
Selamat buat Yulan Deluhula atas kelahiran anak keduanya. Sehat selalu Yulan dan anak-anak serta keluarga, dan terima kasih sudah menjadi pembaca yang selalu setia🙏🙏. Bab ini khusus untukmu🤗.
.
.
.
"Kau bukan pria yang kuminta membuat juice buat putriku." Pax menatap Steve dengan intens. Menatap dari atas hingga ke bawah lalu kembali ke manik Steve.
"Rekan saya sedang melayani tamu yang lain, Mr. Willson."
Pax menyeringai. Sudut atas bibirnya sedikit terangkat. Terlihat sangat samar.
"Kau mengenalku?" Pax menatap gelas yang diletakkan Steve di hadapannya. Berlama-lama di sana, seolah bisa menebak kandungan apa terkandung di dalam minumannya. Steve berkeringat, ia panik. Namun, ia berusaha mengendalikan diri agar tetap terlihat tenang dan usahanya itu berhasil. Pax mengangkat gelasnya ke atas. "Kau yang membuatnya?"
"Ya," sahutnya singkat.
"Ya?" Pax menukik alisnya. "Ya, jawaban untuk pertanyaan pertama atau kedua?"
"Berikan juice-nya. Aku harus mencicipinya terlebih dahulu."
Steve memberikan juice buah persik tersebut. Pax membawanya ke dalam mulutnya. Menyesap secara perlahan. Menilai rasa yang ditawarkan oleh minuman tersebut. Pun Pax menganggukkan kepala sembari meletakkan gelas ke atas nampan. "Kau boleh memberikannya kepada putriku."
"Mr. Willson..." Seruan seseorang membuat Pax menoleh. "Wah, ternyata kau hadir juga. Kau bahkan menolak undanganku sebanyak tiga kali. Apakah harus seorang raja atau presiden yang mengundangmu langsung agar kau sudi menghadirinya?" Sarkas Augusto Perez.
Pax berdiri menyambut pria itu. Mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan menteri tersebut. "Kau mengundangku di waktu yang tidak tepat, Mr. Perez." Pax memberi kode melalui ekor mata kepada istrinya agar beranjak dari tempat duduk. Alena yang menangkap kode sang suami segera beranjak, memilih bergabung dengan putrinya, Lexi yang ada di meja sebelah mereka.
"Ya, kegiatanmu sangat padat." Augusto menanggapi ucapan Pax.
"Duduklah, kita bisa berbincang-bincang. Kudengar kau tertarik dengan kilang minyak leluhurku yang ada di Texas. Letakkan satu gelas lagi." Pax memberi perintah kepada Steve yang hendak berbalik. Pun Steve segera meletakkan gelas di atas meja. Minuman yang juga sudah dibubuhi racun.
"Silakan duduk, Mr. Perez." Pax menarik sebuah kursi. Keduanya pun terlibat perbincangan. Steve segera meninggalkan meja targetnya, menghampiri Lexi, si tuan putri yang manja.
"Bersulang untuk kesepakatan bisnis kita." Augusto mengangkat gelas, Pax melakukan hal yang sama. Lalu keduanya saling mendentingkan gelas masing-masing. Augusto menyesap minumannya, sementara Pax hanya menggenggamnya di tangan.
"Kau tidak minum?"
"Aku sudah lama tidak menikmati alkohol." Pax menjawab jujur apa adanya. Sebelum ia menikahi istrinya, Alena, ia memang sudah berhenti mengkonsumsi minuman haram tersebut. "Baiklah, Mr. Perez, aku harus undur diri." Pax beranjak diikuti Augusto. Keduanya kembali berjabat tangan dan secara tiba-tiba Augusto kehilangan keseimbangan. Menteri tersebut jatuh menimpa Pax yang tidak berhasil menahan tubuh pria itu.
"DAD!" Lexi memekik kaget melihat ayahnya yang terjatuh di lantai. "Oh Tuhan, kupikir seseorang menyerangmu." Manik gadis itu berlinang oleh air mata. Hembusan napas lega refleks keluar dari mulutnya begitu melihat ayahnya masih hidup dan baik-baik saja. Ibunya dan beberapa orang menyingkirkan Augusto dari atas tubuh Pax. Pax segera berdiri, membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.
"Kau tidak apa-apa?" Alena menyingkirkan debu di lengan suaminya, menatap pria yang dicintainya itu dengan penuh khawatir. Pax menggeleng sembari mendaratkan satu kecupan di kening istrinya untuk menghilangkan kekhawatiran wanita kesayangannya itu.
Tenaga medis yang selalu siaga di istana muncul untuk melakukan pemeriksaan.
"Apa yang dikatakan Mr. Willson benar. Mr. Perez sudah meninggal dunia."
