
"Kau baik-baik saja? Maksudku, tubuhmu baik-baik saja?"
Harusnya ini bisa menjadi kesempatan bagi Steve untuk bisa tidur di atas ranjang yang sama dengan Lexi. Saat ini keduanya kembali ke kamar tamu. Tidur di dalam kamar yang sama tetapi tidak di ranjang yang sama. Steve tidur di lantai yang dilapisi dengan karpet yang cukup tebal, namun tidak cukup nyaman untuk tidur semalaman. Sedangkan Lexi sendiri tidur di atas ranjang. Saat ini, posisinya sedang dalam keadaan telungkup dengan dagu yang ditopangkan di atas tangannya, menatap Steve yang juga sedang menatapnya dalam posisi berbaring dimana kedua tangannya berada di bawah kepala.
Steve menimbang-nimbang jawaban. Ini kesempatan tapi sisi dirinya yang lain menyebut ini jebakan.
Steve berdehem sebelum menjawab, "Esok pagi mungkin tubuhku akan sedikit mengalami pegal. Tapi tidur di atas ranjang yang sama terlalu beresiko." Akhirnya ia menjawab jujur. Bisa-bisa ia harus berurusan dengan air dingin di tengah malam. Itu sangat menyiksa, Kawan!
"Aku sudah terbiasa tidur di atas lantai sekalipun." Lanjutnya kemudian.
"Terbiasa?"
"Hmm."
"Ceritakan padaku tentangmu."
"Kau penasaran?"
"Aku ingin tahu seperti apa pria yang sedang mengejarku."
"Aku pria buruk yang menginginkan ceritaku berakhir happy ending."
"Semua orang ingin berakhir happy ending. Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut. Jadi ceritakan kepadaku tentangmu."
Steve mengambil napas sesaat, pun ia segera duduk agar bisa memandangi wajah Lexi lebih dekat lagi.
"Aku seorang penjahat."
Awal cerita yang buruk. Tapi, ia ingin memulai semuanya dengan kejujuran. Cukup identitasnya yang ia sembunyikan. Selebihnya, biarkan Lexi tahu tentang apa yang sudah ia lalui.
"Ya, aku melihat begitu banyak luka di punggungmu. Kau sering berkelahi?"
"Ya. Aku bahkan membunuh."
"Wah! Kau mengerikan."
Steve tergelak, "Wajahmu tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Kau tidak takut kepadaku."
"Kau tidak akan menyakitiku. Itulah yang kau katakan dan aku mempercayaimu."
"Saat usiaku masih remaja, beranjak dewasa. Hm, atau mungkin sudah bisa dikatakan dewasa, aku sudah menjadi seorang napi."
"Oh, itu pasti menyakitkan." Wajah Lexi berubah murung. Ia mengingat Steven-nya.
"Ya, sangat menyakitkan untuk usia belasan tahun."
Bayangan tentang Riston menyelinap masuk, jantungnya berpacu hebat, dahinya mulai berkeringat. Riston membuatnya terlihat sangat menjijikkan. Aib memalukan yang tidak akan sanggup ia bagi dengan siapa pun. Sialan! Brian bahkan memiliki videonya.
"Kau baik-baik saja?"
Sentuhan di lengannya membuatnya tersentak. Iris mata Lexi memandangnya penuh khawatir.
Steve menyunggingkan senyum tipis, "Ya, cukup baik."
"Aku sangat penasaran dengan kehidupan di dalam penjara. Tapi jika itu menyakitkan bagimu, sebaiknya tidak usah kau ceritakan."
Steve tahu apa yang membuat Lexi sangat penasaran. Tentu saja ini tentang dirinya. Tentang Steven Percy.
"Penjara artinya kebebasanmu direnggut. Semuanya menjijikkan. Kau harus berbaur dengan manusia-manusia yang tidak memiliki perikemanusiaan. Yang lemah akan ditindas. Kau tidak akan menemukan makanan sehat atau layak di sana, kecuali ada relawan baik hati yang datang. Saat relawan datang, saat itulah para napi memperbaiki gizi." Steve tersenyum getir.
"Apakah luka di punggungmu kau dapatkan saat di penjara."
"Sebagian besar. Di penjara, satu hari terasa sangat lama. Kau tidak bisa menikmati matahari juga bintang di langit malam. Keinginan mengakhiri hidup sering terjadi, bahkan terjadi. Hanya saja, Tuhan berkehendak lain. Belum waktunya untuk mati."
"Apakah semengerikan itu?"
Tanpa sadar air mata Lexi keluar. Hatinya bisa merasakan betapa mengerikannya saat itu, saat ia melihat kondisi Steven yang bagaikan manusia yang hidup segan mati pun tak mau.
"Ya." Steve mengulurkan tangan mengusap air mata di wajah gadis itu. "Sangat mengerikan."
"Apa yang membuatmu bertahan?"
