
"Kenapa Austin lama sekali."
Dokter baru saja melakukan pemeriksaan dan sudah kembali ke luar. Darren tidak percaya dengan dirinya saat sedang berduaan seperti ini bersama Isabell. Khawatir jika dirinya akan melakukan sesuatu yang konyol terhadap Isabell yang berujung malu. Ia juga bisa melihat jika Isabell merasa tidak nyaman. Belum lagi perutnya yang terasa lapar, sementara tangannya belum bisa digerakkan seperti biasanya. Ia bisa mati tersedak jika meminta Isabell menyuapinya. Lalu apa yang harus ia lakukan?
"Apa aku perlu mencarinya keluar?"
"Tidak usah."
Pintu ruangan terbuka, mereka berdua kompak menoleh ke arah pintu dengan harapan bahwa Austin lah yang muncul. Tapi sepertinya semesta memang sedang bercanda dengan mereka. Bukan wajah Austin yang tampak melainkan seorang perawat yang membawa baki berisi beberapa jarum suntik.
"Saya akan menyuntikkan obat penghilang rasa sakit, Mr. Willson."
Darren berdehem, bagaimana caranya menolak suntikan obat tersebut. Suntikan yang harus disuntikkan ke dalam bokongnya. Isabell ada di sana. Jika ia membiarkan perawat itu melaksanakan tugasnya, Isabell akan melihat bokongnya dan jika ia meminta Isabell keluar, ia cemas, gadis itu merasa tersinggung.
"Aku tidak merasakan sakit sama sekali." Jelas ia berbohong. Luka di bahunya menghentak-hentak sejak ia bangun. "Kurasa aku tidak membutuhkannya."
Si perawat terlihat bingung, tidak yakin dengan pernyataan yang diucapkan Darren mengingat ia ada di sana saat melakukan operasi pada tulang belikat dimana peluru yang bersarang di sana cukup sulit dikeluarkan.
"Aku sungguh tidak merasa sakit," Ia menegaskan. Hal terakhir yang ia inginkan adalah memamerkan bokong di hadapan dua gadis di saat ia tidak berdaya. Hampir-hampir sebuah umpatan keluar dari mulutnya. Ketidakberdayaan ini membuatnya tidak mampu melakukan apa-apa, bahkan untuk sekedar melindungi bokongnya. Ini sungguh sangat tidak keren sekali. Dan kenapa perawat itu masih bergeming di sana?
"Dokter mengatakan aku harus segera menyuntikkan obatnya, Mr.Willson."
"Kau tidak harus jadi penurut seperti itu. Pasien tidak merasakan sakit dan pasien tidak ingin bokongnya disentuh. Kau tinggal melapor seperti itu padanya. Keluarlah!"
Darren melirik enggan ke arah Isabell. Tidak tahu apa ia salah melihat atau bagaimana, sudut bibir gadis itu menyunggingkan sebuah senyuman dengan menahan geli.
Darren bertanya-tanya, apa alasan di balik senyuman itu. Apakah Isabell sedang menertawakannya. Karena sepertinya gadis itu tahu tentang kebohongannya. Ya, saat mereka berdua tadi, ia memang kerap meringis menahan rasa sakit luar biasa akibat lukanya. Ck! Situasi ini benar-benar menjengkelkan. Dan ini bukan hanya tentang bokong yang ingin disuntik!
"Aku akan memanggilmu jika dia perlu suntikan," pada akhirnya Isabell yang mengetahui kebohongannya lah yang meyakinkan perawat itu agar keluar dari ruangan tersebut.
Malu, ini situasi memalukan yang membuatnya mati gaya. Suasana yang tadi canggung semakin dibuat canggung.
"Aku juga tidak suka jarum suntik," Isabell mencairkan keheningan yang berlangsung selama enam puluh detik.
"Sungguh?" Darren menukik sedikit alisnya. Seingat Isabell ini pertama kali ia melihat Darren memberikan ekspresi di wajah tampannya. Hanya sebelah alis yang menukik, tapi cukup memberi warna di wajahnya yang kaku.
"Ya. Jarum suntik benda mengerikan," Isabell mengidikkan bahu agar terlihat santai dan meyakinkan.
Sejujurnya, Isabell tidak takut jarum suntik. Setidaknya, sekarang di usianya yang sudah dewasa. Saat kecil, mungkin semua anak menakuti benda tersebut. Termasuk Isabell tentunya. Saat ia sakit, Ayahnya selalu mengatakan dengan disuntik, ia akan cepat sembuh. Isabell tidak menangis meski ia merasakan sakit dan takut luar biasa saat itu. Karena sakit lebih menakutkan daripada jarum suntik. Saat sakit, ia ingin dimanja dan diperhatikan, tapi ia tidak mendapatkan hal itu. Setiap ayahnya meluangkan waktu untuk menghiburnya, ibunya akan selalu mempunyai urusan yang membutuhkan bantuan ayahnya, mengharuskan ayahnya meninggalkannya di kamar, menangisi rasa sakitnya dalam diam. Isabell kecil benci dengan sakit dan juga jarum suntik. Tapi sekarang, ia gadis yang jarang sakit dan tidak takut lagi dengan jarum suntik.
