H.U.R.T

H.U.R.T
Bukan Tipeku, Bukan Levelku!



New York, 2022.


"Menikahlah denganku!"


Wajah Lexi bersemu merah mendengar lamaran bernada perintah itu. Jantungnya bergemuruh tidak menentu. Ia tersentuh dan juga bahagia. Sebuah cincin yang sangat indah terpampang di hadapannya. Lexi jatuh cinta pada desain sederhana yang memancarkan keindahan juga kemewahan. Hatinya berteriak agar segera menerima cincin tersebut. Jiwa kewanitaannya meronta agar pria yang melamarnya itu segera menyematkan cincin tersebut di jemarinya. Tapi tunggu dulu, siapa pria itu? Wajahnya tidak terlihat sama sekali. Seberkas cahaya menutupi wajah itu. Sangat menyilaukan.


Peduli setan dengan wajah pemilik cincin tersebut. Logika dan hatinya sejalan meneriakkan agar Lexi mengambil cincin tersebut. Sebelum tangannya berhasil menggapai perhiasan itu, seorang wanita yang datang dari arah belakangnya datang mengambil cincin lamaran itu.


"Tentu saja. Aku menerima lamaranmu. Bukankah ini impian kita?"


Kedua insan tersebut berpelukan, lalu saling bergandeng tangan, pergi menjauh dari hadapan Lexi. Lexi yang menyaksikan secara langsung merasakan jantungnya terhujam sembilu. Perih dan sangat menyakitkan.


"Lexi! Petaka! Ini petaka besar! Bangun lah!! Wllson Almour dalam masalah!"


🦉


Ia kembali. Berdiri di depan kantornya yang baru, Steven membuka bilah-bilah kerai jendela dan memandangi hiruk pikuk lalu lintas yang padat di sekitar Lincoln Center, dua puluh tingkat di bawah. Angin dingin bertiup di sudut-sudut jalan, persis seperti bus-bus kota yang menghamburkan asap knalpot ke udara yang memang sudah terpolusi.


Hari ini, kerja kerasnya membuahkan hasil. Ribuan jam yang ia habiskan untuk menyusun rencana, mengatur langkah dan bekerja keras, akhirnya membawa hasil. Tidak ada yang tahu berapa lama waktu yang sudah ia habiskan dan berapa banyak air mata yang ia curahkan untuk menanam modal guna untuk kepulangannya ke sini, New York.


Di sini, banyak sekali orang-orang yang harus menebus dosa mereka terhadapnya, terhadap Olivia. Pembalasan dendam yang diimpi-impikannya sudah terbayang di pelupuk mata. Sekarang, ia memiliki kekuasaan untuk mewujudkannya.


Tok.Tok


Ketukan di pintu mengembalikannya ke masa kini.


"Masuk," perintahnya tanpa menoleh ke belakang. Ia tetap berdiri menjulang tinggi di depan jendela kaca.


"Ms.Willson sudah ada di sini, Sir."


"Ya," sahutnya singkat menanggapi pemberitahuan yang diberitahukan sang sekretaris.


"Silakan masuk," Debora mempersilakan.


Lexi melangkah memasuki ruangan. Pintu di balik punggungnya sudah tertutup. Gadis itu mengembuskan napas jengah. Ini adalah akhir pekan, harusnya ia masih berada di ranjang bermalas-malasan.


Lily, yang bekerja sebagai asistennya semenjak keluarga sahabatnya itu jatuh bangkrut tiga tahun yang lalu. Wanita itu mendatanginya di tengah mimpi indah yang berakhir buruk, menyampaikan berita yang tidak kalah buruknya bahwa kerja sama Willson Armour dengan Justin Hilfiger diputuskan secara sepihak. Fashion show akan digelar tiga hari lagi dan sebelumnya mereka sudah sepakat untuk mengadakan kolaborasi. Justin Hilfiger memiliki sekumpulan model yang dibutuhkan Lexi untuk memasarkan busananya. Sementara Justin Hilfiger, masa kejayaannya sedang memudar. Busana mereka kurang diminati bukan karena fashionnya yang ketinggalan zaman tapi karena curangnya para pesaing hingga berhasil membuat mereka jatuh.


