H.U.R.T

H.U.R.T
TIBA



Hai... Hai... Apa kabar semua? Baik ya, baik dong. Omong-omong, selamat menempuh hidup baru buat Ani Qothul Khuluk. Langgeng terus, Ani, hingga maut memisahkan. Bab ini khusus untukmu.


.


.


.


"Lexi, selamatkan aku. Tolong aku, Lexi. Dia kembali. Kembali untuk membalaskan dendam kepada kita semua." Isla merangkak, mendekat ke arahnya. Lexi yang menyaksikan hal itu hanya bisa diam dan mematung. Ingin berlari, kakinya seolah terpaku. Ingin berteriak, mulutnya seolah terbungkam. Lexi dipaksa menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Isla Ginevra tampak sangat menderita. Rambut panjang indah yang selalu wanita itu banggakan terlihat basah, lengket dan bau. Wajah cantiknya penuh dengan luka berlubang, mengeluarkan darah berbau busuk.


"Lexi, kau temanku, bukan? Tolong selamatkan aku. Apa yang terjadi dulu bukan salahku sepenuhnya. Kami melakukan itu untukmu. Ini salahmu. Kenapa kau menyukai pria culun yang tidak menyukaimu. Pria murahan hanya cocok untuk wanita murahan dan miskin seperti Olivia. Harusnya semuanya selesai jika kau bisa menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Tapi kenapa kau sangat serakah dan egois? Dan sekarang kami harus menanggung kesalahanmu itu. Ini menyakitkan, Lexi. Ini tidak adil. Kematian Olivia terjadi karena ulahmu! Steven dihukum juga karena dirimu! Kau lah yang harus bertanggung jawab!"


Lexi menggeleng, kristal bening bercucuran dari manik indahnya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Benarkah ini salahnya?


"Hidupmu tidak akan pernah tenang, Lexi. Semuanya akan dapat giliran dan kau akan menjadi santapan penutup yang tidak ada ampun."


Lexi menggeleng, ingin rasanya ia berteriak menyangkal tudingan itu. Tapi dibanding melakukan penyangkalan, keinginan terbesarnya adalah memeluk temannya itu. Meminta maaf kepada Isla jika memang apa yang terjadi dengan wanita itu adalah karena ulahnya. Lexi merasa berutang maaf kepada Isla. Isla benar. Ini tidak adil.


"Tidak akan ada yang bisa selamat, Lexi. Tidak akan ada. Dia begitu hebat. Ayahmu, saudaramu atau siapapun bukan tandingannya."


"Jika kau tidak ingin menderita, merasakan sakit yang luar biasa. Kemarilah, Lexi, kemari ikut bersamaku." Isla mengulurkan tangannya yang penuh darah, menyeret tubuh semakin mendekat ke arah Lexi.


"Semuanya akan baik-baik saja jika kau ikut denganku, Lexi. Ayah, ibumu dan kedua saudaramu juga akan menderita."


Lexi mengulurkan tangannya. Jika ikut bersama Isla membuat keluarganya hidup damai, maka ia akan melakukannya.


Seberkas cahaya yang sangat menyilaukan tiba-tiba muncul. Terdengar derap langkah kaki. Berlari dengan cepat ke arah mereka. Lexi tidak bisa melihat siapa sosok tersebut. Wangi yang sangat familiar.


"Lexi... Lexi... Lexi, aku mohon buka matamu!" Tepukan di wajahnya membuat tubuhnya tersentak.


"TIDAK!!!!" ia terbangun, refleks duduk dengan memeluk kedua lututnya. "Ini tidak benar, ini salah. Isla dibunuh, Isla telah dibunuh. Dan akulah penyebabnya. Olivia bunuh diri karena ulahku, Isla dibunuh karena ulahku juga. Aku layak mati, aku pantas mati, aku seharusnya mati, aku...."


"LEXI!!! SADARLAH!!" Darren mencakup kedua wajahnya. Menatap adiknya itu dengan penuh kekhawatiran juga kesedihan yang sangat mendalam. Lexi harus menanggung kesalahan yang telah ia perbuat. Andai saja malam itu tidak terjadi. Andai saja Darren tidak mengetahui bahwa Olivia diperkosa, mungkin Lexi tidak akan semenderita ini.


"Lexi, lihat aku! Kau aman di sini. Kau sedang ada di rumah, di kamarmu. Apa yang sedang kau katakan?"


