H.U.R.T

H.U.R.T
Pencuri



"Jadi ini rumahmu?" Austin duduk di sofa sebelum Oleshia mempersilakan. Kedatangan pria itu ke rumah Oleshia untuk menuntut kencan yang menjadi taruhan mereka. Malam itu, Austin menjadi pemenang.


"Kau menemukannya dengan cepat."


"Instingku sangat kuat dan gerakanku sangat gesit bila berhubungan dengan wanita cantik." Austin mengedipkan matanya dengan genit.


"Seingatku, minggu depan adalah jadwal kencan kita." Oleshia duduk berseberangan dengan Austin. Duduk dengan cara yang begitu sangat anggun. Sebelah kaki jenjangnya disilangkan di atas lutut. Tidak berapa lama, seorang maid datang membawa minuman untuk mereka.


"Aku sedang bosan," sahut Austin dengan enteng. "Rumah sebesar ini, kau tinggal sendiri?" ia memendarkan pandangannya. Di dinding ruang utama, tidak banyak pajangan. Hanya saja, salah satu foto Oleshia yang mengenakan mahkota, duduk di atas kursi besar menarik perhatiannya. Oleshia terlihat layaknya ratu yang sangat anggun dan menawan. Austin benar-benar mengagumi kecantikan wanita itu. Ia sangat penasaran dengan Oleshia. Tidak pernah seperti ini sebelumnya.


"Kekasihku sering berkunjung."


Sontak saja pernyataan Oleshia tersebut berhasil mengalihkan perhatian Austin dari foto Oleshia tersebut. Austin menukik sebelah alisnya, kemudian tergelak renyah.


"Kekasih? Ouh!" ia mengerang seksih. "Jadi aku mengunjungi wanita yang sudah memiliki kekasih?"


"Dan bisa kutebak kau tidak memiliki kekasih." Oleshia mengambil minumannya, menyesap dengan cara yang tidak kalah anggun. Austin benar-benar dibuat terpana. Dari gerakan tangan saat Oleshia mengambil gelas hingga meletakkannya kembali.


"Malam ini kau lah kekasihku."


Oleshia tersenyum, sampai detik ini, ia sampai pada kesimpulan jika Austin adalah pria perayu yang tidak tahu malu.


"Kencan kita minggu depan jika kau lupa, Mr. Willson."


"Aku adalah pemenang. Aku yang berhak menentukan."


"Kekasihku akan datang."


"Oh yeah?" Austin seolah tidak percaya. "Dari yang aku lihat, kau sedang tidak menunggu kekasihmu, melainkan bersiap untuk tidur." Ya, Oleshia sudah mengenakan gaun tidur satin yang begitu mengkilap. Jiwa predatornya tertantang untuk melihat pemandangan indah di balik gaun tersebut.


Oleshia terkekeh renyah, begitu merdu dan menggelitik, harus kuat iman jika Austin tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri. Selama ini, wanita lah yang memohon padanya. Dan ia menginginkan hal yang serupa terjadi pada Oleshia. Ck! Egonya tinggi cuy!


"Sepertinya kau memang tidak pernah memiliki kekasih."


"Apa hubungannya?" Austin berlagak suci dan polos.


Oleshia memutar bola matanya dengan jengah, "Ayolah, hentikan permainan siapa yang paling lugu diantara kita berdua. Kekasihku lebih suka melihatku menunggunya dengan keadaan siap seperti ini."


Tawa Austin pun meledak. "Wow! Sepertinya kau sangat hebat di ranjang. Aku iri dengan kekasihmu."


"Habiskan minumanmu dan pergilah."


Austin melirik kopi yang disuguhkan kepadanya. Pun ia mengangkat cangkir tersebut, menyesapnya perlahan. "Tidak ada alkohol?"


"Astaga, kau tidak mendengar jika aku sedang mengusirmu?"


"Aku akan pergi jika kekasihmu sudah datang."


Oleshia berdiri dengan wajah kecut, "Hanya satu botol. Setelah itu, kau harus pergi."


"Ya.ya. ambilkan yang paling enak dan mahal. Aku sedang bosan. Butuh sesuatu yang panas dan menggelora."


"Aku memiliki kompor di dapur. Ada baiknya kau membakar diri di sana."


"Ouh, kejam sekali."


Oleshia tidak menanggapi lagi ucapan Austin. Ia segera menuju ruang penyimpanan koleksi minumannya. Lebih cepat ia memberikan apa yang diinginkan Austin, lebih cepat pria itu pergi.


___


"Good morning."


Lexi yang baru membuka mata dibuat terkejut. Wajah Steve tepat berada di atas wajahnya. Spontan, ia mendorong wajah itu dan segera duduk.