Lexi menawarkan kerja sama, berjanji akan memasarkan busana mereka di ajang fashion show nanti. Busana mereka akan disandingkan.


Dan pagi ini, dia dikejutkan jika Justin memutuskan kerja sama secara sepihak.


Lexi baru saja hendak melayangkan protes tapi melihat punggung pria yang ada di hadapannya, kalimat yang hendak ia lontarkan kembali ditelan. Ia tahu pria yang ada di hadapannya itu bukan Justin. Justin tidak bertubuh tegap dan tinggi.


"Di mana Justin?" Lexi melintasi ruangan dan berhenti di balik meja berukiran rumit. "Hei, Tuan, aku bertanya padamu." Lexi berseru setelah menunggu dua menit ia tetap tidak menerima jawaban.


"Apakah mungkin dia tuli?" gumamnya. Lexi pun berjalan mendekat ke arah pria tersebut. Kini ia berdiri tepat di belakang pria itu. Di tepuknya punggung si pria.


Secara perlahan, pria itu akhirnya berbalik. Manik keduanya beradu. Suasana mendadak hening. Suara lalu lintas pun tidak terdengar lagi oleh mereka. Dunia seakan berhenti berputar.


"Di-dimana Justin?" Lexi lah yang pertama kali membuka suara. Dialihkannya pandangannya ke sembarang arah. Perutnya tiba-tiba melilit, jantungnya berdetak tidak karuan. Pria di hadapannya mengingatkannya pada cinta masa lalunya. Ada kemiripan, tapi Lexi tahu yang di hadapannya itu bukan Stevennya. Pria yang ia cintai sudah meninggal 13 tahun lalu.


"Justin?"


Suara pria itu berat dan serak. Lexi bertanya-tanya apakah Steven juga memiliki suara yang sangat seksii seperti ini?


"Ya, Justin. Pemilik Justin Hilfiger."


"Sekarang aku pemiliknya, Lexi."


Darah Lexi berdesir seketika untuk alasan yang tidak ia mengerti. "Ba-bagaimana kau tahu namaku?"


"Tertulis di surat kontrak."


Oh, ya, kenapa aku melupakannya.


"Dimana Justin?" Lexi mengulangi pertanyaannya.


Pria itu melihat jam tangannya, "Mungkin saat ini dia sudah berada di udara."


"Jadi apa maksud dari kalimatmu yang mengatakan bahwa kau adalah pemilik Justin Hilfiger? Hm, bolehkah aku duduk?"


"Silakan." Steven mengikuti. Keduanya duduk berseberangan. Tidak banyak yang berubah dari Lexi. Masih saja cantik layaknya tuan putri meski saat ini Lexi datang masih mengenakan piyama polos merah muda. Rambut keriting gadis itu diikat asal begitu saja. Sepertinya Lexi juga tidak sadar jika ia masih mengenakan sendal rumah. Kuku berwarna senada dengan piyamanya terlihat sangat cocok dengan kulitnya yang putih.


"Jadi Tuan..."


Steven mengidikkan bahu kemudian menarik uluran tangannya. "Jadi kau datang untuk mempertanyakan kontrak kerja yang kubatalkan?"


"Jadi kau yang melakukannya?"


"Ya."


"Kau tidak bisa melakukannya begitu saja."


"Buktinya aku sudah melakukannya, Lexi. Steven Hilfiger akan tampil dengan model dan busana rancanganku. Sampai jumpa tiga hari lagi. Silakan pergi."


"Apakah kau baru saja mengusirku?"


"Waktuku tidak senggang, Ms.Willson."


Lexi mengembuskan napas kasar. Selain sombong, pria di depannya ini juga tidak mempunyai sopan santun. Bagaimana mungkin ia sempat berpikir jika Stevennya mirip dengan Steven yang ada di hadapannya. Akh! Stevenku ternistakan!


