
"Zetta mengatakan bahwa dia terpaksa ikut ibumu ke kota," Steve memberitahu begitu ia mengakhiri panggilannya dengan Zetta.
Mimik Zenia langsung berubah, khawatir dan cemas, juga takut. Steve menambahi kata itu di akhiri. Tanpa sadar Steve menggeram hingga giginya bergemeletuk. Ia tidak suka melihat ketakutan di wajah Zenia.
"Karena tidak ada yang bisa kau lakukan, sebaiknya kau naik ke atas. Ada beberapa kamar kosong di sana. Kau bisa menempati yang mana saja."
Zenia mengangguk pasrah karena apa yang dikatakan Steve benar adanya. Perlahan gadis itu bangkit dari tempatnya. Jemarinya memilin bagian bawah swetear kebesaran yang ia kenakan.
"Apa Daddy akan baik-baik saja?"
Steve mengangguk, "Peter pasti baik-baik saja. Dia pria yang kuat."
"Dia bandel. Tidak pernah menghiraukan apa yang dikatakan Mom tentang menjaga pola makan."
"Apa yang harus kukatakan? Membela Peter atau menyalahkannya?"
Zenia tergelak, "Tidak melakukan keduanya." Senyum itu menghilang secepat ia datang. Steve memandangi wajahnya dengan seksama dan seperti terkejut saat melihat Zenia tersenyum. Gadis itu menjadi salah tingkah.
"A-aku akan ke kamar dan beristirahat."
Steve mengangguk tanpa mengatakan apa pun lagi.
Setengah jam kemudian Zenia menuruni anak tangga yang diterangi lampu temaram yang dipasang di setiap tiga anak tangga.
"Semuanya baik-baik saja?"
Zenia berjengit mendengar suara Steve. Matanya mencari-cari ke ruangan luas itu dan melihat Steve di tengah keremangan sedang berselonjor di kursi lantai. Lampu di sikut pria itu hanya memancarkan sedikit cahaya.
"Maaf, aku mengagetkanmu," Steve beranjak untuk menyalakan lampu hingga ruangan seketika terang benderang.
"Aku tidak menemukan gelas di kamar atau pun kamar mandi," Zenia melirik meja, di sana ada minuman keras juga satu botol pil yang tidak memiliki keterangan di permukaan botol.
Steve mengambil botol tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong. "Hanya vitamin."
Zenia tidak berkomentar.
"Duduklah, ini satu-satunya minuman yang kupunya. Aku terlalu lelah untuk membuat juice persik untukmu. Apa kau keberatan?"
"Sedikit minuman keras akan membuatmu santai dan membantumu tidur lebih nyenyak." Pria itu menambahi.
"Terdengar seperti ucapan laba-laba pada seekor lalat,"
Steve terbahak seketika, dan sama seperti Zenia beberapa saat lalu. Tawa itu seketika lenyap. Zenia terkesima, dibuat terkejut.
"A-aku kira kau tidak tahu caranya tertawa."
Steve beranjak dari tempatnya dan berdiri di hadapan Zenia. Tangannya terulur menyentuh rambut Zenia dan menyelipkannya ke belakang telinga.
Zenia melihat jakun pria itu naik turun, sangat menggoda dan ia harus menahan tangannya agar tidak menyentuh wajah Steve yang memang terlihat lebih menawan dengan cambang-cambang halus dan rapi.
"Aku akan mengambil gelas untukmu," suara pria itu serak dan berat.
Zenia bergidik, merinding dan juga tergoda. Refleks ia mengembuskan napas begitu Steve berlalu ke dapur.
Harusnya aku tidak turun. Ia membatin. Akan terlihat sangat konyol jika aku justru melarikan diri untuk kembali ke dalam kamar.
Akhirnya Zenia memilih duduk. Tidak berapa lama, Steve datang dengan membawa gelas. Pria itu memperhatikan Zenia yang sudah duduk dengan cara melipat kedua kakinya. Matanya terpaku pada kaos kaki bergaris warna warni yang dikenakan gadis itu.