"Astaga, aku sungguh menginap dan tertidur di ranjang orang lain?!" Lexi membersihkan kedua sudut matanya lalu merapikan rambutnya yang selalu bermasalah setiap pagi. Rambut panjangnya mengembang dan bergelombang. Penampilan yang kurang ia sukai.


"Kupikir kau pingsan. Sepertinya ranjangku sangat empuk hingga matahari lebih dulu terbit dibandingkan dirimu. Pemalas." Steve menarik kursi, duduk di tepi ranjang. Aroma segar yang begitu enak memenuhi ruangan tersebut.


Lexi memperhatikan penampilan Steve yang sudah rapi. Pria itu tampak sangat menawan dengan setelan formal yang ia kenakan. Kemeja putih dipadukan dengan jas biru dengan motif bergaris, senada dengan celananya.


"Jam berapa sekarang?"


"Apa?! Di mana ponselku?"


Steve segera mengambilnya di atas nakas, memberikannya kepada Lexi. "Dua panggilan dari Ibu, lima panggilan dari Mom, satu panggilan dari Saudaraku bajiingan, dan satu panggilan dari Saudaraku yang menawan."


"Bagaimana dengan Daddy?" Lexi merebut ponselnya.


"Dua puluh panggilan dari Daddy," lanjut pria itu yang membuat manik Lexi membeliak.


"Oh Tuhan," Lexi langsung menyingkap selimut, turun dari ranjang. Ia harus pulang sekarang!


"Kau mau kemana?"


"Tentu saja pulang. Aku membasuh wajahku dulu." Lexi melintasi ruangan dengan langkah lebar.


"Ivarez?!"


"Ya," Steve berjalan menuju toilet, ia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


"Apakah harga kaca begitu mahal?"


"Huh?"


"Aku tidak menemukan cermin di toiletmu yang super mewah ini. Toilet tanpa cermin bagaikan rumah tangga tanpa cinta. Hambar."


Steve terdiam. Ya, tidak ada cermin di sana. Di toilet atau pun di kamarnya. Ia tidak membutuhkannya. Steve memilih tidak menanggapi pertanyaan Lexi. Ia segera berbalik, memilih untuk merapikan tempat tidur. Saat tangannya menarik selimut untuk dilipat, ia melihat helaian rambut Lexi tertinggal di atas bantal. Sudut bibirnya tersenyum melihat pemandangan itu.


"Aku tidak menemukan cermin di mana-mana."


Steve menoleh ke sumber suara. Lexi sudah keluar dari dalam toilet.


"Cermin akan minder melihat ketampananku," jawabnya dengan nada malas. "Aku tidak membutuhkannya."


Lexi memutar bola matanya mendengar kenarsisan pria itu. "Kau tidur di mana tadi malam?"


"Kau tidak melihat sisi ranjang kiri juga berantakan. Kita tidur di atas ranjang yang sama."


"Oh..." spontan ia memeriksa pakaiannya. Hembusan napas lega keluar dari mulutnya begitu ia melihat jika dirinya masih lengkap. Bahkan gelang karet yang ia jadikan sebagai ikat rambut masih melingkar di tangannya.


"Aku tidak menyentuh wanita tanpa seizinnya."


"Ya, aku tidak percaya. Kau adalah pria yang sama yang sudah mencuri ciumanku. Di mana tasku?"


"Ada di sofa. Akan kuambilkan." Steve meninggalkan selimut yang hendak ia lipat.


"Aku bisa mengambilnya sendiri."


"Ada sarapan di atas nakas. Makanlah sebelum kau pulang."


"Jika aku menolak?"


"Kau tidak akan keluar dari kamar ini." Steve memberikan tas milik gadis itu.


"Dasar otoriter," tidak ada pilihan selain mengikuti perintah Steve. Lexi pun duduk di ranjang, mengambil gelas susu yang masih hangat. Ia meneguknya hingga menyisakan setengah.


"Rotinya."


Steve menunjuk roti yang tidak disentuh Lexi sama sekali dan memang tidak berniat untuk menyentuhnya. Ia harus pulang, sekarang.


Lexi menggelengkan kepala, "Susu sudah cukup."


"Tidak akan keluar dari kamar jika kau tidak menghabiskan sarapanmu dengan benar."


Kesal dengan sikap Steve yang terlihat seperri penguasa yang begitu sangat pemaksa, Lexi mengambil roti tersebut dan langsung memasukkannya ke dalam mulut dalam ukuran yang cukup besar hingga kedua pipinya mengembang. Steve mengeluarkan ponsel dan mengabadikan penampakan tersebut.


"Pencuri..." Ucap Lexi dengan nada yang kurang jelas karena mulut yang masih penuh dengan makanan. "Kau pencuri. Pencuri ciuman, pencuri foto..."


"Dan aku akan mencuri semua yang ada padamu, Nona."