H.U.R.T

H.U.R.T
Menunggu Kejelasan



Kerjasamanya dengan Gavin Vasquez berjalan lancar. Ia menyukai model yang ditawarkan Gavin, meski model tersebut menatapnya penuh kagum secara terang-terangan. Gavin salah dalam hal ini, tapi meski demikian, Steve tidak keberatan karena model tersebut memang sangat cantik.


Satu bulan berlalu, Steve masih menyibukkan diri dengan pekerjaan meski hatinya sedang berada di belahan dunia lain. Ia memeras otaknya ampun-ampunan dengan harapan hatinya tidak disibukkan lagi dengan permasalahan cintanya. Steve kembali ke Spain. Kembali kepada rutinitasnya yang mendadak terasa asing.


Tidak ada kabar dari Lexi, tidak ada kabar dari Pax beserta keturunannya, tidak ada kabar dari siapa pun dan Steve juga tidak mencari tahu, berusaha menahan diri untuk tidak mencari tahu. Dan ternyata kekuatannya hanya mampu bertahan satu bulan.


"Beth! Laporan macam apa ini?!" Steve membuang berkas dokumen hingga beterbangan di udara dan berakhir berserakan di lantai.


"Dia berulah lagi," Beth mendesaah seraya membungkuk memungut lembaran kertas. Keningnya berkerut membaca deretan kata yang tertulis di lembaran kertas yang ia pungut.


"Kuberitahu padamu...."


"Buatlah laporan yang benar! Jangan menambah beban pikiranku, Beth!" Steve mendengus dengan masam. Ia melepaskan kaca matanya, mengusap pangkal hidungnya. Matanya mulai lelah dan butuh istirahat.


"Pertama, bukan aku yang mengerjakan laporan. Leon lah yang bertanggungjawab untuk hal itu. Lima menit yang lalu aku dari ruangannya, dia masih mengerjakan laporan tersebut yang artinya laporan tersebut belum diserahkan kepadamu. Kedua, seperti yang kukatakan, laporan yang kau inginkan masih ada di tangan Leon. Jadi yang kau buang ini adalah kontrak kerja sama dengan Gavin Vasquez yang baru kuperbaharui. Apakah kau sudah mulai kehilangan fungsi penglihatanmu hingga tidak bisa membaca dengan benar? Hati yang bermasalah tapi sepertinya semua indramu terkena dampak buruk. Ck!"


"Keluar!"


"Dengan senang hati, Dude!" Beth menimpali dengan santai. Pun pria itu segera berbalik menuju pintu keluar.


"Bagaimana dengan tugasmu yang lain?"


Pertanyaan Steve menghentikan langkah pria itu. Meski enggan, Beth berbalik, menunjukkan ekspresi malas.


"Tugas yang mana lagi?"


"Doraemon dan Nobita. Ini sudah lebih dari sebulan sejak tugas itu kumandatkan kepadamu."


Beth memutar bola matanya dengan jengah, "Detik ini aku mengambil cuti hingga minggu depan."


"Tidak diizinkan sebelum kau memberikan laporanmu, Beth!"


"Tolong hargai kewarasan karyawanmu. Kesehatan mental kami perlu dijaga. Aku bebas hingga satu minggu ke depan dan persetan dengan Doraemon dan Nobita. Aku menyukai Shinchan! Hargai kesukaanku dan jangan paksa aku menonton hal yang tidak kusukai. Kegilaanmu, cukup kau saja yang merasakan, Dude. Jangan tularkan kepada kami..."


"Teman keparat, keluar kau!"


"Oke. Sip!" Beth kembali memutar tubuh. Tangannya sudah berada di gagang pintu ketikan ucapan Steve yang selanjutnya berhasil mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan si pengemis rasa itu.


"Kau dipecat!!"


Kata keramat seorang boss yang selalu berhasil membuat para pekerja tidak berkutik. Termasuk Beth.


"Doraemon, aku sudah menonton hingga episod 100. Persahabatan mereka sangat menginspirasi. Aku terkesan. Aku suka saat Doraemon menggunakan kantong ajaibnya. Banyak hal yang bisa dikeluarkan dari sana. Aku juga suka dengan baling-baling bambunya." Jiwa penjilatnya pun mulai aktif.


"Andai aku memiliki kantong ajaib," ia bergumam sambil melintasi ruangan dan duduk di salah satu sofa.


"Apa yang akan kau lakukan dengan itu?" Ternyata Steve bisa mendengarnya.


"Mengirimmu ke segitiga bermuda."


Suasana hati Steve yang kacau tidak bisa diajak bergurau. Tatapan pria itu tajam dan menghunus.


"Aku akan menonton kelanjutannya dan silakan lanjutkan pekerjaanmu, Steve."


Steve menggeleng, ia segera beranjak dari kursinya.


"Aku sudah tidak tahan. Hentikan menonton film kartun sialan itu. Katakan kepada Leon, kita harus berangkat ke NYC. Aku akan mengunjungi Lexi dan menanyakannya secara langsung."


"Kau sungguh akan mengunjungi kediaman Willson."


"Lexi tidak ada di Istana. Memangnya kemana lagi aku harus menemuinya."


"Astaga, entah kapan drama ini berakhir."


"Jangan menambah luka hatiku, Beth. Aku sedikit trauma dengan kata berakhir. Sungguh aku belum siap jika semuanya berakhir dengan cara seperti ini."


"Selain pengemis rasa, kau adalah penantang takdir yang gigih."


"Kuanggap itu pujian."


"Keparat kau, Beth!!"


