
Lexi melajukan mobil, memilih untuk menenangkan diri. Ia tidak ingin ayah dan ibunya tahu dengan apa yang dikatakan Lily kepadanya. Ia tidak ingin semua terlalu mengkhawatirkan dirinya. Tempat yang selalu ia kunjungi jika sedang dalam keadaan gundah. Menghentikan mobil di depan sebuah toko bunga. Lexi mengambil dua jenis bunga.
Lexi kembali melajukan mobil, berhenti di tempat pemakaman umum. Ya, makam Steve adalah tempatnya mengadu. Di sana, ia meluapkan apa yang ia rasakan. Tidak ada yang ia sembunyikan. Biarkan langit, tanah, dan semesta mendengarkan gundahnya.
"Kau ingat Lily Oswald, Steve? Ah, ya, wanita yang mengatakan jika kau kami jadikan sebagai taruhan." Lexi tertawa hambar. "Kenapa selalu hal jelek yang kau ingat?" seolah Steve memang merespon apa yang sedang ia katakan. "Dia temanku. Aku tahu kau tidak menyukainya. Baiklah, aku tidak akan membahas tentang dirinya. Aku bertemu seorang pria." Lexi menundukkan kepala, terlihat seperti anak kecil yang sedang mengakui kesalahannya. "Dia sangat tampan. Apakah kau cemburu?" perlahan ia mengangkat kepala, menatap nanar batu nisan di hadapannya. "Aku berharap kau cemburu?" lirihnya dengan wajah mengiba. "Aku berdebar saat berada di dekatnya. Aku takut. Sangat takut."
"Aku memutuskan untuk berhenti menggapai impianku. Fashion sepertinya bukan bidangku. Aku akan menjadi anak manja yang manis. Berdiam diri di rumah. Brian menyebutku tidak menarik. Apakah kau setuju dengan apa yang dikatakan Brian? Dia mempermalukanku. Seluruh dunia tahu jika aku bukan bagian dari Willson. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Apakah dia marah karena aku selalu menolak ajakan kencannya? Ini salahmu, Steve! Kau selalu menghantuiku! Disaat aku berpikir untuk membuka hati, aku merasa kau selalu berada di belakangku, mengawasi dan menatapku dengan tajam. Jika dokterku mendengar hal ini, mungkin dia akan meresep obat yang lebih banyak untukku. Ilusiku sering membuatku seperti orang gila. Dan hal paling gila yang pernah kulihat adalah kehadiran Olivia di ajang fashion." wajah Lexi mendadak sinis, tidak ada kelembutan yang tersisa. "Jika Olivia atau siapa pun wanita yang mirip dengannya itu bisa muncul. Kenapa kau tidak muncul juga, Steve?" kini mimiknya berubah sendu. Maniknya berlinang, siap untuk membanjiri wajahnya. "Akan lebih baik jika kau dan Olivia masih hidup. Katakan kepada dunia, apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah ini karena ulahku? Benarkah ini salahku? Apakah semua kejadian ini memang berhubungan denganku? Steve, aku tidak bisa menanggung rasa bersalah yang lebih besar lagi. Aku tidak bisa melihat tangisan di mata ibumu yang selalu ia sembunyikan setiap kali merindukanmu. Aku tidak bisa memandang mata ayahmu, karena kepergianmu sepertinya memang benar ada hubungannya dengan ayahku." Ia kembali menyembunyikan wajahnya, malu dengan pengakuannya sendiri. "Aku mencintai keluargaku. Tolong jangan menghukum mereka. Aku akan menanggung semuanya, tidak masalah." ia mengakhiri ceritanya seraya meletakkan bunga mawar di atas makam Steven. Bunga kesukaannya.
Menarik napas panjang, Lexi pun berdiri. Bunga tulip putih untuk Olivia. Saat menemui Steve, ia juga tidak lupa menyapa Olivia yang kebetulan memang berada di tanah pemakaman yang sama.
"Aku pergi," pamitnya seraya berbalik. Melewati makam demi makam untuk sampai ke makam Olivia. Langkahnya terhenti. Hal yang tidak terduga ia saksikan di hadapannya. Saudaranya, Darren, sedang ada di sana dengan kepala tertunduk. Hei, ada apa ini? Sejak kapan Darren menundukkan kepala selain kepada ibu mereka.
