
"Ya. Orang penting." Dan aku tidak sabar untuk melihat wajah-wajah mereka.
Sungguh Steve sangat penasaran dengan wajah-wajah para musuhnya, bagaimana reaksi para curut itu saat melihatnya. Apakah sama seperti Lexi yang memang tidak mengenali dirinya. Ya, perubahan fisiknya memang sangat luar biasa. Tubuh kerempeng itu kini sangat kekar. Wajah polos kusam yang terkesan dekil tidak terlihat lagi. Steve yang sekarang sangat tampan, rupawan juga kaya. Aromanya yang dulu bercampur keringat, kini sangat memabukkan. Keringat membanjiri tubuhnya hanya saat ia sedang berolahraga. Entah itu olahraga sesungguhnya atau pun olahraga dalam tanda kutip. Bahkan saat ia menjalankan misi untuk melenyapkan seseorang, ia tidak perlu bekerja keras yang mengakibatkan tubuhnya mengeluarkan keringat.
"Aku merindukan negara ini. Merindukan banyak hal." Steve menjeda ucapannya, menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Udaranya terkontaminasi dengan manusia-manusia munafik." Ujarnya dingin, mencoba mengontrol emosi yang mulai menggerogoti tubuhnya.
Oleshia membelai wajahnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, "Terkadang aku sangat tidak mengenalmu. Kau sangat sulit dimengerti. Seingatku, Olivia mengatakan kau adalah orang yang paling simpel dan santai. Tapi, yang kulihat justru sebaliknya. Kau begitu kaku, dingin, dan bahkan saat aku sedang berada di atas pangkuanmu, aku tetap merasa kau begitu sulit dijangkau."
Steve menurunkan tangan Oleshia dari wajahnya. Dipandangnya wanita itu dengan intens dan penuh arti. "Kita sudah melewati banyak hal, kurasa bukan aku yang sulit kau jangkau, tetapi kaulah yang menjaga jarak."
Oleshia sedikit tersentak mendengar penuturan prianya itu, pupilnya bergerak, memandangi Steve dengan penuh tanya. Mencari-cari jawaban di manik pria itu sangat percuma karena manik itu seolah bisu dan buta. Tidak akan ditemukan apa-apa di sana selain kekosongan dan kehampaan yang begitu mendalam.
"Aku mencintaimu, Steve."
Steve menipiskan bibirnya membentuk sebuah senyuman bersahaja. "Aku juga."
"Hubungan kita sudah berjalan 10 tahun lebih. Katakan padaku, apa yang membuatmu memutuskan untuk kembali kemari?" Oleshia kembali memainkan jemarinya di wajah Steve. Dulu, Olivia selalu menceritakan bagaimana sosok Steve kepadanya. Betapa baik, pintar dan perhatiannya pria yang kini menjadi kekasihnya itu. Steve juga pernah sesekali berkunjung ke rumah mereka jika Olivia sedang sakit. Ia dan Steve hanya bertegur sapa secara sekilas karena Oleshia lebih banyak menghabiskan waktu di luar untuk bekerja, membantu perekonomian keluarga mereka.
"Banyak hal yang harus kulakukan di sini." Steve menyampirkan rambut panjang Oleshia ke balik telinga gadis itu. "Balas dendam, menebus kesalahan, meluapkan kerinduan kepada tanah airku, orang tuaku dan semuanya."
"Balas dendam? Apakah ini ada hubungannya dengan kematian Olivia?"
"Bagaimana denganmu, Shia. Apakah kematian suadarimu tidak meninggalkan dendam di hatimu?"
Oleshia menarik napas panjang. Sebelumnya, mereka tidak pernah membahas apa yang sudah terjadi 13 tahun lalu. Hari ini, pertama kalinya mereka membicarakan hal ini. Ternyata waktu 13 tahun tidak bisa menyamarkan luka yang diberikan kepada mereka, kepada keluarga mereka. Rasanya masih sama, masih sakit dan masih menyesakkan.
"Kasusnya sudah ditutup beberapa hari setelah tragedi tersebut. Aku menyayangkan kenapa Olivia harus mengakhiri hidupnya. Ya, walau kuakui hal tersebut juga pernah terbersit di benakku. Kondisi keluarga kami yang berantakan, keuangan yang sangat memprihatinkan sehingga sering membuat kami kelaparan. Adik yang memiliki keterbelakangan mental. Ibu yang kurang perhatian. Semuanya terlihat begitu menjijikkan sekaligus menyedihkan." Seraut wajah yang biasanya terlihat anggun itu berubah menjadi ekspresi marah. Pandangannya menatap jauh dalam kekosongan. Kematian saudarinya juga meninggalkan kesan yang mendalam baginya.
