
Steve kembali ke ruang utama, meletakkan juice buah persiknya yang belum sempat ia minum. Perhatiannya teralihkan oleh ponselnya yang berdering.
"Akhirnya kau menghubungiku. Kau sudah sampai di istana?"
"Sudah sejak dua bulan yang lalu dan ini membosankan, Steve."
Steve tergelak, ia mengerti dengan apa yang dirasakan wanita itu. Kehidupan istana tidak seenak yang terlihat. Semuanya diperhatikan dari hal yang kecil sekalipun. Pelayan istana juga diwajibkan menutup mata, mulut dan menulikan pendengaran dengan apa pun yang terjadi sana.
"Isabel mengatakan jika dia belum bertemu dengan dirimu, Zen."
"Aku disibukkan dengan pekerjaan lain dan sahabatmu itu lebih sering menghabiskan waktu di kamar dan perpustakaan istana. Kau pikir pelayan sepertiku bisa masuk seenaknya. Harusnya kau mengirimku ke sini sebagai tamu agung, bukan pelayan."
"Kau akan menjadi pusat perhatian jika begitu. Usahakan untuk bertemu dengan Isabel dan pastikan dia bersedia mengubah penampilannya."
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Untuk apa kau mengubahnya? Ingin kau jadikan istri?"
"Kau cemburu?"
"Yang benar saja. Kau jelas tahu pria seperti apa yang membuat hasratku berkobar."
"Kalau begitu lakukan tugasmu dengan benar."
"Dari yang kudengar, Isabel kurang disukai dalam arti sangat dibenci oleh permaisuri, ibunya Harry. Wanita itu selalu menggunakan segala cara untuk mengusir gadis malang itu dari istana."
Steve hanya menarik napas panjang. Ia jelas tahu hal itu. Steve pernah menyaksikan secara langsung bagaimana Mrs.Geonandes sang permaisuri memaki dan menampar Isabel di depan para pelayan.
"Steve..."
"Ya?"
"Semuanya baik-baik saja?"
"Hmmm."
"Bagaimana jika aku gagal?"
"Aku akan menikahimu."
"Kalau begitu aku akan berusaha untuk tidak gagal dengan mengerahkan segala keahlian juga pesona yang kumiliki."
"Bagus. Jaga dirimu baik-baik." Steve memutuskan sambungan telepon begitu melihat Zenia dan Zetta keluar dari dapur.
Zetta langsung duduk di sofa, berseberangan dengan Steve. Sementara Zenia hanya berdiri sambil memegang juice buah persik miliknya.
Steve melihat gadis itu membandingkan juice miliknya dengan milik Steve yang terletak di atas meja. Dari warna saja memang terlihat sangat berbeda.
"Aku berbaik hati membuat juice untuknya dan katanya rasanya tidak enak," adu Zetta kepada Steve.
"Ini enak, Zetta. Sangat enak. Sungguh." Zenia menyesap juice tersebut dan menjiilat bibirnya tanpa sadar. "Lihat, aku meminumnya. Enak dan sangat manis."
"Kau mencampurnya dengan gula?" Steve bertanya kepada Zetta. Gadis itu menganggukkan kepala.
"Apa kau tidak capek berdiri di sana. Duduklah." Steve mengarahkan dagunya ke sisi kosong yang ada di sebelahnya.
Zenia tampak ragu untuk duduk di sebelah Steve, tapi memang sudah tidak ada sofa kosong lagi.
"Jika kau tidak ingin duduk, menyingkirlah dari hadapan kami kalau begitu," kalimat pengusiran yang terdengar sangat jelas. Zenia buru-buru duduk di sebelah Steve.
Zenia bisa saja pergi dari sana tapi membayangkan Steve dan adiknya hanya berdua di rumah itu membuatnya tidak nyaman. Apakah ia takut Steve berbuat macam-macam pada Zetta atau ia justru takut Zetta merayu Steve. Yang jelas ia tidak nyaman dengan kedua opsi tersebut. Ini sangat membuatnya terganggu.
Steve tiba-tiba merebut gelas yang ada di dalam genggaman Zenia dan meminum sampai tandas juice tersebut.
Ia sampai terbatuk-batuk dibuatnya.
"Kau menuangkan berapa banyak gula ke dalam sini, Zetta?"
"Aku tidak mengukur atau pun menghitungnya. Aku hanya mengira-ngira. Enak?"
"Kau mencuri milikku," gumaman Zenia lebih menarik perhatian Steve dibanding pertanyaan Zetta tentang pendapatnya mengenai juice mengerikan buatan gadis itu.
"Mencuri?"
"Eh?"
"Pertama, buah persik ini adalah milikku. Kedua, gelas yang kau gunakan juga milikku. Ketiga, juicer yang kau gunakan untuk membuat juice ini juga milikku. Keempat, ini rumahku. Di mana dari tindakanku yang bisa kau katakan sebagai pencuri?"
