
"Katakan di mana kau menyembunyikan anak itu, Maira!" seorang pria asing bertanya dengan nada tidak sabar. Pertanyaan yang sudah dipertanyakan secara berulang sejak setengah jam yang lalu.
"Tidak ada anak kecil, tidak ada siapa-siapa di sini!" Wanita bernama Maira itu memberikan jawaban yang sama setiap pertanyaan yang sama dilontarkan kepadanya.
"Jangan membuat semuanya semakin sulit. Berikan anak itu dan kau bisa hidup dengan bebas!"
"Katakan kepada Fernando atau pun kepada Bartoli bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa-apa di sini."
"Kalau begitu, katakan selamat tinggal kepada dunia, Maira." Seorang pria tua tiba-tiba muncul dan menodongkan senjata.
Door!!
Maira tumbang seketika dengan peluru yang menembus keningnya.
Doorr!!!
Doorr!!
Meski Maira sudah tidak bernyawa, dua peluru tetap dilayangkan pada tubuh wanita itu.
_____
Isabell menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan dua pria Willson yang mengagumkan. Meski di istana, semua keperluannya biasa dilayani, bukan berarti Isabell tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. Ia mencintai semua pekerjaan rumah tanpa terkecuali. Dengan melakukan pekerjaan rumah, dia bisa melewati hari yang membosankan. Maka tidak jarang Permaisuri menyebutnya pelayan. Memangnya apa yang salah dengan pelayan?
Isabell tidak keberatan untuk menjadi pelayan asal bisa menikmati dunia luar. Baginya pelayan bukan pekerjaan murahan. Isabell justru bangga dan salut pada para pelayan yang bekerja di istana. Mengabdi dan berkorban demi kenyamanan keluarga kerajaan. Bagi Isabell itu pekerjaan mulia.
Mungkin permaisuri tidak bermaksud untuk merendahkan pekerjaan para pelayan. Permaisuri menyebutnya pelayan mungkin karena bentuk kebencian terhadapnya. Kebencian permaisuri sangat bisa ia maklumi, mengingat Isabell dianggap sebagai noda hitam di dalam pernikahan raja dan permaisuri.
Kehidupan istana sangatlah tidak cocok bagi Isabell. Ia tidak suka terkurung dan ia juga tidak suka melihat permaisuri marah kepadanya. Ia khawatir jika sewaktu-waktu gula darah ibu tirinya itu naik dan sudah dipastikan dia adalah penyebabnya. Isabell secara khusus meminta kepada ayahnya agar mengizinkan dirinya keluar dari istana. Philip Geonandes tidak pernah memberi izin hingga akhirnya Mrs. Willson meminta secara langsung agar memberi izin kepada Isabell untuk tinggal bersama mereka.
Di sini lah ia berada, di rumah yang penuh dengan kehangatan dan juga siksaan batin yang begitu indah. Di rumah ini ada pria yang merupakan cinta pertamanya. Pria yang akan ditunangkan dengannya. Tapi Isabell tidak terlalu berharap akan pertunangan yang tidak ia ketahui kapan akan dilangsungkan.
Pertunangan akan terjadi jika kedua belah pihak setuju. Isabell jelas tidak akan menolak untuk ditunangkan dengan Austin. Masalahnya, apakah Austin akan menerimanya itu merupakan pertanyaan inti yang belum ditemukan jawabannya hingga sekarang.
Kemarin malam, Mrs. dan Mr. Willson terbang ke Spain untuk memenuhi undangan ayahnya. Isabell berharap semoga pertemuan itu untuk membahas kelangsungan pertunangan ini. Isabell enggan untuk kembali ke Istana. Selain memang menyukai Austin, tujuannya menerima pertunangan ini adalah untuk kebebasannya.
"Tolong buatkan aku kopi,"
"Arghh!!"
Isabell tanpa sengaja mengiris jarinya karena mendengar suara yang muncul tiba-tiba.
"Oh, kopi... Ya, aku akan membuatkannya." Isabell menekan jarinya yang berdarah ke rambut panjangnya yang dicepol asal.
"Tidak. Lupakan. Obati saja lukamu."
"Tidak apa-apa. Darahnya sudah berhenti. Duduklah, aku akan membuat kopi untukmu. Satu sendok teh gula dengan tiga setengah sendok teh kopi. Benar tidak?"
Austin tergelak, "Dari mana kau mengetahuinya?"
"Aku bertanya kepada Ibumu."
