
Steve dan Lexi duduk di bangku taman. Keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Steve berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Pengumuman tentang pernikahan Lexi. Ini benar-benar membuatnya marah. Tujuannya datang untuk memberi penjelasan bukan untuk menerima kabar buruk. Jika ada kata yang lebih buruk dari kata buruk itu sendiri, Steve akan menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan kabar yang baru saja diumumkan Lexi dengan santai, tidak ada beban dan emosi sama sekali. Sikap Lexi tersebut membuatnya kehilangan kata-kata dan juga hilang akal hingga melayangkan tinju di wajah Pax. Ya, walau jauh di dasar hatinya, ia tidak menyesali tindakannya tersebut, ia justru puas dengan apa yang ia lakukan. Pax Willson memang layak mendapat pukulan darinya.
"Kau memukul Ayahku."
Akhirnya Lexi lah orang yang pertama buka suara. Gadis itu juga melayangkan satu pukulan ringan di lengan Steve sebagai bentuk protes dari tindakan Steve yang menurut Lexi sedikit keterlaluan. Ya ampun, ini pertama kali baginya melihat Ayahnya dipukul oleh seseorang. Steve benar-benar keterlaluan dan ya, harus Lexi akui jika pria itu pemberani dan jantan.
"Aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu," Steve menyahut dengan nada datar. Sudah dikatakan, ia tidak merasa bersalah sama sekali.
Mendengar jawaban pria itu, Lexi tertawa renyah. "Untung saja tidak ada gigi yang rontok."
"Harusnya aku memukulnya lebih kuat."
Lexi mendelik, "Astaga, kau keterlaluan sekali!" Kalimat protesnya itu tidak sejalan dengan tatapan matanya yang berubah menjadi tatapan geli.
"Pax Willson layak mendapatkannya." Sementara wajah Steve tetap cemas meski nada suaranya tenang. Ia tidak butuh perbincangan basa basi ini sebenarnya. Yang ingin ia tahu, kenapa Lexi memutuskan untuk menikah dengan Harry.
"Kau marah kepada Ayahku?"
"Hmm."
"Kuakui tindakan Ayahku salah, tapi niatnya sangat baik. Kau menjadi pria yang hebat sekarang." Suara legowo Lexi berubah menjadi nada getir.
Ada kesedihan yang terselip di sana membuat Steve memiringkan kepala untuk menatap wajah Lexi. Benar saja, wajah yang tadinya ceria berubah sendu.
Kedua tangan Lexi terulur untuk mencakup wajah Steven. Begitu tangan Lexi menyentuh wajah pria itu, Steve memejamkan mata, menikmati sentuhan menyejukkan itu. Steve meletakkan kedua tangannya di atas tangan Lexi agar tangan gadis itu berlama-lama di pipinya.
"Masih sulit bagiku untuk mempercayai bahwa ini memang kau, si culun Percy."
Steve membuka matanya, hatinya berdenyut nyeri melihat tatapan penuh rindu yang ia temukan di kedua manik gadisnya itu.
"Aku tidak seculun dulu lagi, Tuan Putri."
Lexi mengangguk cepat, "Kau tumbuh menjadi pria yang hebat dan luar biasa." Sebulir air mata jatuh membasahi pipinya. "A-Aku.... A-ku.... Aku bangga padamu. Sungguh. Terima kasih sudah bertahan, Steven. Terima kasih sudah tetap hidup. Ini pasti sangat sulit bagimu. Kau pasti sangat tersiksa dan terluka. Tapi kau membuktikan pada dunia bahwa kau mampu melewati semuanya. Oh Tuhan, aku sungguh sangat bangga padamu," Lexi menyatukan kening mereka berdua.
"Ini mungkin konyol, tapi bolehkah kau memelukku, Steven."
Ah! Lexi tidak harus meminta. Ini lah yang diharapkan Steve. Menarik gadis itu ke dalam dekapannya. Ia sedang berusaha menahan diri sejak tadi. Pun Steve membawa Lexi ke dalam pelukannya. Tangis Lexi pun pecah seketika.
"Ini melegakan. Sangat melegakan," isaknya di tengah tangisannya. "Kerinduanku terbayar sudah. Terima kasih, Steven. Terima kasih kau tetap hidup." Kalimat yang sama ia ulangi berulang kali.
Lexi bergerak, melepaskan diri dari pelukan Steve disaat pria itu masih enggan untuk melepaskannya.
Lexi tersenyum, memamerkan barisan giginya yang putih, mengusap air matanya dengan menggunakan punggung tangannya.
"Ayahku melakukannya untuk kebaikanmu."
