H.U.R.T

H.U.R.T
dua puluh tiga



Revan mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi, dia meluapkan kekesalan nya di jalanan.


setiap kali pikiran nya mengingat kejadian tadi yang menimpaku, Revan semakin menarik pedal gas nya, engga peduli itu jalanan ramai atau engga.


Revan benar benar marah pada diri nya sendiri karna merasa gagal menjagaku, padahal sejak kecil dia selalu berjanji untuk selalu menjagaku dari apapun. Ya meskipun aku berpikir itu hanya sekedar ucapan ajah.


Tapi tidak buat Revan, dia benar benar ingin menjaga aku di manapun dan dari apapun.


Akhir nya Revan berhenti di tengah tengah jalan layang, jalan itu lumayan masih agak sepi jadi Revan sedikit leluasa berteriak untuk meluapkan emosi nya.


engga lama kemudian sebuah taxi berhenti tepat di depan motor Revan, seorang supir yang masih terlihat sedikit syok turun dari taxi di temani rekan nya, mereka berjalan mendekati Revan.


" ini nak Revan ??? "


Tanya supir taxi tersebut, seketika Revan menoleh dan mengangguk.


Kali ini raut wajah Revan berubah menjadi sangat hangat sambil tersenyum pada supir taxi tersebut, padahal sebelum nya wajah Revan begitu terlihat garang menahan marah.


" Iyah pak betul , bapak yang mau mengembalikan ponsel teman saya ya ??? "


ternyata sebelum pergi Revan menelpon nomber telponku lagi untuk menemui supir taxi tersebut dan mengambil ponselku kembali.


" Iyah nak, ini ponsel teman nak Revan, gimana sekarang keadaan nya ??? "


" untung bapak cepat mengangkat telpon dari saya kalau terlambat beberapa menit saja, mungkin teman saya udah kehilangan keperawanan nya, atau bahkan kehilangan nyawa nya "


" saya minta maaf nak Revan, cuma itu yang bisa saya bantu buat teman nak Revan "


" Iyah pak engga apa apa "


Revan mengambil ponselku dan memasukan nya ke dalam saku.


" kalau begitu saya pamit ya nak Revan "


Revan hanya mengangguk dan menatap supir taxi itu pergi meninggalkan dia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku.


Terlihat tari menunggu ku tanpa berpaling sedikitpun dari arah kamar mandi.


Melihat tari yang menatapku seperti itu, air mataku keluar begitu saja, tari dengan cepat menghampiriku dan memeluk ku dengan erat.


" udah engga apa apa, ada aku di sini "


tangisan ku semakin keras mendengar ucapan sederhana dari tari saat itu.


" kamu engga bilang ka Yugi kan tar ??? "


Tari menggelengkan kepala nya sambil menyeka air mataku yang sudah membasahi sebagian wajahku.


Tari mengajak ku duduk di atas tempat tidur agar aku sedikit lebih tenang.


" aku liat kamu keluar rumah, teruuus ........ "


" kamu liat ayah ??? "


" sebenar nya, sebelum kamu yang liat, aku lebih dulu liat, maaf...... "


" engga apa apa, itu lebih baik dari pada aku yang harus bercerita ke kamu tentang apa yang membuat aku pergi dari rumah "


Tari terlihat menghela nafas panjang dan menundukan kepala nya.


" jadi tadi kamu kemana ??? "


" aku ke rumah Alfin, berharap Alfin bisa buat aku sedikit tenang, tapi Alfin sama sekali engga tertarik buat denger cerita ku "


" . . . . . . . . . "


" Alfin terus menerus menyuruhku pulang "


Tangisku kembali pecah, dan lagi lagi tari memeluk ku sambil menepuk nepuk pundak ku perlahan.


" kalau belum bisa cerita engga apa apa, kamu istirahat ajah, ini juga udah hampir pagi, ayah kamu pasti nyari kamu "


" Alfin berangkat hari ini kan ??? "


" kemana??? "


" beasiswa nya, Iyah Alfin berangkat hari ini "


" kamu mau aku telpon Alfin ??? "


" engga, tapi aku mau nemuin dia buat terakhir kali nya "


Aku bergegas bangun dan turun dari tempat tidur, tapi sebelum aku membuka pintu tari menahanku.


