H.U.R.T

H.U.R.T
Indah



Begitu mobil sampai di pekarangan, Steve dan Lexi sama-sama melompat keluar tanpa mematikan mesin mobil. Steve langsung meraih tubuh Lexi untuk ia gendong. Mulutnya langsung beraksi yang disambut Lexi dengan segera. Mulut mereka saling berpesta, membelit satu sama lain.


Tidak ada penghuni di rumah, mereka bebas melakukan apa pun dari lantai bawah hingga menuju kamar Lexi.


Sampai di kamar Lexi, gadis itu langsung meloloskan jas yang dikenakan Steve dengan tidak sabar. Sedengkan Steve sedang memuaskan dahaga dengan mencicipi setiap jengkal tubuh istrinya.


Beberapa kali desaahan manja keluar dari mulut Lexi membuat Steve semakin semangat dan bringas. Ia mendorong tubuh Lexi hingga telentang di atas ranjang, lalu ia merangkak ka atas bagai macan yang kelaparan.


"Steven..." suara Lexi tersenggal karena sekujur tubuhnya sudah dipenuhi oleh kabut gairah.


"Ya, Lexi..." Steve membelai paha mulus sang istri, sementara mulutnya berada di ceruk leher Lexi yang jenjang.


"Aku ingin... Steven..." satu desaahan kembali lolos. Ampun, Steve benar-benar tidak membiarkan Lexi bisa bernapas dengan tenang.


Lexi bahkan harus menahan diri agar tidak menjambak rambutnya sendiri. Kegilaan ini benar-benar sangat menggelora.


"Senja.... Sssshh... Biarkan senja menyaksikan kita, Steven. Jende... Steven... Jendela... Buka..."


Steven tergelak, "Baiklah," Ucapnya dengan nada santai dan suara yang fasih. Pun pria bandit itu segera beringsut, berjalan menuju jendela kamar istrinya. Membuka tirai dan jendelanya hingga terlihatlah pemandangan senja kota yang begitu indah.


"Ingin membantuku?" Steve menunjukkan pakaiannya yang kancingnya sudah terbuka beberapa biji.


Lexi tergoda, tawaran yang memang sangat menggiurkan. Tapi Lexi khawatir ia tidak bisa menahan diri dan justru melucutinya dengan rakus.


Sembari menggigit ujung kukunya, Lexi menggeleng.


Cepatlah, loloskan semuanya sebelum aku merangkak memohon kepadamu!


Seolah mendengar jeritan hati sang istri, Steve mengusap kancing-kancing kemeja dengan jemarinya yang panjang dan terlatih, tatapan membara yang tertuju pada Lexi yang mulai gelisah tidak sabar.


Steve menelusuri setiap anak kancing hingga akhirnya Steve menarik kemejanya dari dalam celana. Kembali ia menyusuri anak kancing, mulai melepas dari yang paling bawah.


Lexi mengamati tanpa berkedip. Sesekali gadis itu menahan napas dan sesekali Lexi meneguk ludah.


Satu eraangan tertahan lolos dari mulut Lexi saat otot-otot perrut suaminya terpampang dengan nyata dan jelas. Lexi merapatkan paha dengan gelisah, pinggulnya bergerak tidak nyaman di ranjang. Ia sudah terbakar gairah hanya karena melihat cara Steve memainkan jemari panjang saat melepaskan anak kancing.


"Lexii.." suaranya yang jantan dan berat membuat sekujur tubuh Lexi menggigil. "Kau merona, Sayang."


Lexi tidak kuasa menjawab karena ia yakin bukan hanya pipinya yang merona. Lexi merasakan seluruh tubuhnya sudah panas terbakar.


Seolah tidak ingin membiarkan Lexi bisa bernapas, jemari pria itu kini sudah berada di pengait celana. Beberapa bulan yang lalu mereka hampir bercinta. Saat itu Lexi terlalu terbuai hingga tidak sempat menyaksikan bukti gairah pria itu. Tapi, kini, ia bisa melihatnya dengan jelas bahkan sebelum celana itu berhasil dihempaskan.


Lexi mencengkram lututnya dengan kuat, cara yang ia lakukan agat tidak berdiri dan berlari menghampiri suaminya untuk membantu Steve menarik pengait celana tersebut dan menyaksikan dari dekat bukti gairah kekasihnya itu.


"Kau menginginkanku, Lexi?" Steve bertanya dengan suara becek, kilat mata pria itu menggelap, bukti lain bahwa Steve sendiri sudah terbakar.


"Katakan kau menginginkanku." Tak! Pengait lepas.


Lexi kembali meneguk ludahnya. Mulutnya benar-benar sudah berair. Darahnya berdesir menghantarkan rasa panas dari ujung kaki hingga ke wajahnya.


"Ouh..." manik Lexi membeliak dengan kedua tangan di dagu. Meski punggung pria itu penuh dengan bekas luka, tapi tidak dengan tampilan depannya. Tubuh Steve luar biasa bagus, memberikan rangsangan yang dahsyat baginya.


Steve melangkah perlahan, Lexi secara refleks merebahkan diri di atas ranjang. Kembali Steve merangkak naik bagaikan macan kumbang yang siap menerkam dan Lexi pasrah menjadi target terkaman suaminya. Sangat pasrah dan rela!


Steve benar-benar memenangkan semuanya. Memenangkan hati dan seluruh yang ada padanya. Steve membuat dia terkagum-kagum. Kegigihan Steve memang sangat mengesankan. Tekadnya yang luar biasa membuat Lexi semakin bertekuk lutut. Usaha yang dilakukan pria itu untuk mendapatkannya memang bukan main-main. Rela berjuang mati-matian untuk menjadi pendampingnya. Karena tekadnya yang begitu besar, pria itu mengenyampingkan dendam demi mendapatkannya.


