H.U.R.T

H.U.R.T
Aku Ikut Denganmu



"Apa yang kalian bicarakan di bawah?" Zenia pura-pura sibuk memasang sarung bantal agar pertanyaannya terdengar seperti angin lalu.


"Aku dan Steve?"


"Ya. Siapa lagi."


"Tidak banyak. Kenapa?"


"Menurutmu, apa dia sangat membenciku, Zetta?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Zenia tidak langsung menjawab. Ia juga bingung bagaimana harus menjawabnya. Steve tidak pernah mengatakan kepadanya secara langsung bahwa pria itu membenci dirinya. Hanya saja sikap pria itu selalu berhasil mengusiknya.


"Entahlah. Dia seperti memusuhiku, kau bisa melihatnya sendiri. Kau dan dia bisa bicara santai, begitu pun pada amor."


"Kau terusik?"


"Ya," akunya dengan jujur. "Aku merasa tidak nyaman dan selalu bertanya-tanya tentang kesalahanku."


"Abaikan saja dia jika kau merasa tidak punya salah. Ini sudah selesai. Ayo sebaiknya kita pergi."


Zenia mengangguk, tapi langkahnya terhenti begitu melihat tata letak meja yang membelakangi pantai. Tirainya juga dibiarkan tertutup.


"Bantu aku memindahkan letak meja ini, Zetta." Zenia membuka tirai yang langsung memamerkan keindahan pantai. Dari sana, Steve bisa memandangi matahari tenggelam.


"Astaga, dia bisa marah jika kita menyentuh barang-barangnya, Zenia. Tidak, sebaiknya kita pergi dan tarik tirainya kembali. Dia berpesan kepada Mom agar tidak membuka tira kaca."


"Apa dia bermusuhan dengan kaca?" Zenia mengerutkan kening. Spot pemandangan dari kamar Steve sangat indah. Sayang sekali jika tidak dinikmati.


"Aku tidak tahu. Ayo, kita turun." Zetta segera menarik tangan saudarinya untuk keluar dari sana.


"Kapan kau kembali ke kota?"


"Tiga hari lagi cutiku habis. Kita tidak akan bisa bertemu untuk sementara waktu. Aku akan disibukkan dengan pekerjaan yang begitu banyak. Besok, teman-temanku akan datang, rencananya mereka aka berlibur selama dua hari. Jika mereka menyukai tempat ini, mungkin mereka akan memperpanjang masa liburan mereka. Kuharap salah satu dari mereka ada yang membuatmu tertarik. Pasti sangat menyenangkan," ucap Zetta disertai senyuman nakal yang langsung mendapat cubitan dari kakaknya.


"Aku tidak suka brondong!"


"Banyak dari mereka yang seusia darimu dan bahkan ada yang lebih menawan dari Steve," Zetta sengaja berbisik di telinga Zenia. "Ini pertama kalinya kau bertemu dengan teman-temanku karena ini pertama kalinya aku mengizinkan mereka menemuiku di sini. Mereka akan menyewa rumah yang di samping kita. Aku akan pergi ke desa malam ini, bertemu dengan Donna, orang yang bekerja di kantor real estat untuk membayar uang muka."


Di pulau itu, hanya ada satu desa yang terdiri dari beberapa bangunan berderet di dekat dermaga feri. Toko serba ada milik Mrs. Dowson, tempat penyewaan kapal, dua pom bensin, kantor real estat dan sebuah cafe dan resto bernama Snooby's. Cafe itu meraup keuntungan banyak karena satu-satunya cafe yang menyediakan hiburan malam bagi pengunjung.


"Aku akan meminjam mobil Steve. Kau ingin membeli sesuatu? Tulis saja daftar yang ingin kau beli, aku akan membelanjakannya nanti."


"Sepertinya hanya pembalut yang kubutuhkan. Mom mengatakan agar kita mengajak Steve untuk makan malam bersama. Kau saja... Haccimm... kau saja yang mengajaknya," Zenia mengusap hidungnya yang gatal. Sepertinya ia mulai flu. Ck! Pertahanan tubuh yang sangat lemah!


"Sepertinya kau akan flu lagi. Kau sudah meminum obatmu hari ini?"


Zenia mengangguk, "Mom memberikannya tadi. Mungkin sebaiknya aku meminum obat flu sebelum semakin parah."


"Apa yang parah?" Steve tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka.


Kedua gadis itu kompak menoleh ke arahnya.


"Mom mengatakan agar kami mengajakmu makan malam di rumah. Jika kau memiliki menu makan malammu sendiri sebaiknya kau menolaknya, tapi jika tidak, sebaiknya kau ikut kami sekarang. Makan malam jam 18.30."


___


"Terima kasih sudah mengundangku untuk ikut malam, Mrs. Nolan." Steve menatap wanita setengah baya saat wanita yang memiliki tiga putri yang sangat cantik itu hanya mendelik sebagai respon atas ucapan basa basi yang dilontarkannya.


"Hanya makanan seadanya. Kuharap kau menikmatinya," pada akhirnya Rose berkata.


"Sangat menikmatinya." Steve mulai mengisi piringnya begitu juga dengan yang lain.


