H.U.R.T

H.U.R.T
Tidak Sabar



"Dia pikir dia siapa? Huh? Mentang-mentang dia berwajah rupawan lalu dia bisa seenaknya mengatakan aku bukan tipenya. Dia kira wajah rupawan bisa menarik perhatianku. Dia juga bukan tipeku. Tipeku pria berkaca mata yang terlihat kalem. Bukan wajah cassanova sepertinya!"


"Oh Tuhan, kulit wajahku bisa berkerut jika aku harus marah-marah seperti ini. Oke, Lexi, tarik napas." Lexi pun melakukan apa yang diperintahkan dirinya sendiri. Dia keluar dari lift dan berhenti sejenak untuk menghirup udara sebanyak-banyak pun membuangnya secara perlahan. Dia melakukannya berulang kali. "Oke, aku sudah sedikit lebih rileks." Lexi melanjutkan langkah kakinya. Tiba-tiba ia kembali berhenti, menunduk melihat penampilannya. "Eww... penampilanku rusak gara-gara alas meja ini. Astaga! Dia pikir aku apa? Aku akan menuntutnya jika kulitku sampai iritasi!" Menghentakkan kaki dengan bibir mengerucut keluar dari gedung pencakar langit tersebut.


"Pertemuanmu tidak berjalan lancar?" Austin, adiknya yang rupawan membukakan pintu untuknya. Ya, ia memang melompat naik ke dalam mobil Austin yang kebetulan hendak pergi balapan saat ia turun dari kamarnya setelah mendengar kabar pemutusan kontrak tersebut. Apa kabar Lily? Wanita itu dia tinggalkan begitu saja di kamarnya.


"Jangan bicara padaku, Austin!"


Austin mengidikkan bahu tidak peduli dengan seraut wajah kesal yang ditunjukkan saudarinya secara terang-terangan. Pun ia masuk ke dalam mobil lalu kemudian melemparkan kantongan ke atas pangkuan Lexi.


"Apa ini?" tanya Lexi tanpa minat. Kekesalannya masih dalam suhu yang tinggi. Sedang tidak berminat meladeni kejahilan sang adik.


"Pembalut. Kau datang bulan. Jorok sekali, isk! Angkat bokongmu, letakkan sapu tangan ini di atas kursi di bawah bokongmu. Kau mencemari mobilku, aku bisa kalah taruhan jika begini!"


"Aku sedang kesal, Austin! Jangan memancing amarahku. Apa kau tidak melihat alas meja ini sudah melindungi bokongku yang ternistakan. Aku baru saja dipermalukan asal kau tahu dan ternyata ini semua karena ulahmu!"


"Kenapa jadi ulahku?" Austin menyalakan mesin mobil, dalam sekejap mobil melesat meninggalkan perusahaan Justin Hilfiger yang berubah menjadi Steven Hilfiger.


"Kau masih berani bertanya kenapa ini jadi ulahmu? Serius? Kau tahu aku bocor dan kau tidak menghentikanku masuk ke bangunan tersebut, Aust!"


"Aku memanggilmu, kau tidak mendengar."


"Harusnya kau menyusulku!"


"Aku akan melakukannya."


"Tapi kau tidak melakukannya."


"Kekasihku menghubungiku."


"Kekasihmu hanya wanita bodoh yang menginginkan sesuatu darimu!"


"Ck! Kita tidak akan jatuh miskin hanya karena para wanitaku memanfaatkanku sedikit."


"Tapi kau akan terlihat bodoh, tolol!"


"Astaga, mulutmu melukaiku. Pantas saja tidak ada pria yang menyukaimu."


"Standarku terlalu tinggi dan auraku tertutupi oleh sumpah para wanita yang kau dan Darren lukai." Hardik Lexi dengan tatapan menghunus yang membuat Austin menelan ludah, memilih diam, tidak berkomentar lagi. Akan repot urusannya jika Lexi tidak mau bicara kepadanya. Bisa-bisa kakak perempuannya itu tidak mau meminjamkan uang kepadanya jika sedang kalah taruhan. Di usianya yang sudah dewasa, pemikiran Austin masih cenderung kekanakan.


"Omong-omong, apa Lily sudah mengakhiri hubungannya dengan Neal William?"


Pertanyaan Austin sontak mendapat pelototan tajam dari Lexi. Adik badungnya itu hanya memasang wajah polos, tidak merasa ada yang salah dengan pertanyaannya.


"Berhenti mengejar wanita yang lebih tua darimu, Austin!" Entah ada apa dengan adiknya itu, Austin selalu mengincar wanita yang lebih tua darinya. Dari lusinan wanita yang dikencani Austin, semuanya berusia di atas usianya. Lantas, masih adakah yang percaya jika Austin menyebut dirinya pria suci yang belum terjamah.


