H.U.R.T

H.U.R.T
Berkumpul Kembali



Tidak ada yang lebih membahagiakan dari kembalinya Lexi dalam keadaan sehat tidak kurang satu apa pun. Pax benar-benar tidak bisa mengungkapkan betapa ia sangat bersyukur. Pria setengah baya itu kehilangan kata-kata. Tapi maniknya yang berlinang cukup menjelaskan bahwa ia sangat terharu dan bahagia.


Ia peluk dan kecup putrinya berulang kali. Bertanya kepada sang istri, Alena, benarkah ini nyata. Alena yang juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan suaminya pun tidak bisa menjawab pertanyaan sang suami karena dirinya juga sedang sibuk meyakinkan diri sendiri.


"Ini keajaiban! Lexi kita memang masih hidup, sehat dan cantik. Perasaan kita tidak salah, Pax. Alasan kenapa hati kita masih belum bisa menerima kepergiannya meski sudah dinyatakan tiada. Lihatlah, putri kita kembali." Alena membanjiri wajah putrinya dengan kecupan penuh kerinduan.


Pax membenarkan ucapan istrinya. Tidak ada sedikit pun keyakinan di hatinya bahwa Lexi pergi meninggalkan mereka untuk selamanya dengan cara menyedihkan seperti empat bulan lalu.


"Mom, aku merindukan masakanmu! Oh, Isabel, kau di sini?" Lexi langsung memeluk gadis itu dengan erat.


"Oh Lexi, aku senang kau kembali. Harry sangat kacau dan sekarang dia sedang menuju kemari. Untung saja dia belum terbang ke Spain."


"Oouh," ia mengerang penuh sesal. "Aku membuat semua kerepotan."


"Tidak, jangan katakan begitu. Itu karena kami semua sangat mencintaimu. Kami senang kau kembali." Sesekali manik Isabel melirik ke arah Austin yang sedang berbincang dengan Pax dengan suara berbisik-bisik.


Hanya melihatnya saja, jantung Isabel jedag jedug seperti hentakan musik di diskotik. Sudah dua hari menginap di rumah Willson, akhirnya ia bisa melihat rupa pria itu. Tapi sepertinya Austin tidak sadar dengan kehadirannya. Ya, siapa lah dia bagi Austin. Hanya setitik debu yang tidak menarik perhatian. Dan mungkin justru ingin disingkirkan pria itu.


"Aku juga sangat senang, sangat bahagia. Banyak hal yang ingin kulakukan. Katakan pada saudaramu agar datang secepatnya. Oh, kau mengganti warna kawat gigimu lagi."


"Hmm, aku meminta saran dari Steve."


"Steve?" hanya mendengar nama pria itu wajah Lexi bersemu merah, bibirnya bahkan melipat ke dalam demi menahan senyumnya. "Wah, tidak sia-sia dia menjadi seorang desainer."


"Apa hubungannya dengan kawat gigi?"


"Aku juga tidak tahu, anggap saja ada." Lexi tertawa cengengesan. Kedua wanita itu masuk ke rumah sambil bercerita. "Bagaimana jika nanti sore kita pergi ke salon, Isabel? Mungkin kau ingin melakukan sesuatu dengan rambutmu."


"Odelle mengatakan hal yang serupa."


"Odelle? Siapa dia?"


"Pelayan istana. Daddy yang memberinya perintah langsung agar menemaniku selama di sini."


"Kalau begitu kau harus mengikuti saran kami."


Isabel tidak menyahut, ia cukup nyaman dengan penampilannya atau ia tidak mempunyai keberanian untuk merubah penampilannya. Hanya Isabel dan Tuhan yang tahu akan hal itu.


"Lexi,"


Darren beralari menuruni tangga, pun Lexi juga berlari melintasi ruangan, kemudian ia melompat ke dalam pelukan Darren.


"Darren...."


"Lexi.... Oh Tuhan,.."


"Aku merindukanmu, saudaraku."


"Kami hampir gila karenamu. Kau terlihat baik-baik saja. Apa yang terjadi?"


"Kau berubah," Darren mengurai pelukan mereka, menatap adiknya dengan seksama. "Kau sungguh berubah."