"Aku bahkan memilih menyerah dalam hitungan hari. Seperti yang kukatakan, kematianku belum waktunya. Tidak ada yang bisa kulakan selain mengikuti alurnya. Saat aku memutuskan untuk tetap mengikuti jalan hidupku, aku melakukan apa pun untuk bertahan hidup termasuk memakan makanan yang menjijikkan. Termasuk melakukan hal tidak bermoral."
Steve sengaja menjeda ceritanya, memberi ruang bagi Lexi untuk bertanya. Namun, gadis itu hanya diam, terlihat antusias mendengarkan kelanjutan ceritanya.
"Kenangan tentang seseorang juga menjadi alasan kuat bahwa aku harus tetap hidup untuk menebus semua pengorbanan yang ia lakukan. Untuk menebus air mata yang sering ia keluarkan untukku dan untuk membalas perasaannya. Untuk bisa membalas perasaannya, butuh hitungan tahun bagiku agar bisa merasa layak. Walaupun pada akhirnya, aku merasa tetap tidak layak. Tapi setidaknya, aku lebih berani untuk mengutarakan perasaanku dengan jujur."
"Kau memiliki wanita?"
Steve menganggukkan kepala. "Ya, dia sangat cantik, baik dan juga bodoh."
"Bodoh?"
"Hm, aku menyakitinya berulang kali, menolak perasaannya. Namun hal itu tidak membuat ia mundur. Ia tetap maju, menawarkan rasanya yang luar biasa. Mengorbankan apa yang bisa ia korbankan. Tidak peduli bahaya apa yang ada di hadapannya, ia tetap lari menuju ke arahku. Aku marah, sungguh sangat marah. Aku merasa sangat buruk dan juga merasa sangat malu."
Steve berbicara tentang kenekatan Lexi yang datang mengunjungi ke penjara isolasi tersebut. Steve tidak akan bisa melupakan wajah Lexi yang terlihat lelah dengan cucuran keringat juga beberapa luka di kaki dan tangannya. Dan yang membuatnya merasa tertampar adalah Lexi masih menampilkan senyum terindahnya dengan manik berbinar-binar.
Siapa yang tidak bangga dan berbesar kepala dicintai dengan cara yang begitu hebat. Steve bangga akan hal itu. Tapi, jika ia menyambut kedatangan Lexi dan ibunya, gadis itu akan terus datang mengunjunginya. Lagi dan lagi. Steve tidak ingin Lexi mendapatkan luka yang lebih banyak lagi, entah itu luka fisik atau batin dan Steve juga tidak ingin Lexi menyaksikannya dalam keadaan terburuknya. Itu melukai harga dirinya. Ia tidak ingin cinta yang dirasakan Lexi dibalut dengan rasa kasihan.
Ia ingin Lexi melupakannya, itu benar. Ia ingin Lexi mendapatkan pria yang lebih baik. Ia ingin Lexi melanjutkan hidup dengan bahagia. Ini harapannya. Namun, saat mengetahui bahwa Lexi menutup hati pada pria manapun, ia kembali mencoba peruntungan.
Belasan tahun, bukan waktu yang sebentar. Ia bahkan tidak yakin jika Lexi akan tetap terbelenggu dengan dirinya. Hingga di hari ulang tahun Lexi yang ke 29 tahun, Olivia beraksi. Mengirimkan bangkai tikus, membunuh Isla dengan meninggalkan kata sandi PNLZNGX. Kode yang biasa digunakan para psikopat untuk sengaja meninggalkan jejak. PNLZNGX yang berarti OliviaP. Sandi yang tertulis dihitung mundur.
Saat mengetahui bahwa Olivia akan melancarkan aksinya, acara balas dendam untuk Pax berubah haluan. Steve tidak akan mencampuri urusan Olivia andai wanita itu hanya mengusik pria-pria bejat yang memperkosanya dan Oleshia. Steve bahkan akan membantunya untuk hal itu.
Olivia ternyata cukup serakah, tidak bisa menerima kenyataan bahwa di hati Steven masih tersimpan nama Lexi. Pertanyaannya, pernahkah Steve berkhianat selama bersamanya? Jawabannya, tidak!
Andai Olivia tidak mengusik Lexi, Steven akan tetap berada di sisinya meski ia tahu Olivia berkhianat dengan Arthur. Ia mengerti dengan apa yang dirasakan Olivia karena ia juga merasakan hal serupa, keadilan yang tidak benar.
Pada akhirnya, Olivia lah yang membuat Steven melindungi Lexi dan mulai merajut kasih yang belum sempat terjalin.
"Apakah wanita itu masih ada?"
Steve menganggukkan kepala, "Masih dan gadis itu masih saja sama, serupa, tidak ada yang berubah."
"Lalu kenapa kau di sini?"
"Lantas, aku harus kemana?"
"Kembali pada wanitamu."
"Itulah yang sedang kulakukan. Hanya saja aku tidak berani menunjukkan diriku sepenuhnya."
"Kenapa? Karena kau penjahat?"
"Karena dia sedang terluka."