
Steve meminggirkan mobil di tepi sebuah danau buatan yang sudah tidak berpenghuni. Danau yang sudah tidak terawat, dibiarkan terbengkalai begitu saja. Beberapa pengunjung masih datang ke sana karena danau buatan tersebut cukup luas dan indah.
Steve turun dari mobil, membawa serta bekal masakan Lexi. Tidak menunggu gadis itu turun terlebih dahulu, tidak juga membuka pintu untum Lexi. Steve, berjalan ke tepi danau, melepaskan jas mahalnya dan menggelarnya di sana. Ini piknik dadakan.
Lexi yang semula tidak berniat untuk turun, akhirnya tergoda karena pemandangan danau buatan tersebut cukup indah di pagi hari ini. Dengan wajah ditekuk masam, Lexi membuka pintu mobil dengan kasar.
"Tempat apa ini? Sepi begini." Lexi bersedekap, melirik angkuh pada Steve yang duduk di atas rumput yang sepertinya masih basah.
"Duduklah." Pria itu menunjuk jas miliknya yang sudah dijadikan alas duduk di sebelahnya.
"Kenapa bukan kau yang duduk di sana?"
"Jika aku duduk di sana, artinya aku harus memangku-mu," jawaban enteng Steve membuat manik Lexi membeliak. "Kau tidak akan mau duduk di atas rumput yang lembab ini," imbuh pria itu sembari membuka kantongan.
"Karena kau memaksa, maka aku akan duduk," Lexi melepaskan sepatu, tidak tega jika sepatunya akan mengotori jas mahal pria itu.
"Jadi, ini sungguh masakanmu?" Kotak bekal sudah terbuka. Dari tampilannya terlihat sangat meyakinkan. Aromanya juga sangat menggoda. Ada sushi rol, ayam goreng, sup jagung, juga beberapa dessert. Steve melirik isi kotak makanan tersebut lalu melirik jari Lexi yang terluka.
"Lily sangat menyukai sushi." Gadis itu menarik napas panjang melihat masakannya mendarat di perut yang salah. Saat memasak, Lexi membayangkan wajah Lily yang berbinar-binar happy. Temannya itu juga akan memaafkannya dan melupakan kemarahannya. Ternyata harapannya hanya sia-sia.
"Sayang sekali dia tidak bisa menikmati masakanmu yang penuh dengan cinta ini," Steve mengambil sendok, dibanding sushi, ia lebih tertarik untuk menikmati sup jagung.
"Ya, masakanku salah sasaran," Lexi menatap penuh minat saat Steve mulai menyendok makanan. Ia bahkan menahan napas saat sendok tersebut sudah masuk ke dalam mulut Steve.
Kening Steve terlihat berkerut, saat ia mengangkat kepala, maniknya bersirobok dengan mata indah Lexi yang memandanginya penuh minat.
"Bagaimana?"
Steve menganggukkan kepala, mulai mengunyah secara perlahan. Sendokan kedua, barulah Lexi mulai bernapas lega. Sepertinya tidak ada yang salah dengan masakannya. Pria itu bahkan menghabiskannya sampai tuntas. Dan sepertinya, Steve bukan tipe pria yang mau berbincang disaat sedang menyantap hidangan. Hampir semua masakan Lexi dilahap habis. Hanya tinggal beberapa buah dan dessert.
"Terima kasih." Menyudahi acara sarapannya dengan membersihkan mulut menggunakan sapu tangan mewahnya.
"Ya, walaupun kau mencuri makananku, kuanggap saja ini sedekah agar hasilnya juga berkah di perutmu. Apakah kita sudah bisa pulang?"
"Belum waktunya pulang." Steve mengulurkan tangan, menyingkirkan daun yang baru jatuh di atas kepala Lexi. "Kita akan pulang, nanti," ucap pria itu dengan mengunci pergerakan manik Lexi. Lexi mengangguk patuh.
"Apa kau menonton berita tadi malam?" Steve memandang ke kejauhan. Kabut yang menutupi danau mulai menghilang. Matahari juga mulai bersinar panas.
"Aku tidak suka menonton berita."
"Lalu apa yang kau suka?"
"Banyak."
"Hm, kalau begitu apa yang tidak kau suka?"
"Dibenci."
"Seseorang membencimu?"
"Aku merasa bahwa aku tidak layak untuk disukai. Atau rasa suka itu memiliki batas waktu. Aku tidak mengerti."
"Kenapa kau mengatakan demikian?" Steve cukup terkejut dengan respon Lexi atas pertanyaannya. Ia kira, Lexi tidak akan menanggapi ucapannya. Ternyata, perbincangan ini mengalir begitu saja.
"Kenapa kau tidak mengabaikan orang-orang seperti itu?"
"Orang-orang seperti itu?"
"Orang-orang yang memiliki batas rasa suka. Bukankah mereka cenderung berpura-pura, tidak benar-benar tulus."
