H.U.R.T

H.U.R.T
Aku Menolak



"A-apa maksudmu? Di-dia kekasihmu?"


"Ya, dan kau merayunya, mencoba merebutnya dariku!" Oleshia meraung marah. Matanya menatap marah pada Lexi maupun Steve.


Sementara Alena yang menjadi saksi dari cerita cinta segitiga ini juga hanya bisa bergeming di tempat sambil fokus menatap putrinya yang sudah mulai pucat dan panik. Lexi paling tidak bisa disalahkan. Dia akan merasa dibenci dan Lexi tidak suka itu.


"Aku tidak merayunya. Tidak berniat merayu atau pun merebutnya. Sungguh."


"Tidak merebutnya?! Lalu kenapa kau menciumnya?"


"Karena aku merasa dia adalah kekasihku. Setidaknya beberapa menit yang lalu."


"Sepuluh tahun lebih, kami berhubungan selama sepuluh tahun. Apa kau bisa membayangkan apa yang sudah kami lalui?" Air mata mulai membasahi wajahnya.


Lexi merasa bersalah juga terguncang mengetahui hal itu. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kenyataan bahwa ia kali ini benar-benar merebut kekasih Oleshia membuat kenangannya terlempar pada masa lampau. Di mana suadari kembar wanita itu menuduhkan hal yang serupa padanya.


"Maafkan aku. Aku sungguh tidak mengetahuinya."


"Maaf? Aku tidak tahu jika putri seorang Willson sangat murahan."


"Perhatikan ucapanmu, Oleshia! Kau sudah keterlaluan," Steve berkata sinis.


"Kau membelanya?! Membela wanita dari pria yang...."


"Aku katakan tutup mulutmu." Kali ini intonasinya tenang dan mendayu, tapi tidak dengan tatapannya yang menghunus.


"Kau melukaiku..." Air mata wanita itu semakin menjadi. Di tengah kekacaun yang terjadi. Pintu ruangan itu kembali terbuka. Beth muncul dengan napas tersenggal-senggal.


"Steve, aku lupa mengatakan jika Oleshia juga ada di sini. Dia menyelamatkan Lexi..." Kalimatnya menggantung di udara begitu menyadari kehadiran Oleshia. "Oh... Kalian sudah bertemu. Kau ketahuan, Kawan." Beth harusnya tertawa, tapi ternyata ia terusik dengan atmosfer yang mendadak horor. Untuk pertama kalinya ia melihat Oleshia menangis, sementara Steve tetap terlihat tenang seperti biasa dan Beth seperti biasa dibuat kesal sendiri.


"Lexi sedang sakit. Jangan terlalu berisik. Ada baiknya kalian pergi. Biarkan Lexi istirahat."


Beth tersedak mendengar pengusiran langsung yang dilakukan pria itu. Melihat tangisan Oleshia, Beth menduga bahwa gadis itu menyaksikan sesuatu yang manis tapi menyakitkan. Dan apa yang dilakukan si keparat Steve? Mengusir mereka, termasuk Oleshia. Hei, dia baru saja tertangkap basah!


"Ka-kau lah yang harus pergi. Aku tidak ingin melihatmu."


Steve menoleh, Lexi menatapnya penuh kemarahan. Gadis itu tampak bersedih.


"Kau lah yang harus pergi, Ivarez! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"


Lexi memalingkan wajah seolah memang sudah tidak sudi melihat wajahnya. Steve menelan saliva dengan kasar, tidak menyukai reaksi gadis itu.


"Jangan pernah memalingkan wajahmu dariku, Lexi Stevani Willson."


Lexi menoleh dengan cepat, kemarahan semakin berkilat jelas di matanya. "Setelah apa yang kau lakukan, kau masih berharap aku tetap menatapmu dengan tatapan memuja?!"


"Aku merasa tersanjung jika kau menatapku demikian. Aku tidak tahu jika kau sangat memujaku."


"Pergilah!"


"Jangan mengusirku."


"Jadi apa yang kau harapkan? Aku menarik ucapanku beberapa menit lalu. Aku tidak ingin menjadi kekasihmu!"


Steve melirik jam tangannya, respon yang tidak diharapkan oleh Lexi. Sempat-sempatnya pria itu memedulikan waktu di situasi genting seperti ini.


"Sepuluh menit. Kita baru resmi menjadi sepasang kekasih dan kau sudah mengakhirinya. Maaf, Lexi. Aku menolak."


Oh Tuhan, adakah pria yang lebih tengil dari pria ini?


"Kau pikir aku mau menjadi seorang selingkuhan, Brengsek!"


"Tidak akan ada yang menjadikanmu sebagai seorang selingkuhan," ucapnya dengan lembut. Ia mencoba menggenggam tangan Lexi tapi gadis itu menepisnya dengan kasar.


"Pergilah, Ivarez. Jangan membuatku terlihat lebih buruk di hadapan kekasihmu," lirihnya dengan nada lemah. "Selesaikan urusan kalian, jangan melibatkanku."


"Oleshia, mari mengakhiri semuanya. Mengakhiri kesenangan ini."


"Kesenangan? Kau katakan waktu sepuluh tahun adalah kesenangan?"


"Itulah yang terjadi. Kita adalah partner. Partner di atas ranjang."


Siapa pun yang mendengar pernyataan Steve, terang saja merasa terhina, termasuk Oleshia. Ia merasa dilecehkan dan ia gusar atas penghinaan ini.


"Partner di atas ranjang katamu. Seingatku, kau mengatakan jika kau mencintaiku." Oleshia benar-benar terluka atas ucapan kasar pria itu. Ia tidak menyangka jika Steve akan melontarkan kalimat keji seperti itu.


"Hanya karena aku mengatakan api, bukan berarti mulutku akan terbakar.


"Kau bajingan, Steve!"


"Ya, itu adalah nama tengahku. Karena masalah kita sudah selesai, ada baiknya kau pergi." Steve mengalihkan tatapannya pada Alena. "Maafkan aku atas kejutan yang tidak mengenakkan ini. Aku benar-benar mencintai putrimu..."


"Hanya karena kau mengatakan api, bukan berarti mulutmu akan terbakar." Lexi menyela dengan melemparkan kembali kalimat pria itu.


Steve tersenyum, tidak merasa tertohok sama sekali. "Ini curang, Lexi. Mengutip kalimat orang lain tidak diperbolehkan."


Oleshia merasa panas melihat senyuman yang terukir di wajah pria itu. Senyum yang tidak pernah ditampilkan Steve di hadapannya. "Aku bersumpah, semuanya tidak akan semudah ini, Steve!" Setelah melayangkan ancaman tersebut, Oleshia segera angkat kaki.


"Kau pria paling brengsek yang pernah kulihat, anak muda." Akhirnya Alena buka suara.


"Kuharap penilaianmu tidak mempengaruhi restumu padaku," ia mengerling jenaka. Dasar pria brengsek tidak tahu malu! Steve yang bertingkah konyol, tapi Beth yang merasa malu. Tapi harus ia akui bahwa ketenangan pria itu memang tidak terkalahkan. Beth harus berguru kepadanya.