H.U.R.T

H.U.R.T
Hanya Aku



"Kau memutuskan untuk membawa orang tuamu dari negara ini?" Beth mengangkat gelasnya, mengajak Steve bersulang atas pencapaian Steve hari ini, yaitu menemui orang tuanya.


Steve mengangkat gelas dan mendentingkannya.


"Aku turut bahagia untukmu," Beth berkata jujur.


Steve hanya duduk dalam diam, Beth mengerutkan kening, bingung dengan sikap sahabatnya itu. Bukankah harusnya dia senang. Tapi kenapa wajah Steve terlihat lelah dan murung?


"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


"Aku melihat Austin bersama Olivia tadi malam. Keduanya menghadiri pertemuan yang dilakukan Mr.President dan antek-anteknya. Dua puluh hari dari sekarang, mereka akan melakukan rencana mereka. Hanya saja aku tidak tahu rencana apa yang mereka maksud. Benarkah mereka akan meratakan negara ini?"


"Apa pedulimu? Bukankah kita akan kembali?"


"Aku tidak bisa kembali sebelum orang-orang yang membuatku menderita mengalami hal serupa. Bagaimana dengan Riston, kau sudah menemukannya?"


"Aku akan berusaha. Beri aku waktu. Jadi kau sudah yakin jika Darkness adalah kelompok yang dipimpin oleh Olivia?"


"Hmm," Steve hanya bergumam seolah kenyataan itu bukan sesuatu yang penting. "Awasi setiap pergerakan Austin dan laporkan padaku apapun yang mereka lakukan. Di mana Sam?"


"Dia belum kembali."


Ponsel Steve berdering, panggilan dari orang yang baru saja mereka bicarakan. Samuel.


"Kau di mana?" Steve tidak berbasa basi.


"Jika kau ingin anak buahnya kembali dalam keadaan hidup, temui aku sekarang!"


Panggilan terputus, Steve mengenali suara tersebut. Sangat mengenalinya. Tidak berapa lama, ponselnya kembali berdenting. Pesan masuk yang berisi sebuah alamat.


"Siapa?"


"Austin. Sam ada bersamanya."


"Bagaimana bisa?"


"Kita akan tahu setelah sampai di sana."


Keduanya naik ke dalam mobil, melaju kencang menuju alamat yang dikirim Austin. Dua puluh menit kemudian, mereka sampai ditujuan. Sebuah gudang kosong yang terbengkalai.


Steve dan Beth memendarkan pandangan, mengawasi dengan seksama apakah ini jebakan atau tidak?


"Tidak ada tanda-tanda kehidupan." Beth bergumam.


"Ya. Ayo masuk."


Benar saja, saat mereka masuk juga tidak ada penjaga sama sekali. Austin bermain tunggal.


"Jadi kau adalah bosnya?" Austin menatap Steve dengan mimik datar dari atas cerutu yang ia hisaap.


Dari aromanya, Steve bisa menebak jika pria itu sedang menghisap ganja.


Austin duduk di sebuah bangku kayu. Di bawahnya ada Sam yang sudah babak belur tidak berkutik.


Steve hanya melirikkan matanya sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian kepada Austin yang juga tampak cukup berantakan. Sepertinya terjadi adu jotos yang luar biasa sebelum akhirnya Sam tumbang. Kejutan! Steve tidak menyangka jika Austin hebat dalam adu kekuatan. Sam, salah satu rekannya yang merupakan sniper andalan mereka. Sayang, Sam terlalu lemah terhadap tipu daya wanita.


Olivia memanfaatkannya, Steve mengetahui hal tersebut. Membiarkan dirinya diawasi atas perintah Olivia. Ia ingin melihat sejauh apa Sam akan mengkhianatinya.


Identitasnya yang juga dengan mudah diketahui Brian dan konco-konconya tidak lepas dari campur tangan Sam dan Olivia.


"Apa yang terjadi?"


Austin mendengus, "Apa yang terjadi? Kau sungguh bertanya, apa yang terjadi?"


Austin menarik kepala Sam hingga mendongak. Sungguh, wajah pria itu tidak bisa dikenali lagi.


"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk menjebakku?"


"S-Steven Ivarez..."


Steven terkekeh mendengar jawaban Sam dengan suara melirih dan terputus-putus. Sangat menyedihkan. Kemudian ia mengeluarkan pistol dan menarik pelatuknya. Slup! Dalam sekejap Sam menghembuskan napas terakhir.


Austin menukik alis melihat tindakan yang dilakukan oleh pria itu. Menembak tanpa perasaan. Ya, tidak ada perasaan di dalam dunia hitam.


