
Untuk menghilangkan kejenuhan, Steve duduk santai, menaikkan kaki ke atas meja kerjanya. Pandangannya menerawang jauh, membayangkan wajah-wajah orang yang membuatnya menderita. New York, tempat yang menjadikan dirinya seperti ini. Ia faham bagaimana rasanya kehidupan yang direnggut paksa. Ia faham rasanya menjadi miskin, menderita, diabaikan. Dan sekarang, ia juga tahu bagaimana rasanya yang disebut dengan makmur. Steven kembali kemari, ke jurang kepedihan untuk membalas orang-orang yang telah membuatnya menderita. Akan sangat memuaskan jika berhasil memenangkannya. Ia memiliki uang dan kekuasaan. Mungkin sudah saatnya ia beraksi.
Uang bukanlah sesuatu yang menarik baginya. Tapi kekuasaan. Ya, kekuasan berbeda dengan uang. Sejak dini, tepatnya sejak ia dijadikan tersangka, Steve belajar bahwa kekuasaan adalah segalanya. Kekuasaan membuka pintu-pintu yang semula tertutup. Mengubah tidak menjadi ya, kekuasaan juga mengubah stop menjadi berjalan. Ia belajar bahwa kekuasaan adalah perangsang. Ketika dibutuhkan, kekuasaan adalah senjata. Senjata yang tidak takut untuk ia gunakan. Sepertinya, memang sudah waktunya ia beraksi.
Ponselnya berdering untuk kesekian kalinya selama bermenit-menit, tapi ia memilih untuk mengabaikannya.
Ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. Debora, sekretarisnya, berdiri di ambang pintu. Kesal dengan interupsi itu, Steve mengangkat satu alisnya, tanda bertanya.
"Aku tahu kau tidak sedang ingin diganggu, tapi kau mengabaikan semua panggilan, termasuk telepon yang masuk ke jalur pribadi."
Tidak mendapat reaksi dari Steven, Debora menghela napas. "Asisten pribadi Oleshia menelepon dan karena kau tidak menjawab, Oleshia memutuskan untuk menghubungi sendiri. Suasana hatinya sedang buruk."
"Dia menghubungiku untuk memberitahukan bahwa suasana hatinya sedang tidak baik? Ramalan cuaca sepertinya lebih menarik."
"Dia meminta agar menyampaikan pesan untukmu. Hubungi dia atau kalian akan putus. Kira-kira seperti itulah pesan yang ia sampaikan."
"Putus?" Steve mengulang sepenggal kata tersebut. "Abaikan saja. Lanjutkan pekerjaanmu." Steve mengambil ponselnya. Menghapus semua panggilan juga pesan tanpa ingin repot-repot membacanya.
Meski ia tidak mengangkat kepalanya, ia merasakan sensor jika Debora sedang memperhatikannya.
"Kau bekerja cukup lama denganku, Debora. Lalu, kenapa kau masih di sana dengan wajah yang ditekuk?"
"Apakah putus hubungan tidak akan menganggu pikiranmu?"
"Tidak akan."
"Itu berarti ada sesuatu yang salah denganmu, Steven! Roxi mengatakan bahwa kau akan melamar Oleshia. Bagaimana bisa kau tidak terpengaruh jika dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian."
"Aku piawai menanganinya," ucapnya ringan.
"Kau tidak peduli dengannya? Kau dan dia berkencan sudah cukup lama."
"Aku peduli seperti dia peduli kepadaku."
Dengan gelengan putus asa, Debora menyingkirkan dua cangkir kopi dari atas meja kerja pria itu. "Hubunganmu dengannya berjalan cukup lama..."
"10 tahun." Steve memperjelas.
"Lalu apa lagi yang kau tunggu? Tidakkah waktu 10 tahun tersebut cukup untuk menjadikannya sebagai pendamping hidupmu? Kau dan dia selalu bersama satu sama lain. Aku menyaksikannya. Kau sukses dalam segala aspek kecuali satu. Aspek kehidupan percintaanmu."
"Kebetulan aku menganggap kehidupan priabadiku sebagai kesuksesan yang sesungguhnya."
"Cinta lah yang akan membuatmu sukses."
Cinta?
"Debora.."
"Ya?"
"Apa daftar tugasmu berubah tanpa sepengetahuanku? Apakah ada perubahan peraturan kepegawaian hingga kau harus mengurus kehidupan pribadiku?"
