H.U.R.T

H.U.R.T
Balasan



Ternyata bukan hanya Darren yang bergerak cepat. Brian, Fread dan si badak Dean juga sudah ada di sana saat Darren memasuki salah satu ruangan, di mana Vincent sedang disidang. Aksinya yang disiarkan secara langsung, mau tidak mau membuat polisi bekerja dengan rajin, mengungkap kebenaran yang dulu sengaja disamarkan. Pernyataan dirinya yang mengaku tidak ada unsur paksaan sama sekali atas tindakannya tersebut. Ia mengaku menyesal telah melecehkan Lily, tapi ia bersikeras menegaskan jika seperti itulah yang mereka lakukan kepada Olivia.


"Siapa yang kau maksud dengan kami, Mr.Trey?" Wajah para polisi itu terlihat tegang. Entah karena khawatir nama mereka terseret atau karena malu dengan aksi salah satu anggota mereka yang memang sangat menjijikkan.


"Dean Jacob," kepalanya tertunduk, tidak berani menatap Dean selaku pasangan Brian dalam mencalonkan diri.


"Bajiingan!" Terang saja Dean menolak untuk mengaku. "Aksi kotormu ini kenapa kau sangkut pautkan kepada kami. Aku bahkan tidak ingat bahwa Yale High School memiliki seorang siswi bernama Olivia."


Vincent terkekeh sinis, "Aku tidak percaya kau melupakannya saat seingatku kau yang paling bersemangat menggagahinya."


"Tutup mulutmu, Brengseek!!" Dengan berang, ia berdiri, menarik kasar leher Vincent hingga pria itu terpaksa berdiri. "Setelah dengan bantuan keluargaku kau akhirnya bisa duduk di sini, sekarang kau ingin melemparkan kotoran kepadaku?! Aku bisa menghancurkan keluargamu," bisik pria itu di telinga Vincent. "Bukan hal yang sulit untuk mengelabui istri nakalmu yang serakah, Vincent Trey."


Bugh!


Vincent menyundulkan kepala ke wajah pria itu. Dean mengumpat, mengeluarkan segala makian yang ia ingat. Dari hidungnya bercucuran darah segar.


"Jangan macam-macam denganku, Dean! Ini tidak ada hubungannya dengan istri dan anakku." Meski kondisi rumah tangganya tidak benar-benar baik, tapi ia tidak sudi jika teman brengseknya menyentuh keluarganya. Istrinya memang sangat haus akan kekayaan. Vincent jelas tahu bahwa ancaman Dean bukan hangan angin lalu. Tapi, jika ia tetap tutup mulut, ia yang akan mati dengan konyol. Dan tidak ada jaminan juga keluarganya akan selamat.


"Vincent," Brian menepuk pundak pria itu. Tatapannya memancarkan keprihatinan layaknya sahabat yang baik. "Kami tahu ini sangat sulit untukmu. Kami datang kemari karena merasa sangat khawatir dan peduli denganmu. Kami datang untuk memberi dukungan. Itulah yang dilakukan teman, bukan? Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Aku tahu kau pasti sangat tertekan. Fred datang untuk membantumu." Fred yang merupakan pengacara presiden, bertindak sebagai pengacara Vincent kali ini. Mencari aman, mungkin itu lah kata yang tepat bagi Fred juga Brian. Memberi perlindungan hukum bagi Vincent.


Vincent terdiam. Logikanya berseru jika ia memang butuh perlindungan hukum. Tapi, di lain sisi ada ancaman yang lain. Yang membuat hatinya berperang, sisi yang manakah yang benar-benar akan melindunginya?


"Ada apa denganmu?"


Vincent menggelengkan kepala, pandangannya menerawang kosong dengan wajah penuh tekanan.


"Apakah ada yang mengancammu? Katakan kepadaku, kepada kami?" Berkat kekuasaannya, Brian menyuruh penyidik keluar dari ruangan tersebut. Kini, hanya ada dia, Vincent, Fred dan Dean. Para pria yang memperkosa Olivia.


"Steven Percy...."


Brak!


Ruangan dibuka paksa. Darren melangkah cepat dengan wajah bengis penuh amarah. Ia merasa muak melihat wajah keempat pria itu. Ditendangnya kursi yang ditempati Vincent hingga pria itu terjatuh lalu ditariknya tubuh pria itu hingga berdiri paksa. Sebelum Vincent sempat mengeluarkan kalimat, Darren sudah lebih dahulu melayangkan tinju ke rahang pria itu. Tidak cukup hanya melayangkan tinju, Darren membenturkan kepalanya ke wajah Vincent. Menendang hingga Vincent terkapar di lantai.


