannya itu begitu menyala-nyala seolah tidak ada jalan untuk berdamai.
"Terlalu sibuk mengawasiku, hingga tidak menyadari bahwa gadis yang begitu kalian lindungi bahkan kehilangan dunianya. Hancur, hingga tidak ada lagi yang bisa disusun. Di balik senyum ceria yang ditunjukkan di hadapan kalian semua, ia nyaris tidak bisa menyelamatkan dirinya. Dia lemah dan rapuh, tapi berpura-pura terlihat baik-baik saja. Tapi yang menjadi pertanyaanku, Pax Willson yang terhormat, kenapa kau mengirimku ke penjara sialan itu?!" tangannya terkepal membentuk sebuah tinju. Namun, benaknya bersuara, belum waktunya untuk meluapkan amarahnya. Ia tidak ingin emosinya hari ini merusak semua rencana yang sudah ia susun. Pengendalian diri, Steve harus menjaga emosinya. Tetap tenang, jangan biarkan lawan memanfaatkan sedikit celah yang bisa melenyapkan semua rencana hanya karena emosi sesaat.
"Apa yang kau tahu tentang Lexi?!" mendesis sengit, tidak menyukai pernyataan Steve tentang adiknya. Oke, Lexi memang sempat mengalami trauma hebat, tapi bukankah adiknya itu sudah sembuh? Dokter juga menyatakan demikian.
"Tidak sebanyak yang kau tahu," sarkas Steven seraya mengalihkan tatapanya sekilas kepada Darren. "Karena sepertinya kau tidak memiliki jawaban atas pertanyaanku, Pax Willson, sebaiknya kau panggilkan dokter untuk mengobati lukaku ini." Steve berjalan melewati kedua pria itu. Masuk ke dalam rumah bahkan sebelum dipersilakan.
Pax dan Darren saling menatap satu sama lain. Lalu kompak menghembuskan napas.
"Yang kita hadapi adalah pria yang penuh dendam."
"Dan kita lah yang memang membuatnya berada dalam posisi tersebut," Pax kembali menghembuskan napas berat.
"Bagaimana dengan Lexi? Aku tidak akan bisa tinggal diam jika dia menyakiti Lexi lagi."
"Sekali lagi, kita yang membuat situasi ini semakin runyam, Dude." Pax menepuk pundak putranya, lalu beranjak dari sana, mengikuti Steven masuk ke dalam rumah.
____
Steve melintasi ruang utama, langkahnya terhenti saat melihat Lexi menuruni anak tangga. Keduanya saling beradu tatap. Gadis itu menghembuskan napas sambil memutar bola mata seolah jengah melihat pria itu. Sikapnya tersebut sangat berbanding terbalik dengan kotak obat yang ada di tangannya.
"Kupikir kau tidak peduli aku masih hidup atau mati."
"Memang." Lexi melanjutkan langkah. Gadis itu menghampirinya dan mempersilakannya duduk di sofa.
"Lalu, untuk apa kotak obat di tanganmu?"
"Aku tidak peduli kau mati atau masih hidup. Tapi aku peduli kau mati di mana? Setidaknya jangan di hadapanku. Astaga, Layla benar-benar tangguh. Kau dibuat babak belur." Lexi menarik tangan Steve dengan kasar dan tanpa aba-aba langsung menyiramkan alkohol ke atas luka tersebut. Niat hati ingin mengerjai pria itu, Lexi justru menemukan mimik datar Steve. Pria itu tidak meringis perih sama sekali.
"Apakah tidak sakit?"
"Sakit."
"Lalu kenapa wajahmu terlihat santai?"
"Apakah jika aku menjerit lukanya akan sembuh?"
Steve tersenyum, "Ini perih, Lexi. Kenapa kau melakukannya? Apa kesalahanku? Katakan, biar aku bisa memperbaikinya."
Oh Tuhan, kenapa kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu mengandung racun. Denyut nadiku berdentum-dentum tidak karuan. Mulut pria di hadapanku ini terlalu manis dan berbahaya.
Kesal dengan reaksi tubuhnya, Lexi mengambil kapas dan menekan lukanya dengan kuat. Steve lagi dan lagi hanya memasang wajah tenang.
"Dasar pencuri! Kau harus menderita. Layla harusnya memakan jari-jarimu!"
"Aku akan membunuh Layla andai kau tidak mengaguminya."
Pernyataan Steve terang saja membuat Lexi sedikit terkejut. Lagi! Ya, lagi, ia mendapati jantungnya bertalu-talu, seolah ia habis berlari maraton berkilometer jauhnya. Lexi merasa jika dirinya benar-benar mulai tidak waras.
"Aku tidak sedang membual." Steve mengeluarkan pistol dari balik jasnya. Senjata yang bisa saja ia tarik pelatuknya saat Layla mulai menyerangnya. "Aku juga memiliki pisau beracun," Steve menunduk, mengambil sebuah pisau kecil dari balik tumitnya. "Layla-mu bisa mati di tanganku."
"Kejam!"
"Tapi aku tidak melakukannya, itulah poinnya, Putri."
Hening sejenak, keduanya hanya terdiam sambil saling menatap satu sama lain.
"Untuk sementara waktu, aku mungkin tidak akan bisa menemuimu."
"Kau mau kemana?" Reaksi jawaban dari Lexi begitu cepat. Ia sampai dibuat terkejut sendiri.
"Menyembuhkan lukaku. Jangan berkeliaran selama aku tidak ada."
"Astaga! Berkeliaran? Hei, aku tidak butuh izinmu jika aku hendak pergi kemana-mana, Ivarez!"
"Ini perintah."
"Aku..."
"Jangan mendebatku jika kau tidak ingin aku melakukan sesuatu yang menyenangkan dengan mulutmu itu."
Ancaman Steve refleks membuat Lexi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Melindungi diri dari si pencuri ciuman.
"Kenapa kau menutup mulutmu? Apakah dia berniat ingin...." Darren menghentikan ucapannya. Tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya sendiri.
"Ingin apa?" Steve justru menantangnya. Wajah pria itu menjengkelkan, menantang para pria Willson itu ingin beradu jotos dengannya.
"Bertingkahlah sebagai pria terhormat, anak muda." Pax melayangkan tatapan tidak suka kepadanya yang dibalas Steven dengan tatapan menghunus sepuluh kali lipat.
"Tidak usah mengajarkanku tentang pria terhormat, Willson. Kurasa kau lebih tahu apa yang disebut dengan pria pengecut! Dan mengenai putrimu, aku mengambil keputusan diatur oleh otakku, bukan oleh kadar testosteronku." Steve beranjak dari kursi. Ia berjalan perlahan, santai dan bergaya. Berdiri tepat diantara Pax dan Darren. Lalu ia mencondongkan kepalanya sedikit.
"Ya, walau kuakui, kadar testosteronku sering tidak stabil jika berdekatan dengan putrimu." Ia berbisik dengan nada kurang ajar. Benar-benar tidak ada akhlak pria yang satu ini. Pernyataannya terang saja membuat kedua pria itu marah. Wajah mereka merah padam menahan emosi. "Hari ini aku mengembalikan putrimu, tapi lain kali, aku akan mencurinya." Ia menepuk pundak keduanya dan berlalu pergi.