Terdengar erangan dan pekikan kaget dari para tamu undangan. Kematian Augusto sungguh tidak terduga. Banyak dari mereka yang tidak mempercayai hal itu karena menyaksikan betapa sehat dan bugarnya Augusto beberapa menit lalu. Yang mengherankan bagi relasi dan teman dekat Augusto bahwa selama yang mereka tahu, Augusto Perez tidak memiliki riwayat jantung sama sekali.
Disaat semua fokus pada Augusto, Steve mengambil gelas milik Pax dan menteri tersebut dan berlalu pergi. Misi selesai.
Augusto segera dibawa ke kediaman keluarganya. Acara kerajaan terus berlanjut. Pax kembali berbincang-bincang dengan raja Philip dan tamu penting lainnya, termasuk Gustav Milles, presiden AS.
"Augusto adalah temanku. Setahuku, dia adalah pria yang sangat memperhatikan kesehatan."
"Kematian tidak memandang sehat atau sakit, Mr. Presiden." Pax menjawab bijak. "Mungkin saja besok adalah giliranmu, Mr. Milles," imbuhnya yang langsung mendapat tatapan sengit dari sang presiden.
🐰
"Aku sedang berada di istana kerajaan, Ibu." Lexi mengasingkan diri ke taman istana. Terdapat sebuah kolam dengan dengan air yang memancur dari patung sepasang cupid. Lexi tergoda melihat kejernihan air tersebut. Pun ia melepaskan sepatu, duduk di tepi kolam seraya membenamkan kaki ke dalam kolam. "Istananya sangat indah dan megah. Beberapa ruangan sebenarnya dibuka untuk umum, kelak jika aku sudah memiliki penghasilan, aku akan membawa ibu dan ayah berkunjung kemari."
Daphne yang ada di seberang telepon menganggukkan kepala. Wanita itu menyunggingkan senyum bersahaja. "Apakah acaranya sudah selesai?"
Lexi menggeleng, "Tidak, aku hanya keluar sebentar untuk menghubungimu. Apa kau merindukanku, Ibu?"
Daphne lagi dan lagi tertawa, "Tentu saja. Ini sudah dua hari kita tidak bertemu. Apa kau menikmati acaranya?"
"Ya, begitulah, Ibu. Pangeran Harry mengajakku berdansa. Dia pemuda yang sanga lembut dan penuh perhatian."
"Pasti sangat tampan."
Lexi terdiam. Wajahnya mendadak muram, tersirat kesedihan di sana. Namun, dalam hitungan detik mimiknya kembali berubah. "Ayahku masih yang terbaik, Ibu. Belum ada yang mengalahkan pesonanya." Lexi memamerkan deretan giginya yang putih. "Aku merindukannya, Ibu. Merindukan putramu."
Steve yang mengawasi Lexi dari tadi, tercenung mendengar penuturan gadis itu. Ia lihat Lexi menundukkan kepala, mengusap genangan air mata yang jatuh membasahi pipi.
"Ini sudah hampir empat bulan. Aku belum bisa menerima kenyataan tersebut. Aku sungguh sangat merindukannya. Berharap ia datang ke dalam mimpiku. Tapi sepertinya, Steve enggan menghampiriku meski di alam mimpi. Oh, Ibu, maafkan aku," Lexi mengerang melihat ibu dari pemuda yang ia cintai itu ikut menangis. "Aku tidak bermaksud membuatnya bersedih. Hanya saja aku tidak bisa meluapkan perasaanku kepada siapa pun selain di hadapanmu. Sungguh rindu ini sangat menyiksaku, Ibu. Katakan apa yang harus kulakukan saat satu-satunya obat dari rindu adalah bertemu." Ya, tidak ada obat yang paling ampuh untuk meredakan rindu selain dengan bertemu. Sesuatu yang tidak mungkin bagi Lexi dan Daphne karena mengira jika Steve memang sudah tiada.
"Lexi, Ibu mohon, lupakan semuanya, Sayang. Hiduplah dengan bahagia. Berikan kesempatan pada dirimu. Kau berhak bahagia. Steve bukan pemuda yang baik untukmu, Sayang. Percayalah, akan ada pria yang akan berjuang mati-matian untukmu."
"Seandainya skenario hidup bisa kubaca terlebih dahulu, Ibu. Maka akan kuhapus cerita yang tidak harus aku dan Steve perankan."
Steve menyeringai sinis. Dilepasnya topeng yang menyembunyikan wajah aslinya. "Manusia hanya bisa berangan-angan, tapi pada akhirnya, dunia punya kenyataan. Kenyataan bahwa ayahmu lah yang harus bertanggungjawab atas apa yang kualami."