
"Aku! Aku menemukannya!" Lexi berseru kegirangan. Rasa takutnya sirna seketika begitu peluru yang bersarang di tubuh Steve berhasil ia keluarkan.
''Kerja bagus. Kau hebat, Lexi. Haruskah kita merayakannya?"
Percayalah, kalimat yang dilontarkan Steve terdengar seperti pujian, tapi jika menelisik dari mimik wajah pria itu, terlihat seperti sedang mengejek. Setidaknya itu lah dugaan Lexi melihat mimik Steve yang flat bagaikan jalan tol.
"Apa yang harus kulakukan dengan peluru ini?" Lexi turun dari ranjang, berdiri di hadapan Steve. Gaun mewahnya kini penuh dengan darah, pun dengan tangan mulusnya.
Steve menatapnya dengan lekat, bertanya-tanya di dalam hati, apakah Lexi menyadari penampilannya yang tercemari dengan darah.
"Kau penuh dengan darah."
Lexi memperhatikan penampilannya, kemudian ia mengangkat kepala, menatap pria itu. "Aku baru saja melakukan pekerjaan hebat yang luar biasa. Menyelamatkanmu. Tentu saja aku harus penuh dengan darah. Ini tanda keberhasilanku!"
Steve mengulumm senyum, raut wajah Lexi begitu menggemaskan. Wajah panik dan takut itu tidak terlihat lagi. Kini hanya rasa bangga yang atas prestasinya yang terpancar dengan jelas.
"Ya, sama seperti diriku yang harus mendapatkan luka penuh darah saat menyelamatkanmu"
Raut wajah Lexi kembali berubah. Kali ini rasa bersalah yang begitu kentara. "Maafkan aku. Harusnya kau tidak perlu menyelamatkanku"
"Kau lebih memilih peluru itu bersarang di tubuhmu?" Steve mengangkat dagu, mengarahkannya kepada peluru yang masih ada di tangan Lexi lengkap dengan penjepitnya.
Lexi menggeleng, "Darren sudah memberiku peringatan bahwa akan ada kerusuhan. Ayah dan kedua saudaraku pasti akan melindungiku.''
"Jadi maksudmu, apa yang kulakukan adalah perbuatan yang sia-sia?" Rahangnya sedikit mengeras. Untuk pertama kalinya ia menunjukkan reaksi atas ucapan seseorang. Steve mulai meragukan kendali dirinya.
Gelengan kepala Lexi membuat emosinya kembali surut. "Bukan seperti itu maksudku. Sungguh. Aku bahkan keluargaku pasti sangat berterima kasih dengan apa yang kau lakukan. Hanya saja aku tidak suka melihat orang lain terluka hanya karena diriku." Manik indah itu berlinang, memandang Steve dengan tatapan sayu. Hanya orang bodoh yang tidak mengerti makna dari tatapan gadis itu. Permohonan maaf yang begitu tulus. Steve mengepalkan tangan, ingin rasanya ia melayangkan tinju meluapkan emosi yang muncul kembali. Sial! Negara ini beserta penduduknya benar-benar membuatnya kehilangan kendali. Benarkah? Atau hanya Lexi yang membuatnya tidak bisa bertindak seperti yang sudah ia rencanakan!
Tidak! Tidak bisa. Lexi tidak boleh merusak rencanaku.
"Sayang sekali, meski kau tidak menyukainya, faktanya aku terluka karena dirimu, Tuan putri."
Lexi terkesiap mendengar penuturan Steve. Rasa bersalah di hatinya semakin menjadi. Apa yang dikatakan pria itu benar adanya. Karena dirinya, Steve mendapatkan tambahan luka di tubuh pria itu.
"Maaf."
"Ya, memangnya apa yang bisa kau lakukan?"
"A-aku juga menyelamatkanmu, mengeluarkan peluru ini." Lirihnya seraya mengarahkan peluru itu ke hadapan Steve.
"Kau benar. Lalu bagaimana dengan lukanya? Masih menganga. Kau harus menjahit juga menghilangkan bekasnya."
"Dokter keluargaku akan melakukannya."
"Aku juga tidak meminta kau menyukaiku." Jawaban telak Lexi membuat Steve terdiam. Keduanya saling mengunci tatapan masing-masing. Sudah pasti Lexi yang terlebih dahulu memalingkan wajah. Tepat di detik ke 20. "Dan aku juga tidak menyukaimu."
Steve menyunggingkan senyum sinis. "Ya, itulah yang kuharapkan." Steve berdiri, memungut kemejanya, lalu mengenakannya dalam diam.
"Kau mau pergi?"
