
Happy milad, Ani Qothul. Doa terbaik untukmu🎂🥂
.
.
Sejarah seakan terulang, Willson benar-benar kalah di tangan Devils. Gerald menghabiskan seluruh waktunya untuk menyusun rencana dan menyerang di waktu yang tepat. Terbukti rencananya itu hampir berhasil 90 persen. Anggotanya yang tersebar dimana-mana berhasil menumbangkan Willson dan anak buahnya. Perencanaan yang sangat apik. Andai di hati Gerald tidak ada cinta buat Alena, Pax dan keluarganya sudah tinggal nama.
Hari ini, kejadian itu kembali terulang. Devils menyerang di waktu yang tepat. Disaat fokus mereka terbagi pada para tamu undangan. Dan seperti yang sudah dikatakan penjagaan ketat tidak berarti apa-apa. Devils menyabotase semuanya.
Keahlian mereka dalam menyusun strategi tetap tidak terendus. Pax menghabiskan waktu mencari tahu apakah Devils masih ada, di mana markas utama mereka, apa yang dilakukan mereka. Ia dan Roxi tidak menemukan apa-apa. Darren bahkan sudah memeriksa pasar gelap, tidak ada transaksi ilegal yang melibatkan nama kelompok tersebut. Kelompok itu juga seolah sudah mati. Nama mereka tidak pernah terdengar di dunia gelap.
The Darkness, kelompok itu nyatanya tidak ada. Devils sengaja menciptakan nama itu untuk menarik perhatian para musuhnya, menarik minat dan rasa penasaran mereka. Benar saja, Austin dan Darren sibuk mencari siapa pemimpin kelompok bayangan tersebut yang mereka duga ada kaitannya dengan Devils. Memang benar ada kaitannya, mereka lah penciptanya, hanya saja itu bukan berarti apa-apa.
The Darkness sengaja digambarkan sebagai suatu kelompok yang hebat dan penuh misteri, membangkitkan jiwa penasaran para petarung. Sangat tepat sasaran.
Markas Devils ada dimana-mana. Mereka tidak menetap di satu tempat. Disaat mereka menyusun rencana di kota A, maka isu tentang Darkness berada di kota C akan disiarkan. See, Willson berhasil dikelabui.
Keuntungan bagi para musuh, mansion luas itu memiliki helipad yang cukup luas. Lexi dan pria bertopeng itu segera menuju ke sana.
"Misi berjalan mulus. Bubarkan semuanya." Pria itu memberi perintah seraya melepaskan penutup wajahnya. Senyum puas terpatri di wajahnya melihat wanita pujaannya ada di dalam dekapannya.
"Dia mewarisi ketampanan Gerald dan juga kecantikan Luna. Sayang, dia tidak mewarisi kegesitan Alena dalam bertarung. Kau benar-benar diperlakukan seperti putri," jemarinya membelai wajah mulus Lexi yang sedang terlelap.
"Kenapa kita tidak menghancurkan mansion ini sekalian? Dengan begitu misi kita benar-benar tuntas. Dendam Gerald terbalas. Kita akan menguasai negara ini dengan mudah."
Pria itu tertawa, "Kau benar. Tapi biarkan mereka sendiri yang meledakkan rumah itu beserta isinya. Di tubuh Alena sudah terpasang boom yang akan meledak kapan saja. Ayo kita pergi dan perintahkan kepada yang lain agar meninggalkan mansion itu."
"Kau sudah mencoba memindai nuklir-nuklir itu, Arthur?"
Ya, pria bertopeng itu adalah Arthur Cony. Pria yang begitu mengidolakan Gerald, ayah biologis Lexi. Dia lah si penyusun rencana. Berlagak jadi guru yang mudah diperbudak bukan sesuatu yang mudah. Ia harus berbaur dan terlihat lemah untuk membaca semua karakter yang ada. Ia senang saat memberi pelajaran sejarah di kelas Lexi. Meski gadis itu bosan, Lexi tetap memperhatikan semua yang ia sampaikan.
Ia membenci Steven Percy karena Lexi kagum pada pria itu. Pun ia merasuki presiden dan yang lainnya agar mengkambinghitamkan Steve dalam tragedi Yale High School. Ia membenci Brian dan teman-temannya yang sering mengolok-oloknya, pun ia memasuki keluarga mereka dengan menawarkan kekayaan dan kekuasaan. Ia mengurus semuanya layaknya kacung. Mengabulkan keinginan mereka. Sifat manusia yang serakah membuat jalannya lebih mulus.
Setelah kepercayaan diberikan kepadanya, ia kembali merasuki sang presiden untuk bermain gila, mengabaikan anak dan istri, sampai-sampai istrinya dibuat gila. Hukuman untuk Brian yang selalu merendahkannya. Dean, Neal, Vincent, dan Fread juga memiliki jatah hukuman masing-masing.
Tidak ingin mengotori tangannya menghadapi para manusia tolol seperti Brian dan konconya, Arthur mendekati Olivia setelah tanpa sengaja mengetahui silsilah keluarga wanita itu yang merupakan pemimpin sekte pemuja iblis. Ia memberi perhatian kepada Olivia, mengajarinya Olivia tentang membangun iblis di dalam diri wanita itu tanpa disadari Olivia tentunya. Memanfaatkan kepintaran juga rasa penasaran Olivia. Memberikan buku milik moyangnya untuk dikuasai Olivia. Dia berhasil, Olivia menjadi iblis yang bisa ia motori.