"Kudengar ibumu menerima kompensasi yang cukup besar."
Oleshia tersentak dari lamunannya, menoleh cepat pada pria yang juga sedang menatapnya. Ya, ia menyaksikan sendiri saat ibunya menerima uang dalam jumlah besar dari pemerintah. Uang yang akhirnya membuatnya bisa menyimpulkan bahwa ada yang salah dengan kematian saudarinya. Mendesak ibunya untuk mengakui hal tersebut bukan hal yang mudah mengingat sang ibu sudah gelap mata dengan jumlah uang yang diletakkan di hadapan ibunya. Sempat terjadi pertengkaran diantara mereka, tapi pada akhirnya ia mengalah karena tidak ada gunanya melawan sang ibu.
"Uang itulah yang digunakan ibuku untuk menjadikanku seorang model." lirihnya seraya menundukkan kepala, entah karena merasa malu atau marah dengan keadaannya.
Steve mengusap punggung Oleshia, menenangkan wanita itu dari perasaan tidak nyaman yang dirasakan oleh Oleshia. Pembahasan tentang tragedi 13 tahun lalu memang selalu berhasil menciptakan atmosfer yang sangat tidak menyenangkan.
"Aku ada jamuan pesta nanti malam, apakah kau ingin bergabung denganku?" Steve mengubah topik pembicaraan. Ia sendiri juga tidak merasa nyaman jika berbincang tentang masa kelam mereka.
"Jamuan? Di mana?"
"Aku sangat ingin menemanimu, Steve," erangnya dengan nada juga mimik yang terlihat menyesal. "Aku sudah berjanji untuk makan malam bersama Alea malam ini dan dia akan marah jika aku mengingkari janjiku."
"Ah, Alea," Steve bergumam. Ia mengingat gadis itu. Adik kecil Olivia dan Oleshia yang memiliki keterbelakangan mental. "Aku akan mengatur jadwalku untuk mengunjunginya."
Senyum di wajah Oleshia mengembang indah. "Alea pasti sangat senang jika kau datang."
"Johan akan mengantarmu." Menepuk pundak Oleshia agar turun dari pangkuannya. Keduanya berdiri, menatap satu sama lain. Oleshia menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan pria itu.
"Kembali kemari pasti sangat menyakitkan untukmu. Apakah kau memiliki tujuan tertentu, Steve?"
"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu, Shia?"
Oleshia menggeleng seraya mengurai pelukan mereka. Kembali wanita itu menerbitkan senyum, jemarinya membelai wajah Steve dengan lembut. "Segala pertanyaan tentu saja harus dijawab."
"Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban."
"Pertanyaanku memiliki jawaban."
"Jawabanku tidak akan memberikan pengaruh berarti untukmu. Sampaikan salamku kepada Alea. Tanyakan kepadanya apa yang dia inginkan." Steve melirik jam tangan mewah yang melingkar di tangannya. "Hubungi aku jika kau butuh sesuatu." Dituntunnya Oleshia keluar dari ruangannya, mengantar wanita itu ke dalam mobil miliknya. Menunggu mobil itu meninggalkan gedung perkantoran hingga tidak terlihat lagi. Steve mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, menghubungi salah satu relasi bisnisnya.
"Ajak aku ke jamuan perayaan pernikahan Mr. dan Mrs. Willlson," tanpa basa basi, Steve melontarkan kalimat bernada perintah.
Terdengar kekehan malas dari seberang telepon. "Istriku bisa marah kepadaku, Dude." kelakar pria di seberang telepon.
"Apakah seorang Vasquez selalu tunduk di hadapan seorang wanita?" Sarkas Steve dengan mimik datar.
"Bukan hanya seorang Vasquez, Kawan," sahut Gavin. "Tapi semua pria. Pria memang tercipta untuk menundukkan kepala di hadapan dua wanita. Ibumu dan wanitamu. Kau akan merasakannya begitu menemukan wanita yang tepat."
"Aku tidak butuh ceramahmu. Aku akan menjemputmu di hotel."
"Hei, kau bahkan tahu dimana aku menginap?"
"Istrimu sedang berjemur di depan kolam berenang. Terlihat sangat seksi dengan baby bump yang dimilikinya..."
"Tutup mulutmu, keparat!" Maki Gavin Vasquez yang tidak menerima pujian atas istrinya dari pria lain.
"Sampai jumpa 45 menit lagi." Steve memutuskan sambungan telepon. Sudut bibirnya terangkat ke atas. "Saatnya melakukan pemanasan."