H.U.R.T

H.U.R.T
Rahasia Hati



"Apakah gadis itu juga seorang penjahat?" tanya wanita itu.


"Gadis?"


"Kurasa gadis itu memang penjahat."


Darren masih tidak mengerti hingga wanita itu mengarahkan dagunya dan Darren mengikutinya.


"Gadis yang hampir memenuhi kameramu. Kau mengawasinya." Wanita itu menunjuk ke arah Austin dan Isabell yang bermain sambil tertawa bahagia.


Skakmat!


"Tidak semua yang diawasi itu merupakan penjahat. Terkadang yang mengawasi lah yang patut diwaspadai, mungkin saja ia ingin mencuri sesuatu dari target yang diawasi."


"Terima kasih kata-kata bijakmu, Nyonya." Darren memilih meninggalkan wanita asing tersebut. Sepertinya, sepanjang di pantai, sebaiknya ia menjaga jarak dengan wanita.


Saat melewati anak-anak bernama Jely dan Jorell, otaknya masih memikirkan di mana ia pernah melihat orang yang begitu mirip dengan bocah wanita itu.


Biasanya Darren memiliki ingatan yang tajam, tapi tidak kali ini dan sepertinya ini memang hari buruknya.


Darren duduk di tepi pantai, membiarkan ombak menyapu kakinya. Tatapan melayang jauh pada laut yang membentang. Ucapan wanita asing yang menuduhnya mencuri, sedikit mengusiknya.


Darren mengambil kameranya, melihat semua foto yang ada di sana. Yassalam, baru sebentar di pantai, ia sudah membidik wajah Isabell lebih dari 50 bidikan.


"Apa yang kulakukan?" ia bergumam, jemarinya mulai menghapus foto itu satu persatu. Untuk apa ia mengambil foto gadis itu?


Tanpa berniat untuk menguping, ia mendengar perbincangan antara Austin dan Isabell tentang keduanya yang sudah menjalin hubungan. Darren juga jelas tahu bahwa Isabell dan Austin sudah ditunangkan. Lalu apa yang ia lakukan sekarang? Apakah sejarah akan berulang lagi dimana Willson dan Devile bersaing merebut satu wanita.


Darren tidak akan lupa bahwa dia bukan Willson sejati. Darah Devile lah yang mendominasi dalam tubuhnya. Ia menjadi Willson hanya karena ibu yang melahirkannya menikah dengan Willson. Tapi, kenyataan tetap lah kenyataan. Ia berdarah Devile. Putra dari Gerald Devile dan Alena Willson.


Darren menggeleng, ia tidak akan membiarkan sejarah berulang. Willson sudah cukup baik padanya. Ayah mereka, Pax Willson sangat bangga kepadanya. Apakah ia tega mematahkan hati pria yang sudah merangkul dirinya dengan sepenuh hati hanya karena perasaan konyol yang bersemayam di hatinya.


Ya, ia menyukai Isabell. Bukan sekedar suka sesama makhluk Tuhan. Ia menyukai Isabell layaknya pria menyukai seorang wanita. Ada gairah, hasrat, getaran, dan harapan saat ia melihat Isabell.


Kapan rasa itu mulai tumbuh? Hei, tentu saja ia tidak mengetahui jawabannya. Jika ia tahu rasa itu akan datang, maka dengan segera ia akan menghalau dan menghindarinya. Itulah panah asmara. Tidak akan ada yang bisa menebak ke mana dan kapan ia kan menancapkan panahnya. Disaat sudah menyadarinya, yang terjadi adalah kegilaan.


Bagaimana tidak dikatakan gila, gadis yang ia impikan adalah gadis yang sama dengan yang ditunangkan kepada saudaranya.


Darren tidak bisa memalingkan wajah dari Isabell jika wanita itu ada dalam jangkauannya. Ia akan mencuri pandang.


Apa yang dikatakan wanita asing itu benar adanya. Ia adalah seorang pencuri. Ia mengawasi Isabell secara diam-diam. Mengagumi kepolosan dan keluguan gadis itu. Membayangkan wajah Isabell saat hendak tidur, berharap Isabell menyapanya walau hanya dalam mimpi. Gila, bukan?


Darren tidak akan pernah melupakan pertemuannya dengan Isabell. Saat itu, ia menyusul keluarganya yang sedang berlibur ke Spanyol. Saat itu keluarganya sedang berada di rumah pribadi keluarga Geonandes.


Hal pertama yang ia temui adalah Isabell yang sedang membuatkan puding di dapur sambil menyeka air mata. Ya, gadis itu sedang menangis. Darren tidak tahu penyebab gadis itu menangis. Saat itu, Isabell masih berusia 18 tahun sementara ia sudah 24 tahun.