"Apa yang kau lakukan? Hentikan!" Brian menahan tangan Darren yang hendak kembali menghajar Vincent.


Darren menolehkan kepala dengan gerakan cepat ke belakang. Amarahnya yang berkobar semakin menggila. Ia tidak suka tangan para bajingan itu menyentuhnya. Vincent ia abaikan sesaat, Brian sepertinya juga sangat ingin merasakan sentuhannya.


Apakah Darren peduli dengan makian pria itu? Dia tidak peduli sama sekali!


"Jika aku, kau sebut keparat, lalu sebutan apa yang pantas untuk dirimu dan teman-temanmu, binatang?!" Darren melepaskannya dengan kasar. Fred dan Dean hanya bisa terdiam. Tidak berani untuk ikut campur. "Aku yang akan menghabisimu, menghabisi kalian semua! Kau tunggu saja kehancuranmu, Milles!" Dilayangkannya bogeman ke ulu hati pria itu hingga Brian pingsan tidak sadarkan diri. Cemen! Tidak ada yang bisa diandalkan dari para pria ini selain kekuasaan yang mereka miliki. Tepatnya kekuasaan keluarga mereka.


_____


"Ini mengerikan, sangat mengerikan. Mereka keterlaluan. Sungguh keterlaluan," Oleshia menggigil kedinginan. Ia menyaksikan apa yang disiarkan di televisi. Betapa kejam perbuatan Vincent dan yang lainnya. "Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu kepada Olivia?" Bibirnya bergetar ketakutan, tangisan membanjiri wajahnya.


"Mereka semua biadab, kejam. Ibuku keterlaluan, tidak seharusnya dia menerima uang tersebut."


"Perbuatan sekejam itu dituduhkan kepadamu. Ini tidak adil."


Steve menarik Olivia ke dalam pelukannya. Ia hanya diam, membiarkan Oleshia meluapkan apa yang ia rasakan. Berita ini memang sangat mengejutkan. Meski para petinggi akan berhasil membungkam beritanya lagi, Steve akan bertindak kembali. Lagi dan lagi sampai semuanya benar-benar tuntas.


"Mereka menuduhmu melakukan hal sekeji itu. Mereka mengatakan Olivia dibully, dikucilkan dan diasingkan. Kupikir kehidupannya baik-baik saja. Yale High School adalah impian banyak orang. Tapi ternyata, sekolah itu tidak lebih dari tempat yang menampung banyak para bajingan. Olivia pasti sangat tertekan dan ketakutan. Olivia yang malang. Dia benar-benar menderita. Meninggal dalam keadaan tidak wajar dan kau harus menanggung tuduhan akibat semuanya. Steve, kau juga pasti sangat menderita."


"Semuanya akan selesai." Mengurai pelukan mereka. Pun ia mengambil tissue dari atas meja memberikannya kepada Oleshia. "Sekarang, bersihkan wajahmu. Kau butuh istirahat."


"Bukankah ibuku sangat keterlaluan, Steve?"


"Ya. Sangat keterlaluan," Steve membenarkan hal tersebut. "Ibumu wanita yang serakah. Aku masih ingat dengan jelas saat ibumu mengamuk di pengadilan yang membuat ibuku harus kehilangan janinnya."


"Oh, Steve..." Oleshia mengerang lemah. "Kau sama malangnya dengan Olivia. Kalian korban atas kekejaman semuanya. Ini sangat tidak adil."


"Jika mereka layak hancur dan mendapatkan balasan, apakah menurutmu, ibumu juga layak mendapatkan balasan?"


Pertanyaan tersebut membuat Oleshia sedikit tersentak. Secara tidak langsung, ibunya ikut andil atas penderitaan yang dialami oleh kekasihnya.


"Kau ingin memberi pelajaran kepada ibuku, Steve?"


"Pertanyaan tidak seharusnya dijawab dengan pertanyaan." Pria itu beranjak dari tempatnya, "Tidurlah."


"Kau mau kemana?" Oleshia menahan tangan Steve yang hendak pergi. Ia ingin pria itu menemaninya. Tapi pembahasan tentang ibunya sepertinya membuat mood Steve memburuk.


"Ada hal yang harus kukerjakan. Saat kau bangun, aku sudah ada di sini." Janji Steve sebelum meninggalkan kamar.