"I-ini bukan penampilan terbaikku," Zenia menyadari jika Steve memperhatikan penampilannya.
"Menarik," Sahut pria itu singkat seraya menunjuk ke arah kaos kaki yang Zenia kenakan.
"A-apa yang kau lakukan?" Zenia merutuki dirinya yang tersipu hanya karena Steve menyebutnya menarik.
Hei Zenia, dia menyebut kaos kakimu lah yang menarik.
"Bekerja."
"Oh."
"Kau ingin mencoba minumannya?"
Zenia menggeleng, "Aku tidak bisa minum alkohol. Tidak baik untuk mengkonsumsinya."
"Apa kau sedang melarangku?"
"Aku mengatakan apa yang kutahu."
Kembali hening. Zenia menundukkan kepala, memusatkan perhatian pada gelas yang ada dalam genggamannya.
Saat Zenia mengangkat kepala, ia menemukan Steve yang tengah memandanginya. Zenia kembali menunduk menyembunyikan kegugupan.
"A-apa kau juga sedang sakit?"
"Hm?"
"Aku me-melihat botol pil yang kau masukkan ke dalam sakumu. Aku tahu itu bukan vitamin."
"Pil yang bisa membantuku untuk tidur."
"Kau mengalami kesulitan untuk tidur?" Zenia tampak terkejut. Ia juga memiliki masalah dalam tidur. Itulah yang membuatnya cemas dan takut saat mendengar kabar tentang Zetta yang tidak bisa pulang. Ia tidak bisa tidur sendiri. Seingatnya, ia selalu tidur bertiga dengan Zetta dan Amor. Zetta akan memeluknya dan menenangkannya.
"Bisa dikatakan begitu."
"Oh..." Zenia mendesaah.
"Selamat malam," Zenia berpamitan dan masuk ke dalam kamar.
Steve masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dan bersandar. Perlahan ia membenturkan kepala ke sana seakan sedang berusaha membuat otaknya bekerja. Andai kata pintu kamarnya memiliki kunci. Ia akan mengunci dirinya di sana. Ia melindungi Zenia dari kegelapan atau dari apa pun bahaya yang mungkin menyerang.
Tapi siapa yang akan melindungiku dari diriku sendiri?
Steve menyugar rambutnya. Tidur. Tidur adalah solusinya. Ia harus tidur. Steve mengeluarkan pil dari sakunya. Mengambil dua butir pil dan menelannya tanpa air minum.
"Bekerjalah dengan baik," ia bergumam. Benar saja. Obatnya bekerja lebih cepat. Mereka aman.
Sialnya mimpi buruk itu mengintai di bawah alam sadarnya. Mengulur-ulur waktu untuk mengumpulkan momentum sebelum melakukan serangan dengan keji.
"Steve..."
"Steve..."
Seperti biasa, suara yang memantul-mantul di dalam tempurung kepalanya membangunkannya. Steve terbangun dan langsung terduduk tegak. Ia basah kuyup oleh keringat. Dengan sia-sia ia berusaha mengusap keringat dari matanya dengan tangan yang bermandikan cairan ketakutannya sendiri. Mulutnya masih terbuka dalam jeritan yang jelas muncul terlambat.
Ini sama seperti saat ia terlonjak bangun dari mimpi buruk. Hanya saja kali ini ada seorang gadis di hadapannya, manatapnya dengan iba dan prihatin sedang memegangi bahunya.
Steve menarik lutut dan menopangkan siku di sana. Memegang kepala dengan kedua tangan hingga ia tersenggal-senggal. Kengerian itu akhirnya mereda tetapi tidak dengan rasa malunya.
"Kau berteriak-teriak."
"Maaf, aku membangunkanmu." Steve menarik ujung selimut untuk mengelap keringat dari wajah, leher hingga ke dadaanya.
"Kembali lah tidur," ucap pria itu. Zenia bergeming, tidak bergerak sama sekali.
"Apakah kau selalu memimpikan hal yang sama?"
"Ya."
