
Entah berapa jam lamanya yang dilalui Steven, yang pasti ia sudah sampai di rumah Olivia. Sudah hafal dengan denah lokasi rumah tersebut, Steve masuk melalui pintu belakang yang bebas dari pengawasan juga CCTV. Olivia pasti mengatakan kepada para bodyguardnya tentang hubungan mereka yang memburuk. Steve perlu menjaga tenaganya, tidak ingin membuangnya secara cuma-cuma untuk meladeni adu jawab atau adu jotos dengan para pengawal wanita itu.
Hap!
Ia melompat ke balkon kamar wanita itu dengan mudah. Pun ia mengeluarkan sebilah pisau untuk membuka jendela kamar. Bukan hal yang sulit juga baginya. Saat bersama Roxi, mereka bahkan pernah mencuri di rumah salah seorang pengusaha klub malam yang juga merupakan pebisnis gelap yang menjual senjata juga amunisi secara ilegal.
Berhasil masuk ke dalam kamar Olivia, Steve langsung menuju ruang ganti, membuka satu persatu laci-laci yang ada di sana. Hampir dua puluh menit, yang ia cari tidak ia temukan.
Steve keluar dari sana dan menuju salah satu ruangan yang masih terhubung dengan kamar. Seperti ruang bekerja, tapi tidak pernah digunakan untuk bekerja. Ruangan tersebut rapi, bersih, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ruangan itu dipakai. Steve menuju satu-satunya meja yang ada di sana. Beberapa album tersusun dengan rapi. Steve membuka satu persatu album tersebut. Beberapa album berisi fotonya dan juga adiknya, Alea. Tidak ada foto bersama ayah juga ibunya. Keberadaan ibunya sampai saat ini juga misteri. Dan sikap ayahnya yang terkesan dingin kepada Olivia juga menyisakan tanya di benak Steve.
"Aku yang akan mengelabui Austin," Steve merapal kalimat tersebut seperti mantra.
Steve mengusap wajahnya dengan kasar. Demi Tuhan, ini membuatnya pusing tujuh keliling. Saat mengetahui Austin bermalam di rumah Olivia, ia merasa murung. Bukan karena cemburu, tapi justru khawatir dengan nasib yang akan menimpa Austin dan ini hanya akan menambah daftar tugasnya.
Andai Austin bukan saudara yang begitu dicintai Lexi, sungguh Steve tidak akan peduli. Tapi sekarang, Steve harus membiarkan Austin untuk sementara terjebak dengan Olivia demi mengetahui apa sebenarnya kekuatan yang dimiliki Olivia. Ia hanya berharap semoga Austin tidak terlalu bodoh untuk dikelabui.
Sudah satu jam dia berada di sana dan ia belum menemukan satu petunjuk sama sekali. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Kenapa Olivia bisa sebersih ini?
"Aku yang akan mengelabuinya..."
"Astaga! Tidak mungkin ia mengelabui semua pria yang ia ingin ia manfaatkan dengan tubuhnya." Steve mulai menyerah. Ia menarik kursi, mencoba menenangkan diri untuk sejenak.
Steve mencoba mengingat apa yang sudah mereka lalui. Mulai mereka bersekolah di Yale High School. Olivia menyukainya, ini benar. Bahkan saat Steve menyatakan bahwa Olivia adalah kekasihnya di hadapan Lexi dulu, gadis itu merasa bahagia.
Hari itu, Brian beserta konco-konconya juga Isla dan Lily menemui Steve di kelas. Dean, si pemuda bertubuh badak menendang kursi hingga Steve terjatuh. Dean yang memiliki tubuh tiga kali lipat lebih besar dari Steve segera menarik Steve hingga berdiri. Sepertinya pemuda itu masih memiliki dendam kepadanya karena sudah menyerangnya saat di kantin.
"Kudengar kau menolak Lexi, heh?" Brian menatapnya dengan tatapan mengejek. "Berani sekali kau?"
"Astaga, Brian, itu bukan tindakan yang berani tapi sikap bijak yang tau diri. Pria miskin tidak mungkin bersanding dengan Lexi. Lexi adalah seorang tuan putri manja sedangkan dia hanya anak petani yang tidak akan sanggup untuk membeli sepasang sendal sekalipun untuk Lexi."
Hinaan tersebut berasal dari Isla. Semuanya tertawa, membenarkan apa yang dikatakan gadis itu.
"Jadi, katakan apa alasanmu menolak Lexi? Besar sekali nyalimu?!"
Brian yang mengajak Lexi berkencan berulang kali selalu mendapat penolakan dari Lexi dan pria di hadapannya yang jauh dari kata layak selalu berhasil menarik perhatian Lexi.
"Aku tidak menolaknya dan aku tidak menyukainya!"
"Oh ya? Aku mendengar kau menolaknya di ruang kesehatan," Kali ini Lily lah yang berbicara. "Kau memiliki pelet?" Tuding gadis itu disertai dengan tatapan jijik.
"Lexi buta atau bagaimana? Kenapa gadis itu bodoh sekali. Bahkan untuk dijadikan sebagai bahan taruhan kau tidak layak. Euuy... Membayangkan saja bersentuhan denganmu membuat tubuhku gatal-gatal. Apa yang ada di pikiran Lexi. Dasar gadis tolol!"
"Apa maksudmu?!" Steve mendesis sinis.
"Maksudnya, kau kami jadikan taruhan dan Lexi menolak. Sebodoh itulah gadis itu. Tergila-gila pada pria cupu miskin sepertimu. Oh Tuhan, Lexi yang menyukaimu tapi aku yang malu. Rendah sekali seleranya. Seluruh dunia akan menertawakannya dan Pax Willson akan menyesal telah mengadopsinya. Oh Tuhan, hanya karena dia seorang Willson, aku bertahan untuk berteman dengannya."
