H.U.R.T

H.U.R.T
1000 Sampanye



Steve melepaskan dasinya dengan kasar, mendadak ia merasa dicekik. Hatinya panas, terbakar emosi. Tidak cukup dengan melepaskan dasi, Steve membuka dua kancing kemejanya. Wajahnya tegang dan kusut, Beth yang sedang menyetir mobil terkikik geli, tidak merasa prihatin sama sekali.


"Panas?" Beth berkelakar, sangat sengaja membuat suasana hati Steve semakin kacau. "Pendingin menyala dengan sempurna. Butuh es?"


"Diamlah, Beth!"


"Aku tertipu dengan ketenangan yang kau tunjukkan di rumah sakit. Dan sekarang kau terlihat seperti tali headset yang sangat kusut dan rumit. Di mana dari kedua gadis yang paling mempengaruhi suasana hatimu? Ancaman Oleshia yang tidak terima karena sikap brengsekmu atau harga dirimu terluka karena penolakan Lexi? Ah, untuk mendapatkan maaf gadis itu, kau diminta membangun 1000 candi." Tawa Beth lepas seketika mengingat betapa wajah garang Lexi terlihat sangat lucu saat kehabisan akal untuk mengusir mereka. Entah dari mana ide seribu candi itu muncul di otak cantiknya.


"Kemarahanku tidak ada hubungannya dengan keduanya. Dia mulai beraksi. Bukankah artinya aku harus meladeninya?"


"Kurasa yang akan kau hadapi bukanlah sesuatu yang mudah dan yang membuatnya semakin sulit, tidak ada yang mengerti dengan jalan pikiranmu."


Steve tidak menanggapi. Ia terbiasa menjalani semuanya dengan rencana yang sudah ia susun. Hal itu tidak akan ia ubah meski ia harus bertindak sendiri tanpa bantuan kelompoknya. Lagipula, ini adalah masalahnya, sudah seharusnya ia yang turun langsung. Melindungi apa yang menurutnya berharga demi sebuah kelayakan. Walau kelayakan itu adalah hal yang tabu di matanya, tapi tidak bagi orang yang menurutnya penting. Sampai kapan pun, Steve akan menganggap dirinya hina, kotor dan tidak layak mendapatkan kebahagiaan. Tapi ia yakin, ia mampu membuat Lexi berani mengatakan bahwa dirinya memang layak. Lexi harus mengakui kelayakan itu dan Steve akan melakukan apa pun demi pengakuan tersebut meski harus dengan cara memaksa.


Steve juga sadar betul dengan apa yang dikatakan Beth bahwa yang akan ia lalui akan sedikit rumit. Sepuluh tahun mempersiapkan diri, mengumpulkan modal, nyatanya tidak membuat semuanya berjalan mulus. Pertemuannya dengan Lexi juga membuat pertahanannya goyah. Sangat goyah.


"Bagaimana jika kau memulainya dengan bergabung dengan Darkness."


"Itu bukan solusi. Daftar riwayat betapa kotornya hidupku sudah cukup membuat ayah ibuku tidak sudi mengakuiku sebagai darah daging mereka. Apa ada kabar terbaru dari Austin?"


"Kabar terbaru? Sepertinya dia menyukai Oleshia."


"Atur pertemuanku dengannya."


___


"Oh, ini pasti sakit sekali." Austin menekan benjol di jidat saudarinya. Gadis itu meringis sakit dan menepis tangan Austin dengan kasar.


"Kau menekannya, Austin jelek, Dad...."


"Aus, jangan mengganggunya." Pax menghampiri Lexi dengan beberapa dokumen di tangannya, dokumen penting milik Lexi termasuk paspor dan visa. Pria setengah baya itu pun memberikannya kepada Lexi. "Nikmati liburanmu," ucap Pax sembari mengusap lembut memar di jidat putrinya.


Lexi mengangguk, ia menggenggam paspornya dengan erat. Terguncang dengan pertunjukkan Steve si brengsek membuatnya memutuskan untuk pergi berlibur. Apakah nama Steve memang ditakdirkan untuk menjadi kutukan baginya. Bagaimana bisa ia terlibat dengan dua pria bernama Steve yang berhubungan dengan para gadis Phyllida.


"Tentu saja. Aku akan sangat menikmatinya. Mom dan Dad harus segera menyusul kami."