"Kau tidak berharap aku akan tinggal, bukan? Aku juga mulai jengah di sini. Hampir satu jam, dan keluargamu tidak muncul juga. Tidakkah itu menjadi pertanyaan, Nona?"
Satu jam? Lexi tidak menyadari hal itu. Tapi tunggu dulu... Apa yang dikatakan Steve juga benar adanya. Keluarganya bukan orang yang akan tinggal diam membiarkannya bersama orang asing yang bahkan sudah dituduhkan Darren sebagai penyusup.
"Sampai bertemu di ajang besok." Steve melangkah. Ia merasa ada yang tidak beres. Apakah ini jebakan atau orangnya yang sedang membuat masalah?
Steve membuka pintu, sebuah senjata menyambutnya dengan sangat manis. Sepasang mata elang, menatapnya dengan bringas. Layaknya singa kelaparan yang siap untuk menyantap buruannya.
"Jika tidak ingin peluru ini bersarang di kepalamu, perintahkan anak buahmu menurunkan senjata, Keparat!"
Steve memiringkan kepala dengan santai, menatap ke depan, ke balik punggung pria di hadapannya itu. Ya, anak buahnya berulah. CK! Ini di luar perkiraannya. Rencananya hancur sudah. Dua pria menodongkan senjata tepat di kepala dan punggung tetua Willson, Pax Willson. Alena, ibu dari pria yang menodongkan senjata kepadanya juga dijadikan sandra. Wanita itu dikepung, dibiarkan duduk di sofa dengan beberapa senjata yang juga diarahkan kepada wanita cantik itu.
"Jadi dia adalah tuan para penyusup ini?" Celetukan santai dari sudut ruangan menarik perhatian Steve. Austin terkapar di lantai dengan wajah babak belur, pun dengan beberapa wajah orang-orangnya.
"Darren, apa yang kau lakukan,- Astaga, Mom, Dad?" Lexi berlari menghampiri ibunya. "Singkirkan senjata kalian dari ibuku!" Amuk Lexi sembari mendorong satu senjata menjauh dari ibunya.
"Pikirkan saja dirimu, Nona kecil!" Seorang pria menarik Lexi, menjadikan gadis itu sebagai sandra. Sebuah tangan kekar menghimpit lehernya.
"Lepaskan dia, Bajingan!!!" Seruan itu berasal dari Darren dan Austin. Satu tendangan di wajah Austin kembali mendarat.
"Oh, sial! Wajahku bisa rusak jika begini, Bangsyat!" Umpat Austin yang memang sangat menjaga ketampanan wajahnya.
"Aku hanya perlu menggerakkan jariku, dan pelurunya akan menembus kepalamu." Ancaman Darren ditanggapi Steve dengan decakan malas.
"Situasinya sudah sangat jelas. Para pria di belakangmu juga memiliki apa yang kau miliki." Ucapnya ringan tanpa mengalihkan tatapan dari Lexi yang berusaha melepaskan cengkraman di lehernya. "Gadis itu kesulitan bernapas, Sam!" Desisnya sembari menyingkirkan senjata Darren dari hadapannya. "Aku lah yang memegang kendali, Dude." Tukasnya masih dengan nada juga ekspresi datar. Kalimat terakhir itu ditujukan kepada Darren.
"Kau baik-baik saja, Steve?"
"Kau lah yang tidak akan baik-baik saja, Sam, jika kau tidak menyingkirkan tanganmu dengan segera. Jack, Luke, Jeff," Steve menggerakkan ekor matanya. Keempat pria itu serempak menarik senjata mereka menjauh dari Lexi dan ibunya.
"Brengsek...!"
Steve berbalik, menghindar dengan gesit terjangan Darren. Darren tidak menyerah, pria itu kembali menyerang. Mendorong Steve hingga punggung pria itu terbentur ke dinding. Darren menarik kerah kemeja Steve, menatapnya dengan tatapan menghunus. Steve menyeringai, dan di detik selanjutnya tubuh Darren membungkuk. Ya, Steve melayangkan tinju di perut pria itu.
"Emosi hanya menghilangkan fokusmu." Steve menepuk pundak Darren sembari berjalan dengan santai. Berdiri tepat di hadapan Pax Willson. "Aku bertanya-tanya kenapa dokter yang kau janjikan tidak datang memeriksa lukaku. Ternyata orangku sedang mengacau. Maafkan aku, Mr. Willson." Steve menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan permohonan maaf yang seolah memang dari hatinya. "Hari ini harusnya menjadi hari yang begitu bersejarah untukmu mengingat ini adalah ulang tahun pernikahanmu. Tapi terkadang, semua memang tidak sejalan dengan yang kita inginkan. Bukan begitu, Mr. Willson?"