H.U.R.T

H.U.R.T
Kamar



Steve termangu melihat penampakan kamarnya. Sungguh tidak ada yang menarik di sana. Namun, ia seperti kembali ke 14 tahun yang lalu di mana ia biasa menghabiskan waktunya di dalam kamar. Meja belajar itu masih di sana. Meja bejalar pemberian Lexi di hari lahirnya yang ke 16 tahun.


Kau tidak boleh menolaknya, aku menabung untuk ini, dan karena kau adalah orang yang akan menerima kado pemberianku, aku terpaksa membeli meja yang sedikit murahan karena aku tahu kau tidak akan bersedia menerima perabotan mahal. Sebagai ucapan terima kasihmu, kau harus mengingatku setiap kau belajar. Hanya saat belajar, tidak masalah bagiku.


Ah! Steve tidak akan pernah melupakan kata-kata Lexi saat itu. Meja yang sedikit murahan katanya, sesungguhnya bisa membeli 100 meja belajar yang bagus menurut versi Steven saat itu.


Buku-buku belajarnya juga masih ada di sana. Tertata dengan rapi. Usang tapi tidak berdebu sama sekali. Artinya, kamar ini selalu dibersihkan. Di atas meja juga terdapat bingkai foto. Foto Lexi yang diam-diam ia ambil saat gadis itu tertidur, saat mereka belajar bersama. Dulu, ia selalu menyembunyikan foto tersebut di lembaran bukunya. Siapa yang menaruhnya di dalam figura?


Tatapan Steve beralih dari meja belajar. Tanpa sadar ia berhenti bernapas saat melihat ranjang kecil dengan kasur yang sudah tidak enak untuk ditempati. Namun, alas tempat tidur tersebut menjelaskan bahwa Lexi sering tidur di sana. Seprei berwarna pink dengan motif bunga sakura. Kenapa ranjang dan kasurnya tidak diganti?


Hanya orang bodoh yang tidak mengetahui jawabannya dan Steve tentunya bukan orang bodoh. Lexi ingin segala sesuatu tentang Steven Percy tetap harus hidup.


Steve membawa kakinya melangkah mendekat ke ranjang. Ia mendaratkan bokongnya di sana. Astaga! Ia tidak bisa membayangkan Lexi tidur di sana. Kasurnya tipis sekali, membuat tidur tidak akan nyaman.


Di samping ranjang, ada lemari pakaian. Sepertinya satu-satunya benda yang diganti di kamarnya adalah lemari. Ia ingat jika lemari pakaiannya dulu sudap lapuk, kakinya mulai dimakan rayap dan tidak ada penutup. Ia penasaran, apa isi di dalam lemari tersebut. Ia berani bertaruh jika pakaian lamanya pasti masih ada di sana. Demi Tuhan, di balik pintu kamar, Steve bahkan melihat tas sekolahnya masih menggantung manis, sejajar dengan tas mahal milik Lexi.


Steve kembali memendarkan pandangan, hatinya menghangat saat melihat cermin sederhana yang menggantung di salah satu sudut di dekat jendela. Di sana ada beberapa alat kosmetik milik Lexi. Kamar ini seperti kamar milik mereka berdua.


"Sudah kukatakan, kamar ini tidak akan bisa kau tempati!"


Lexi melangkah lebar dan menarik Steve dengan sedikit kasar agar beranjak dari atas ranjang. Pun gadis itu membersihkan jejak bokong pria itu dari sana. Lexi merapikan tempat tidur itu kembali.


"Ini kamar Steven, kau harusnya tahu batasanmu, Ivarez!"


"Kau tidur di sini?"


"Selain kamar Steven, ini juga kamarku! Lalu apa masalahnya jika aku tidur di sini?"


"Kasurnya mulai lapuk."


"Ya. Tapi cukup hangat."


"Hangat?"


"Aku merasa seperti dipeluk. Astaga! Hentikan membahas mantan kekasihku itu. Aku tidak ingin kau cemburu dengan arwah. Dan lihatlah! Wajahku selalu merona setiap mengingatnya."


Situasiku sekarang bahkan lebih buruk dari sekedar cemburu kepada arwah, Lexi. Aku cemburu kepada diriku sendiri!


"Apa yang membuatmu sampai segila ini padanya?"


"Entahlah. Aku tidak bisa menjelaskan. Ayo keluar. Aku merasa seperti seorang istri yang tidak tahu malu."


"Maksudmu?"


"Ini kamar pribadi kami." Lexi memukul lengannya dengan sedikit kuat. Wajah gadis itu kembali merona dan Steve pu dengan konyolnya merasakan darahnya berdesir hebat. Kamar pribadi kami. Ah! Terdengar sangat intim. Steve menyukainya. Menyukai keintiman diantara dirinya dan Lexi.


"Dan aku membawa pria lain masuk kemari. Astaga! Binal sekali saya!"