Zenia gelagapan, wajahnya merah padam karena malu. Pria itu selalu sukses membuatnya salah tingkah dan mati kutu.
"Ma-maaf." Zenia buru-buru berdiri. "Aku se-sebaiknya pergi."
"Aku tidak suka berutang," Steve mengambil juice miliknya dan memberikannya kepada Zenia. "Habiskan."
"Ta-tapi..."
"Kenapa kau selalu mendadak gugup berbicara padaku?"
"Ka-kau sangat galak."
Steve berdehem, "Habiskan juice-mu dan bersihkan kamarku. Aku ingin berbincang dengan Zetta."
"Habiskan!!" Steve kembali membeli perintah karena Zenia belum juga meminum juicenya.
Zenia mengangguk dan buru-buru meminum juice tersebut hingga tidak tersisa.
"Ini enak sekali." Zenia membersihkan mulutnya dengan menggunakan punggung tangan, matanya berbinar cerah, senyum menawan merekah di wajahnya yang cantik. "Ini benar-benar enak!"
"Sekarang, pergilah ke kamarku dan bersihkan dengan benar."
Zenia mengangguk patuh. Ia membawa seprei, berjalan meninggalkan Steve dan Zetta di sana.
"Aku akan melaporkan tindakanmu kepada ibuku karena sudah membuat kakakku takut, Steve! Tidak bisakah kau bersikap biasa saja kepada Zenia seperti kau bersikap kepadaku dan Amor."
"Kapan kau mulai bekerja?" Steve lagi dan lagi mengabaikan pernyataan Zetta.
"Aku masih memiliki jatah libur selama tiga hari lagi dan aku akan menggunakannya sebaik mungkin untuk menciptakan kulit eksotik yang menggoda. Bagaimana menurutmu, aku sudah cukup menggoda?"
"Dasar gadis nakal! Pergilah ke atas, bantu Zenia. Aku ingin berbicara dengan seseorang."
Dengan patuh Zetta beranjak dari kursinya. Steve kembali mengambil ponselnya dan menghubungi Beth. Di deringan pertama, panggilannya langsung dijawab.
"Woowww.... My btother, what's up, Bro?"
"Kirimkan 499 sampanye ke rumah Willson. Katakan kepadanya bahwa utangku sudah lunas."
"What?"
"Lakukan saja perintahku. Segera."
"Kau di mana? Kau baik-baik saja. Aku khawatir padamu. Makanku tak enak tidurku tak nyenyak. Sebutkan saja posisimu, aku akan segera terbang ke sana."
"Kau menjijikkan!" Steve segera memutuskan sambungan teleponnya.
_____
Di kediaman Willson, Pax baru saja turun dari mobilnya dan Alena langsung berlari menghampirinya. Pria itu merentangkan kedua tangannya tapi Alena melewatinya begitu saja. Istrinya itu langsung membuka pintu mobil, memeriksa apakah ada orang lain di sana.
Pax menarik napas panjang. Sama sepertinya, Alena masih yakin jika Lexi masih hidup selama mereka belum menemukan jasadnya.
"Lexi belun pulang? Apakah dia belum merindukan kita?" wajahnya terlihat sedih dan terpukul. Seutas senyum paksa ia terbitkan di wajah. "Tidak apa-apa. Dia mungkin sedang bersenang-senang. Bukan begitu, Pax?"
Pax tidak bisa memberikan reaksi meski hanya sekedar anggukan kepala. Yang ia lakukan adalah membawa istrinya ke dalam pelukannya. Ya, Pax dan kedua putranya baru saja kembali dari desa guna melakukan pencarian. Darren langsung ke perusahaan, ada rapat yang harus ia hadiri sementara Austin pergi entah kemana.
"Bagaimana jika besok kita pergi ke Spain menjemput Isabel. Kita akan memintanya langsung kepada Mr. Geonandes."
Alena menganggukkan kepala, "Ya, saat Lexi pulang, dia pasti senang menemukan Isabel di sini."
Tin... Tin...
Suara klakson menghentikan langkah mereka yang hendak masuk ke dalam rumah. Beth melambaikan tangan sebelum turun dari dalam mobil.
"Mr. Willson." Beth mengulurkan tangan yang langsung disambut Pax dengan segera.
"Austin tidak ada di sini," Pax memberitahu. Keduanya memang kerap menghabiskan waktu bersama bahkan tak jarang Beth menginap di rumah mereka. Hubungan Austin dan Beth mendadak kompak.
"Aku datang bukan untuk menemuinya."
Tidak berapa lama sebuah truk memasuki halaman mansion. Pax mengerutkan kening, heran melihat kedatangan truk tersebut.
"Steve memintaku datang melunasi utangnya. 499 sampanye."
Pax bergeming, raut wajahnya tidak terbaca, kaget, lega, haru, juga marah bercampur jadi satu.
"Kau menerimanya, Mr. Willson?"
"Sampaikan padanya, aku ingin dia yang datang langsung kepadaku."