Darren tidak tahu apa yang terjadi dengannya, kakinya enggan untuk bergerak. Setelah puas menangis, Isabell tersenyum seraya menarik napas panjang. Sebuah senyum yang begitu tulus mengembang di wajah culun gadis itu, senyum indah yang membuat seorang Darren tertegun.


Darren tidak buru-buru menyimpulkan rasa yang ia alami terhadap Isabell karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih berduka untuk Oleshia. Cinta pertamanya. Namun, tanpa ia sadari, ia mulai memikirkan wajah Isabell setiap kali Lexi bercerita tentang gadis itu saat Lexi dan orang tuanya pulang mengunjungi Isabell.


Rasanya pada wanita itu masih tersamarkan karena intensitas pertemuan mereka yang sangat jarang. Tapi, beberapa bulan ini, tepatnya setelah Isabell menginap di rumah mereka, ia tahu hatinya sudah tidak terselamatkan.


"Ini tidak boleh terjadi," Darren menghapus foto terakhir. Ya, ia tidak boleh menyukai Isabell. Tidak saat adiknya menjalin hubungan dengan gadis itu.


"Oh! Apa yang terjadi dengan gadis itu!"


"Astaga! Apakah dia sedang bergurau. Oh, Tuhan, sepertinya dia memang tenggelam."


Darren menoleh ke belakang, melihat beberapa orang berteriak. Pun ia mengarahkan kepalanya kepada objek yang menjadi pusat perhatian.


Seketika ia merasakan jantungnya berhenti berdetak. Isabell lah yang menjadi pusat perhatian. Wanita itu tenggelam, kedua tangannya terangkat ke atas menggapai udara. Darren segera berlari lalu menceburkan diri ke dalam air.


Di mana Austin?


Tentu saja menyelamatkan Isabell. Ya, meskipun terlambat menyadari bahwa Isabell dalam bahaya, pada akhirnya Austin lah yang berhasil menyelamatkan Isabell, membawanya ke pinggir pantai. Saat Isabell keasyikan berenang, Austin menepi dan langsung menjadi serbuan para gadis-gadis nakal. Fokusnya teralihkan karena harus meladeni pertanyaan para gadis-gadis tersebut.


"Isabell." Austin menepuk-nepuk wajah Isabell dengan lembut. "Isabell." Kini kedua tangannya yang menepuk-nepuk kedua pipi Isabell.


"Isabell..." Tangan Austin beralih pada daada gadis itu. Memberi tekanan di sana.


"Berikan napas buatan." Darren muncul memberi perintah. Mulutnya memberi perintah tapi tangannya juga mendorong Austin agar menyingkir menjauh dari Isabell. Lalu, siapa yang akan memberi napas buatan, tentu saja dirinya.


Setelah menarik napas panjang, ia langsung menyatukan bibir mereka. Isabell memuntahkan air dari mulutnya yang memuncrat ke wajah Darren.


Darren segera menyingkir, mengusap wajahnya dari air yang bercampur liur gadis itu.


"Sempat-sempatnya jantung sialan ini meledak-ledak," ia mendesis seraya melangkahkan kaki menjauh.


Samar-samar ia mendengar Austin menenangkan Isabell.


"Bagaimana kau bisa tenggelam?"


"Aku mengalami keram di kakiku," aku Isabell. Jantungnya masih memburu tidak karuan.


"Kakimu," Austin langsung berpindah posisi ke kaki gadis itu. Mengangkat kaki yang menjadi pusat perhatiannya bersama saudaranya beberapa saat lalu. Meletakkan kaki tersebut ke atas pahanya. Pun ia memberikan pijatan di sana.


"Aarrgghh..."


Teriakan Isabell menghentikan langkah Darren. Pria itu menoleh dan matanya justru beradu dengan manik Isabell.


Darren langsung memutuskan pandangan mereka dengan mengalihkan tatapan pada Austin, lalu kemudian ia berbalik melanjutkan langkah.


Baru dua langkah, ia terpaksa kembali berhenti. Sebuah bola berhenti di kakinya.


"Uncle, boleh kau lempar bolanya kemari?"


Darren mengangkat kepala, menatap bocah laki-laki yang sedang berbicara kepadanya.


"Jorell?"


"Oh, kau mengenalku, Uncle?"


"Aku bukan pencuri," tukasnya dengan nada malas. "Darren Willson, kau bisa mencarinya di ponselmu."


Darren hampir mendengus saat wanita itu langsung mengambil ponsel dan bisa dipastikan namanya lah yang diketik jemari wanita itu di layar.


"Apakah aku terlihat seperti seorang penjahat?" Darren mendekati wanita itu. Ia menatap kain yang digelar di atas pasir, terlihat seperti sedang menimbang apakah ia harus duduk di atas kain itu seperti yang dilakukan wanita asing itu. Dan Darren akhirnya memilih duduk di ujung kain tersebut. Payung pantai itu bahkan tidak menaunginya.