"Mmmm," hanya gumaman yang keluar dari mulut pria itu. Tapi matanya tidak sedikit pun lepas dari sosok Isabell. Darren memperhatikan apa yang dikenakan Isabell pagi ini.
Kali ini Isabell tidak mengenakan dress panjang yang menutupi kakinya, gadis itu mengenakan dress dengan motif floral dengan warna lembut di bawah lutut. Sangat manis. Darren berlama-lama menatap ke bawah, ke kaki yang mengenakan sandal rumah sakit yang juga kebesaran.
Perlahan ia menaikkan tatapannya. Keningnya sedikit berkerut saat menyadari rambut panjang yang biasanya dibiarkan terurai kini digelung asal hingga mempertontonkan leher mulusnya. Darren berlama-lama menatap dagu Isabell, bagian wajah yang sangat ia sukai selain mata. Dagu itu berbelah, sama seperti bibir bawah Isabell yang memiliki garis tepat di tengah seolah membagi bibir itu menjadi dua bagian.
Rasa pening menyerangnya, perlahan menyerang seluruh sarafnya. Darren tahu ini bukan efek dari luka yang ia derita, melainkan hentakan hasrat yang menuntut ingin meluapkannya kepada objek yang menciptakan gelora yang datang tanpa permisi.
"Ka-kau belum menyentuh sarapanmu,"
Mendengar suara Isabell yang gugup, membuat Darren tersentak. Ia merasa tertampar dan malu atas tindakannya yang memandang Isabell dengan sorot mata menilai secara terang-terangan. Saat mata mereka beradu, Darren mengumpat dirinya. Bibir gadis itu gemetar, menyiratkan ketakutan yang begitu kentara. Sial! Ia membuat Isabell takut.
Apa yang akan dipikirkan Isabell tentang dirinya? Pria minim akhlak yang mencuri pandang ke arah kekasih saudaranya sendiri? Pria mesum yang menjijikkan?
Pemikiran tersebut membuatnya gelisah dan cemas. Kecemasan yang berlebihan itu membuatnya marah. Dengan segera ia memalingkan wajah.
"Keluarlah,"
"Hah?"
"Tinggalkan aku sendiri."
"Ba-bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?"
Pertanyaan Isabell kembali membuat Darren menoleh ke arahnya dengan cepat. Pertanyaan itu terdengar begitu intim dan manis. Tapi Darren jelas tahu bahwa pemahamannya dan pemahaman Isabell tentang pertanyaan itu jelas berbeda. Isabell tidak tahu dampak pertanyaan tersebut terhadap reaksi tubuh Darren, terutama hatinya yang dengan lancangnya menghangat.
Andai benar Isabell tidak akan meninggalkannya karena memang ingin tinggal dengannya berlama-lama, bukan karena terpaksa seperti sekarang hanya karena dia adalah kekasih saudaranya yang kebetulan menjaganya. Kemana si Austin keparat itu?
"Apakah kau sedang bertanya kepadaku bagaimana caranya keluar dari ruangan ini? Kau tinggal memutar tubuhmu, melangkahlah hingga mencapai pintu, gunakan tanganmu untuk membuka pintu. Selamat, kau sudah berada di luar."
Darren benci mendengar nada suaranya yang sinis. Dan ia lebih marah saat melihat Isabell seperti baru saja mendapat serangan di perut. Gadis itu sampai-sampai mundur dua langkah dengan wajah terkejut yang tidak bisa Isabell sembunyikan.
Selain kesinisan dalam nada suaranya, Darren memperlakukan Isabell seperti gadis tolol yang otaknya tidak berkembang.
Apakah Isabell sakit hati? pertanyaan ini menyerang sanubarinya membuat pening di kepalanya semakin menjadi, mengalahkan pening akibat hasrat memalukan yang ia rasakan tadi.
"Kau sungguh mengusirku?"
Tanpa sadar sebuah makian keluar dari mulut Darren dan Isabell yang polos mengira jika umpatan itu ditujukan kepadanya.
Maniknya membeliak dan berkaca-kaca.
"Kau tinggal mengatakannya dengan sopan jika kehadiranku di sini merusak pemandanganmu. Tidak usah berlaku kasar seperti itu!" Isabell mengangkat dagunya, menatap Darren dengan sinis, berharap cairan yang menggenang di pelupuk matanya tidak meluruh.
"Kurasa aku sudah mengatakannya dengan cukup jelas."
"Matamu yang sinis terbiasa dimanjakan oleh penampilan para gadis-gadis menarik."
