
"Se-seingatku, aku bukan tipemu."
"Mulai hari ini, kau tipeku. Kau milikku."
Lexi mengerjap berulang kali, mengulang pernyataan Steve di benaknya. Jemari pria itu menyentuh wajahnya membuat kesadarannya kembali. Lexi menahan tangan Steve, menghentikan gerakannya. Perlahan ia beranjak dari tubuh Steve, terduduk kaku.
"Mungkin hari ini aku tipemu. Tapi sampai hari ini kau bukan tipeku."
Steve refleks duduk. Sungguh tidak menyangka respon yang diberikan Lexi. Apakah dia ditolak. Hei, bukankah Lexi mengatakan jika Lexi juga tertarik pada Steve?
"Aku ditolak?" Berusaha tetap terlihat santai walau hati sudah tidak tenang. Belum pernah kejadian ia ditolak oleh seorang wanita.
Lexi menganggukkan kepala.
"Beberapa menit lalu kau mengatakan jika kau tertarik padaku."
"Tertarik saja tidak cukup membuatku untuk menjalin hubungan."
"Kau menyukaiku?"
"Aku juga menyukai Layla."
"Siapa Layla?" Steve mengernyit bingung. Ia tidak mengerti kenapa harus ada nama lain yang muncul di tengah pernyataan cintanya. Layla terdengar seperti nama wanita. Sangat tidak mungkin jika Lexi mengalami penyimpangan. "Terdengar seperti nama wanita," ada kecemasan yang membuat tidak nyaman. Pikiran konyol mulai menghampiri. Bisa saja Lexi mengalami penyimpangan karena kisah cinta yang tidak pernah berjalan mulus.
Mungkin Steven Percy meninggalkan luka yang begitu mendalam. Ucapnya dalam hati. Sesaat ia lupa jika Steven Percy adalah dirinya sendiri.
"Tidak. Layla adalah singa jantan. Aku menyukainya. Tapi bukan berarti aku harus menjalin hubungan dengannya."
Steve tersedak. Singa jantan? Heh? Apakah Lexi baru saja menyamakan dirinya dengan seekor binatang? Terang saja Lexi tidak mungkin menjalin hubungan dengan seekor singa dan siapa yang memberi nama Layla yang begitu manis kepada seekor singa jantan?!
"Aku menyukaimu. Aku berdebar di sampingmu. Tapi aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu. Pasti sangat tidak enak rasanya ditolak, bukan?"
Dengan konyolnya, Steve menganggukkan kepala. Ya, penolakan Lexi membuatnya tidak nyaman. Pertama kali dalam hidupnya meminta seseorang menjadi kekasihnya dan untuk hal yang pertama tersebut, ia mendapat penolakan. Sedikit melukai harga dirinya, tapi juga membuatnya semakin tertantang. Apakah ada orang lain atau Lexi masih saja terkurung dengan perasaannya sendiri terhadap Steven Percy?
"Aku minta maaf untuk itu," Wajah Lexi terlihat menyesal. Bukan mimik yang sengaja dibuat-buat. "Aku tahu bagaimana rasanya ditolak."
Dia pasti berbicara tentang Steven Percy.
"Jika kau tahu rasanya, harusnya kau tidak menolakku."
"Kau akan semakin terluka jika aku menerimamu. Aku tidak percaya kau memiliki perasaan kepadaku. Sebenarnya ini masalahku bukan masalahmu. Andai perasaanmu tulus, aku tidak yakin mampu membuatmu bertahan."
"Bahasamu terlalu berbelit-belit. Kau tidak akan tahu apakah aku akan bertahan atau tidak jika kita belum menjalaninya."
Sesungguhnya Lexi tergoda untuk mencoba. Tapi dibandingkan godaan untuk mencoba, rasa tidak percaya dirinya jauh lebih besar dibanding dengan godaan tersebut.
"Di sini," Lexi memegang dadanya. "Ada nama pria lain yang hingga sekarang masih betah di sana. Apa kau tahu, jika kami para wanita tidak bisa melupakan pria secepat para pria melupakan kami."
Steve terhenyak. Tidak salah lagi, penolakan ini ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Sangat aneh sebenarnya, ditolak karena versi dirimu yang lain.
Apakah sekarang aku sedang bersaing dengan diriku sendiri. Astaga, apa tidak ada yang tersisa pada diriku dari versi Steven Percy. Kenapa gadis ini bodoh sekali!
"Kami mencintai melampui batas, aku tidak berdaya," lirihnya. Steve terdiam, yang bisa ia lakukan hanya memandangi wajah sendu gadis itu. Sebesar itukah rasanya kepada Steve yang sudah ia anggap tiada?
"Bukankah kekasihmu itu sudah meninggal."
Lexi menoleh cepat. Tatapan gadis itu tajam dan menghunus. "Bagaimana kau tahu jika pria yang kumaksud sudah meninggal?"
Steve salah langkah, ia terlalu gegabah dan tidak menyukai penolakan Lexi hingga membuatnya hilang fokus.
