
Steve menatap kedua tangannya yang sudah diborgol. Senyum miring tergelincir di sudut bibirnya. Ini benar-benar lelucon yang membuat naik darah.
Ditahan lagi untuk alasan yang tidak benar. Astaga, ingin rasanya Steve menghantamkan kepalanya ke wajah si Doukins sialan ini.
"Mr. Doukins, kurasa tindakanmu untuk menahannya bukanlah sesuatu yang tepat." Pax mencoba berunding, namun melihat ekspresi wajah Doukins yang sinis, kesepakatan apa pun yang akan ditawarkan Pax sepertinya tidak akan berarti.
"Kau tidak memiliki bukti yang cukup kuat," Pax menambahi.
"Jika kau merasa sudah cukup hebat, kenapa meminta bantuan polisi, agen FBI untuk menemukan seorang putri teroriss... Ouh, sialan keparatt!!"
Si buncit itu sampai merungkuk memegangi wajahnya yang mendapat serangan tidak terduga dari kepala Steve. Darah segar keluar dari hidungnya yang lebar dan pesek. Ouh! Betapa puasnya Steve melihat hasil kerjanya tersebut.
"Mulutmu terus saja menggonggongkan hal yang tidak berguna," ucapnya enteng seraya melayangkan tatapan membunuh pada rekan Doukins yang hendak mencekalnya kembali.
"Sekali lagi kau berbicara buruk tentang Lexi, bukan hanya hidungmu yang kupatahkan, Doukins. Akan kupastikan semua gigimu rontok dan kutarik gusimu hingga kau tidak bisa memasang gigi palsu sekalipun. Aku tidak main-main dengan ucapanku."
"Bajiingan!!" Doukins mendesis.
"Ya, itu lebih baik. Maki dan umpat aku sesukamu."
"Aku bisa saja menarik pelatukku dan meletuskan kepalamu!"
"Aku bisa melakukan hal yang sama, Doukins." Begitu ucapan itu terlontar, dalam gerakan gesit ia merebut revolver salah satu rekan Doukins yang ada di dekatnya. Dalam keadaan tangan terborgol, hammer dikokang ke belakang. Steve lalu mengarahkan bidikannya kepada Doukins yang menatapnya dengan nyalang. Harga diri pria buncit itu benar-benar dipermalukan Steve secara habis-habisan.
"Mau mengujinya, Doukins?" Menantang tanpa merasa takut meski beberapa senjata juga terarah kepadanya.
Kemudian Steve terbahak membuat semuanya terheran-heran termasuk Pax tentunya.
"Doukins, Doukins, inilah akibatnya jika kau naik tahta dengan jalur sesat. Otak tololmu tidak berfungsi sama sekali. Ck! Ini tidak menarik. Baiklah, ayo bawa aku. Aku sudah tidak sabar untuk beristirahat di hotel prodeo versi FBI."
Steve melangkah keluar tanpa diiringi siapa pun. Yang lainnya pun ikut menyusul.
"Tunggu," Pax menghampiri Steve saat pria itu hendak didorong masuk ke dalam mobil. Pax meminta waktu lima menit kepada Doukins untuk berbicara dengan Steve dan Doukins hanya memberikan waktu dua menit. Ck! Pelit sekali.
"Apa rencanamu?" Tanya pria setengah baya itu.
Steve berdecak, "Kau tidak melihat kondisiku, Pax Willson? Kedua tanganku diborgol. Aku akan ditahan dan aku tidak tahu sampai kapan aku akan ditahan karena kau sendiri pun tidak akan bisa menjaminku untuk keluar dan sekarang kau bertanya tentang apa rencanaku? Yang benar saja!"
Pax bergeming, jika benar Steve tidak memiliki rencana, artinya hanya dia dan Darren yang harus mencari keberadaan putrinya. Darren sedang bermasalah dengan kakinya, akan sulit untuk terjun ke lapangan. Musuh mereka benar-benar sudah memperhitungkan semuanya.
"Dua menitmu sudah habis, Mr. Willson," Doukins mendekat. Salah satu lobang hidung pria itu ditutup dengan sejumput kapas untuk menghalangi darah keluar dari sana.
Doukins menyuruh anggotanya untuk membawa Steve masuk ke dalam mobil. Tanpa melakukan perlawanan ia masuk dikawal empat anggota FBI.
Doukins sendiri masuk ke dalam mobil lain beserta tiga rekan lainnya. Melaju terlebih dahulu, meninggalkan mobil yang membawa Steve.