"Apa yang berubah?" Lexi mengernyit bingung.


"Kau lebih bersemangat dan lebih riang," Isabel lah yang menimpali. Kedua saudara itu menoleh ke arahnya. "I-itu yang kulihat," ucap gadis itu dengan canggung.


Jika Austin membuatnya berdebar, itu karena Austin sudah membuat gadis itu jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Itulah yang Isabel yakini dan wajah Austin yang rupawan memang merupakan godaan besar bagi para wanita. Tapi, Darren, sikap diamnya yang irit dalam berbicara membuat Isabel canggung jika berhadapan dengan pria itu. Keduanya sama-sama tidak memiliki kemampuan membuat topik pembicaraan.


"Itu juga yang kulihat," Darren berucap dan kembali fokus pada adiknya. "Kau juga lebih berisi...."


"DARREN!!!


_____


"Jadi kau dan dia sungguh datang berdua?" Pax bertanya untuk kesekian kalinya pada Austin. Tetua Willson itu juga menoleh ke arah mobil secara berulang kali. Mungkin saja seseorang akan keluar dari dalam mobil.


"Kau tidak percaya padaku?" Austin mulai kesal. Memangnya siapa yang diharapkan ayahnya datang bersama mereka? Steve?! Apakah ayahnya pendukung pebinor? Heh?


"Bagaimana kau bisa menemukan Lexi? Di mana dan bersama siapa?"


"Apakah itu penting? Seksii kita sudah kembali, kurasa itu itulah bagian pentingnya, Dad. Yang harus dilakukan adalah pesta penyambutan, perayaaan sebagai ucap syukur.".


Pax berdehem. Kalimat bijak yang keluar dari mulut Austin entah kenapa terdengar sangat menyebalkan di telinga Pax. Melihat profil putranya, sangat tidak cocok mengatakan hal seperti itu. Ingin rasanya Pax mencemooh putranya, tapi ia takut Austin minggat kembali, berubah menjadi bang toyib. Kasihan Isabel. Kedua keluarga juga sudah merencanakan pertunangan mereka. Phillips Geonandes bukan tanpan alasan ingin Isabel menikah dengan Austin. Karena sebagai ayah, Phillips Geonandes tidak yakin mampu menjaga putrinya tersebut. Jangankan dari hal buruk lainnya, dari kemurkaan istrinya saja Phillips hanya bisa diam tidak berkutik saat Isabel dimaki tanpa sebab.


"Aku tidak melihat Beth." Pax masih berusaha menggali bahwa menghilangnya Lexi ada hubungannya dengan Steven Percy, meski ia tidak meragukan hal itu tapi ia perlu bukti nyata. Astaga kepo sekali dirinya.


"Apa aku dan dia harus selalu bersama?"


Oh Tuhan, Pax benar-benar minta ampun dengan ketengilan putra bungsunya tersebut.


Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah, menghentikan introgasi yang dilakukan Pax terhadap putranya. Pax dan Austin menoleh.


"Menantumu sudah datang. Menantumu." Austin menekan ucapannya di setiap kata. "Suami dari putrimu, Lexi."


Pax benar-benar diuji kesabarannya oleh putranya. Hampir-hampir pria setengah baya itu hendak melayangkan bogemannya ke wajah Austin. Ayolah, ia belum cukup pikun untuk melupakan status putrinya. Tapi lagak putranya sungguh memancing amarahnya.


"Kau datang?" Austin menyambut Harry seraya merangkul pundak pria itu, menuntunnya masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Pax yang sekali lagi menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Steve benar-benar tidak akan muncul.


"Di mana dia?" ia bergumam seraya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Lexi..." suara Harry tercekat seolah ada bongkahan di dalam kerongkongannya. Dari sekian banyak orang, mimik pria itu lah yang benar-benar menunjukkan keterkejutan luar biasa.


Penampilannya juga sangat kacau. Harry sepertinya terburu-buru datang tanpa mandi terlebih dahulu. Bau alkohol masih tercium di tubuhnya.


"Oh Tuhan," pria itu bahkan seolah tidak mampu menggerakkan kakinya untuk mendekati sang istri.


"Harry," Lexi lah yang datang menghampiri untuk memeluknya.