"Kau cobalah menjalin hubungan dengan pria yang lebih mudah dan rasakan sensasinya." Austin mengerling nakal. Dibanding Darren, Austin memang sedikit lebih mesum. Pria itu lebih frontal dibandingkan kakak mereka yang terkadang terlihat kaku dan sinis jika sedang berhadapan dengan wanita lain. Bahkan Lily yang merupakan sahabatnya, sering kali mendapat semprotan pedas dari Darren.


"Sorry, levelku bukan pria murahan!'


"Apa aku terlihat sangat murahan?"


"Ya, kau pikir aku tidak tahu tujuanmu mengincar wanita matang kesepian? Kau hanya ingin memanfaatkan mereka."


"Oh, Sexii, tudinganmu membuatku terluka. Omong-omong apa Lily sedang kesepian? Kudengar Neal memang sedang sibuk membantu kampanye yang sedang dilakukan Brian. Terkadang aku salut pada pertemanan mereka dan bertanya-tanya kenapa Darren membubarkan diri dari circle mereka."


Lexi juga memiliki pertanyaan yang sama dengan apa yang dipertanyakan oleh Austin. Meski Darren dan Brian beserta konco-konconya tidak sedekat yang dipikirkan Austin, tapi Lexi menyaksikan berapa banyak kenangan konyol yang cukup menyenangkan yang mereka ciptakan bersama Brian and the genk.


"Kau malah melamun."


"Lily tidak sedang kesepian. Berhenti mengganggunya jika kau tidak ingin punya masalah dengan Neal."


Lelah mencuri perhatian Darren, akhirnya sahabatnya itu menjalin hubungan dengan Neal yang merupakan teman mereka saat di Yale High School.


"Pun jika ia bosan dengan Neal, dia tidak akan mencarimu, melainkan Darren." Ucap Lexi dengan telak. Austin hanya terkekeh menanggapi ucapan Lexi karena apa yang dikatakan saudarinya itu benar adanya.


🕊


"Aku tidak percaya kau menyusulku kemari, Steve! Ini New York!" Oleshia menatap Steve tidak percaya. Kedatangan pria itu tanpa diduga-duga. Pikirnya, Steve tidak akan pernah sanggup menginjakkan kaki lagi kembali ke tanah kelahirannya. Negara yang memberikannya begitu banyak kenangan buruk. "Kapan kau sampai? Ini kejutan, kau bahkan mengambil alih sebuah perusahaan. Apakah ini artinya kau akan menetap di sini? Harusnya kau menghubungiku, aku bisa menjemputmu! Atau jika memang kau mempunyai rencana ingin kemari, bukankah seharusnya kau mengatakannya kepadaku. Kita bisa berangkat bersama."


"Kenapa begitu banyak sekali pertanyaan. Tidak ingin memelukku." Dari balik meja kerjanya, Steve menyorot wajah Oleshia dengan intens, menikmati binar keterkejutan di wajah wanitanya itu. Oleshia, tiga hari yang lalu, wanita itu memang melakukan pemotretan di sini, di negara kelahiran mereka. Dan selain urusan pekerjaan, keluarga Oleshia juga menetap di sana, sama seperti kedua orang tua Stev.


"Bagaimana denganmu? Kau bahkan tidak berdiri menyambutku!" Oleshia memasang wajah cemberut. Kesal dengan sambutan sang kekasih yang tidak ada manis-manisnya. Steve duduk dengan mimik datar, kedua sikunya bertumpu di atas meja. Memandanginya.


"Aku membeli perusahaan ini untukmu. Berhenti lah bekerja dengan agency lain." tidak menanggapi keluhan Oleshia, ia justru mengatakan hal tidak terduga.


"Untukku?" Oleshia memekik kaget. "Kau sedang bergurau?"


"Apa aku terlihat sedang bergurau?"


"Sulit membedakannya, Steve. Jadi, kita akan menetap di sini?" Oleshia mengalah, ia mendekati pria itu dan duduk di atas pangkuan Steve. Steve memberi respon cepat, melingkarkan tangan di pinggul Oleshia.


"Dan tiga hari lagi akan ada acara. Kau akan tampil di sana. Orang penting di negara ini kemungkinan besar akan hadir. Kau akan menjadi sorotan dan menjadi pusat perhatian. Sepertinya aku harus menahan cemburu."


"Orang penting?"


"Ya. Orang penting." Dan aku tidak sabar untuk melihat wajah-wajah para manusia busuk itu.