Di dalam mobil, Steve memeras otak, memikirkan cara bagaimana ia bisa lolos dari tahanan Doukins. Pax yang diharapkan bisa menjaminnya sudah tidak mungkin. Sementara Roxi sudah langsung terbang karena istrinya sedang hamil. Lantas, siapa yang bisa ia harapkan? Haruskah ia berharap pada Beth? Ck! Ia bahkan tidak melihat kehadiran pria itu di mansion Willson. Entah kapan pria itu menyelinap keluar. Ya, Steve hanya bisa berharap pada sahabatnya itu.
Bruk!
Terdengar benturan dari samping. Mobil berhenti. Si pengemudi dan rekannya turun sambil mengeluarkan sumpah serapah.
"Bukan masalah besar, tetaplah di tempatmu. Kami akan mengatasinya." Terdengar jawaban dari luar. Tidak berapa lama terdengar kembali perbincangan. Steve melengkungkan senyum begitu mengenali suara seseorang.
"Apa yang kau lakukan?!" Si agen tersebut mengeluarkan kartu pengenalnya.
"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya."
"Kau mabuk?"
"Hanya sedikit."
"Maaf, Bung, kau tidak bisa mengemudi dalam keadaan mabuk. Bisa kau tunjukkan SIM-mu?"
"Ada di dalam mobil."
Agen tersebut memberi perintah agar temannya memeriksa mobil si pemabuk yang sudah menabrak mobil mereka.
Saat teman pria itu pergi memeriksa, si pemabuk yang ternyata adalah Beth mengeluarkan sebuah jarum suntik dan langsung menancapkannya di leher agen tersebut sebelum pria itu sempat bereaksi mengeluarkan senjata. Beth kemudian melakukan hal serupa pada pria yang sedang memeriksa mobilnya. Dalam sekejap kedua agen itu terkapar tidak sadarkan diri.
Dari kejauhan terdengar dengungan suara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi lalu merem mendadak tepat di belakang mobil yang membawa Steven.
"Kerja bagus, Beth!" Austin tersenyum melihat dua agen yang sudah berhasil ditaklukan. Kedua pria itu hanya pingsan untuk beberapa jam ke depan.
Merasa ada yang tidak beres. Empat pria yang mengawal Steve bersuara memanggil nama rekan mereka. Tidak mendapat respon, mereka pun saling memberi kode agar bersiaga disaat yang lain bersiap untuk membuka pintu.
Pintu terbuka. Austin dan Beth berdiri di sana seraya melambaikan tangan.
"Hai, Bung." Dan keduanya meletuskan peluru pada senjata yang juga ditodongkan ke arah mereka.
Austin menarik satu pria menghantam wajah pria itu dengan ujung senjatanya, pun Beth tidak tinggal diam. Ia melayangkan tinju di dada pria lainnya. Sementara Steve, ia menendang dan mendorong dua pria yang tersisa hingga terjatuh. Austin dan Beth kembali mengambil alih, menghajar keduanya. Steve mengambil kunci borgol dan berusaha membukanya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Austin melirik borgol yang dilempar Steve begitu saja.
"Diborgol atau ditangkap?"
"Keduanya."
"Aku bisa mengambil borgolnya kembali dan memasangnya ke tanganmu dan aku bisa mengirimmu kepada Doukins untuk menggantikanku. Kau akan menemukan jawaban atas pertanyaanmu."
Austin tergelak seraya naik ke atas motornya. Pun Steve juga naik ke boncengannya. Sementara Beth harus mengurus enam pria yang tidak sadarkan diri.
Austin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Begitu melihat mobil Doukins, ia memperlambat laju motornya.
Steve yang mengerti apa sedang di pikirkan Austin mengambil shotgun Austin yang menggantung di leher pria itu.
Austin menyejajarkan motornya dengan mobil Doukins. Menyalakan klakson secara membabi buta untuk menarik perhatian para agen yang ada di dalamnya. Kaca mobil dibuka. Raut terkejut tercetak jelas di sana saat melihat wajah Austin dan Steve.
"Apa kabar, Doukins?" Steve menyapa dengan mimik mengejek. Sebelum pria itu menjawab, Austin sudah menaikkan laju motornya. Steve kemudian membidik senapannya, menembak ban mobil hingga kehilangan keseimbangan. Mereka tertawa saat melihat mobil itu berguling-guling hilang kendali.