"Kau pikir waktuku senggang, heh? Bye!" Lexi berdiri, mengangkat dagunya dengan tinggi sembari melayangkan tatapan menghunus sebelum ia berjalan menuju pintu keluar.


"Berhenti," ucap Steven setelah Lexi berada di ambang pintu.


Lexi pun berhenti, memutar tubuhnya menghadap pria itu.


Steven mengembuskan napas jengah sebelum ia berdiri. Ditariknya alas meja untuk dibawa bersamanya. Lalu dihampirinya Lexi yang masih mengangkat dagu dengan angkuh.


"Apakah kau tidak menghitung atau pun menghafal waktu bulananmu, Lexi?"


Lexi masih mencerna arti dari pertanyaan pria itu sementara Steven sudah mencondongkan tubuh ke depan dengan kepala yang melewati wajah Lexi. Otomatis keduanya bisa menghirup aroma tubuh masing-masing. Wangi tubuh Lexi juga masih tetap sama seperti yang ada di dalam ingatannya. Pun ia mengulurkan tangan ke balik pinggang Lexi yang membuat gadis itu terkejut.


"A-apa?"


"Pakailah yang bersayap agar tidak bocor." Tukas pria itu dengan lempeng. Ia pun berjongkok, mengubah alas meja tersebut menjadi sebuah rok yang manis untuk menutupi noda darah di bokong gadis itu.


"Hah? Apakah aku datang bulan?" Lexi sontak memegang bokongnya dengan kedua tangan. "Pantas saja perutku melilit."


"Selesai." Steven berdiri. Nodamu berhasil ditutupi.


"Oh."


"Oh? Terima kasih, itulah kata yang harus kau ucapkan, Lexi."


"Oh ya, terima kasih."


"Hm, silakan." Steven membuka pintu untuknya, mempersilakannya pergi keluar.


Lexi benar-benar kehilangan kata-kata. Pria yang di hadapannya ini lebih menyebalkan dibanding kedua saudaranya.


Lexi sengaja menghentakkan kaki dan berjalan keluar.


"Ms.Willson?"


Panggilan pria itu kembali menghentikan langkahnya.


"Apa lagi?" Lexi memutar bola matanya.


"Sebelum keluar rumah, sebaiknya kau memperhatikan penampilanmu."


Lexi menunduk memperhatikan penampilannya dan ia pun baru menyadarinya.


"Kenapa? Apa piyamaku membuatmu tergoda?"


Steven menyunggingkan senyum sinis, lebih sinis dari senyuman yang biasa ditunjukkan Darren kepada para wanita yang mengejar saudaranya itu.


"Kau bukan tipeku." Steven menutup pintu tepat di depan wajah gadis itu.


Mendapat perlakuan sedemikian rupa membuat hidung Lexi kembang kempis. Didorongnya kembali pintu tersebut, melangkah lebar lalu menghadang Steven dengan kedua tangan membentang lebar.


Steve menukik alisnya, menyorot malas kepada Lexi.


Lexi menurunkan kedua tangannya meletakkannya di pinggang. Gadis itu mendongak angkuh. "Apa kau pikir kau tipeku, pria beruang kutub! Hah?!! Kau bukan levelku, Tuan!" Lexi berlalu setelah meluapkan kekesalannya kepada Steve. Di ambang pintu ia berbalik, seperti yang ia harapkan, Steve juga sedang menghadap ke arahnya. Bibir Lexi mencibik jijik, menaik turunkan matanya, seolah menilai sosok di hadapannya, sengaja ia lakukan sebagai pernyataan bahwa tidak ada yang menarik dari pria itu. Lexi memutar tubuhnya, menyibakkan rambut panjangnya yang keriting dan sebagai pernyataan perang, Lexi membanting pintu dengan kekuatan penuh.


"Dia pikir dia siapa? Aku Lexi Stevani Willson, gadis yang tidak akan menerima penolakan dari pria mana pun!!"