Dan pada akhirnya, ia akan membuang Olivia setelah misinya berhasil. Sungguh, Arthur ingin mencekik leher wanita itu dengan tangannya sendiri karena sudah berusaha mencelakai Lexi. Karena harus mengelabui Olivia, dia datang terlambat sehingga Lexi sudah resmi menjadi istri dari Harry. Ini membuatnya semakin marah kepada Olivia. Dan keinginannya itu akan tersampaikan, tidak lama lagi. Ia berharap peluru yang ia tembakkan kepada Harry berhasil membuat pria itu tewas.
"Belum, tapi kita akan segera melakukannya. Mengarahkan nuklir-nuklir itu ke tempat-tempat utama, pusat kota, bandara, stasiun dan satelit. Negara ini akan rata seiring habisnya masa kejayaan Willson. Cara cepat untuk membalas kematian Gerald. Dia akan tenang di sana."
Arthur menatap ke bawah, seringaian puas tercetak di wajahnya membayangkan kepanikan di wajah Pax mendapati istrinya yang diikat dengan bom yang akan meledak sewaktu-waktu.
"Ck! Aku menyesal harus melukai Alena. Tapi itu adalah hukuman yang setimpal untuk seorang Pax Willson, menyaksikan tubuh istrinya hancur lebur. Dengan begitu, Alena dan Gerald akan berjumpa di atas sana."
____
Terlambat. Sangat terlambat, Steve tidak menemukan Lexi di kamar saat pria itu sampai di sana. Yang ia temukan adalah Darren yang merangkak mendekati ibunya yang diikat bersama Isabel, dan tiga wanita lainnya.
Steve mendekati Alena, mempelajari kabel yang mengelilingi lima wanita. Tali yang saling terhubung dan berpusat pada bom yang disematkan pada tubuh Alena.
Tidak lama kemudian, Pax sampai di sana dan jantungnya seketika berhenti berdetak melihat keadaan sang istri tercinta. Wajah itu lebam dan dahinya mengeluarkan darah yang masih mengalir.
Alena menangis, "Aku tidak bisa menjaga putri kita."
"Bu-bukan salahmu," Pax menyeret kakinya mendekati Alena. "Oh Tuhan," ingin rasanya ia membawa Alena ke dalam pelukannya, tapi yang bisa ia lakukan hanya menggenggam tangan Alena.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati, Isabel. Yang harus kau lakukan sekarang adalah tenang, pikirkan sesuatu yang menyenangkan sembari kami memikirkan cara melepaskan tali ini dari tubuh kalian."
"Di mana Harry? Dia terluka."
"Hmm."
Tangis Isabel semakin menjadi. "Terluka parah?"
"Dia akan baik-baik saja, Isabel. Tidak usah kau khawatirkan dia. Sekarang, tenangkan dirimu."
"Steve, aku melihat Lexi dibawa..." Ucapan Beth terhenti saat melihat kekacauan di dalam kamar.
"Keluarkan peluru yang ada di dalam tubuh mereka," Steve memberi perintah tanpa menoleh kepada Beth. Selain ahli melontarkan kalimat provokasi, Beth juga ahli mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam tubuh.
"Apa kita akan meledak di sini, Steve?" Pertanyaan Beth sontak mendapat tatapan tajam dari ketiga pria yang ada di sana.
"Kau bisa pergi jika kau takut meledak."
"Siapa penyerang itu? Kukira ini ulahmu." Beth sepemikiran dengan Pax. Ia berhasil mengeluarkan peluru dari lengan Darren, membalut luka pria itu dengan sobekan bajunya.
"Jika kau tidak ingin kita meledak di sini. Sebaiknya kau menutup mulutmu, Beth. Berikan aku belati. Aku akan memotong talinya."
Beth segera memberikannya setelah berhasil mengeluarkan peluru dari kaki Darren.
"Kabel mana yang akan kau potong. Ada empat kabel yang saling terhubung." Pax jelas merasa takut jika Steve keliru dalam memotong kabel. Biru, merah, kuning dan silver. Salah potong, mereka semua tinggal nama.
"Kau memiliki saran?" Steve menatap Pax kemudian menoleh pada Darren yang juga sedang memperhatikan tali-tali tersebut.
"Hanya ada tiga kabel, Dad."
Steve mengangguk. "Yang berwarna silver adalah benang yang dibuat sedemikian mirip dengan kabel-kabel lainnya."
"Benang itu tidak boleh terputus. Karena jika benang itu terpotong, kita semua akan meledak." Darren menimpali.
"Solusinya adalah melonggarkan ikatan. Mereka akan keluar perlahan tanpa menyentuh benang tersebut." Pax akhirnya mengerti.
"Ya, kau benar. Aku akan memotong talinya terlebih dahulu." Perlahan dan penuh hati-hati, Steve memotong tali besar yang mengikat ke lima wanita itu. Semuanya hening, bahkan napas mereka pun tidak terdengar, hanya degupan jantung yang saling bersahutan.
Tali terputus, begitu juga dengan kabel berwarna kuning yang tidak terkait ke benang silver.
"Isabel, kau bisa keluar? Ingat, jangan sampai tubuhmu menyentuh benangnya."
Isabel mengangguk meski ia sangat takut. Pun wanita itu merosotkan tubuhnya. Bentuk tubuhnya yang mungil membuatnya mudah keluar. Semuanya bernapas lega begitu Isabel berhasil keluar dengan baik.
"Kau baik-baik saja?" Darren bertanya kepadanya. Gadis itu hanya menganggukkan kepala.
.
.
.
Arthur Cony