"Kau siap?!"


Pertanyaan Steve disambutnya dengan menarik leher pria itu. "Lucutii aku!"


🐒


Steve terbangun, menemukan posisi wajahnya di tempat terindah. Mulutnya berada di dadaa istrinya. Steve segera menarik mulutnya dari sana. Permainan tadi malam luar biasa hebat. Tidak pernah segila ini. Lexi meledak berulang kali hanya karena sentuhan tangannya yang berpengalaman dan mulutnya yang lihat dalam berpesta.


"Selamat pagi, Wanitaku. Tadi malam sangat nikmat. Aku menyukai semua bagian tubuhmu. Indah dan menggoda." Steve melengkungkan senyum puas, lalu membenamkan wajah di daada Lexi. "Kau benar-benar godaan yang sangat indah. Ujian bagi para lelaki dan sepertinya aku akan kewalahan menjagamu mulai hari ini. Kau terlalu bahaya."


Perlahan Lexi membuka kelopak matanya. Senyum manis terpatri di wajahnya yang anggun. Ah! Ini pemandangan sempurna untuk hari-hari yang menyenangkan.


"Morning, Love." Satu kecupan mendarat di kening Lexi.


"Benarkah?" tanya wanita itu dengan suara halus.


"Benarkah?" Steve bertanya bingung.


"Aku menggoda, membuatmu tercandu-candu?"


Steve tertawa renyah. Malam pertama yang berjalan dengan sukses.


"Benar, napasku sampai tersenggal-senggal seperti mau mati rasanya. Tapi mati di atas tubuhmu, aku tidak keberatan sama sekali. Aku masih ingin meraba, menyecap hingga kau memohon dan melompat-lompat seperti tadi malam dan aku sangat menikmatinya."


Lexi tersipu malu, semburat merah langsung mewarnai pipinya. Steve gemas sendiri melihat reaksi istrinya itu. Lexi menyukai apa yang ia katakan.


"Bagaimana? Apa aku hebat? Kau menyukai permainan kita?"


Lexi mengangguk dengan manik berbinar dan tersenyum malu-malu.


Aiiihhhh,, Steve merasa gemas, geram dan penuh nafsu dalam satu waktu. Ekspresi Lexi memang selalu berhasil membuatnya bersemangat. Di matanya, Lexi bernapas saja sudah membuatnya kewalahan. Lexi semeresahkan itu baginya. Ia sudah gila bahkan sebelum menyentuh Lexi dan setelah menyentuh gadis itu ia semakin gila. Ia ketagihan, tergila-gila, tercandu-candu. Steve dibuat mabuk kepayang.


"Steven..."


Lengkap sudah! Wajah cantik, kepolosan, keliaran ditambah suara yang begitu aduhai. Rontok sudah pertahanannya. Berserakan hingga puing-puing yang tidak bisa diselamatkan. Lexi gadis baik, terhormat tapi juga genit. Astaga! Lexi tahu bagaimana merayu dan menyiksa Steve.


"Steven..."


"Lexii," Steve membenamkan wajah ke ceruk leher istrinya, mencium aroma rambut Lexi dan aroma alami tubuh Lexi bercampur sisa aroma parfum yang tercium samar membuat Steve mabuk kepayang. Bentuk tubuh Lexi yang sudah ia hafal sejak dulu menjanjikan kesenangan tiada tara. Lexi memang wanita yang memuaskan.


"Steven...." Lexi memainkan jemari di rambut suaminya, mengusapnya dengan lembut. Perlahan jemarinya turun ke balik punggung, mencakarnya dengan kukunya.


"Lexii..." ucap Steve dengan gelisah. "Kau tentu tahu sebesar apa minatku berduaan dan menghabiskan waktu sepanjang hari di atas ranjang." Steve menolak untuk memanjakan matanya dengan menelusuri tubuh Lexi yang polos, ia memusatkan perhatian pada wajah cantik jelita itu. Sesungguhnya ia sudah merasa lembab dan siap untuk bertempur kembali. "Bisakah kita melanjutkannya nanti, Sayangku. Karena aku yakin keluargamu sudah menunggu di meja makan. Aku ingin memberi kesan yang baik pada Pax,- Maksudku pada Ayah dan ibu mertua juga iparku."


Lexi terkikik geli, kemudian menggigit daada Steve dengan main-main dengan kerlingan mata nakal.


"Dia cukup puas denganmu. Dia menyukai menantu yang mencintai putrinya."


Steve tergelak, pun ia mengikuti apa yang dilakukan Lexi, menggigigt puncak daadanya dengan main-main. Ternyata tidak terlalu main-main, karena di detik selanjutnya Lexi mengeluarkan suara yang begitu merdu dengan mata terpejam. Persetan dengan Pax yang menunggu di bawah, bodoh amat dengan menantu baik budi. Ia hanya perlu menutup telinga jika para iparnya meledeknya. Bukankah Pax menginginkan menantu yang mencintai putrinya.


"Ayahmu mendapatkannya, Honey. Aku menantu yang mencintai putrinya hingga setengah hidup." Steve berbisik di telinga Lexi dengan nada sensual. "Aku akan melayanimu, Tuan putri. Mari kembali bercinta ampun-ampunan."


Mereka kembali beraksi, melumuri diri mereka dengan gairah yang seolah tidak ada padamnya.