
Selama satu bulan, Steve dirawat di rumah sakit. Selama itu juga ia harus menahan diri agar tidak melarikan diri dari rumah sakit demi agar bisa bersama Lexi. Gadis itu mengalami koma selama dua minggu. Dan begitu sadar, Lexi tidak mengingat apa pun, begitulah kabar yang Steve terima dari Leon.
Awalnya ia ingin memberitahu Harry dan Pax tentang keberadaan Lexi. Tapi, dokter menyarankan agar Lexi menenangkan diri dulu dengan suasana hidup yang baru melihat riwayat kesehatan Lexi yang mentalnya mudah terguncang.
Dokter mengatakan ada baiknya menjauhkan Lexi untuk sementara dari orang-orang yang bisa memicu otaknya bekerja keras untuk mengingat masa lalunya. Hal tersebut bisa membahayakan buat Lexi.
Steve pun akhirnya mengurungkan niatnya tersebut, meski ia tahu tindakannya itu salah. Ia bisa saja mengatakan pada Pax dan Harry bahwa Lexi baik-baik saja tapi untuk sementara waktu tidak bisa ditemui. Mungkin saja mereka mengerti, tapi Steve tidak bisa menjamin jika mereka tidak akan menemui Lexi secara diam-diam. Steve tidak ingin mengambil resiko apa pun yang dapat membahayakan hidup Lexi.
Perubahan penampilannya yang buruk, sikap dinginnya yang ketus adalah cara agar Lexi tidak bisa fokus pada dirinya melainkan pada sikapnya yang dingin. Tapi pada akhirnya, ia tidak tahan dengan penampilannya, cambangnya yang lebat membuat wajahnya gatal seketika. Keadaan Lexi yang membaik dan hidup tenang membuat makannya enak meski tidurnya tetap bermasalah.
Butuh banyak pertimbangan bagi Steve hingga akhirnya berani menunjukkan diri di hadapan Lexi. Jika saat itu, Lexi tidak memergokinya di kamar mandi, mungkin selamanya, ia hanya akan mengawasi Lexi dari jauh.
Lexi benar-benar melupakannya, tidak mengenalinya sama sekali. Saat itu, Steve tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau bersedih. Tapi satu yang ia tahu, ia bersyukur Lexi masih hidup dan bisa tertawa.
Zenia, ini bukan idenya. Leon lah yang secara spontan memberikan nama itu pada Lexi dan menyebut jika Nolan adalah keluarga Lexi. Zenia adalah putri tertua Peter dan Rose Nolan. Wanita berusia 27.
Jika Leon adalah kaki tangan Steven. Zenia adalah kaki tangan Leon. Sepupu Leon yang juga dipercayakan sebagai sekretaris. Entah itu sekretaris dadakan untuk Steve atau pun Leon sendiri.
Semuanya berjalan lancar. Lexi terlihat lebih sehat, segar dan baik-baik saja. Tidak ada tawa kepura-puraan di sana.
Steve turut bahagia walau di dalam hatinya ia selalu berkata bahwa ini hanya sementara. Pengobatan Lexi terus berjalan. Steve tidak berniat membuat gadis itu melupakan masa lalunya selamanya. Lexi harus pulih, harus mengingat keluarga yang mencintainya.
Ia juga sudah bertekad jika pada akhirnya Lexi sungguh mencintai Harry dan pria itu memang layak untuknya, Steve akan merelakan. Ia membentengi dirinya dengan terus menjaga jarak dari Lexi. Hal yang tidak mudah. Karena meski tidak mengingat dirinya, Lexi tetap gadis yang sama, gadis yang selalu menatapnya dengan penuh memuja.
Pertahanannya runtuh dan kerakusannya lah yang berperan membuat gadis itu mengingat semuanya.
"Steven..."
STEVEN, BUKAN, STEVE. Hanya Lexi yang memanggilnya demikian.
Wajah Steve pucat seketika, ia membatu. Ketakutan menyerangnya. Gadis yang telentang di bawahnya juga menunjukkan keterkejutan yang sama besarnya dengan dirinya. Bedanya, gadis itu tidak pucat dan tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Lexi kembali. Ingatan gadis itu kembali.
Ketika bel pintu berdering, mereka berdua masih bergeming, menatap satu sama lain. Pada deringan kedua, Steve dan Lexi sama-sama tersentak, menatap satu sama lain dengan napas memburu.
Steve segera memungut celana piyamanya dan mengenakan benda itu. Kemudian ia memungut piyama milik Lexi dan meletakkannya di tepi ranjang.