Steve tidak langsung menjawab, ia sedang sibuk menerka-nerka apa yang akan dilakukan Lexi selanjutnya dan sialnya hatinya menyerukan bahwa Lexi akan melangkah, mengambil keputusan berdasarkan logika bukan hatinya lagi. Dan itu bukan pertanda yang baik.
Steve menghembuskan napas panjang, apakah ia sudah siap menerima keputusan Lexi. Sayang, opsi itu tidak penting. Siap atau tidak, Lexi sudah membuat keputusan dalam hidupnya. Ya, Steve tahu itu disaat Lexi berlari menghampirinya di pintu utama dengan senyum juga manik berbinar.
"Aku meminta maaf atas nama Ayahku. Tapi kau juga berhutang terima kasih kepada Ayahku." Lexi menolak membahas masa depannya yang sudah ia putuskan.
"Permintaan maaf tidak bisa diwakilkan, Lexi. Jadi, katakan mengapa kau mengambil keputusan itu, Lexi?"
Lexi tersenyum, "Ini bukan tindakan yang gegabah. Aku sudah memikirkannya. Usiaku sudah hampir menginjak angka 30 tahun. Satu tahun ke depan, wajahku akan mulai menua. Tidak akan ada lagi yang tertarik denganku."
"Ada aku."
"Sistem reproduksiku mungkin juga akan bermasalah. Jika ingin memiliki keturunan, bukankah aku harus segera menikah."
"Sistem reproduksimu tidak akan bermasalah, aku bisa memberikanmu anak sebanyak yang kau inginkan."
"Harry mencintaiku." Lexi berulang kali mengabaikan ucapan Steve. "Dia jujur terhadap perasaannya. Dia tidak pernah membohongiku."
Skakmat!
Steve terdiam. Ia kalah jika dalam hal ini.
"Kau tidak mencintainya," Steve masih berusaha memprovokasi tindakan Lexi yang menurutnya tidak benar. Demi Tuhan, ia tidak ingin kehilangan Lexi.
"Dia mencintaiku dan aku akan belajar mencintainya. Dia bukan pelarian, aku hanya memberi kesempatan kepadanya juga kepada diriku." Rentetan kalimat itu disampaikan dengan tegas dan sungguh-sungguh.
"Harry pria yang baik, Steve. Aku yakin aku bisa menjadi istri yang baik untuknya. Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Jika pondasinya diawali dengan kejujuran, semuanya akan baik-baik saja, bukan?"
"Kau mencintaiku dan aku mencintaimu," Steve berkata setengah membentak yang tidak ia sadari. Ketenangan yang ditunjukkan gadis itu membuatnya hampir gila.
"Aku tidak akan menyangkal bahwa aku memang mencintaimu. Mencintai Steven Percy dalam versiku. Sekarang kau ada di sini, bukan versi ini yang membuatku tergila-gila. Tapi kau tetap lah Steven Percy, lalu aku sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya aku sudah tidak segila dulu lagi untuk mencintaimu."
Jleb!
Kata-kata menghunus ini tepat sasaran. Steve merasakan hujaman di jantungnya. Rasanya sangat perih dan sakit.
"Kau ingin mendengar sebuah dongeng?"
Ingin rasanya Steve memaki. Hatinya sedang tidak baik-baik saja dan Lexi justru melayangkan sebuah lelucon. Dongeng? Heh? Apakah di usianya sekarang ia masih membutuhkan hiburan tentang cerita dongeng.
"Semua dongeng berakhir happy ending. Dongeng apa yang ingin kau ceritakan padaku walau aku tidak yakin dongeng yang akan kau ceritakan bisa menghibur hatiku, tapi setidaknya aku bisa melihatmu lebih lama saat kau bercerita." Astaga, ini menyakitkan!
Lexi masih saja tersenyum, tidak menyiratkan sedikit kegoyahan mendengar kegetiran di dalam suara Steve.
"Sebuah dongeng bulan dan matahari yang saling mencintai, tapi tidak pernah bisa bersatu. Saat matahari datang, bulan hilang. Saat bulan kembali, matahari pergi. Takdir bisa mengubah yang tidak saling mencintai akan menjadi saling mencintai. Hal itulah yang kuyakin akan terjadi padaku dan Harry. Kau dan aku bagaikan bulan dan matahari, Steve. Pada akhirnya cinta tidak bisa mengubah yang bukan takdir menjadi takdir."
Lexi pun segera berdiri, ia sudah mengatakan apa yang ia katakan. Ia rasa sudah cukup.
"Sebelum hari bahagiaku tiba, sebaiknya kita memikirkan acara apa yang akan kita buat untuk merayakan perpisahan ini dengan benar."