
Tok. Tok.
Ketukan di pintu menyadarkan Lexi dari lamunannya. Pintu kamar dibuka, Lexi menerbitkan senyum tipis saat ayahnya melangkah masuk.
"Aku baik-baik saja, Dad."
Lima menit sebelumnya, ibunya lah yang datang masuk, bertanya tentang apa yang ia rasakan. Sebelum ibunya datang, Darren lah yang mengantarnya ke kamar. Darren cukup lama ada di sana, duduk bersama dengannya dalam diam. Entah itu perasaan Lexi saja, Darren terlihat sangat terguncang.
"Ya, putriku adalah anak yang hebat." Ayahnya duduk di sampingnya. Mengusap kepalanya dengan lembut penuh hati-hati seolah takut jika sentuhan tersebut bisa melukainya.
"Tidak peduli apa yang dikatakan orang tentang aku di luar sana. Itu memang kebenarannya, Dad. Sungguh, aku tidak apa-apa. Tolong jangan khawatirkan aku."
Ayahnya menarik napas panjang, jelas terlihat jika ayahnya tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang ia katakan. Ya, umurnya sudah dewasa, bukan waktunya merengek menangisi keadaan. Suatu fakta tidak akan pernah bisa diubah. Kenyataan bahwa darah Willson tidak mengalir di dalam darahnya. Lalu apa masalahnya? Ia tetaplah anak ayah dan ibunya. Tidak peduli siapa yang melahirkannya.
"Daddy akan menarik semua dukungan yang diberikan kepada Brian untuk kampanye yang sedang ia lakukan."
Lexi tersenyum bersahaja, "Dad, cara menghiburmu sangat buruk. Dari awal kau tidak pernah memberikan dukungan kepadanya. Kau dan mereka bermusuhan."
"Mereka lah yang menganggap kita musuh. Apa yang sedang kau kerjakan?"
Lexi menunjukkan layar persegi yang ia genggam dari tadi. Fakta lainnya yang membuat dirinya merasa lebih buruk. Steve benar, desain tersebut milik Steve. Lexi terbukti mencuri walau ia tidak benar-benar melakukannya. Bagaimana bisa sebuah desain bisa sama persis? Steve mematenkan karyanya tersebut dua tahun sebelumnya. Sedangkan Lexi mendesain baju tersebut enam bulan yang lalu dan atas dasar saran dari salah satu temannya. Lexi menghubungi temannya tersebut dan meminta maaf kepadanya bahwa benar temannya tersebut mencuri hasil desain seseorang saat ia berkunjung ke Spain. Apa lagi yang bisa dilakukan Lexi sekarang? Tidak mungkin ia melimpahkan kesalahan kepada temannya. Satu-satunya yang harus ia lakukan adalah berdamai dengan Steve. Meminta maaf dengan tulus.
"Aku mencuri, Dad." Maniknya berkaca-kaca menahan tangis. Terlalu banyak kejutan sampai-sampai ia tidak tahu kejutan yang mana yang membuat matanya perih. "Dan aku melihatnya, melihat Olivia. Apakah dia hidup kembali? Oh Dad, ini melegakan jika Olivia memang hidup." Ya, Lexi melihat wanita itu sedetik sebelum Darren menumbangkan Brian.
Pax yang mendengarkan hal itu merasakan hatinya mencolos. Sepolos itukah putrinya? Jika yang lain terlihat pucat dan panik saat melihat sosok Oleshia, Lexi justru mengucap syukur.
"Tidak ada yang namanya bangkit dari kubur, Sayang. Jadi, katakan pada Daddy, apa yang akan kau lakukan dengan kasus ini? Kau akan dituduh mencuri."
"Kenyataannya memang seperti itu, Dad. Aku akan mengaku dan meminta maaf dan aku tidak akan berhenti menggambar. Ini cukup melelahkan. Aku akan duduk manis diam di rumah menghabiskan hartamu. Apa kau akan keberatan, Dad?"
Pax tergelak, "Habiskan lah jika kau mampu."
"Ah, entah kenapa aku sangat menyukai kesombongan para pria di rumah ini." Lexi menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan ayahnya. Memeluk pria setengah baya itu dengan erat. Ia tidak boleh menangis. "Dad?"
"Hmm?"
"Aku putrimu, bukan?"
"Kau hartaku yang paling berharga, Sayang."
"Mom akan marah jika mendengarnya. Dia akan cemburu."
"Jika kau adalah harta bagi Daddy, Ibumu adalah rumah. Rumah tempat berpulang, rumah yang menjaga dan melindungi harta yang kami miliki. Kami mencintaimu."
