
Semuanya berkumpul dalam diam di tengah mansion yang masih berantakan. Banyak rakyat sipil yang tergeletak tidak bernyawa. Para pengawal Willson juga hanya tersisa beberapa orang.
Beberapa titik mansion sudah diberi garis polisi. Polisi daerah saling berdiskusi, menuliskan sesuatu di catatan mereka yang menurut Steve dan yang lain adalah hal yang sia-sia. Jelas-jelas mereka mengatakan jika mereka diserang oleh sekelompotan teroriss, tapi para polisi justru mempertanyakan kenapa dan ada apa secara berulang kali.
Bukan hanya polisi setempat, Agen FBI yang biasanya bekerja sama dengan Willson juga turun tangan, memberi pertanyaan-pertanyaan yang tidak jauh berbeda dari apa yang sudah dipertanyakan polisi, menurut mereka ini sangat memuakkan.
Mereka sedang berduka, kalut dan kacau, banyak pertanyaan hanya akan memancing amarah mereka.
"Jadi maksudmu, Devils masih ada? Ini sedikit membingungkan, Mr. Willson. Seingatku, kau sendiri yang mengatakan jika kelompok tersebut sudah musnah. Lalu, kenapa sekarang nama itu kembali muncul?" Mr. Doukins, salah satu agen FBI bersuara.
"Dan ini," pria berperut buncit itu meletakkan senjata dengan logo yang menyatakan bahwa senjata itu adalah milik Willson. "Senjata ini ditemukan di samping mayat mantan presiden. Bisakah kau menjelaskan ini? Dan aku tidak melihat kehadiran putra bungsumu di sini."
"Dia sedang ada di luar kota." Steve lah yang menjawab pertanyaan itu. Mr. Doukins menoleh ke arahnya, keduanya saling bersitatap dengan tajam.
"Siapa kau?"
"Steven Percy."
"Ah, Steven Percy." Pria itu manggut-manggut. "Mr. Geonandes mengatakan sebelum penyerangan itu terjadi, kau memberi peringatan kepadanya agar tidak lalai seolah-olah kau memang sudah tahu bahwa penyerangan ini akan terjadi."
"Maksudmu, Harry menuduhku melakukan penyerangan ini?"
Mr. Doukins menggeleng, "Dia hanya mengatakan apa yang ia ingat sebelum kericuhan itu terjadi. Ucapanmu ini sedikit ambigu. Dan segala sesuatu yang samar sudah selayaknya kami pertanyakan."
"Jika maksudmu aku adalah otak di balik ini semua, menurutmu kenapa aku masih duduk di sini."
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Sebuah buku yang membuat wajah Steve berubah pias. "Di sini tertulis nama-nama yang saat ini sedang menghilang, termasuk Brian Milles, Vincent Trey, Dean Jacob dan Fread Brown. Dan nama Willson juga tertulis di dalamnya."
Steve mendengus, "Buku itu tidak berarti apa-apa."
"CCTV menangkap keberadaanmu di kantor polisi saat Vincent Trey menghilang dari rumah tahanan begitu juga dengan Isla Ginevra."
"Apa kau sedang menuduhku?!"
"Bukti terarah kepadamu!"
"Apa kau buta atau kau yang tidak mengikuti berita terbaru, Doukins? Vincent Trey, Dean Jacob jelas-jelas mengakui kesalahan mereka secara live, Brian dan Fread termasuk dalam aksi kotor mereka."
"Mereka di bawah tekanan."
"Dan aku bukan orang yang melakukan itu."
"Kau dijadikan kambing hitam dalam kasus 13 tahun lalu. Cukup sebagai alasan kenapa penting bagimu untuk melenyapkan mereka satu persatu. Balas dendam."
Steve berdiri, meraup kerah baju pria itu. Mendorongnya ke dinding dan menjepit leher pria itu dengan lengannya hingga wajah agen tersebut berubah merah karena kesulitan bernapas.
"Apakah kau memiliki bukti bahwa aku yang sudah membunuh mereka? Kau menemukan mayatnya?"
Beberapa rekan Mr.Doukins maju dan menarik Steve agar menjauh dari pria berperut buncit itu. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam menghunus.
"Lepaskan aku!" Gusar seraya mendorong dua pria yang menahan tangannya. "Apa-apaan ini? Seorang gadis sedang diculik oleh sekumpulan teroriss dan kalian justru mengintrogasiku tentang para bedebah yang memang layak mendapat hukuman. 13 tahun lalu para pemerintah dan penegak hukum melakukan kesalahan besar dengan mengkambinghitamkanku, apa kalian ingin melakukan hal yang sama? Tidak malu dengan kegalalan kalian yang tidak bisa mengusutnya dengan tuntas?!"
"Dengar, Doukins, aku tidak peduli kau ingin menahanku, menuduhku atau apa pun, tapi aku ingin Lexi ditemukan dengan segera!"
Athur benar-benar tidak bisa dipandang sebelah mata. Mircrochip yang ditanamnya di tubuh Lexi tidak bisa melacak keberadaan gadis itu sama sekali. Ini membuatnya semakin kalut.
"Kau tidak bisa memberi perintah seenaknya kepada kami. Jika kau merasa dikambinghitamkan, tidak seharusnya kau memalsukan kematianmu. Ingat, memalsukan kematian sama dengan tindak kriminal."
"Oh Tuhan, mereka benar-benar ingin memojokkanku! Bisa kau jelaskan sesuatu kepada mereka?" Steve meminta tolong kepada Pax yang dari tadi hanya diam memperhatikan.
"Mr. Doukins," Pax berdiri dari kursinya. "Masalah ini..." Kalimatnya menggantung karena si agen itu mengangkat sebelah tangannya.
"Kau juga cukup mengecewakan kami, Mr. Willson. Kau menyembunyikan fakta bahwa putrimu adalah garis keturunan teroriss yang membuat keadaan semakin kacau. Putramu menjadi tersangka utama atas kematian mantan presiden. Apa tujuan putramu melenyapkannya?"
"Ciiihh!" Steve mendengus. Pun ia mengambil senjata pria itu dan menembak mayat yang tergelatak di sana. Lalu kemudian ia melempar senjata tersebut.
"Hal semudah ini, haruskah aku mengajarimu, agen sialan!"
"Apa kau sedang mengumpat? Mengatakan kami sekumpulan orang bodoh?"
"Faktanya memang begitu." Steve menyunggingkan senyum mengejek.
"Sidik jari Austin Willson ditemukan di sana."
"Sidik jarimu juga ditemukan di senjata itu," Steven menuduh, menunjuk senjata sang agen yang tergeletak di lantai. "Kau yang membunuhnya?"
"Kau menghinaku?!" Sengit Mr. Doukins.
"Senjatamu ada di sana," ucap Steve. "Kau ingin menuduhku hanya karena sidik jariku juga ada di sana, Doukins? Kau jelas tahu bukan aku yang membunuh mayat itu," imbuhnya kemudian.
Ingin rasanya Steve berteriak agar Arthur segera ditangkap. Tapi ini tidak akan menarik, pria itu juga pasti sudah memiliki segudang rencana. Ia sendiri yang akan menghabisi pria itu.
"Untuk sementara waktu, pergerakan kalian akan diawasi Mr. Willson. Kalian tidak bisa kemana-mana. Putramu juga sedang dalam pencarian. Dia lah yang harus menjelaskan, bukan Anda, Mr. Percy."
"Dan untukmu, atas laporan keluarga Vincent Trey juga atas kelancanganmu mengelabui polisi setempat, kau ditahan." Mr. Doukins memberi isyarat pada rekannya agar memborgol tangan Steve.