H.U.R.T

H.U.R.T
delapanbelas



pikiran ku udah engga lagi tentang ujian ku, tentang masa depan ku atau pun cita cita ku, yang aku pikirkan sekarang hanya bagai mana cara nya aku pergi tanpa melihat lagi ayah ataupun bunda.


aku memang masih belum mengerti dengan hal semacam itu, apa yang menyebabkan kedua orang tua ku bisa seperti itu.


tapi yang aku tau keluarga itu bukan seperti ini, bukan tentang saling menyakiti dan saling membenarkan satu sama lain.


hari ini malam terasa lebih cepat dari hari biasa nya, aku beranjak dari tempat tidur untuk buang air kecil, ponsel ku terlihat di atas meja begitu saja saat aku baru saja keluar dari kamar ka Yugi.


mataku sekarang mencari ka Yugi di setiap sudut rumah, tapi engga ada tanda tanda ka Yugi di dalam rumah.


tiba tiba pintu gerbang terbuka, ka bara mulai berjalan menuju pintu dan siap untuk membuka nya.


aku dengan cepat berlari ke arah pintu dan mengunci nya, kemudian aku masuk ke dalam kamar kembali dan menutup pintu rapat rapat.


aku menutupi semua tubuh ku dengan selimut ka Yugi, tapi tiba tiba semua badan ku terasa panas saat aku mendengar suara ketukan pada pintu.


entah kenapa tiba tiba jantungku berdegup cukup kencang, mungkin aku ketakutan atau entah lah aku sendiripun bingung.


ka bara akhir nya membuka ponsel nya dan mulai menelpon seseorang setelah beberapa saat dia mengetuk pintu.


" gi, di mana ??? "


" lagi nyari makan, bentar lagi balik ko, masuk ajah engga di kunci "


" engga di kunci apaan, orang aku coba buka dari tadi engga bisa "


" ya udah tunggu "


ka bara mengakhiri panggilan nya dengan ka Yugi dan terduduk di teras menghadap gerbang.


aku yang penasaran mencoba melihat lewat kaca kamar yang ku buka tirai nya sedikit.


melihat wajah ka bara sepintas membuat aku mengingat seseorang di toko kue saat aku berdebat dengan salah satu pembeli di toko.


" aaah.....Iyah aku ingaaaat.....tapi ngapain dia ke sini ??? "


aku bergumam sendiri di dalam kamar sambil terus mengawasi ka bara di balik jendela kamar.


beberapa menit kemudian ka Yugi terlihat membuka gerbang, ka bara pun langsung berdiri menyambut ka Yugi.


" kamu udah coba ngetuk pintu belum ??? "


ka Yugi langsung menanyakan hal yang dasar saat orang bertamu ke rumah orang lain, padahal sudah jelas itu pasti di lakukan setiap orang yang bertamu.


" udah, tapi ya percuma kan aku ketuk ketuk kalau kamu engga ada di rumah "


" ada adik ku di dalam "


" oh, emng Iyah ???? "


ka Yugi mulai mengetuk pintu dan memanggil nama ku, sementara aku menjadi semakin salah tingkah di buat nya.


aku terdiam untuk beberapa detik sampai akhir nya aku memutuskan untuk membuka pintu dan berpura pura baru terbangun dari tidur.


" lama banget sih buka pintu ?? "


" maaf, aku baru bangun tidur "


" perasaan tadi engga Kaka kunci pas kamu tidur "


kata kata ka Yugi membuatku terdiam, dia benar benar orang yang engga bisa di ajak kerjasama pikirku.


ka Yugi melewati ku untuk masuk di ikuti ka bara di belakang nya, tapi ka bara menghentikan langkah kaki nya tepat di hadapanku dan menatap ke arahku sambil tersenyum.


" ternyata kamu adik nya Yugi "


aku hanya mengangguk dan engga berani melihat balik ke arah ka bara.


mendengar ucapan ka bara, ka Yugi menoleh dan melihat ke arahku juga ka bara secara bergantian.


