H.U.R.T

H.U.R.T
dua puluh dua



" halo ..... "


" Yuri ada di kamu engga Fin ??? "


" dia udah pulang baru ajah, kenapa Van??? "


tanpa mengucapkan apapun Revan menutup telpon nya kembali, Alfin sedikit bingung dengan sikap Revan, tapi malam sudah terlanjur larut jadi Alfin bergegas untuk pulang.


Belum lagi ayah Alfin pasti sebentar lagi terbangun dan akan bertanya jika Alfin pulang selarut ini, padahal Alfin hanya pamit untuk ke warnet tadi malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku menghentikan taxi di jalan yang entah lah jalan apa itu, jalan ini terlihat lebih sepi jadi aku pikir aku bisa menenangkan pikiran ku di sini sementara waktu.


" berhenti di sini ajah pak "


" di sini neng??? "


" iya pak berhenti "


" nanti ajah ya neng di depan, biar agak rame "


" engga pak, justru saya engga mau ke tempat rame "


Namun taxi terus melaju tanpa menghiraukan permintaan ku, seperti nya supir taxi ini mengkhawatirkan aku, mungkin karna aku seorang anak perempuan dan seorang diri.


" pak, berhenti pak "


Pak supir itu tetap engga menggubris permintaan ku, tapi tiba tiba pak supir menghentikan taxi nya sekaligus sampai membuatku sedikit terjungkal ke arah depan.


" jangan buka pintu neng begal !!! "


Suara pak supir terdengar sedikit ketakutan, aku yang seketika melihat ke arah depan pun hanya bisa diam dan menuruti supir taxi tersebut.


" neng pegangan "


Belum sempat aku berpegangan dengan benar taxi mundur dengan cepat dan kemudian melaju lagi dengan lebih cepat, hampir saja menyerempet salah satu begal di depan tadi.


tiba tiba sebuah batu yang di lemparkan salah satu begal dari arah belakang memecahkan kaca belakang taxi, dan mengenai tepat bagian telingaku sebelah kanan, serpihan kaca juga berserakan di punggungku, beruntung tidak ada serpihan kaca yang melukai ku.


" aaaaaaa "


Aku yang mulai histeris seketika memegangi kepala ku dan menunduk, sedangkan taxi masih terus berjalan menjauh.


Kemudian beberapa orang begal mengikuti taxi kami dengan sepeda motor nya, dan beberapa orang menendang taxi yang aku tumpangi.


Taxi berhenti saat dua buah sepeda motor menghadang tepat di depan taxi.


" cewe bro cewe "


Terdengar suara salah satu begal berteriak pada teman nya.


" bawa cewe nya aja !!! "


Di balas lagi oleh teman nya, dan mereka mulai memaksa membuka pintu taxi.


Aku berusaha menahan pintu taxi sekuat tenaga ku tapi engga berhasil, pintu taxi akhir nya terbuka.


Tanganku mulai di tarik paksa keluar, supir taxi berusaha menahanku untuk tetap di dalam mobil tapi beberapa kali di halangi oleh pemuda lain nya.


" kalau lu mau selamat diem, dasar supir engga berguna "


Pintu taxi di tutup dengan keras setelah aku berhasil di tarik keluar, supir taxi itu di paksa pergi ninggalin aku dengan beberapa pemuda di sana, dengan berat hati supir taxi itu pergi.


tapi ternyata supir taxi itu hanya pergi beberapa meter doank, dia merasa khawatir padaku ku, dia menghentikan taxi nya dan langsung menelpon polisi.


sementara itu ponselku terus bergetar di bawah tempat duduk di dalam taxi tersebut, mendengar suara ponsel ku supir taxi itu mulai mencari sumber suara dan mendapati ponselku.


Tanpa berpikir lagi dia mengangkat telpon dari Revan dan memberi tau apa yang terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kedua tanganku di pegang oleh kedua pemuda, dan 4 pemuda lain nya berdiri di depan ku dengan wajah yang menjijikan menurutku.


Salah satu dari mereka mulai membuka sabuk celana nya dan mendekati ku, bau alkohol semakin jelas tercium yang membuatku ingin sekali muntah.


Ingatan ku seketika tertuju pada ayah dan Tante Riska, aku yang sejak tadi memberontak mencoba melepaskan diri dari mereka akhir nya hanya bisa mematung.


" ko nangis siih, nikmatin ajah, biar sama sama enak "


Ucap pria yang baru saja menyentuh dadaku, dia juga mengusap wajahku, menyibak kan rambutku yang menutupi sebagian wajah ku.


" kelamaan lu, ayo hajar ajah, kita kan harus gantian "


Pria yang memegangi tangan ku menimpali pria di hadapan ku.


" ok ok......gue duluan ya "


Tanpa memberi aba aba apapun pria di hadapanku kini menyobek bajuku dengan satu kali tarikan.


Dengan bringas pria itu mulai menciumi leherku dan bagian dadaku sembari tangan nya terus berusaha membuka celana ku.


Aku yang terus di bayang Bayangi ayah dan Tante Riska hanya semakin menangis terisak.


yang ada di pikiran ku saat ini hanya lah berharap setelah mereka memperkosaku, mereka akan membunuhku atau melemparku ke sungai.


bruuuuug........


tiba tiba suara motor terjatuh menghentikan aksi pemuda pemuda itu pada ku.


hanya berselang beberapa menit saja suara motor terjatuh itu berubah menjadi suara pukulan yang cukup keras.


Satu persatu pemuda yang tadi berkumpul di dekatku terkena pukulan itu dan terjatuh, sedangkan aku hanya bisa tertunduk di pinggir jalan menutupi bagian dadaku yang terbuka.


Entah siapa yang datang membantuku saat itu, aku juga engga berani melihat nya.


Pemuda pemuda itu berhamburan berlari saat sebuah suara sirine polisi terdengar, seseorang sekarang menghampiriku dan memberikan jaket yang dia kenakan padaku.


" ayo, kamu baik baik ajah sekarang "


Suara itu, ya suara Revan yang aku kenal. Aku menengadah seketika sambil menerima jaket yang di sodorkan Revan pada ku.


Setelah jaket Revan menutupi bagian dadaku, aku segera memeluk Revan dan menangis sejadi nya.


" engga apa apa, kamu aman sekarang "


aku dan Revan pergi meninggalkan tempat itu setelah aku sedikit merasa lega.


" kenapa kamu bisa tau aku di sini Van ??? "


" aku menelponmu, tapi supir taxi yang menjawab nya "


" supir taxi ??? "


" Iyah, dia bilang ponselmu jatuh saat orang orang brengsek itu menarik mu "


aku sedikit lega dan bersyukur Revan bisa datang sebelum mereka melakukan hal yang lebih menjijikan lagi.


Malam itu Revan membawaku ke sebuah hotel, dia memesankan kamar dan meminta tari untuk menemaniku juga.


" kamu yakin engga mau pulang ??? "


" aku ganti nanti uang mu tenang ajah "


" aku engga ngomongin uang loh Ri "


" aku engga mau ketemu ayahku lagi "


Revan kaya nya paham dan berhenti membujuk ku untuk pulang ke rumah..


Beberapa menit kemudian tari menghampiri aku dan Revan yang terduduk di loby.


" kamu engga apa apa kan RI??? "


Tari langsung memeluk ku, dari wajah dan suara nya jelas tari terlihat begitu mengkhawatirkan ku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku dan membalas memeluk tari, lagi lagi aku menangis di bahu tari.


" ya udah aku pamit ya RI, oh iya tar tolong jaga Yuri, jaga baik baik "


Revan akhir nya pergi ninggalin aku bersama tari.