Lexi menganggukkan kepala, tidak peduli apa yang dikatakan dunia kepadanya tentang asal muasalnya yang tidak jelas. Hanya ia yang tahu dan merasakan seperti apa cinta yang diberikan Willson kepadanya, tidak akan ada bandingannya.
Ting!
Sebuah notif masuk. Lexi mengurai pelukannya. Mengambil ponsel, kedua sudut bibirnya melengkung sempurna membaca pesan yang baru masuk. Foto Amor, si gadis penjual bunga yang kini sudah beranjak remaja. "Hari ini aku kena musibah. Sepedaku dicuri oleh seseorang. Aku menangis seharian, lalu tetanggaku menyampaikan berita jika yang mencuri sepedaku mengalami kecelakaan. Ketika terasa sakit atas suatu musibah. Pahamilah. Ini cara semesta untuk mengajarimu sesuatu hal."
"Dia seperti punya alarm disaat aku merasa sedang takut." Lexi menunjukkan pesan Amor kepada ayahnya. Pax tersenyum sembari mengangguk.
"Kau dikelilingi oleh orang-orang yang begitu peduli dan perhatian padamu. Turunlah untuk makan malam." Ayahnya berdiri, beranjak untuk keluar dari kamar.
"Aku akan segera turun, Dad."
Lexi pun bergegas ke dalam toilet. Hanya membasuh wajah, tidak ingin keluarganya menunggu lebih lama. Saat ia hendak keluar dari kamar, ponselnya kembali berdering. Pesan dari Lily. Sebuah vidio. Penasaran dengan isi vidio tersebut, Lexi membukanya dengan segera. Steven sedang melakukan klarifikasi. Meminta maaf kepada media atas kesalahan timnya. Pria itu mengaku jika tim mereka lah yang mencuri desain milik Willson Armour.
"Mom, maafkan aku, aku tidak bisa makan malam bersama. Ada hal yang harus kukerjakan." Lexi menghampiri ibunya di meja makan. Semuanya sudah berkumpul di sana.
"Ada hal mendesak apa hingga kau harus pergi menanganinya sekarang? Di luar mungkin akan banyak wartawan yang akan mengganggumu. Aku akan mengantarmu." Austin berdiri dari kursinya. Gelengan kepala Lexi ia abaikan.
"Tidak, tidak, kau di sini saja. Aku hanya sebentar." Ia melirik Darren yang sepertinya tidak peduli kemana ia hendak pergi. Tumben sekali. Wajah pria itu masih saja terlihat murung. Seperti ada beban besar yang menghimpit hati pria itu.
"Tom akan mengantarmu." Ucapan ayahnya tidak dibantah oleh Lexi.
Tom yang memang selalu siaga di rumah mereka segera menyiapkan mobil begitu mendengar perintah Pax.
Lexi pun mengikuti Tom setelah berpamitan pada semuanya. Ia harus menemui Steven. Apa maksud tindakan pria itu? Ingin mempermainkannya?!
Tiga puluh menit kemudian, Lexi sampai di rumah Steve. Ia berharap pria itu sudah ada di sana.
"Kau tunggu lah di sini. Aku hanya sebentar, Tom."
Tom mengangguk tanpa banyak komentar.
Lexi menekan bel pintu, tidak ada keraguan sama sekali seperti saat pertama ia menginjakkan kaki di sana. Tidak berapa lama pintu dibuka oleh pria setengah baya, pria yang sama dengan yang mengantarnya kemarin ke kamar Steven.
"Aku ingin bertemu dengan Dixton Ivarez." Lidahnya masih tidak sanggup memanggil nama Steve. Ia juga berdoa semoga Steve tidak sedang berada di kamar.
"Silakan, Ms. Willson. Mr. Ivarez sedang berada di meja makan."
Ah, ya, ini jam makan malam. Haruskah ia menunggu di ruang utama. Membiarkan pria itu menikmati waktu menyantap makan malam. Itu memang lebih sopan dan lebih baik.
"Baiklah, aku akan menunggu di sini." Pria itu mengangguk dan segera undur diri. Sepeninggalan pria itu, Lexi mendadak merasa pusing, mual. Tubuhnya panas dingin. Pandangannya mulai kabur.
"Hal mendesak apa yang membuatmu datang kemari, Lexi?"
Lexi mendongak, sosok yang berdiri di hadapannya itu penuh dengan bayangan membuat kepalanya semakin berdenyut. Bayangan itu mulai menghilang, berganti dengan gumpalan hitam hingga akhirnya ia jatuh pingsan.