"Kau sangat mengenalku," Darren menanggapi dengan santai.
Saat Isabell hendak membuka mulut, pintu diketuk dari luar. Darren melirik ke arah Isabell, lirikan yang artinya tidak diketahui oleh Isabell. Apakah pria itu sedang bertanya kepadanya siapa yang datang atau menyuruhnya keluar sekalian membuka pintu mempersilakan tamunya masuk.
Isabell memilih opsi kedua. Dengan kedongkolan yang masih bercokol di hatinya, ia melangkah lebar, menghentakkan kaki menyuarakan pemberontakan. Darren menatap kaki gadis itu, mengeerang dan mengumpat dalam saat bersamaan
Isabell membuka pintu, sebuah senyuman yang sangat indah dan ramah menyambutnya. Jossie dan kedua anaknya.
"Hai,"
"Hai," Isabell menampilkan senyum meski agak terlambat. "Hai, Jely, Jorell," mengusap kedua kepala bocah kembar itu. Kedua bocah itu kompak menyahut sapaannya.
"Kami datang untuk menjenguk Uncle," Jely menyuarakan maksud kedatangan mereka.
"Ya, apakah dia bisa dijenguk. Kemarin dia meminta agar berpamitan sebelum kami pulang. Dan kurasa kami memang perlu berpamitan." Jossie menjelaskan.
"Oh, tentu saja. Kebetulan dia sudah bangun," Isabell meminggirkan tubuhnya, memberi jalan kepada Jossie dan anak-anaknya.
"Jossie?" Darren menyambut mereka.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku masih belum bisa menggerakkan tanganku dan ini sedikit menyiksa."
"Oh, aku turut prihatin. Pasti sangat tidak nyaman," Jossie melirik nakas, di sana ada baki berisi makanan khas rumah sakit yang belum disentuh sama sekali.
"Kau belum sarapan?'
"Seperti yang kukatakan, tanganku sedikit menyulitkanku?"
"Butuh bantuan?"
"Aku akan sangat berterima kasih, Jossie. Ya ampun, aku lapar sekali."
Isabell memilih duduk di sofa, memperhatikan dan mendengar percakapan mereka.
"Aku membawa makanan, Jorell dan Jely membeli buah dan bunga, Jely menyelipkan kartu ucapan dengan tulisan tangannya."
Darren menatap kedua bocah tersebut, senyum tipis tapi hangat menyungging di sudut bibirnya. Isabell yang melihat hal itu merasa tercubit. Pria itu bersikap sinis dan dingin kepadanya.
Ya, dia menyukai dandanan yang menyegarkan mata. Elegan dan terlihat anggun. Isabell berbisik dalam benaknya.
"Terima kasih Jorell, Jely, kalian manis sekali. Boleh aku membaca kartu ucapannya?"
"Tentu saja. Mom tidak membantuku sama sekali, kuharap kau bisa membaca tulisanku."
Semoga kau cepat sembuh. Kau adalah orang yang kuat jadi aku yakin kau akan segera kembali sehat. Ayo sembuh aku ingin bermain denganmu. Love, Jely.
Darren semakin melebarkan senyumnya. "Indah sekali." Saat Darren hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Jely, ia meringis.
Jossie refleks menyentuh tangannya, "Jangan terlalu banyak bergerak, luka di bahumu belum juga kering. Kau ingin makanan yang kubawa atau buah yang dipilihkan Jorell untukmu?"
"Ah, Jorell, terima kasih, boy!" Darren mengepalkan tinju dan Jorell melakukan hal yang sama. Bocah laki-laki itu mendekat ke arahnya dan menempelkan tinju mereka.
"Apa kau keberatan jika aku akan memakan buah pemberianmu nanti, Buddy?"
"Kau pasti sangat lapar sekali."
"Ya," aku Darren terus terang.
"Makanan rumah sakit sangat tidak enak." Jely berkomentar.
"Ya, aku setuju denganmu." Darren membenarkan.
"Mom membawa sesuatu."
"Aku sungguh sangat berterima kasih," Darren memperhatikan Jossie yang sedang mengeluarkan makanan satu persatu dari dalam kantongan.
"Jely, Jorell, duduklah yang manis dengan Isabell.".
"Mom akan menyuapi Uncle?"
"Ya, Darren butuh bantuan."
"Selamat menikmati sarapanmu, Uncle," Jely yang manis menunduk memberikan sebuah kecupan hangat di pipi Darren.
"Maaf, aku merepotkanmu, Jossie. Tapi menahan lapar benar-benar membuatku tersiksa."
"Tidak ada yang menyuruhmu menahan lapar," celetukan itu terlontar dari mulut Isabell. Darren mengarahkan pandangannya ke arah Isabell yang berpura-pura sibuk dengan kedua bocah kembar tersebut.