___


Lexi memasuki kamar Steve, mengusap ranjang yang menjadi saksi keliaran antara dirinya dan Steve. Sepreinya masih sama belum berganti. Wajahnya bersemu merah, tubuhnya terbakar mengingat kenakalan mereka malam itu. Meski sudah berlalu satu bulan, kenangan itu masih terekam dengan jelas. Lexi masih bisa merasakan sentuhan jemari Steve di tubuhnya, cecapan pria itu di bibirnya.


Semua kenangan itu hanya membuatnya semakin dan semakin merindukan Steve hingga membuat dadaanya terasa sesak.


Bibirnya menyunggingkan senyuman manis, tapi tidak dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Sudah hampir dua jam dia di sini, di rumah pantai milik Steve, di St. Nelda's Island. Steve belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Keluarga Nolan juga sudah kembali hidup di kota. Lexi hanya sendiri di sana, namun aroma Steve yang masih tersisa di kamar itu membuatnya tidak merasakan sepi sama sekali.


Lexi beranjak dari ranjang, berjalan menuju meja kerja Steve. Di sana, masih terletak ponsel yang digunakan Steve untuk mengirim kata-kata semangat kepadanya dengan mengatasnamakan Amor.


Lexi tersenyum, teringat cerita Zetta tentang kapsul ajaib yang selalu dibawa Amor yang ternyata berisi kalimat yang sama. Kalimat yang ternyata ditulis Steve dengan tangannya sendiri. Lexi masih ingat jika kapsul yang ia terima di hari ulang tahunnya adalah ungkapan pernyataan. Aku mencintaimu.


Berulang kali ia mencoba menghubungi pria itu, tapi tidak tersambung sama sekali. Sembari menunggu Steve, Lexi memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai hingga matahari tenggelam. Belum ada tanda-tanda Steve kembali.


Lexi memasuki rumah, langsung menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, ia kembali mencoba menghubungi Steve dan masih saja tidak tersambung.


"Apakah dia tidak ada di sini?" hatinya berubah cemas dan panik. Akhirnya ia mencoba menghubungi Zetta.


"Ya, Zetta Nolan di sini."


"Ini aku, Lexi."


"Ouh, Lexii, kau sudah bertemu dengan Steve?"


Lexi dan Zetta memang sudah bertemu kembali setelah ingatannya pulih. Lexi mengunjungi rumah sakit dua kali dan mengunjungi kediaman keluarga Nolan sebelum berlayar ke pantai.


"Dia tidak ada di sini. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Apakah kau memiliki nomor yang bisa dihubungi, Zetta?"


"Mungkin kau bisa menghubungi Leon. Akan kukirim nomornya. Kemana laki-laki badung itu?!"


"Terima kasih, Zetta."


Sambungan terputus. Detik selanjutnya, ponselnya berdenting. Pesan masuk dari Zetta. Tidak menunggu lama, Lexi langsung menghubungi nomor Leon tersebut. Lexi berharap Leon segera menjawab teleponnya. Namun, ia harus kembali kecewa, nomor ponsel pria itu tidak aktif.


Sementara di kediaman Willson, Steve sudah mendaratkan kakinya. Saat mobilnya hendak memasuki pekarangan, sebuah mobil keluar dari sana. Harry lah yang mengemudi dan di sebelah pria itu duduk seorang wanita. Steve mengira jika wanita itu adalah Lexi. Pun ia mengikuti mobil tersebut hingga berhenti di depan sebuah hotel.


Steve terbakar api cemburu. Dengan marah, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Pikirannya melayang kemana-mana tentang kegiatan apa yang akan dilakukan sepasang suami istri di kamar hotel.


Steve membenamkan kepala di roda kemudi. Tidak sanggup melihat Harry dan Lexi. Apakah ini jawaban dari semuanya. Kembali ke asal dan pernyataan Beth mendadak terasa benar, bahwa semua yang sudah ditakdirkan tidak bisa diubah.


Steve menghitung sebanyak sepuluh. Ia sudah sampai di sini. Semuanya harus jelas. Itulah tujuannya. Perlahan ia mengangkat kepala. Tatapannya langsung tertuju pada Harry yang mengitari mobil untuk membuka pintu. Keduanya bergandengan tangan menuju lobi.


Ada yang aneh, kening Steve berkerut dalam mencari keanehan tersebut. Ia memang tidak melihat wajah Lexi, tapi dari postur tubuh yang terlihat, ia tahu jika wanita itu bukan Lexi.


Steve segera turun, melangkah lebar mengejar Harry. Kecemburuannya berubah menjadi amarah membayangkan jika Harry bermain api di belakang Lexi.


Entah apa maunya Steven. Bukankah jika Harry berkhianat, akan menjadi keuntungan baginya. Ia pernah memikirkan hal itu. Namun, melihat Harry benar-benar berselingkuh, reaksi Lexi lah yang ada di dalam benaknya. Bagaimana jika gadis itu terluka. Astaga!


Steve menepuk bahu Harry, pria itu berhenti dan berbalik yang langsung disambut bogeman kuat dari Steve hingga Harry mundur beberapa langkah.


"Beraninya kau mengkhianati Lexi..."


"Steve!!"


Steve yang hendak melayangkan bogeman kedua terkejut dengan sosok yang muncul diantara dirinya dan Harry.


"Zenia..."


"Odelle."


"Odelle?" Steve membeo. "Sejak kapan namamu berubah menjadi Odelle?"


"Zenia Odelle Nolan. Itu nama lengkapku. Kenapa kau memukulnya?!"