"Untuk menyembunyikan kebusukanmu, kau menghabisi nyawa rekanmu. Apa masalahmu padaku hingga kau dengan sengaja menjebakku, Bangsyat! Kau memintanya menghubungiku untuk menyelundupkan barang sialan itu dan dengan sengaja membocorkan hal tersebut kepada aparat. Katakan apa masalahmu, Brengsek?!"


Dengan gerakan tidak terduga, Austin merebut pistol dari tangan Steve dan menodongkannya ke wajah pria itu.


"Jauhi Oleshia jika kau tidak ingin hidupmu kubuat kacau. Dan omong-omong,-" Steve sengaja menjeda ucapannya. Jari telunjuknya menyingkirkan pistol tersebut dari hadapannya. "Tidak ada peluru di dalamnya," Steve menyunggingkan senyum sinis lalu meraih leher Austin, menyerang wajah pria itu dengan kepalanya. Krek! Hidung pria itu patah dan seketika darah segar bercucuran dari hidung Austin.


"Jangan mencari masalah denganku, Austin!" Ia menepuk pundak pria itu sebelum berlalu pergi.


____


"Daddy di sini? Di Virginia?"


Lexi sedang melakukan panggilan dengan ibunya, Alena.


"Kenapa Daddy tidak menghubungiku dan kenapa Mommy tidak ikut?"


"Hanya urusan pekerjaan, itulah yang dikatakan Daddy. Darren dan Austin menemuimu?" tanya ibunya dari seberang telepon.


"Tidak. Aku hanya bertemu dengan Harry."


Kau menikmati liburanmu?"


"Akan sangat menyenangkan jika kau ada di sini, Mom. Kita semua akan menikmati indahnya pasir putih di pantai Virginia! Argghh..."


Lexi tiba-tiba berteriak ketika seseorang melompat naik ke atas balkon dan mendorongnya hingga terpojok ke dinding. Ponselnya bahkan terjatuh.


"Lexi... Lexi... Lexi... Ada apa? Kau baik-baik saja?"


Steve memungut ponsel tersebut lalu menempelkan benda tersebut ke telinga gadisnya itu. Tubuh mereka sangat erat, menempel satu sama lain. Aroma Lexi yang begitu memabukkan, menguji akal sehatnya.


"Katakan sesuatu pada Ibu mertua."


"Kenapa kau ada di sini?!" Lexi justru bertanya tentang keberadaan pria itu.


"Lexi, kau bersama seseorang?" Terdengar kembali seruan dari Alena dari seberang telepon. "Apa kau sedang bersama Harry?"


"Oh, tidak Mom." Lexi merebut ponselnya dari tangan Steven. "Mom, aku akan menghubungi nanti. Kamarku kedatangan tamu seekor buaya."


Tanpa menunggu jawaban dari sang ibu, Lexi memutuskan sambungan telepon.


"Jadi kau menyusup ke kamarku dengan cara seperti tadi?"


"Aku tidak akan keberatan masuk dari pintu utama. Kau ingin aku masuk dari pintu utama. Aku bisa turun sekarang."


"Aku ingin kau pergi dari kamarku!"


"Aku mengantuk," Steve menyeret tangan Lexi masuk ke dalam kamar. Ia melepaskan jasnya dan melemparnya begitu saja. Kemudian ia mendudukkan Lexi di atas ranjang, lalu ia juga naik seraya merebahkan kepala di atas pangkuan gadis itu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Nyaman sekali." Alih-alih menjawab pertanyaan Lexi, Steve justru memejamkan mata sambil menggenggam tangan gadis itu dan meletakkannya di dadaanya.


"Lexi," panggilnya kemudian.


Tidak mendapat sahutan, Steve membuka mata dan menemukan iris teduh yang sedang memandanginya. Pria itu tersenyum manis, senyum yang membuat candu.


"Apa pendapatmu tentang Harry?"


Steve melihat Lexi mengernyit bingung. Seperti tidak menduga bahwa dirinya akan menanyakan hal tersebut.


"Dia pria yang baik, hangat."


"Suami seperti apa yang kau inginkan?"


"Aku belum memiliki gambaran."


"Lexi.."


"Hmmm?"


"Jangan berikan hatimu pada siapa pun."


"Termasuk padamu?"


"Itu pengecualian," Steve mengangkat tangan Lexi dan membawanya ke mulutnya.


"Aku tahu banyak pria yang menyukai juga mencintaimu, tapi percayalah, hanya aku yang akan tetap mencintaimu sekalipun kau mencintai pria lain."