H.U.R.T

H.U.R.T
Flashback



Marah karena Lexi menolak juga mendorongnya, Steve memutuskan untuk meninggalkan Virginia. Ada hal yang harus ia pastikan. Ia tidak boleh lengah lagi. Olivia terlalu cerdik, bukan hanya menggunakan parasnya yang elok juga tubuhnya yang menggoda untuk memanfaatkan para pria, wanita itu memiliki senjata lain yang hingga detik ini belum berhasil ditemukan oleh Steve. Ia terlalu lengah atau Olivia yang terlalu pintar. Entahlah, Steve hanya bisa bersyukur ia bisa langsung mengenali Olivia saat mereka bertemu di Madrid. Kehadiran Mr. Cony lah yang membuatnya menyadari jika wanita itu adalah Olivia, karena Oleshia tidak mungkin mengenal Mr. Cony. Oleshia tidak pernah bersekolah di Yale High School.


Pikirannya melayang saat di mana ia tanpa sengaja bertemu dengan Olivia di kerajaan Madrid. Steve tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari di mana ia melakukan tugas pertamanya membunuh seorang menteri, hari di mana ia berniat untuk melenyapkan Pax dengan racikan racunnya dan juga hari yang sama saat ia melihat Lexi duduk di tepi kolam, berbicara dengan orang tuanya melalui panggilan video setelah ia membuatkan juice buah persik kesukaan gadis itu.


Saat itu Steve dalam penyamaran. Hatinya juga diselimuti amarah kepada Pax Willson, Saat hendak berbalik meninggalkan Lexi, betapa terkejutnya ia melihat sosok Olivia yang berpapasan dengannya.


"Kau di mana? Aku melihat gadis itu di sini. Bolehkah aku menenggelamkannya?"


Steve yang ingin menyapanya mengurungkan niat. Awalnya, ia mengira jika itu adalah Oleshia, tapi instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.


"Mrs.Willson," Steve berlari mendekati Lexi membuat langkah Olivia terhenti. "Kau dicari oleh keluargamu," ia memungut sepatu Lexi dan menariknya agar segera beranjak dari sana.


Matanya menangkap kemarahan yang terpancar jelas di manik Olivia. Steven berharap jika Olivia tidak menyadari penyamaran yang ia lakukan. Ia juga sengaja memiringkan tubuhnya agar Lexi tidak menyadari kehadiran orang lain di sana.


"Oh, terima kasih, biarkan aku memegang sepatuku."


"Aku saja." Tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Lexi, Steve menyeretnya dengan langkah lebar. Ia ingat jika saat itu Lexi sedikit kesulitan menyeimbangkan langkah mereka, tapi gadis itu tidak sekali pun melayangkan protes. Lexi harus cepat diselamatkan dan ia harus mencari tahu siapa yang dihubungi Olivia atau pun Oleshia. Ia harus memastikan identitas wanita itu walau feelingnya berkata jika besar kemungkinan itu adalah Olivia.


Sejak awal Steve sudah merasa ada yang tidak beres dengan kematian Olivia.


Malam itu, di acara prom night, Steve tidak bisa hadir karena wajahnya yang babak belur akibat dihajar Brian dan konco-konconya. Suara mereka di kantor polisi juga membuatnya marah. Sangat tidak mungkin bagi seorang gadis juga hadir ke acara tersebut mengingat Olivia baru saja mengalami pelecehan.


Khawatir dengan keadaan Olivia, Steve memutuskan untuk pergi mengunjungi Olivia. Namun, ayahnya mengatakan jika Olivia pergi ke acara tersebut. Hanya saja, malam itu, ia juga tidak menemukan Oleshia dan ibunya di rumah mereka.


Masih mengkhawatirkan nasib temannya tersebut, Steve akhirnya memutuskan pergi untuk mencari Olivia ke Yale High School.


Ia bertemu, ia berhasil bertemu saat Olivia dikejar oleh Brian dan konco-konconya dalam keadaan mabuk.


"S-Steve?" Olivia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Steven dengan keadaan kacau berlinang air mata. Dandanan gadis itu tidak kalah berantakannya. Kakinya sudah tidak mengenakan alas kaki lagi.


"A-apa yang terjadi?" Ia tertular akan kegugupan juga kepanikan yang dirasakan gadis itu.


"Me-mereka memperkosa..."