" ri, mending kamu istirahat ajah deh, biar Alfin aku telpon dan minta dia mampir ke sini buat ketemu kamu "


Aku melepaskan tangan tari dan tetap keluar buat nemuin Alfin.


Tari langsung menelpon Revan dan memberi tau dia kalau aku akan pergi menemui Alfin.


entah dari mana datang nya itu anak, aku sendiripun bingung, karna aku pikir dia sudah pulang ternyata dia hanya pergi untuk mengambil ponselku ajah.


" ko kamu masih di sini Van ??? "


" aku tau tari pasti kewalahan jagain kamu "


" aku harus ketemu Alfin sekarang Van "


" engga !!!! "


Revan menatapku, tatapan nya terasa lain buat aku, kali ini ada ketegasan di mata nya.


" aku cuma mau bilang sesuatu, hari ini dia berangkat.... "


" biarin ajah dia pergi tanpa tau kabar kamu, mulai sekarang kamu tanggung jawab aku "


Aku terdiam mendengar ucapan Revan yang terdengar sungguh sungguh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ka Yugi yang baru terbangun langsung menjawab telpon dari ka bara yang sudah beberapa kali menelpon ka Yugi.


" baru bangun ya gi ??? Dasar tukang molor "


" semalam aku engga bisa tidur bar "


" udah santai aja, karya kamu pasti berhasil "


" bukan soal itu bar "


" terus ???? "


" ah sudah lah, kenapa pagi pagi udah telpon ??? "


" kamu kepikiran Yuri ??? Nanti aku coba nemuin dia deh buat mastiin kalau dia baik baik ajah "


" makasih bar, tapi telpon nya engga aktif "


" gampang, pokok nya nanti aku cari tau lah , btw hari ini kamu ada rekaman kan ??. "


" Iyah jam 9 "


" ok kalau gitu, good luck ya "


" hmmm "


Ka Yugi mengakhiri telpon dari ka bara dan bergegas ke kamar mandi.


ka Yugi tau, dia bakal selalu bisa ngandelin ka bara di setiap masalah yang dia hadapi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Revan mengajak ku ke sebuah mall, dengan semangat Revan memilihkan beberapa pasang pakaian, sepatu dan tas.


Revan juga membelikan ku ponsel baru, aku engga heran jika Revan bisa membelikan ku itu semua, karna dia selalu mendapat uang jajan dari kedua orang tua nya dengan nominal yang di atas normal, belum lagi jatah uang jajan dari Kaka nya yang bahkan siap mengisi saldo rekening nya kapan pun dia minta.


" aku lapar Van "


Rengek ku pada Revan yang masih asyik memilihkan ku sebuah topi.


" hmmmm, ya udah aku bayar dulu topi nya ya, abis itu kita makan "


Revan berjalan menuju kasir, meninggalkan aku yang terduduk di kursi, sebuah kursi yang mengarah pada cermin, aku memperhatikan ku di cermin sampai tiba tiba tanpa aku sadari akhir nya aku menangis.


" kamu kenapa RI??? "


Revan yang terkejut melihatku menangis langsung memeluk ku dengan hangat.


" apa aku sekarang jadi wanita kotor Van ??? "


" maksud kamu ???? "


Revan melepaskan pelukan nya dan menyeka air mata ku perlahan.


" aku ....... aku takut tidak ada yang mau menikahi ku karna aku sudah..... "


" sssttt..... Kamu lagi lapar jadi ngelantur, mendingan kita makan sekarang "


Revan dengan cepat menggandengku, mengajakku ke tempat makan favorit ku. aku dan Revan segera duduk dan memesan makan.


" dengar, kalau engga ada satu pun laki laki di dunia ini yang engga mau menikahi mu, kamu harus tau kalau aku bahagia mengetahui nya "


Aku mengerutkan keningku dan menatap Revan dengan sinis.


" ko kamu jahat !!! "


" kamu tau engga alasan nya??? "


Aku hanya menggeleng sambil terus melihat Revan yang mulai cengengesan.


" karna aku jadi satu satu nya laki laki yang akan menikahi mu "