"Siapa yang datang malam-malam begini," Ia menggerutu seraya keluar dari kamar. Jelas menyambut tamu bukanlah hal yang ia inginkan saat ini. Jika tamunya adalah Malvyn dan teman-temannya, ia bersumpah akan melayangkan bogeman dengan suka rela.
Sumpah demi apa pun, hatinya sedang kalut dengan pulihnya ingatan Lexi. Apa yang akan gadis itu pikirkan tentang dirinya. Apakah Lexi akan menuduhnya memperkosa. Steve bergidik ngeri. Apa pun yang dipikiran Lexi tentang dirinya, Steve hanya berharap semoga Lexi tidak menuduhnya pemerkosa. Ck! Tuduhan hina itu juga memberikan efek trauma padanya. Masalahnya, tindakannya tadi, juga kerakusannya memang mencerminkan sikap pemerkosa.
Marah dengan anggapan itu, Steve menarik pintu dengan kasar. Seketika ia tersedak melihat siapa gerangan tamunya. Ia menarik sumpahnya tentang akan melayangkan bogeman ke wajah Malvyn dan teman-temannya. Dibanding kehadiran dua pria yang berdiri di hadapannya saat ini, kehadiran Malvyn mungkin akan lebih menguntungkan untuknya dalam situasi ini.
"Sepertinya timingnya salah," Austin menyorot penampilan Steve dari atas ke bawah. Bibir Austin tersungging mengejek saat melihat sesuatu di bawah pinggul pria itu.
Steve memang tidak mengenakan bajunya, hingga memamerkan bagian atas tubuhnya yang polos.
"Pasti lawanmu sangat tangguh," Beth melontarkan candaan mesumnya. "Kami terbang kemari karena mengkhawatirkan nasibmu. Hujan badai kami tempuh. Sepertinya kekhawatiran kami sangat sia-sia. Kau terlihat sangat gagah," Beth memang ahlinya mengeluarkan sarkasme.
"Malam yang indah..." Austin kembali menimpali. "Kupikir kau akan menjadi biksu setelah... "
"Austin!!"
Steve memejamkan mata. Seperti yang dikatakan Austin, timing yang salah. Habislah dia.
Lexi menuruni tangga dengan terburu-buru.
"Berhati-hatilah..." Steve memberi peringatan.
"Austin!!" Lexi menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Austin.
Terang saja Austin terkejut. Ia memang sudah menduga jika Lexi sedang bersama Steve saat Beth memberitahunya tentang sampanye yang diantar ke rumah mereka. Hanya saja ia tidak menyangka jika Lexi akan memeluknya seperti ini dan yang lebih membuatnya tidak menyangka adalah penampilan keduanya.
Steve yang polos di bagian atas dan penampilam Lexi yang acak-acakan. Telinga Austin merah seketika.
"Austin, aku merindukanmu!!" Lexi merangkum wajah Austin, membubuhi kecupan di sana secara bertubi-tubi.
Steve merasa lega, Lexi tidak menunjukkan ketakutan sama sekali pada Austin. Atau ingatan gadis itu belum pulih sepenuhnya. Entahlah. Fokusnya sekarang pada tatapan Austin yang bagaikan elang yang memangsa anak ayam.
Steve tidak suka perumpamaan itu. Anak ayam terlalu kerdil. Tapi saat ini, ia memang tidak bisa berkutik. Kesalahan ada pada dirinya.
"Lexi... Oh Tuhan, Sexii," Austin akhirnya membalas pelukan Lexi. Mendaratkan kecupan di pucuk kepala saudarinya itu. "Oh Tuhan..." Austin kehilangan kata-kata. Wajah bahagia ibunya terbayang di pelupuknya.
"Sebentar, bisa kau melepaskanku. Tanganku sudah sangat gatal." Dengan berat hati Austin mengurai pelukan mereka. Lexi melayangkan tatapan protes.
"Kita akan berpelukan nanti, tunggu sebentar. Hanya sebentar." Austin menarik Lexi agar menyingkir dari hadapannya. Ia menyunggingkan senyum hangat seraya mengusap kepala saudarinya. Kemudian ia berbalik, menatap Steve yang sudah terlihat siap menerima amukannya.
"Apakah kau harus bertindak di luar batas seperti ini,- sebutan apa yang pantas disematkan padamu?"
BUGH!!!
Satu bogeman mendarat di wajah Steve hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Steve tidak membalas, punggung tangannya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia memang pantas mendapatkan pukulan.
"Aku tidak akan minta maaf," ucapnya dengan mata yang tertuju pada Lexi. "Tidak akan minta maaf."