H.U.R.T

H.U.R.T
Bruk!



Buat Moemoe, Semangat!!


.


.


.


"Kau menghindariku?"


Pagi sekali Oleshia sudah datang ke rumah Steve. Pria itu sedang menikmati secangkir kopi sambil menonton drama pemerintah, di mana para kacung petinggi sibuk memberikan klarifikasi tentang berita yang beradar. Beberapa kerjasama internasional juga diputuskan secara sepihak.


"Aku terlihat seperti menghindarimu?"


"Kau mengabaikan panggilanku!"


"Itu karena aku sedang sibuk, Shia. Bagaimana kabarmu?" Steve mengulurkan tangan agar Oleshia mendekat ke arahnya. Wanita itu menyambut tangannya. Pun ia mengecup punggung tangan Oleshia.


"Aku merindukanmu setengah mati. Sebelumnya kau tidak pernah begini. Aku merindukan momen kita di Spain. Kapan kau akan kembali ke sana?"


"Sebentar lagi."


"Oh, kau melihat beritanya? Hm, apa kau yang melakukannya?" Oleshia melihat tayangan di ponsel pria itu. "Mr. President ternyata membuat istrinya gila."


"Aku tidak tertarik dengan dengan drama keluarga mereka."


"Jadi bukan kau yang melakukannya?"


"Tidak untuk drama keluarga."


"Bagaimana keadaan Lea dan ayahmu? Apa sudah ada kabar dari ibumu?"


Wajah Oleshia berubah seketika. Tampak murung dan sedih. "Tidak ada kabar dari ibuku. Lea merindukannya, begitupun ayahku. Bagaimana jika kita pergi berkencan?"


"Berkencan? Hm, baiklah jika itu yang kau inginkan. Beri aku waktu sepuluh menit untuk berganti pakaian. Kau ingin bergabung denganku atau menungguku di sini?"


"Aku menunggu di sini. Kau membeli perabotan baru?"


"Ya, Brian menyentuhnya."


"Brian menemuimu? Kemari?"


"Hmmm."


Steve beranjak dari tempatnya. Baru saja ia hendak berbalik, ia melihat Jordan menghampirinya setengah berlari.


"Kita kedatangan tamu departemen kepolisian." Lapor pria itu. Steve meluruskan pandangannya. Beberapa orang melintasi ruangannya. Ternyata bukan hanya dari institut kepolisiaan, FBI juga ikut serta bergabung dan jangan lupakan si bungsu Milles. Ya, Brian ada di sana. Bisa dipastikan jika pria itu lah yang membuat ulah.


"Apa yang terjadi?" Oleshia terlihat khawatir. Tangannya mencengkram lengan Steve dengan kuat.


"Sepertinya aku harus mencari tempat tinggal baru jika tidak ingin ketenanganku diusik. Kira-kira kesalahan apa yang kuperbuat karena tidak mungkin kalian datang bertamu hanya untuk menikmati secangkir kopi buatan Jordan," sarkasnya dengan tenang.


"Bolehkan kita duduk, Mr. Ivarez." Salah satu dari mereka bersuara dan hendak mendaratkan bokong di sofa baru miliknya. Brian juga melakukan hal yang sama.


"Langsung ke intinya saja. Perabotanku masih baru dan aku tidak berniat untuk menggantinya dalam beberapa jam ke depan. Jadi, tolong kerjasamanya."


Wajah Brian merah padam, begitu juga dengan yang lain. Mereka disambut dengan cara yang tidak sopan dan Steve bahkan secara terang-terangan melarang mereka untuk duduk. Yang membuat mereka semakin geram, justru pria itu yang meminta kerjasama kepada mereka.


"Mr. Steven Ivarez, Anda harus ikut kami ke kantor." Pun mereka tidak berbasa basi lagi. "Anda harus memberi keterangan prihal berita tidak benar yang Anda sebarkan ke media."


"Berita?" Matanya melirik ke arah Brian. Kedua tangan pria itu terkepal dengan kuat. Steve senang melihat Brian tertekan dan emosi. "Aku tidak tahu tudingan apa yang sedang dituduhkan kepadaku. Sebagai warga yang baik aku akan ikut. Hanya untuk menjemputku, tidak harus keroyokan seperti ini?" Ia tersenyum mengejek. "Aku rakyat yang patuh akan hukum. Kalian tinggal menghubungiku dan aku akan datang. Tidak perlu menyambangiku seperti ini. Baiklah, aku mengganti pakaianku terlebih dahulu."


"Steve..." Oleshia menahan tangannya.


"Pulanglah. Aku akan menghubungimu nanti."