"Ouh, pangerannya ada di sini?" Suara Brian menggelegar. "Hajar dia," pria itu memberi perintah.


"Selamatkan dirimu. Aku akan menahan mereka." Ia mengurai pelukan Olivia. "Berlarilah sejauh mungkin."


"Ba-bagaimana denganmu?"


"Aku akan menahan mereka. Pergilah." Steven mengangkat kursi yang ada di dekatnya, melempar tanpa ragu ke arah Brian dan konco-konconya. Tindakannya membuat Brian semakin marah.


"Pergilah, Olivia!" Steve setengah membentak. Ia tahu jika ia akan kalah melawan Brian dan keempat temannya. Ia hanya mampu menahan kelima pemuda itu sebentar. Apa lagi yang bisa ia lakukan?


"Apa yang terjadi di sini?"


"Ck! Berhentilah menindas orang lain, Brian Milles." Darren yang sepertinya juga sedang dalam pengaruh alkohol menatap tajam ke arah mereka. Tanpa basa basi ia maju dan menghajar Brian dan yang lain. Steve memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Darren petarung yang hebat, ia bisa melihat jika Darren mampu menumbangkan Brian dan konco-konconya.


Steve tidak berhasil menemukan Olivia, ia justru bertemu dengan Mr. Arthur Cony.


"Sepertinya kau sudah bisa melepaskan tanganku," ringisan Lexi membuat Steve tersadar dari renungannya. "Terima kasih, keluargaku ada di sana." Lexi menunjuk ke arah ayahnya yang juga sedang menatap ke arah mereka.


"Baiklah, jangan menjauh dari keluargamu. Tanganmu baik-baik saja?" Steve melirik pergelangan tangan Lexi yang sedikit memerah.


"Tidak apa-apa," Lexi tersenyum manis. Senyuman yang mudah tertular karena tanpa sadar, Steve menundukkan kepala sembari menipiskan bibir.


"Baiklah, aku pergi."


"Ya. Terima kasih."


"Jangan menjauh dari keluargamu. Tolong ingat yang kukatakan."


"Ya. Aku akan mengingatnya."


"Hm, apakah pangeran Harry adalah kekasihmu?"


"What?"


"Tidak, lupakan. Semoga bahagia." Steve segera berlalu saat matanya menangkap Pax Willson berjalan menuju ke arah mereka dan di belakang pria itu terlihat Mr. Arthur Cony juga berjalan dengan terburu-buru.


Ia harus ke kolam berenang untuk memastikan apakah itu Olivia atau Oleshia. Dan ia menemukan kejutan. Mr. Arthur Cony menemui gadis itu. Keduanya berjalan beriringan dengan gerak gerik yang mencurigakan. Steve mengawasi keduanya hingga mereka berhenti di salah satu kabin istana yang sangat sepi.


"Oh Tuhan, aku sangat merindukanmu." Mr. Cony membawa Olivia ke dalam pelukannya. "Bagaimana, kau sudah berhasil menguasainya?"


"Aku sedang berusaha. Aku gagal mendorong si tuan putri menyebalkan itu ke dalam kolam."


Mr. Cony tergelak seraya mengurai pelukan mereka.


"Tidak perlu terburu-buru, Oliv. Kelak, semuanya akan lebih mudah jika kita sudah berhasil menguasainya. Kudengar ibumu sudah menemukan agensi yang akan menaungimu. Kau akan menjadi model terkenal. Ck! Aku lebih suka saat kau mengenakan kaca mata juga kuncir kuda yang menggemaskan."


"Penampilanku hanya akan mengelabui semuanya. Sebaiknya kau kembali ke dalam sebelum ada yang melihat kita."


Mr. Cony mengangguk, pun pria matang itu segera mendaratkan satu kecupan kilat di bibir Olivia.


Steve segera bersembunyi saat Mr. Arthur membebaskan diri dari Olivia. Akhirnya, ia menemukan jawaban atas pertanyaannya. Olivia masih hidup dan kenapa ia hendak mencelakai Lexi? Apa masalahnya dengan Lexi?


Pada akhirnya, Steve hanya memikirkan Lexi, mengabaikan jika Olivia juga mengkhianatinya karena secara tidak langsung, Olivia diam dan tutup mata, membiarkan tuduhan dijatuhkan kepadanya hingga ia mendekam di penjara. Lelucon macam apa ini? Setelah usahanya membela Olivia, wanita itu justru berpaling darinya.