Darren memeluk Lexi dengan erat seolah menyerap semua ketakutan, kegundahan dan kepanikan adik tersayangnya itu. Sudah enam bulan berlalu, Lexi belum bisa melupakan kejadian tidak wajar yang menimpa Isla. Kasus kematian Ginevra sudah ditutup. Semua bukti yang terlihat, 98% menunjukkan bahwa Isla memang sengaja membunuh dirinya sendiri. Tidak ada kamuflase dalam kasus ini seperti yang terjadi pada kematian Olivia.


"Lexi, tenanglah. Ssst.... Tarik napas, hembuskan." Lexi mengikuti instruksi yang diucapakan Darren. Barulah Lexi merasakan udara masuk ke dalam paru-parunya. Sesak di dadanya mulai menghilang. Kedua sauadara itu terdiam sejenak. Lexi dan Darren hanya berpelukan dalam hening. Hanya hembusan napas mereka yang terdengar saling beradu. Napas Darren terasa berat karena memang emosi yang berkecamuk di hatinya. Napas Lexi sendiri mulai teratur. Ia sudah sepenuhnya kembali ke masa sekarang, ke dunia nyata.


"Apa yang terjadi?" suara ayahnya memecahkan keheningan. "Mimpi buruk lagi?"


"Dad." Lexi melepaskan pelukannya dari Darren dan beralih kepada ayahnya. "Ini menyiksaku. Aku ingin lepas dari semua ini. Olivia selalu hadir dan kini Isla juga kerap datang ke dalam mimpiku. Apa yang harus kulakukan agar mereka tidak mengangguku? Tidur menjadi sangat mengerikan. Aku tidak ingin memejamkan mataku lagi, tidak."


"Apakah kau percaya pada Daddy? Pada kami keluargamu, Sayang?"


Lexi mengangguk cepat. Tidak ada yang lebih ia percayai di dunia ini melebihi kepercayaannya kepada keluarganya.


"Kau harus menjalani terapi, Sayang."


Lexi mengurai pelukan mereka. Kepalanya mendongak, menatap ayahnya dengan manik berkabut, "Apakah aku gila, Dad?"


"Tidak, tidak, tidak, kau tidak gila. Tapi terapi adalah satu-satunya cara yang harus kita coba untuk penyembuhanmu. Dalam satu minggu, kau hanya tidur kurang dari 30 jam, dan dalam waktu yang sesingkat itu kau harus mengalami hal mengerikan. Maafkan kami, Sayang."


Setiap ia mengalami hal buruk, kata maaf selalu terlontar dari mulut ayah dan suadaranya. Tatapan penuh sesal yang ayahnya layangkan kerap menjadi tanda tanya besar baginya. Ayolah, apa yang ia alami tidak ada hubungannya dengan ayahnya. Setidaknya itulah yang diyakini Lexi.


"Obat apa ini?" Pertanyaan Darren menarik perhatiannya juga ayahnya. "Kau tidak mengatakan jika kau mengonsumsi obat." Tidak ada penjelasan dalam botol obat yang ada di dalam genggaman Darren membuat dahi pria itu bertaut.


"Itu hanya vitamin. Temanku yang memberikannya. Saudaranya adalah seorang dokter."


"Dokter? Rata-rata dokter terbaik bekerja di Willson Hospital. Di keluarga kita juga ada dokter yang tidak diragukan kemampuannya. Beritahu aku nama temanmu dan alamat dari saudaranya yang kau sebut berprofesi dokter. Aku akan memeriksa obat ini." Darren segera keluar. Ia dan keluarganya kecolongan. Mencium aroma serbuk yang terdapat di dalam obat tersebut, Darren merasa ada yang tidak beres. Sejak kapan Lexi mengonsumsi obat tersebut?


Benar saja, setelah melakukan pemeriksaan, obat yang dikonsumsi Lexi merupakan obat psikedelik dengan efek halusinasi paling kuat.


Lexi akhirnya mengaku jika obat itu ia dapatkan melalui iklan spam di ponselnya. Darren segera mencari tahu siapa pemilik nomor tersebut. Meretas ID-nya dari link yang dibagikan ke ponsel milik Lexi.


"WTF! Spain? Heh?" Kedua tangannya terkepal kuat begitu mengetahui siapa pelakunya. "Sepertinya, waktunya sudah tiba."