"Ya. Tentu saja sayang." Alena menimpali. Sesuai permintaan putrinya, Alena tidak memberitahu apa yang terjadi di rumah sakit meski ia tahu bahwa tidak ada yang luput dari perhatian suami dan anak-anaknya.


"Selamat siang semua."


Suara yang tidak asing menginterupsi perbincangan keluarga Willson. Semua perhatian tercurah pada sosok tampan yang melenggang santai dengan membawa sebotol sampanye di tangannya.


Lexi berdecak kesal. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Steve bertingkah sangat bebal dan mengesalkan. Pria itu seolah tidak punya urat malu. Ia berganti pasangan semudah membalikkan telapak tangan. Lexi menyesali kebodohannya yang sempat terpesona pada kemaskulinan pria itu yang ternyata tidak lebih dari seorang pria brengsek yang murahan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Lexi berdiri, berkacak pinggang, menatap penuh permusuhan pada Steve. "Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Apa perkataanku begitu sulit untuk kau mengerti, Mr. Ivarez."


"Menjengukmu. Bagaimana kondisimu?"


"Yang mana saja yang membuatmu nyaman." Seutas senyum menawan ia lukis di wajahnya yang sialnya memang sangat tampan. Steve melirik Alena, wajahnya masih biasa saja. Pun tatapannya beralih pada Pax. Keduanya bersitatap dengan wajah tidak bersahabat. Lalu terakhir pada Austin.


"Apa aku mengenalmu?" Austin berdiri di samping Lexi. Menyorot Steve dengan seksama.


"Kurasa ini pertemuan pertama kita."


"Tapi aku merasa jika kau tidak asing."


Steve tergelak, "Ternyata ingatanmu memang sangat buruk, tapi aku tidak keberatan untuk mengingatkan walau ini akan membuatmu sedikit malu. Beberapa bulan lalu anak buahku membuatmu babak belur, tepatnya di rumah ini."


"What? Ah, ya, kau penyusup itu. Apa yang kau lakukan di sini?"


"Menjenguk kekasihku." Steve mengembalikan tatapannya pada Lexi dan kembali tersenyum. "Apa yang ada di tanganmu." Steve melihat paspor yang ada di dalam genggaman Lexi. "Mencoba kabur dariku?"


"Aku tidak akan sudi menjadi kekasihmu!"


"Kau lah yang memintaku jadi kekasihmu 110 menit yang lalu."


Wajah Lexi merah padam, marah dan malu bercampur jadi satu. Lexi bisa merasakan beberapa pasang mata sedang menoleh menuntut penjelasan darinya.


"Seingatku, kau mengatakan jika kau tidak menyukainya." Suara ayahnya terdengar ketus.


"Dia bahkan mengatakan sangat memujaku, Mr. Willson." Steve bagaikan bensin di tengah percikan api. "Bukan begitu, Seksih?"


"Jangan memanggilku begitu!"


"Jangan menyebutnya seperti itu!"


"Lexi, anak muda! Bukan Seksih!"


Tiga kalimat itu terlontar secara bersamaan dari mulut orang yang berbeda. Lexi, Austin dan Pax Willson.


"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu, Ivarez. Jangan membuatku semakin membencimu."


"Tidak akan kubiarkan itu terjadi." Steve melangkah, semakin mengikis jarak diantara mereka hingga akhirnya ia berhenti di depan semuanya. Ia memberikan sampanye yang ada di dalam genggamannya kepada Pax. Pria setengah baya itu menukik alis. Ada apa dengan sampanye? Tidak mungkin si gila ini memintanya untuk membuka tutup botol dan merayakan hari jadi putrinya dengan pria menyebalkan itu.


"Cicilan untuk permintaan maafku." Ucap pria itu dengan mata yang tertuju kepada Lexi.


"Candi. Biar kuingatkan Steven Dixton Ivarez, maafmu akan kuterima jika kau berhasil membangun seribu candi!"


"Itu hal yang mustahil, Sayang. Aku bukan Bandung Bondowoso yang sanggup memenuhi syarat dari Roro Jonggrang. Untuk itu kubawakan sampanye yang usianya lebih tua dari ayahmu yang harganya tentu sangat mahal. Satu sebagai bentuk iktikad baikku. Dan 999 lagi akan segera menyusul. Sekarang, katakan padaku, apa yang akan kau lakukan dengan paspor di tanganmu?"


"Bolehkah aku menarik pelatuk dan membunuhnya?" Sarkas Pax yang juga mulai ikut terpancing dengan sikap selengean pria itu.


"Ya, Dad. Lakukan lah!"