H.U.R.T

H.U.R.T
Apa Aku Diikuti?



Seperti yang sudah ia katakan kepada Darren, Isabell benar-benar pergi berbelanja. Awalnya, ia hanya akan mampir ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan wanita. Namun, saat ia melihat supermarket yang tidak jauh dari kediaman Willson, Isabell memutuskan untuk membeli keperluannya nanti saja. Mumpung ia bisa mengemudi dan bebas kemana saja, Isabell pun tidak membuang-buang kesempatan tersebut. Ia terus melajukan mobil, membiarkan atap mobil terbuka, membiarkan angin menerpa wajahnya dengan bebas.


Isabell tidak tahu mobil siapa yang sedang ia kemudikan, apakah milik Austin atau Darren atau mungkin Pax Willson. Ia hanya asal mengambil kunci yang menggantung dan ternyata saat ia ke garasi untuk mencari tuannya, ia terkesima.


Porsche baru-baru ini meluncurkan mobil edisi khusus dan terbatas, Porsche Boxster 25 dan saat ini, Isabell mengemudi mobil tersebut.


Pelanggaran kedua yang ia lakukan adalah, memakai mobil tanpa meminta izin terlebih dahulu. Saat ia ingin berpamitan kepada Austin, pria itu masih tidur dan mengunci diri di kamar.


"Aku hanya perlu mengemudinya dengan penuh hati-hati dan mengembalikannya sebelum Austin bangun," ia meyakinkan dirinya saat keraguan muncul di benaknya. Dan karena rasa penasarannya ternyata kalah dengan sopan santun yang ia junjung selama ini, akhirnya ia pun duduk di belakang kemudi. Mengemudi dengan hati-hati tinggal angan-angan, Isabell beberapa kali menyelip mobil yang ada di depannya. Isabell benar-benar menikmati kebebasannya. Pelanggaran ketiga pun ia lakukan tanpa sungkan. Mengebut di jalan.


Setelah lelah berkeliling, akhirnya Isabell menghentikan mobil di salah satu pusat perbelanjaan. Ia masuk ke toko yang satu dan berpindah ke toko lainnya. Beberapa melayaninya dengan baik dan tidak sedikit yang meremehkannya. Isabell memilih untuk tidak mengambil pusing. Disaat ia mendapat perlakuan tidak baik, ia membeli barang termahal meski ia tidak yakin kapan ia akan mengenakannya. Disaat ia mendapat perlakuan baik, ia belanja banyak di toko tersebut. Terima kasih kepada Harry yang memaksanya untuk menerima card milik pria itu saat Harry dan Odelle pergi untuk berbulan madu. Card tersebut ternyata benar-benar sangat berfungsi. Orang-orang yang meremehkannya mendadak melayaninya dengan baik. Diantara mereka ada yang menyarankan fashion yang cocok untuknya, ada juga yang menyarankan agar Isabell mengunjungi salon kecantikan yang bisa mengubahnya menjadi lebih menarik.


Isabell hanya mengucapkan terima kasih atas saran-saran tersebut. Ia akan melakukan perubahan pada dirinya jika itu berasal dari hatinya. Bahkan saran Austin yang memintanya untuk melepaskan pagar gigi masih perlu ia pertimbangkan. Tidak lantas ia mengikuti saran pria itu begitu saja.


Selesai berbelanja, Isabell memutuskan untuk menonton bioskop. Seumur hidupnya, ia baru pertama kali memasuki bioskop, tepatnya di usianya yang sudah menginjak angka 23 tahun. Isabell membeli popcorn dengan ukuran paling besar dan ia asal memilih film. Tujuannya bukan untuk menonton, tetapi untuk melihat seperti apa bioskop itu. Pada akhirnya ia tertidur sepanjang film diputar tanpa tahu isi cerita dari film yang sedang ditayangkan.