"Ouch..."


"Maaf,"


Tanpa sengaja Lexi menabrak seseorang yang baru saja keluar dari toilet. Barang-barang wanita itu berserakan di lantai, pun ponsel Lexi juga ikut terjatuh dan retak. Mengabaikan ponselnya, Lexi memunguti peralatan make up wanita yang ditabraknya. Ia terlalu sibuk memainkan ponselnya hingga tidak melihat langkahnya.


"Beberapa kosmetikmu sepertinya rusak. Aku akan menggantinya." Suaranya terdengar menyesal karena ia tahu bahwa kosmetik yang dimiliki wanita itu dari brand ternama.


"Maafkan aku,- Oh, kau...." Wajahnya seketika pucat, tapi Lexi berusaha bersikap biasa. "Maafkan aku. Kau mengingatku? Kita pernah bertemu di ajang fashion show."


"Tentu saja aku mengingatmu. Desainmu sama dengan desain yang kupakai hari itu." Ya, wanita yang ditabrak Lexi tidak lain adalah Oleshia.


"Ouh, kau mengingat hal yang memalukan. Lexi Stevani Willson." Mengulurkan tangan sembari tersenyum ramah. Matanya juga menatap penuh kagum pada sosok di hadapannya.


"Oleshia Phillyda."


"Aku sungguh tidak menyangka Olivia memiliki saudari kembar seiras." Lexi berkata penuh hati-hati. Khawatir jika topik Olivia membuat wanita itu tersinggung dan sakit hati.


"Bibirmu gemetar," ucapan Oleshia menghilangkan senyum kaku di wajah Lexi. Ia memikirkan perasaan orang lain tanpa sadar bahwa ia sedikit tertekan dengan pertemuan ini. Lexi menggaruk tengkuknya, ia menoleh ke belakang, berharap ibunya datang menyusul. Ia dan ibunya sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar.


"Ah, aku sedikit menggigil." Ia bersyukur masih bisa menjaga intonasi kalimatnya.


"Sepertinya kau sedang sakit. Baiklah, aku permisi dulu. Senang bertemu dengamu."


"Ya, senang bertemu denganmu, mengenai kosmetikmu, aku akan mengganti dan mengirimnya ke rumahmu."


"Aku tidak akan menolak niat baik seseorang." Oleshia tersenyum ramah. "Sampai bertemu kembali." Wanita itu pun melangkah pergi. Namun, baru dua langkah, Oleshia berhenti lalu berbalik.


"Lexi," panggilnya.


Lexi yang hendak masuk ke dalam toilet, berbalik dan berhadapan langsung dengan Oleshia. "Ya?"


"Aku lupa memberi alamat rumahku. Bukankah kau ingin mengirim kosmetiknya ke rumahku?" Wanita itu mendekati Lexi kembali.


"Kau benar," Lexi menepuk jidatnya. "Berikan aku kartu namamu."


"Ini," Olsehia memberikan satu lembar kartu kecil berbentuk persegi. "Aku menunggu kirimannya."


Lexi mengangguk, mata keduanya beradu satu sama lain. Lexi baru menyadari jika manik wanita itu sangat cantik.


"Aku menunggumu," ucap Oleshia sebelum benar-benar pergi. Pun Lexi hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sepeninggalan Oleshia, Lexi mengurungkan niatnya masuk ke dalam toilet. Ia kembali menenui ibunya yang sudah memesan makanan untuk mereka.


"Austin jadi datang, Mom?"


"Ya, ia sedang dalam perjalanan. Kita tidak harus menunggunya untuk menikmati makanan ini. Makanlah."


Lexi mengangguk, "Ah, ponselku rusak." Lexi menunjukkan ponsel miliknya. "Aku perlu ponsel baru." Lexi segera berdiri dari kursi.


"Kita bisa membelinya nanti." Alena mencoba menghentikannya.


Lexi menggeleng, "Aku hanya sebentar. Aku perlu menghubungi seseorang, Mom. Ini sangat penting."


"Baiklah. Mommy akan menunggu Austin di sini."


Alih-alih membeli ponsel di pusat perbelanjaan tersebut, Lexi justru keluar dari gedung menuju toko yang berseberangan dengan gedung pusat perbelanjaan tersebut.


Tanpa menoleh ke kiri ke kanan, Lexi melenggang santai. Teriakan seseorang membuatnya tersentak. Pun ia menoleh ke sumber suara. Maniknya membeliak lebar begitu melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.


Bruk!


Lexi berguling-guling di aspal hingga dahinya membentur bahu jalan yang membuatnya pingsan seketika.