"Pria tampan cenderung mencurigakan."


"Sepertinya kau salah satu korban dari pria tampan.


"Sopankah berkata seperti itu?"


"Pertanyaan yang sama untukmu. Sopankah menuduh pria yang baru kau temui sebagai pencuri?"


"Aku hanya bersikap waspada. Jossie Moore."


"Kau sudah tahu namaku," imbuhnya dengan gaya yang sedikit angkuh.


"Ya, ternyata kau sangat terkenal."


Darren tidak menanggapi, matanya kembali menatap ke arah Austin dan Isabell yang juga memilih bersantai sambil menikmati cemilan.


"Dari keluarga ternama. Pengusaha paling berpengaruh."


"Apa hubunganmu dengan mendiang Julio Moore." Darren kembali menoleh pada Jossie.


Wajah wanita itu tersentak seketika mendengar nama ayahnya disebut. Ayahnya, Julio Moore memang cukup berpengaruh. Anggota parlemen yang sangat tegas.


"Tadinya aku hanya asal berbicara agar perbincangan ini tidak kaku. Tapi melihat wajahmu yang panik, tidak salah lagi jika kau adalah putrinya."


"Mereka anak-anakmu?" Darren segera mengganti topik. Ia tidak bermaksud membuat wanita itu bersedih. Kematian Julio cukup tragis. Pria tua itu dinyatakan bunuh diri di ruang bekerjanya. Entah apa yang mendasari tindakan nekad pria itu. Selama ini, Julio dikenal sebagai pria terhormat yang sangat bijak. Kematiannya cukup mengejutkan publik.


"Ya. Mereka anak-anakku."


"Kembar?"


"Hmm..."


"Manis sekali."


"Terima kasih."


"Aku memuji anak-anakmu."


"Dan aku berterima kasih mewakilkan anak-anakku."


Darren akhirnya tergelak.


"Kami akan bermain di wahana." Suara seseorang menginterupsi perbincangan antara Darren dan Jossie.


Austin dan Isabell berdiri di sana. Darren refleks menurunkan tatapannya pada kaki Isabell dan Isabell pun refleks menggerakkan kakinya seolah memberi tahu bahwa kakinya sudah baik-baik saja.


"Isabell ingin naik komedi putar. Kau ingin bergabung dengan kami?"


Darren lama-lama kesal kepada saudaranya tersebut. Kenapa Austin selalu meminta dirinya untuk ikut bergabung dengan mereka. Sangat menjengkelkan!


"Mom, aku juga ingin menaik wahana."


"Jorell, bukan seperti itu!" bocah perempuan itu menegur saudaranya.


"Mom, apakah aku dan Jorell boleh menaiki wahana? Hanya satu kali putaran, please."


"Maaf, Sayang, Mommy harus menolak permintaan kalian. Mommy tidak bisa naik wahana tersebut."


"Aku akan menjaga Jely, Mom." Jorell bersikap sok dewasa.


"Tidak. Mom tidak bisa mengizinkan. Kita bermain yang lain saja. Bagaimana dengan sepeda?"


"Kita sudah melakukannya tadi, Mom, berulang kali." Jorell mengingatkan. "Aku ingin komedi putar!" bocah laki-laki itu setengah memaksa.


"Jika kau tidak keberatan, aku akan menjaga anak-anakmu." Isabell menawarkan diri.


Alih-alih menatap Isabell, Jossie justru menatap ke arah Darren seakan meminta persetujuan pria itu. Apakah anak-anaknya akan aman bersama gadis tersebut.


"Pria tampan itu adalah adikku, Austin Willson."


Dan akhirnya, Jorell dan Jely pergi bersama Isabell dan Austin untuk bermain di wahana.


"Apa kau keberatan jika aku melanjutkan bacaanku, Mr. Willson?"


"Silakan? Aku juga tidak memiliki topik yang ingin dibahas denganmu," sahut Darren sambil mencari kesibukan dengan kembali mengambil beberapa foto. Ia mengambil spot lain, mengarah ke hotel yang ada di sekitar pantai.


"Oh, sial!!!" Darren tiba-tiba berdiri membuat Jossie ikut berdiri karena terkejut.


"Ada apa?!"


"Sniper!!"


Jossie tidak mengerti apa maksud pria itu. Tapi dari kepanikan Darren, Jossie tahu jika ada bahaya sehingga saat Darren berlari, ia juga ikut berlari.


Doorr!!


____


"Bagaimana bisa keluargaku berhubungan dengan Willson?!" terdengar geram kemarahan saat melihat beberapa foto yang berserakan di atas meja.


"Aku tidak tahu, Santos. Ini juga mengejutkan bagiku."


"Cari tahu dengan segera!"