"Oh," Lexi bergumam sama tidak yakinnya dengan Steve. "Karena kita sudah membahas ini, jadi aku hanya akan berterus terang. Ya, meski dia sudah tiada, tidak pernah menoleh kepadaku bahkan hingga ia pergi untuk selamanya. Hal itu tidak lantas mengurangi perasaanku terhadapnya. Konyol, bukan?" Lexi tersenyum getir.
"Kau sangat tulus jika begitu. Apakah pria itu begitu hebat hingga sampai detik ini kau masih menyimpan perasaan kepadanya?" Steve sungguh penasaran, seperti apa dirinya di mata Lexi selama ini.
"Hebat? Ya, dia sangat hebat. Pintar dan rupawan dengan kaca mata berbingkai yang bertengger di hidungnya. Rambutnya selalu disisir rapi. Aroma tubuhnya sangat enak meski tidak pernah memakai parfum. Dia sangat sedikit bicara, tapi aku sangat suka saat dia menatapku meski aku tidak berani menatapnya berlama-lama." Pandangan mata Lexi begitu berbinar seakan Steven Percy ada di hadapannya. Senyum tipis menawan terukir indah di wajahnya yang sendu. Tersirat kerinduan yang mendalam di setiap kata yang terlontar dari mulutnya. Bibirnya bergetar karena terlalu bersemangat membicarakan tentang prianya.
"Bagaimana kau tahu jika aromanya enak. Bukankah kau mengatakan dia enggan menoleh ke arahmu."
"Hmm," Lexi mengangguk cepat. "Tapi aku selalu mencari alasan agar dia menoleh ke arahku. Dia bukan orang yang bisa menolak permintaan seseorang. Aku selalu meminjam buku catatannya dan mengundangnya datang ke rumah untuk mengajariku."
"Dia bersedia?"
"Ya, asal kami bertemu di luar. Dia tidak mau kuundang ke rumahku. Tapi aku menyukainya, kami jadi terlihat seperti sedang berkencan. Dia tidak memiliki mobil dan tidak bisa mengendarai mobil."
"Jadi kau dan dia terpaksa naik bus?"
"Bagaimana kau tahu?" Lexi kembali memiringkan kepala, menoleh ke arahnya.
Karena aku adalah pria itu, Steve berbisik dalam hati.
"Aku hanya asal menebak."
Lexi tersenyum, "Ya, untuk itulah aku mengatakan kami seperti sedang berkencan. Kami naik bus yang penuh sesak. Mau tidak mau tubuh kami menempel satu sama lain." Tanpa sadar Lexi memegang kedua pipinya yang merona mengingat momen itu. Steve menundukkan kepala, tidak sanggup melihat apa yang terpampang di hadapannya. Adakah yang lebih tulus dari wanita ini?
"Tidak bisakah kau melupakannya?"
"Andai aku bisa." Lexi menarik napas panjang. "Itulah keistimewaan kami para wanita. Mencintai dengan begitu lama meski harapan itu sudah tidak ada, sudah hilang. Kami mencintai tanpa batas, mencintai meski kami bukan pilihan."
"Ini terdengar sangat menyedihkan."
"Ya, kau benar." Lexi tidak merasa tersinggung sama sekali atas pernyataan sengit pria itu. "Tapi dengan begitu, aku merasa lebih hidup. Aku merasakan cinta, sakit hati, penolakan juga kenangan yang begitu manis. Semua hal itu membuatku lebih hidup."
"Tidakkah sebaliknya? Serasa ingin mati?"
Lexi tersenyum, "Mati adalah akhir segalanya, Mr. Ivarez. Kau tidak akan merasakan apa pun lagi. Dan itulah yang ia rasakan. Lelah dengan semuanya. Dan memilih pergi untuk selamanya."
"Lupakan dia dan mulailah denganku."
Lexi menggeleng, "Aku tidak bisa melibatkan orang lain terjebak dengan perasaanku yang masih belum bisa kulepaskan sepenuhnya."
"Aku tidak keberatan."
"Tapi aku keberatan."
"Lexi..." Steve tidak tahu harus berkata apa lagi. Ingin rasanya ia melayangkan tinju untuk meluapkan rasa sesak di hatinya.
"Kurasa kau pasti sudah sangat lapar karena harus bolak balik ke toilet. Aku akan membuat makanan." Lexi segera berdiri. Ia perlu menenangkan diri, matanya juga mulai perih menahan kesedihan setiap kali ia berbicara tentang Steven Percy.
Steve menahan tangannya, memaksa gadis itu kembali duduk. "Tidak perlu menyembunyikan tangisanmu dariku. Luapkan saja. Aku akan diam, tidak akan berbicara juga tidak akan mengejekmu." Steve membawa kepala Lexi ke dadaanya. Diusapnya dengan lembut rambut panjang gadis itu. Tubuh Lexi pun bergetar seketika. Gadis itu sesegukan.
"Rindu itu berat. Satu-satunya obat dari rindu itu adalah menemui orangnya secara langsung. Lalu, kemana aku harus menemuinya?" Lirih gadis itu dengan suara yang begitu menyayat hati.
"Jika bertemu dengannya, apa yang akan kau katakan?"
"Merdekakan aku."
Deg!