"Auuhh," ia terbangun dan meringis saat merasakan tarikan di rambutnya bersamaan dengan seseorang yang juga menusuk salah satu jarinya hingga mengeluarkan sedikit darah.


"Apa yang kau lakukan? Siapa kau?"


Pria tersebut segera berdiri dan pergi dengan langkah cepat. Isabell tidak mengenali wajahnya karena pria itu mengenakan masker juga topi.


"Apa di bioskop ada acara cek darah segala?" ia bergumam sambil mengusapkan darahnya ke rambut.


"Jam berapa sekarang? Perutku lapar sekali. Ouh, astaga, sudah jam tujuh malam ternyata."


Setelah mengisi perutnya, Isabell pun mengakhiri petualangannya hari ini. Meringis melihat barang belanjaan yang lumayan banyak. Barang-barang yang tidak akan ia kenakan dalam waktu dekat dan ia juga tidak tahu kapan benda-benda itu akan ia gunakan. Mungkin tidak akan pernah ia gunakan sama sekali dan mungkin akan ia hadiahkan kepada Lexi atau pun Odelle.


Isabell melajukan mobil menuju arah pulang. Ia masih harus mampir ke supermarket membeli keperluannya.


Kali ini Isabell mengemudi dengan santai. Atap mobil juga sudah ia tutup. Hanya tangannya yang sesekali keluar lewat jendela, membiarkan angin menyapu kulit tangannya.


Mendadak ia merasa ada yang aneh, seperti sedang ada yang mengikutinya. Jalanan lumayan sepi, tapi mobil yang di belakangnya seolah enggan mendahuluinya. Awalnya ia tidak menaruh curiga sama sekali, tapi tetap saja terasa janggal melihat mobil itu selalu berada tepat di belakangnya sejak ia keluar dari parkiran.


"Apa mereka mengikutiku? Aku tidak boleh berburuk sangka." Isabell menggelengkan kepala.


Tapi ia harus tetap perlu membuktikan, pun dengan sengaja Isabell memperlambat laju mobilnya, dan mobil tersebut juga ikut memperlambat lajunya. Isabell kemudian mempercepat laju mobil dan mobil itu juga demikian.


"Mobil itu memang mengikutiku," ia bergumam. "Apakah Daddy mengirim pengawal untukku tanpa sepengetahuanku?"


Pelanggaran kesekian yang ia lakukan adalah menggunakan ponsel saat mengemudi. Di deringan kedua, ayahnya langsung menjawab panggilannya.


"Isabell?"


"Ya, Dad, ini aku. Bagaimana kabarmu, permaisuri dan semuanya?"


"Baik. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik-baik saja. Aku sangat menikmati liburan ini. Omong-omong, Dad, apakah kau bisa mengirimkan beberapa orang kemarin untuk menemaniku."


"Tentu saja. Berapa orang yang kau butuhkan? Pelayan wanita atau justru kau juga butuh pengawal?"


Mendadak Isabell merasa gugup. Artinya, Ayahnya tidak menyuruh seseorang untuk mengawasinya. Di tengah kegugupannya, Isabell berusaha mempertahankan konsentrasi, mengatur nada suaranya agar tetap terlihat tenang.


"Aku akan memikirkannya dan menghubungimu dengan segera. Aku merindukanmu, Dad."


Panggilan berakhir, Isabell melempar ponselnya begitu saja, pun ia kembali menambah laju kecepatan.


Ia bernapas lega begitu bangunan supermarket sudah terlihat, setidaknya supermarket itu akan ramai pengunjung, tidak mungkin seseorang akan mencelakainya di sana. Isabell segera memarkirkan mobil, segera berlari masuk ke dalam supermarket. Ia menoleh ke belakang, untuk memastikan apakah mobil itu juga ikut berhenti dan sialnya mobil itu juga ikut berhenti.


Isabell melihat dua pria berbadan besar mengenakan masker turun dari mobil tersebut. Isabell segera mencari persembunyian, tidak salah lagi dua pria itu memang sedang mengikutinya. Pertanyaannya, kenapa ada yang mengikutinya? Apakah mereka adalah perampok? Penculik?


