H.U.R.T

H.U.R.T
Kesepakatan



"Kau sudah bangun rupanya?" Isabell mengambil kantongan miliknya dari genggaman Austin begitu mereka sudah berada di luar supermarket.


Austin mengerutkan dahi, menatap Isabell dengan kernyitan bingung. "Pertanyaanmu sedikit aneh."


"Hah?"


"Kita sudah berbincang di dalam, aku bahkan membeli pembalut untukmu dan kau baru bertanya apa aku sudah bangun. Apa menurutmu aku berjalan sambil tertidur di sini?"


"Eh?!" Isabell mendadak salah tingkah. Dia banyak bicara jika sedang dalam keadaan panik. Dalam situasi normal dia bukan teman berbincang yang baik.


"Kita akan bertemu di rumah. Aku akan mengikutimu dari belakang," Austin berdiri di depan mobil. Tergoda ingin meninggalkan mobilnya di sana demi bisa mengemudi mobil milik Darren. Sebelumnya Austin sudah pernah meminta mobil itu kepada Darren agar bersedia menjualnya kepada dirinya. Terang saja Darren tidak mau. Saudaranya itu sudah mengincar mobil tersebut sejak pemberitaannya dirilis.


"Berikan kuncinya, aku yang akan mengemudi," pada akhirnya dia benar-benar tidak bisa menahan godaan mobil tersebut.


"Kita pulang bersama? Bagaimana dengan mobilmu?"


"Aku akan meminta seseorang menjemputnya. Aku penasaran seperti apa rasanya."


"Rasanya?"


"Ya, Bagaimana rasanya menungganginya."


"Siapa yang kau tunggangi?" Isabell berdehem salah tingkah.


Austin kembali menatapnya dengan aneh seakan Isabell adalah spesies alien yang terdampar di bumi.


"Kita berbicara tentang mobil. Aku penasaran."


"Oh, ya. Lu-luar biasa. Dia sangat gagah, gesit, dan lincah."


"Gagah?" Austin menipiskan bibirnya. Kata gagah mendadak terdengar menggelikan jika Isabell yang mengatakannya. "Gesit dan lincah. Ouh, aku semakin penasaran. Naiklah."


"Wow! Sepertinya kau baru saja menghamburkan uang negara," kelakar Austin begitu melihat barang belanjaan Isabell yang hampir memenuhi mobil.


"Aku menghamburkan uang saudaraku. Harry."


"Wah, aku tidak tahu jika Harry saudara yang sangat baik dan pengertian," Austin menyingkirkan satu paper bag dari kursi kemudi agar ia bisa mendaratkan bokongnya di sana. "Apa yang kau belanjakan?"


"Sesuatu yang tidak berharga," sahut Isabell tanpa bermaksud untuk melucu. Baginya barang-barang branded yang ia beli memang tidak berharga karena sudah pasti ia tidak akan mengenakannya.


Austin tergelak, baru kali ini ia menemukan wanita yang menghamburkan uang pada barang-barang yang menurut Isabell tidak berguna dan barang-barang yang disebut tidak berguna itu jelas Austin tahu adalah barang-barang mahal impian banyak wanita di luar sana.


"Jadi untuk apa kau membeli begitu banyak barang?" Austin mulai melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata. Ia tidak langsung menuju jalan pulang. Ada beberapa hal yang harus ia bicarakan dengan Isabell.


"Seperti yang kau katakan, aku menghambur-hamburkan uang Harry secara cuma-cuma."


"Wah, kau memiliki sisi ini juga rupanya." Austin kembali tertawa hingga mempertontonkan barisan giginya yang rapi dan putih. Isabell dibuat terpana melihat betapa menawannya Austin jika sedang tertawa.


"Isabell,"


Isabell tertegun. Ini pertama kalinya Austin menyebut namanya dengan benar. Tapi bukan itu yang membuat dirinya terkesima. Melainkan suara berat, sedikit serak dan bernada. Namanya menjadi terdengar begitu istimewa. Atau karena orang istimewa lah yang menyebutnya?


"Ya!" Isabell menyahut dengan semangat. Sangat bersemangat sampai-sampai Austin berjengit kaget.


"Apa kau tahu bahwa keluarga berniat untuk menjodohkan kita?''


Isabell kembali dibuat tersentak. Kali ini bukan karena terkesima dengan suara pria itu, melainkan terkejut dengan pertanyaan tidak terduga itu. Apa yang harus ia jawab sekarang? Kenapa Austin tiba-tiba membahas ini. Apakah Austin akan menolaknya?


"Kupikir kau tidak mengetahuinya." Isabell menautkan jemarinya. Ia gugup, panik, tidak siap untuk menerima penolakan dari Austin.


"Ah, jadi kau juga sudah mengetahuinya." Austin mengangguk. Hening. Austin fokus menatap ke depan, terlihat seperti itu. Tapi sesungguhnya ia sedang merangkai kata di benaknya.


"Bagaimana pendapatmu?" Austin kembali bersuara.