Di tengah acara makan malam, Zenia tiba-tiba bersin.


"Maaf," ucapnya. Dan semua kembali menikmati makan malam. Satu menit kemudian Zenia bersin lagi secara beruntun.


Steve yang duduk di sebelahnya, refleks mengulurkan tangan menyentuh dahi gadis itu. Pria itu langsung berdiri begitu merasakan suhu tubuhnya yang panas.


"Kau demam. Berapa lama kau berendam di air laut?" Steve menatapnya penuh khawatir. Atau itu hanya perasaan Zenia saja.


"Hanya sebentar."


Rose menyentuh kening putrinya, pun wanita itu segera melintasi dapur, membuka satu-satunya lemari yang ada di sana. Mengambil beberapa obat untuk diminum putrinya.


Zenia mengambil butiran pil yang diberikan ibunya dan langsung menelannya.


Ponsel Rose berdering, panggilan dari suaminya.


"Mrs.Nolan?" terdengar sapaan dari seberang telepon yang bukan merupakan suara suaminya.


"Ya. Apa terjadi sesuatu yang buruk dengan suami saya?" Rose terlihat cemas. Kesehatan Peter akhir-akhir ini memang sering memburuk. Diabetes yang dialaminya sering membawa masalah."


"Ya, Mr.Nolan dilarikan ke rumah sakit. Dia tiba-tiba pingsan. Kuharap kau bisa segera datang ke Savannah."


Rose lemas seketika, Zetta yang berada di samnpingnya segera menahan tubuh ibunya agar tidak ambruk.


"Ya, aku aka segera datang."


"Dad masuk rumah sakit lagi?" Zenia mendekati ibunya. Mengusap lengan ibunya memberi kekuatan.


Rose menganggukkan kepala, "Dan Mom harus berangkat ke kota malam ini juga."


"Aku akan menemanimu, Mom." Zenia menawarkan diri.


Rose langsung menggeleng, "Kondisi tubuhmu sedang tidak memungkinkan. Mom dan Amor yang akan pergi. Kau dan Zetta tinggal di sini. Zetta akan mengantar Mom ke desa untuk menyewa kapal."


"Aku sudah melakukannya." Steve menimpali. "Kapal sudah siap, segeralah pergi."


"Aku akan mengantar Mom dan Amor, berikan aku kunci mobilmu. Kebetulan aku ada urusan ke desa."


Steve langsung memberikan kunci mobilnya. Mereka mengantar kepergian Rose dan Amor hingga ke depan pintu.


"Zenia, jangan lupakan obatmu dan tidurlah lebih awal."


Zenia menganggukkan kepala, "Katakan kepada Daddy, aku merindukannya dan ingin dia segera pulih dan pulang ke rumah."


Rose memeluk Zenia sebelum masuk ke dalam mobil.


"Steve milikku, jangan merayunya!" Sempat-sempatnya Amor memberikan ancaman.


"Berkendaralah dengan penuh hati-hati, Zetta. Aku menunggumu, segeralah pulang setelah Mom dan Amor naik ke kapal." Tersirat kekhawatiran juga kecemasan di dalam nada suaranya.


Zetta mengangguk, "tetaplah bersama Steve sebelum aku pulang."


Zenia tidak menjawab. Mobil pun bergerak meninggalkan mereka. Suasana mendadak hening.


"Kau bisa pulang." Zenia akhirnya bersuara.


"Kau mengusirku?"


"Mom menyuruhku untuk tidur lebih awal."


"Zetta mengatakan agar kita tetap bersama sampai dia kembali," Steve menimpali.


"Aku sudah mengantuk. Aku tidak bisa menemanimu."


"Aku tidak melarangmu untuk tidur. Masuklah ke kamarmu. Aku akan menunggu di sini."


Pada akhirnya Zenia dan Steve memilih duduk di teras rumah selama satu jam tanpa berbicara. Hari sudah semakin gelap dan belum ada tanda-tanda Zetta muncul.


"Argghhh..." Zenia tiba-tiba menjerit dan melompat saat keadaan berubah gelap gulita. Aliran listrik mati.


"Aku di sini. Aku di sini. Tenanglah." Zenia sudah ada di dalam pelukan Steve.


"Ke-kenapa lampunya harus mati sekarang?"


"Aku mana tahu."


"Ba-bagaimana ini? Biasanya akan sangat lama." Zenia mendorong tubuh Steve agar melepaskan pelukannya. "Maafkan aku, aku refleks."


"Sebaiknya kita ke rumahku. Rumahku memiliki generator."


Zenia tampak ragu. Sebelumnya, ia tidak pernah berduaan dengan pria itu atau pria mana pun. Saat ini, ia tidak punya pilihan. Ia benci gelap. Ia takut sendiri. Dan saat ini hanya Steve solusi dari ketakutannya itu. Pertanyaannya, apakah ia akan aman? Tidak... tidak... Ia justru takut pria itulah yang tidak aman bersamanya. Zenia jelas sadar bagaimana pengaruh Steve terhadap dirinya.


"Jika kau tetap memilih bertahan di sini, aku tidak bisa memaksa." Steve segera berdiri dan Zenia pun sontak ikut berdiri.


"A-aku ikut denganmu."