" itu cewe magang yang kamu maksud bar??? "


" jangan kenceng kenceng, kalau dia denger malu aku gi "


" alah punya malu juga kamu "


akhir nya aku ka Yugi dan ka bara makan bersama setelah ka Yugi menyiapkan beberapa makanan yang baru dia beli.


sebenar nya aku engga berselera buat makan, hanya saja ka Yugi terus memaksaku, dan kali ini ka bara juga ikut membujuk ku untuk makan.


" abis selsai makan aku mau pulang "


aku mulai membuka pembicaraan di antara kita bertiga yang mulai senyap karna saling menikmati makanan yang kita siapkan tadi.


" kamu udah ngerasa baikan ?? kalau belum benar benar baik mending jangan pulang "


" aku baik baik ajah, di rumah juga kan ada tari sama mba ayu "


ka Yugi hanya mengangguk, meski wajah nya masih terlihat sangat jelas mengkhawatirkan ku.


ka bara tidak menanggapi apapun saat aku dan ka Yugi saling berbicara, dia hanya tetap fokus pada makanan di hadapan nya.


setelah menghabiskan makananku, aku segera beranjak dari duduk ku.


" ambil ponsel mu "


tanpa melihatku sedikitpun ka Yugi memintaku mengambil ponsel yang terletak di atas meja, dengan segera aku mengambil nya dan menuju kamar ka Yugi untuk mengambil jaket juga tas milik ku.


" kira kira adik kamu minta pulang karna aku datang atau ...... "


" dia minta pulang karna emang pengen pulang bar "


" kalian baik baik ajah kan ??? "


seperti nya ka bara tau apa yang sedang aku dan ka Yugi alami, ya setelah di perhatikan ka bara tampak nya juga bukan hanya sekedar rekan kerja untuk ka Yugi.


ka Yugi itu tidak senang bergaul dengan banyak orang, jadi yang aku tau ka Yugi tidak pernah memiliki teman dekat yang sampai sebebas itu berada di rumah nya.


" jujur aku mengkhawatirkan Yuri, dia lagi ujian sekarang "


ka bara hanya menatap ka Yugi sambil mendengarkan dengan fokus.


" aku ngerasa gagal bar jagain Ade aku sendiri "


ka Yugi menundukan kepala nya dan mulai membereskan sisa makanan yang masih ada di meja.


" masih banyak waktu gi, kamu jagain Ade kamu tuh engga cuma sampe hari ini "


kedua nya saling terdiam, ka Yugi mulai berdiri dan membawa sisa makanan ke dapur, di ikuti ka bara yang juga merapihkan piring dan sendok kotor di dapur.


" aku benci banget bar "


" sama orang tua mu ??? "


" Iyah "


" kamu cuma boleh merasa kesal gi, kamu engga bisa benci sama orang tua kamu seburuk apapun mereka sekarang, mereka juga punya alasan yang engga harus mereka ceritakan pada anak anak nya "


" kenapa harus dengan cara kaya gitu bar "


" semua orang punya cara sendiri buat bahagia "


" termasuk mengorbankan kebahagiaan anak anak mereka gitu ?? "


" kamu dan adik mu cuma perlu mencari kebahagiaan kalian juga "


" maksud nya??? "


" gi, aku juga korban sama, tapi aku memilih fokus dengan hobi yang aku punya, aku tuangin semua marahku di musik sampai akhir nya aku bisa ngebangun perusahaan musik ini "


ka Yugi terdiam, dan tersenyum pada ka bara, ka Yugi merasa bersyukur dengan kehadiran ka bara di hidup nya, bagaimana tidak, selain ka bara menjadi rekan kerja ka bara juga lah yang membuat ka Yugi selalu bersikap tenang dan engga selalu mengatasi masalah dengan amarah.