Jika ditanya pendapatnya, tentu saja Isabell tidak akan menolak. Angan dan impiannya adalah bisa bersanding dengan Austin. Ia menyukai semua yang ada pada diri pria itu. Keliarannya, kebrutalannya, selengekannya, sikap cueknya, suaranya dan Isabell juga suka melihat tangan Austin yang sedang berada di setir kemudi. Terlihat kokoh dan meyakinkan. Ia yakin jika ia bergelantungan di sana, Austin tidak akan mengalami kesulitan sedikitpun menahan bobot tubuhnya.


"Kau menolak?"


"Hah? Tidak!! Aku tidak mungkin menolak!" lagi, ia menjawab dengan nada yang terlalu bersemangat.


"Kau menggeleng, kupikir kau menolak. Jadi kau setuju dengan pertunangan ini?"


"Aku..."


Ditanya seperti ini sungguh ia menjadi bingung harus menjawab apa. Jika ia berterus terang, ia takut jika sebenarnya Austin menolak pertunangan ini. Hubungan mereka yang kaku akan menjadi semakin kaku. Selain itu ia akan mendapatkan rasa malu atas penolakan Austin.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku sedang bertanya kepadamu. Kau harus menjawabnya terlebih dahulu sebelum melemparkan pertanyaan kepadaku."


"Aku tidak tahu," Isabell memberikan jawaban aman. "Seperti yang kau katakan, aku dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan aturan. Jika Daddy ingin aku bertunangan, aku tidak mempunyai pilihan untuk menolak. Aku yakin pilihan Daddy adalah yang terbaik."


Oh, Daddy, maafkan aku. Maafkan aku yang menjadikanmu sebagai alasan.


Meski jawabannya tidak salah sepenuhnya, tapi terselip sedikit kebohongan di sana. Ini bukan tentang peraturan, bukan pula tentang pembuktian bahwa dia adalah anak yang patuh dan berbakti. Karena ayahnya bukan pria yang akan memaksakan kehendak. Sebelum ayahnya menawarkan pertunangan kepada keluarga Willson, terlebih dahulu ia ditanya apakah bersedia bertunangan dengan Austin. Dan sudah jelas ia menjawab setuju.


"Pertunangan terjadi jika kedua belah pihak setuju. Jika kau tidak setuju, pertunangan ini tidak akan terjadi," sambung Isabell. Terdengar sangat bijak dan perasaan sesungguhnya juga tersamarkan.


Jangan menolakku, kumohon! suara hati terdalamnya berseru.


"Sejauh ini, pernikahan tidak ada di dalam daftar hidupku. Aku menyukai kebebasan. Bagaimana jika kita membuat kesepakatan, Isabell?"


"Kesepakatan?"


"Ya. Kesepakatan."


___


"Mobilku raib dari garasi. Aku bertanya-tanya siapa yang diantara kalian berdua yang sudah mencurinya."


Austin dan Isabell yang baru memasuki rumah langsung disambut dengan tudingan dari Darren yang duduk dengan santai di sofa. Di atas pangkuannya terdapat laptop yang menyala, menampilkan angka-angka yang hanya bisa dimengerti olehnya. Tatapannya fokus kesana, tidak menoleh pada Austin dan Isabell sama sekali.


"Aku yang memakainya," aku Isabell. Darren masih bergeming, belum menoleh sama sekali.


"Aku hanya mengambil asal kunci mobil yang menggantung."


"Hmm, aku belum mencobanya dan kau sudah membuka segelnya." Akhirnya ia memiringkan kepaIa, mengalihkan tatapannya dari layar persegi ke arah Isabell.


"Ma-maafkan aku. Aku sungguh tidak mengetahuinya. Austin baru mengatakannya beberapa saat lalu. A-aku akan mengembalikannya ke tempat semula." Isabell merebut kunci mobil dari tangan Austin dan memberikan pembalutnya kepada pria itu.


Austin tidak menerima benda itu dengan benar sehingga benda itu tercecer ke lantai.


Puk!


"Apa itu?" Darren bertanya.


"Pembalut. Apa aku tidak pernah melihatnya?" Austin membungkuk untuk memungut benda tersebut dan Isabell juga melakukan hal serupa yang mengakibatkan kepala mereka berbenturan. Austin dan Isabell kompak meringis.


"Maaf," Isabell memungut benda sialan tersebut. Kenapa benda itu harus tercecer di hadapan kedua pria itu dan kenapa ia harus memberikannya kepada Austin. Bukan hanya Austin nanti yang menatapnya dengan aneh, tetapi juga Darren si wajah kaku.


"Aku akan memasukkan mobilmu ke garasi."


"Mengembalikannya ke garasi tidak akan membuatnya kembali suci. Dia sudah tercemari. Biarkan saja."


"Suci? Tercemari? Aku tidak menodainya, sungguh. Kau bisa memeriksanya. Aku juga mengemudi di bawah kecepatan rata-rata."


"Oh ya?" Darren akhirnya menoleh.