"Apa kau mau...."
"Tidak," Steve menyela dengan cepat.
"Mungkin akan membantumu..."
"Aku tidak akan membahas hal ini."
"Tidak denganku atau tidak dengan siapa pun?"
"Tidak siapa pun."
"Tidak seorang pun akan merendahkanmu."
"Aku akan merendahkanku!"
"Kau tidak akan bisa menyingkirkan mimpi buruk itu sampai..."
"Aku akan mengurusnya, oke."
"Bagaimana caranya?"
"Tinggalkan aku sendiri."
"Untuk melakukan apa? Meminum lebih banyak pil?"
"Mungkin."
"Obat-obat itu tidak akan memberikanmu solusi."
Steve sontak menoleh kepada Zenia dan membentak, "Brengsek, memangnya apa yang kau tahu soal ini?"
Zenia meringkuk mundur seolah Steve memukulnya.
Menyadari apa yang dikatakannya, Steve mengumpat pelan dan berusaha menangkap tangan Zenia yang hendak melesat berdiri dari tepi ranjang.
"Maafkan aku. Maafkan aku." Steve menggenggam lembut tangan Zenia agar gadis itu tidak takut. Steve menariknya agar menghadap ke arahnya. Menatap mata Zenia, meminta maaf tanpa bersuara.
"Tolong jangan melihatku seperti itu," Steve membawa tangan Zenia ke mulutnya. Ia mencium bagian dalam pergelangan tangan gadis itu, terus menerus berbisik di atas denyut nadi Zenia.
"Maafkan aku." Ia membungkuk rendah di atas tangan Zenia. Mencium pangkal ibu jari gadis itu. "Kumohon," bisiknya parau dengan menekan bibirnya ke telapak tangan Zenia, menyentuhkan lidahnya ke lekuk tangan Zenia.
Zenia mengeluarkan suara pelan yang membuat Steve tengadah. Raut wanita itu berubah dari kebingungan bercampur keraguan. Zenia bernapas cepat dan ringan dengan bibirnya. Manik gadis itu membeliak saat ibu jari Steve menjelajahi bagian wajahnya.
Alis, tulang pipi, hidung, bibir, garis rahang, dan dagu. Steve menghafal semuanya lewat sentuhan. Karena tidak mendapat penolakan dari Zenia, Steve menyentuh rambut panjang bergelombang itu, menyampirkannya ke belakang lalu menyerukkan hidung ke leher wanita itu sampai ia merasakan kehangatan gadis itu di bibirnya.
"Aku tidak akan membentakmu lagi, tidak akan bersikap ketus dan menjaga jarak. Aku tidak akan menyakitimu, percayalah." Steve mendaratkan ciuman lembut di sisi leher gadis itu juga sisi lainnya.
Kepala Zenia terangkat ke belakang. Menganggap itu sebagai dorongan, ciuman-ciuman di leher gadis itu semakin kuat.
Persetan dengan sikap berhati-hatian.
Pada saat ciuman itu mencapai telinga Zenia, terdapat tekad di baliknya. Zenia mulai merespon sentuhan itu. Melepaskan ketegangan dengan sebuah desaahan. Tubuh Zenia mulai berubah santai. Gadis itu beringsut mendekatkan ke arahnya, dengan ragu-ragu meletakkan tangan di bahu Steve.
Steve memundurkan kepala, menatap ke dalam manik Zenia. "Aku takut hilang kendali."
"Aku merasakan sebaliknya," suara Zenia parau dan rendah. "Aku tidak takut kau kehilangan kendali. Tapi justru sebaliknya, aku lah yang akan kehilangan kendali."
Dengan makian parau, Steve merangkum kepala Zenia. Membubuhkan ciuman yang sedari awal luar biasa dalam. Terakhir, Steve mendaratkan bibirnya di kedua mata Zenia.
"Sebaiknya kita tidur." Ia merebahkan tubuh Zenia di sisi ranjang, menarik gadis itu ke dalam dekapannya setelah ia merebahkan tubuh di sisi Zenia