Lexi merasakan hatinya kembali tersayat. Tudingan Lily kembali menggema. Mimpi-mimpinya tentang Olivia dan Isla yang menuntut keadilan kembali terekam. Benarkah ada kamuflase dengan kematian Olivia. Lexi tiba-tiba tersentak akan dugaan yang kembali menyerangnya. Kenapa kasus itu begitu cepat dipecahkan dan ditutup. Beritanya dibungkam. Kenapa Ny. Phylida yang awalnya sangat gencar menuntut keadilan tiba-tiba menghilang? Dan hal yang luput dari perhatiannya adalah, kemana Darren setelah acara prom night. Ia pulang sendiri, dijemput oleh sopir mereka. Memorinya kembali ia galih, Darren meninggalkannya saat Olivia tiba malam itu. Ya, Darren berpamitan kepadanya.
Lexi harus bertanya kepada Darren. Darren tidak boleh menjadi pengecut. Dengan langkah cepat, Lexi mendekati saudaranya. Entah apa yang sedang dipikirkan Darren hingga tidak mendengar langkah kakinya. Pria itu juga tidak menyadari kehadirannya. Hei, ini bukan Darren yang biasanya. Darren bisa mencium kehadiran Lexi dalam jarak beberapa meter. Lexi semakin yakin jika memang ada yang salah.
"Aku sangat penasaran, kenapa kau menundukkan kepala di makam Olivia?"
Darren menoleh cepat. Terkejut dengan kehadiran Lexi. Lexi kembali dibuat semakin terkejut. Darren menangis!!
"Ini mengejutkan. Aku tahu Olivia bukan kekasihmu atau pun wanita yang kau incar, lalu kenapa kau menangis di samping makamnya?"
"Kau habis mengunjungi kekasih hantumu itu?" Darren mengalihkan topik. Membersihkan matanya dari sisa air mata.
"Aku sedang bertanya padamu, Darren. Kenapa kau ada di sini dan menangis? Apakah ada yang kau sembunyikan?"
"Kau menyembunyikan sesuatu. Kalian menyembunyikan sesuatu? Aku melihat kau dan Daddy memberikan uang kepada Mrs. Phyllida. Kau melakukan sesuatu yang buruk kepada Olivia?"
"Tidak."
"Tatap mataku jika aku sedang bertanya padamu." untuk pertama kalinya Lexi meninggikan suara di hadapan Darren. "Kau berbohong. Pasti ada yang salah." Lexi tiba-tiba mundur menjauh, merasa asing terhadap saudaranya.
"Lexi."
"Katakan jika Steve memang tidak bersalah?" meski ia meyakini hal itu, ia butuh kejelasan, ketegasan. Selama ini, hanya ia dan kedua orang tua Steve yang meyakini hal itu.
"Ya." jawab Darren singkat.
Ada kelegaan juga ketakutan. Lega Jika Steve sama sekali tidak bersalah. Namun, seiring kelegaan itu, ketakutan datang menghampiri. "Katakan jika kematian Olivia juga tidak ada hubungannya denganmu, Darren. Kumohon."
"Lexi..."
"Oh Tuhan," Lexi tiba-tiba memekik kaget. "Olivia diperkosa, itulah yang dituduhkan kepada Steve. Jika bukan Steve yang melecehkannya, lalu siapa?"
"Brian yang melakukannya. Brian dan teman-temannya." Darren masih saja belum berani menatap mata adiknya.
"Apa maksudmu? Kau tahu semuanya? Inikah alasanmu melarangku bertemu dengan Brian dan teman-temannya? Mereka melecehkan Olivia. Jika itu benar, kenapa kau diam? Kenapa kau bungkam dan membiarkan orang yang tidak bersalah menjadi tersangka." Ah, Lexi semakin merasa tidak layak untuk mencintai seorang Steve. Pria yang meninggal tanpa mendapatkan keadilan. Ini sangat kejam.
Di kejauhan tampak Steve memperhatikan keduanya. Ia juga mendengar curahan hati Lexi kepadanya. Dan sama seperti Lexi, melihat Darren di makam Olivia juga suatu kejutan untuknya. Ia tidak menyukai Darren, tapi tidak lantas membenci pria itu. Jika Darren ada hubungannya dengan semua ini, ia menemukan jawaban kenapa Pax mengirimnya ke penjara mematikan itu.