Isabell melihat kedua pria itu berjalan mendekatinya, segera ia berlari masuk ke dalam supermarket, ternyata masuk ke dalam supermarket juga bukan pilihan tepat, karena suasana di dalam supermarket juga terlihat sangat sunyi. Hanya ada dua kasir yang sibuk dengan pekerjaan mereka, sepasang suami istiri yang sudah berumur. Harusnya ia mengikuti saran Darren agar menyimpan nomor ponsel pria itu dan juga Austin.


Isabell menabrak seseorang hingga terjatuh ke lantai. Tidak memedulikan rasa sakit di bokongnya, Isabell segera berdiri, mengabaikan pria yang baru saja ia tabrak.


"Bukankah kau sangat sopan sekali, Bebel?"


Isabell segera berhenti begitu mendengar suara yang sudah ia hafal dengan sangat jelas itu. Ia segera berbalik dan melihat Austin sedang menatapnya. Isabell melirik dua pria yang sedang mengikutinya, menghentikan langkah mereka dan terlihat sedang berpura-pura memilih barang belanjaan.


"Oh, Austin! Aku senang bertemu denganmu." Isabell kembali melirik ke belakang dan dua orang yang mengikutinya sudah tidak ada di sana melainkan di depan kasir.


Apakah aku sedang salah sangka? Isabell bertanya-tanya dalam hati. Mungkin saja tujuan kedua pria itu memang ke supermarket untuk membeli barang yang mereka butuhkan.


"Apa yang sedang kau beli?" tanya Isabell mengalihkan kebodohannya yang sempat berburuk sangka kepada orang lain. "Viagra?" Isabell membaca apa yang tertulis di benda yang dipegang oleh Austin.


"Apa itu?"


"Kau bisa mencari tahunya di google dan ini bukan untukku. Kau ingin membeli apa?"


"Pembalut," jawab Isabell yang hampir saja melupakan tujuannya masuk kemari.


Austin mengangguk seraya berjalan mencari benda yang diinginkan oleh Isabell. Ia sudah terbiasa membeli benda itu untuk Lexi, jadi bukan perkara sulit baginya untuk menemukan tempatnya di mana.


"Kau butuh yang bersayap atau yang biasa?" di tangannya sudah ada pembalut yang biasa digunakan saudarinya. Yang bersayap. Tapi ia perlu memastikan kepada Isabell, mungkin saja Isabell memiliki selera berdeda.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari Austin membuat wajahnya merona. "Aku butuh yang bersayap dan juga panjang," Isabell meringis malu. Ini pertama kalinya ia membeli kebutuhan wanita dengan seorang pria.


"Apa kau masih membutuhkan yang lain?"


Isabell menggeleng. Mereka pun segera menuju kasi. Austin meletakkan benda yang dari tadi ia pegang, membuat wanita penjaga kasir tersenyum penuh arti.


"Apa kau yakin ingin membeli ini, Sir?" tanya wanita itu dengan wajah geli. Austin meresponnya dengan anggukan kepala dan wajah datar. "Sepertinya kau tidak akan bisa menggunakannya, karena pasanganmu lagi dalam masa periodnya." wanita itu mengangkat pembalut milik Isabell.


"Apa hubungan kedua benda itu?" tanya Isabell.


Austin hanya mengidikkan bahu. Ia pun tidak mengerti apa hubungan kedua benda itu. Apakah mereka yang terlalu polos atau si wanita kasir yang mainnya terlalu jauh.


"Mobil itu baru sampai tiga hari yang lalu. Darren bahkan belum mengemudikannya dan kau sudah membawanya jalan-jalan. Ck! Aku iri denganmu."


"Mo-mobil ini baru?"


"Ya. Edisi terbatas."


.


.


.



Isabell Geonandes



Darren Willson



Austin Willson