Debora berdehem, "Ya, tidak seharusnya aku mencampuri urusan pribadimu," cangkir-cangkir kopi berderak di tangannya ketika ia berjalan menuju pintu keluar.
Steven mengetuk jemarinya ke meja kerjanya. Pikirannya terusik dengan pernyataan Debora dan ia tidak nyaman akan hal tersebut.
Ponselnya kembali berdering, ekor matanya melirik, nama Oleshia terpampang di sana. Alih-alih menjawab panggilan tersebut, Steve justru beranjak dari kursi, memasukkan ponsel tersebut ke dalam kantongnya.
"Kau mau kemana?" Debora berdiri begitu melihat Steve yang baru keluar dari ruangannya.
"Menemui ayah dan ibuku."
"Wow!"
"Tahan semua panggilan yang ditujukan untukku dan tunda semua pertemuan untuk tiga jam ke depan."
____
Menemui orang tua yang dimaksud Steve adalah mengawasi dari jauh. Dengan mimik datar, ia memperhatikan kedua orang tuanya yang sedang duduk memantau para pekerja mereka mengurusi kebun anggur mereka sambil menikmati secangkir teh. Terkadang ia bertanya-tanya, apakah kehidupan ekonomi keluarganya akan tetap menyedihkan jika ia tidak dijadikan tersangka tiga belas tahun lalu. Sekarang, ia melihat bahwa kedua orang tuanya tidak memiliki kekurangan apa pun. Keduanya tampak sehat dan bugar. Uang yang ia kirim bahkan tidak disentuh sama sekali hingga ia mencari akal lain agar orang tuanya bersedia menikmati uang pemberiannya. Menawarkan bisnis kepada orang tuanya adalah cara yang ia pilih melalui saran yang diberikan Beth. Ternyata berhasil. Ayah ibunya kembali membeli beberapa hektar tanah dan menambah pegawai.
"Ayah, Ibu, lihat apa yang kubawa."
Dahinya berkerut melihat kehadiran Lexi yang tidak diduga-duga. Steve mencondongkan tubuh ke depan, melipat kedua tangan di atas setir kemudi. Memperhatikan dengan lekat. Gadis itu mengenakan topi besar untuk melindunginya dari panas terik. Pakaiannya juga sama dengan pakaian para pekerja lainnya. Entah baju siapa yang gadis itu kenakan hingga Lexi terlihat seperti orang-orangan sawah.
"Aku memanen anggur dalam jumlah banyak!" memamerkan ember yang penuh berisi anggur.
"Astaga! Kau penuh dengan keringat," Ibunya menarik baju untuk membersihkan dahi Lexi yang basah oleh keringat sementara ayahnya membantu Lexi melepaskan topi yang dikenakan dan mengipas wajah Lexi dengan menggunakan topi tersebut.
"Kau bahkan tidak menggunakan sarung tangan. Lihatlah, kukumu kotor,- oh, ada yang patah."
"Hais, Ibu, ini bukan masalah besar. Aku tinggal memotong semuanya. Nanti mereka akan tumbuh lagi. Coba ini, anggur pilihanku." Lexi menyodorkannya ke dalam mulut Ny. Daphne. Wanita itu tertawa dan dengan segera membuka mulut. Hal yang serupa gadis itu lakukan kepada ayahnya.
Steve memperhatikan kehangatan itu, dadanya berkecamuk. Marah, kecewa, juga rindu berbaur jadi satu. Ia menelan salivanya dengan susah payah, seolah tenggorokannya sedang tersekat.
Steve mengeluarkan ponsel, menghubungi Debora. "Kirim sejumlah dana kepada Willson sebanyak yang mereka keluarkan untuk lahan anggur orang tuaku."
"Sepertinya kau salah dalam hal ini, Steve. Lahan anggur tidak ada sangkut pautnya dengan Willson. Rumah dan pemukiman di sekitar rumahmu lah yang mereka tangani. Jika yang kau maksud investasi mereka, dari yang kulihat, ini murni bisnis. Pembagiannya sesuai kesepakatan yang sudah mereka bicarakan."
Dahi Steve mengernyit bingung, jika bukan dari Willson, lantas siapa yang mendanai ayah ibunya membeli lahan anggur yang bisa dikatakan cukup luas?