Mulut Isla memang patut ditaburi bon cabe level wahid. Tidak ada filter sama sekali.
"Ya, Lexi hanya gadis murahan. Mencari perhatian pada pria sampah menjijikkan ini. Jangan mengusik Lexi jika kau ingin beasiswamu aman. Lexi hanya milik Brian." Dean memberi peringatan.
Steve yang sudah muak dengan semua cemoohan dan hal buruk yang dikatakan tentang Lexi membuat amarahnya terbakar. Entah mendapat kekuatan dan keberanian dari mana ia menyerang wajah Dean dengan kepalanya lalu ia berlari seraya mendorong Isla hingga terjatuh.
"Kau tahu Steven tidak akan pernah suka padamu, dia hanya menyukaiku dan hal itu jelas kau tahu juga, tapi kenapa kau tetap saja mendekatinya seperti gadis murahan..."
Plak!
Steve terhenti melihat pemandangan di hadapannya. Lexi melayangkan tamparan di wajah Olivia dengan kedua manik yang begitu marah. Di detik selanjutnya, Steve bisa melihat jika Lexi menyesali perbuatannya. Lexi menatap tidak percaya kedua telapak tangannya yang sedang bergetar hebat.
Steve mendesaah lelah, benar yang dikatakan teman-teman sialan Lexi bahwa Lexi hanya akan dijadikan bahan tertawaan oleh orang-orang. Olivia yang sederajat dengan Steve saja berani mengatakan Lexi murahan. Mau sebanyak apa lagi hinaan dan cemoohan yang didapatkan Lexi hanya karena menyukainya.
Ini harus dihentikan. Steve harus menghentikan ini semua. Ia dan Lexi, sampai kapanpun tidak akan pernah bersatu. Lexi bersinar bagaikan matahari, dan ia hanyalah malam yang begitu kelam. Matahari dan bulan tidak akan pernah bersatu, bukan?
Penting untuk menyadarkan gadis bodoh ini.
"Cukup, Lexi Willson. Hentikan semua kekonyolanmu."
Steve mengumpat dirinya begitu melihat manik terkejut juga kecewa di manik indah gadis cantik itu.
"Kami bukan mainanmu yang bisa kau dapatkan dengan mudah lalu jika bosan kau akan membuangnya begitu saja."
Benar, Steve! Kau melakukan hal yang benar. Kau melukai hatinya dan Lexi pasti akan sangat membencimu.
"Aku tidak pernah menganggapmu mainan, Steve."
"Benarkah? Kudengar kau dan kedua temanmu membuat taruhan dalam misi meluluhkan hati si cupu yang jenius. Kurang lebih begitulah judul yang kudengar dari salah satu temanmu. Satu ferrari adalah harga yang ditetapkan untuk memenangkanku." Steven tersenyum getir.
Tamparan untuk Lexi. Gadis itu terkejut dan kali ini Lexi kehilangan kekuatannya hingga kakinya tidak mampu menyanggah tubuhnya. Ia merosot ke lantai dengan kedua tangan menutup mulutnya.
Steve bersumpah akan melayangkan tinju ke dinding karena membiarkan Lexi meluruh ke lantai.
Dasar pria bajiingan tidak berguna!
Lagi, yang bisa Steve lakukan hanya mengutuk dirinya.
"Kuharap tanganmu baik-baik saja setelah melayangkan tamparan luar biasa di wajah kekasihku."
Ia pun membawa Olivia melangkah pergi meninggalkan Lexi yang mematung dengan wajah pucat. Gadis itu terguncang, terguncang atas pernyataan Steven yang mengumumkan jika Olivia adalah kekasihnya.
"Steve, benarkah yang kau katakan? Bahwa kita sepasang kekasih?"
Steve melepaskan genggaman tangannya dan Olivia tahu jawabannya. Gadis itu tersenyum samar.
"Kukira perasaanku berbalas."
"Kita harus belajar lebih giat lagi, Olive. Bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Ayo, sebaiknya kita pulang."
"Aku mengambil tasku dulu."
Sesampainya di kelas, Olivia memasukkan bukunya ke dalam tas. Terlalu terburu-buru hingga beberapa diantaranya jatuh. Steve memungutnya.
"Buku apa ini?"
"Mr. Arthur memberikannya. Ia meminta agar aku mempelajarinya." Olivia merebut buku itu saat Steve membuka lembaran pertama. "Merry Christina. P. Ini seperti buku catatan."
"Kurasa juga begitu." Olivia membenarkan.
Steve tersentak, apakah buku itu ada hubungannya dengan semua ini. Ia mengingat jika di sampul buku tersebut ada lambang yang tidak asing. Ia segera beranjak dari kursinya, ia harus mencari buku tersebut.
Steve membuka laci, membongkar isinya. Tidak ada buku tersebut di sana.
"Kita harus mengambil buku itu. Dengan begitu, kau bisa menyerang ayahmu, Brian. Kau bisa melumpuhkannya dan mengambil alih semua kekuasaannya."
Steve berdecak saat mendengar ada penyusup lain yang mengincar hal yang sama. Sekarang ia semakin yakin jika buku itu adalah kuncinya.
Sebelum Brian dan temannya menemukan dirinya di sini. Sebaiknya ia pergi.
Steve berhasil keluar. Dengan sengaja ia menyalakan alarm bahaya. Dengan begitu pengawal Olivia akan menyadari adanya penyusup. Memberi pelajaran kecil pada Brian sepertinya cukup menghibur suasana hatinya yang buruk.