Austin menarik kursi untuk ia tempati. Ia baru pulang pagi ini setelah berpesta bersama rekannya Beth dan juga iparnya, Steve. Hanya saja Steve hanya mampir sebentar. Tidak bisa berlama-lama karena ponselnya berdering setiap lima menit sekali. Ck! Austin tidak akan menukar kebebasan dengan sebuah pernikahan. Never!
"Kapan Mom dan Dad akan pulang?"
"Aku tidak tahu. Mereka baru berangkat kemarin dan kurasa mereka masih di udara."
"Oh."
"Ko-kopimu." Isabel meletakkan cangkir di hadapan Austin dengan beberapa lembar roti yang sudah ia panggang.
"Terima kasih," Austin menyesap kopinya. "Di sini ada pelayan yang akan menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam. Kau tidak perlu melakukannya."
"Aku senang melakukannya." Isabell memperbaiki letak kaca matanya. Gerakan yang tidak sadar ia lakukan saat sedang salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah, kini Austin memandanginya dengan seksama. Beberapa kali Isabell melihat Austin meliriknya dari atas ke bawah.
"Pakaianmu tidak membuatmu gerah?"
Isabell menunduk, melihat pakaian yang ia kenakan. Dress panjang putih yang cukup longgar dengan lengan panjang yang ia gulung hingga di bawah siku.
"Kau merasa terganggu dengan penampilanku?"
Austin sedikit tersentak dengan jawaban Isabell yang merupakan pertanyaan.
Austin menggeleng, "Mungkin saja kau merasa gerah. Di sini bukan istana yang harus memperhatikan cara berpakaian. Istana memang penuh dengan aturan. Kau dibesarkan dengan aturan dimana adab, norma dan moral sangat penting. Tapi, ini di luar istana. Kau bebas melakukan apa pun. Tidak akan ada yang melarangmu, tidak akan ada juga yang akan mengawasimu dan melaporkanmu."
"Kau benar. Tapi mengenai cara berpakaianku tidak ada hubungannya dengan aturan istana, beginilah seleraku. Memang sedikit kuno. Tapi aku nyaman dengan ini."
Bukan sedikit kuno, tapi sangat kuno, gadis gigi berpagar!!! Austin membatin.
"Selamat pagi,"
Darren menarik kursi di sebelah Austin. Pria itu sudah berpakaian rapi, bersiap untuk ke kantor. Penampilan yang bertolak belakang dengan Austin yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan rambut setengah gondrong yang dibiarkan terurai.
Sepertinya para pria Willson sangat menyukai rambut gondrong. Isabell baru menyadari jika Darren juga memiliki rambut setengah gondrong. Hanya saja pria itu mengikatnya dengan rapi.
"Kau baru pulang?" Darren mencomot roti yang tadi disiapkan Isabell untuk Austin.
"Aku akan menyiapkan omelet untukmu. Tunggulah sebentar." Isabell kembali mengiris sayur yang sempat terbengkalai karena berbincang dengan Austin.
Darren menoleh, "Tidak usah. Roti ini sudah cukup."
"Aunty mengatakan jika kau lebih suka sarapan dengan omelet."
"Yang dikatakan Ibuku benar, tapi bukan berarti aku tidak menyukai roti." Darren kembali memiringkan kepala menatap adiknya.
"Bagaimana tadi malam? Kudengar dari Beth, kau menang banyak."
"Jika kau sudah mendengar dari Beth kenapa kau masih bertanya. Aku mengantuk sekali." Austin mendorong kursinya dan segera berdiri. "Selamat bekerja, Saudaraku, berhati-hatilah saat mengemudi dan kumpulkan uang yang banyak." Austin menepuk bahu Darren.
"Aku akan kembali ke kamarku, sampai jumpa saat makan siang, Bebel."
Isabell menyengir sembari menganggukkan kepala.
"Pagar gigimu berubah lagi."
"Kawat gigi, Austin." Darren meralat.
"Bagiku sama saja. Aku penasaran berapa banyak pagar gigi yang kau koleksi?"
"Lumayan banyak. Aku selalu meminta saran Steve saat aku ingin menggantinya."
"Jadi, Steve yang menyarankan kau mengenakan pagar gigi warna warni ini?"
"Aku memberinya beberapa pilihan dan dia akan memilih salah satunya setelah dia mengatakan bahwa sebaiknya aku tidak usah memakai pagar gigi."
Austin tertawa mendengar Isabell mengikuti caranya menyebut pagar gigi. "Aku setuju dengan iparku, kurasa kau tidak perlu pagar warna warni itu. Bagaimana jika kau melepasnya?"