"Oh Tuhan, kalimatmu membuatku hampir tersedak."


"Ayolah Ivarez, segera keluar dari kamar ini. Kau tidak bisa menempatinya. Kau adalah pria yang akan menjalin hubungan denganku. Aku tidak ingin hubungan kita justru terasa canggung jika Steven selalu ada diantara kita. Aku tidak akan bisa menjadi kekasih naturalmu jika di sekitar kita ada hal-hal yang mengingatkanku tentang Steven. Aku akan merasa seperti wanita pengkhianat."


"Artinya, aku akan tidur di kamar tamu bersamamu."


"Aku akan tidur di sini dan kau di sana."


"Ck! Apa gunanya menginap jika tidur terpisah."


"Memangnya apa yang kau harapkan?"


"Tidur sambil memelukmu."


Lexi spontan membekap mulut Steve dengan tangannya.


"Apa yang kau katakan?! Astaga! Kau ingin Steven mendengarnya?"


Steve menurunkan tangan Lexi dari mulutnya, "Andai dia mendengarnya, dia tidak akan bisa melakukan apa pun, Lexi. Memangnya apa yang bisa dia lakukan?"


"Ya, kau benar. Dia juga tidak akan cemburu dan peduli," Lexi mendesaah panjang. "Apakah Mom dan Dad masih di sini?"


"Kau ingin bertemu mereka?"


Lexi menggelengkan kepala. Ia ingin menemui mereka tapi ia juga belum siap. Melihat keluarganya, otomatis ia juga akan mengingat Austin. Kemana pria itu? Bagaimana keadaannya? Sesungguhnya Lexi ingin tahu kenapa Austin tega melakukan hal memalukan itu terhadapnya. Hanya saja ia belum siap untuk mendengarkan jawaban terburuknya. Mengingat apa yang terjadi diantara dirinya dengan Austin membuat tubuhnya gemetar.


"Kau kedinginan?"


Sentuhan Steve di pundaknya membuat ia tersentak. Lexi mendongak, menemukan sorot khawatir dari manik pria itu.


"Apakah kau sungguh tidak akan meninggalkanku apa pun yang terjadi?"


"Tentu saja," Steve menjawab dengan cepat.


"Apa pun yang terjadi?"


"Apa pun yang terjadi." Steve membeo dengan nada yang lebih tegas.


"Esok aku akan menemui Mom dan Dad, apa kau mau menemaniku?"


"Meski aku malas bertemu dengan Pax Willson, aku akan tetap menemanimu. Apa kau akan tinggal di sana?"


"Aku belum memikirkannya."


_____


Olivia mengunjungi ayah dan adiknya. Keduanya sedang makan malam.


"Selamat malam," ia menyapa.


Mr. Phyllida tidak menjawab, pria setengah baya itu terus melanjutkan makannya tanpa menolek ke arah putrinya. Tepatnya, ia menghindari kontak mata dengan Olivia.


"Bagaimana kabarmu, Alea?" Olivia mengusap kepala adiknya dengan lembut.


"Baik. Sangat baik. Kau akan menginap?"


Olivia mengangguk, "Ya, aku akan menginap. Kau merindukanku?"


"Ya. Kita akan bermain sebelum tidur?"


"Tentu saja."


Kursi ditarik dengan kasar, membuat kedua wanita itu terkejut dan serempak menoleh ke sumber suara.


Mr. Phyllida beranja dari meja makan tanpa menghabiskan makan malamnya.


"Kau belum menghabiskan makananmu, Ayah."


Ucapan Olivia menghentikan langkah Mr. Phyllida. "Aku sudah tidak berselera."


Olivia tertawa sumbang, ia tahu kenapa ayahnya beranjak. Mr. Phyllida adalah orang pertama yang menyadari apa yang terjadi pada Olivia saat tanpa sengaja menemukan buku mantra pembawa petaka tersebut.


Olivia dan ayahnya bertengkar hebat pada hari itu hingga sampai detik ini, ayahnya enggan berbicara dengannya dan enggan berada di dekatnya. Ayahnya seolah anti dengan dirinya.


"Mau sampai kapan kau seperti ini? Mendiamkanku seolah aku bukanlah putrimu?"


"Kau sungguh ingin mendengar jawabanku?" Mr.Phyllida menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang muram.


"Aku melakukan ini hanya untuk memberi pelajaran pada mereka! Pada mereka yang sudah menodaiku, pada mereka yang juga menodai Oleshia bahkan membunuhnya. Lantas apa yang bisa kau lakukan untuk membela keluargamu? Kau hanya diam dan pasrah seperti orang dunguu! Dan setelah aku mengadili semuanya dengan caraku, kau justru memalingkan wajah dariku, Ayah."


"Kau bukan putriku. Kau adalah monster yang tega melakukan hal mengerikan bahkan pada ibumu sendiri."