"Entahlah. Aku tidak peduli dengan perasaan mereka terhadapku karena hatiku sudah terlanjur menganggap mereka berarti."
Steve terdiam, ditatapnya gadis itu dengan seksama, menebak di kedalaman matanya, apakah ucapan gadis benar adanya. Steve tidak menemukan kebohongan sama sekali. Mengembuskan napas dengan kasar, tidak suka dengan apa yang ditunjukkan gadis itu.
Steve mengeluarkan sebatang rokok, menyelipkannya di dalam mulutnya. Saat ia hendak membakarnya dengan pemantik, sudut matanya menangkap jika hidung gadis itu mengernyit tidak suka. Lexi membuka tasnya, mengeluarkan sebuah masker dan segera mengenakannya.
"Aku tidak ingin terkontaminasi." Ucapnya begitu masker sudah menutupi mulut dan hidungnya.
"Kau tinggal mengatakan jangan merokok di hadapanku." Steve kembali memasukkan batang rokok ke dalam bungkusnya. Ia mengurungkan niatnya untuk merokok.
"Kurasa aku tidak mempunyai hak untuk melarangmu, tapi aku punya hak untuk melindungi diriku. Jadi yang kulakukan adalah menyelamatkan kesehatanku. Kau menyukai rokok, laranganku hanya akan kau anggap sebagai angin lalu. Dan jika orang yang cukup berarti yang melarangmu, kau akan menganggapnya sebagai beban karena terpaksa."
"Aku tidak suka kau menyembunyikan wajahmu." Tangan Steve kembali terulur untuk melepaskan masker yang menutupi sebagian wajah Lexi. "Bukankah aku sudah mengatakan kau sangat cantik, jadi jangan menutupinya saat bersamaku."
Masker sudah terlepas, alih-alih menjauhkan jemarinya dari wajah gadis itu, Steven justru memainkan ibu jarinya di kulit mulus Lexi. Tatapannya terpaku pada bibir merah muda yang di dalam imajinasinya memiliki rasa seperti buah ceri.
"I-Ivarez...?"
Steve mengangkat tatapannya mendengar lirihan Lexi yang terdengar gugup. Manik indah itu menatapnya tidak kalah gugup dan bingungnya.
Steve mencondongkan tubuh lebih merapat hingga jarak wajah mereka kian menipis. Samar-samar, aroma parfum Lexi yang lembut mulai menarik paksa kewarasannya. Demi apa pun, ia ingin mereguk rasa manis yang ada pada gadis itu. Tidak ada yang tersisa lagi saat Lexi mulai memejamkan mata. Bulu mata yang begitu panjang menyapu kulit wajah gadis itu. Steve anggap ini sebagai izin, pun ia memiringkan kepala, dan begitu bibir mereka hendak bersentuhan, Steve kembali menarik tubuhnya menjauh.
"Pemandangan di sini terlalu indah, Ms.Willson, kenapa kau menutup matamu?" Pria itu berbisik di telinga Lexi. Gadis itu melompat kaget. Lexi gelagapan karena malu.
"Atau kau menginginkan sesuatu yang lebih indah?" Goda pria itu dengan kerlingan mata nakal. Wajah Lexi semakin merah merona. Ia benar-benar malu. Sangat malu!
"Se-sesuatu yang lebih indah? A-apa maksudmu? Mataku kelilipan. Sepertinya ada debu yang masuk. Dan karena kau sudah selesai makan, sebaiknya kita pergi!" Lexi buru-buru berdiri dan memasang sepatu sebelum Steve kembali mengolok-oloknya.
Astaga! Apa yang sedang kupikirkan tadi? Apakah aku berharap dia menciumku? Oh Steven.... Maafkan aku.
"Biar kuperiksa." Steven berdiri, menahan tangan Lexi yang hendak melarikan diri.
"Debunya sudah pergi, hilang entah kemana."
"Biar kuperiksa."
"Dia sudah pergi.'' Lexi menundukkan kepala menyembunyikan wajah.
"Dia masih di sana."
"Dia?" Lexi mendadak bodoh.
"Debu. Debunya masih di sana. Aku akan membersihkannya." Kedua tangan Steve mencakup pipi Lexi membuat gadis itu tidak berdaya untuk bergerak. Tubuhnya seakan membeku saat bibir Steve mendekat ke matanya, menghembuskan napasnya yang hangat di sana. Lexi merasakan bulu matanya menyentuh bibir pria itu membuat perutnya serasa ditonjok. Ada yang melilit, begitu menyiksa tapi Lexi tetap ingin merasakannya, lebih dan lebih lagi.
Austin akan meledekku jika tahu keliaranku ini. Darren akan menghukumku dan Mommy juga Daddy akan menatapku dengan tatapan haru, menyadari jika putri kecil mereka sudah dewasa dan mulai nakal. Sepertinya aku sedang jatuh cinta!