H.U.R.T

H.U.R.T
Hiduplah Dengan Bahagia



"Jadi pernikahan seperti apa yang kau inginkan?"


Steve menyisir rambut bergelombang Lexi dengan lembut dan penuh hati-hati. Sesekali ia memilin rambut panjang itu ke jemarinya, sesekali ia menunduk untuk menghirup aromanya. Rambut Lexi adalah salah satu hal yang membuat Steve tidak bisa melupakan gadis itu. Tentu saja kebaikan hati Lexi adalah poin utama yang membuat Steve tak mampu berpaling atau pun menoleh kepada wanita lain.


"Aku tidak memiliki keinginan tertentu. Dari dulu, aku hanya membayangkan bagaimana rasanya bersanding denganmu. Resepsi tidak lah terlalu penting untukku. Kita terlihat sangat serasi, Steven." Lexi memandangi pantulan diri mereka dari cermin. Lexi sedang duduk sementara Steve berdiri di belakangnya, memanjakan dirinya dengan memberikan perawatan kepada rambutnya.


"Kau menyukai rambutku?"


"Aku menyukai semua yang ada padamu. Baiklah, aku yang akan mengurus pernikahan kita." Steve mengangkat kepala, menatap Lexi dari cermin. Ia tersenyum yang disambut Lexi dengan segera. "Kau sangat cantik."


"Dan kau pria beruntung yang berhasil mendapatkanku." Bersama Steve, Lexi lebih berani mengungkapkan isi hatinya. Bersama Steven, Lexi merasa lebih bebas dan apa adanya. Bersama Steve, Lexi tidak memikirkan apa ia terlihat murahan atau tidak. Apakah sikapnya terlalu agresif atau bagaimana, karena ia tahu, Steven-nya hanya akan melontarkan kalimat pujian untuknya. Steve memujanya sebesar ia mengagumi pria itu.


"Ya. Terima kasih sudah mempercayakan hatimu untukku yang fakir akan cinta."


"Fakir? Hei, kau sudah menjadi pemenang! Aku sang dermawan cinta akan melimpahimu dengan cinta luar biasa."


Steve kembali tersenyum, ''Ya, aku adalah pemenang. Limpahi aku dengan luapan rasa yang membuatku melambung. Aku akan selalu haus jika itu menyangkut dirimu . Apakah Isabell akan melanjutkan pertunangan dengan Austin?"


"Itulah yang kudengar. Mom dan Dad akan mencoba berbicara dengan Austin. Aku menyukai Isabell. Dia gadis yang manis dan baik hati."


"Ya, dia gadis yang baik hati. Mom dan Dad sangat merindukanmu. Mereka tidak sabar untuk hari bahagia kita. Omong-omong, kau ingin kita tinggal di mana?"


"St. Nelda's Island."


"Oh, Lexi, bagaimana bisa kau tahu apa yang kuinginkan."


"Karena aku adalah kau. Kita satu."


___


Inilah yang dikatakan akhir dari penantian panjang. Perjalanan cinta yang penuh drama, mengaduk-aduk perasaan. Berliku, penuh misteri hingga akhirnya berbuah manis.


Hari ini, hari bahagia itu pun akhirnya datang. Penyatuan antara dua insan yang melewati berbagai lika liku cerita untuk sampai menuju ending yang membahagiakan yaitu pernikahan.


Lexi benar-benar tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya ia hari ini. Nama Steven akan tersemat di belakang namanya. Mereka akan tinggal bersama, hidup bersama dan menua bersama. Akan ada anak kecil, bayi-bayi yang akan mereka produksi begitu janji suci terucap. Sungguh Lexi sangat tidak sabar. Tidak sabar untuk menyempurnakan kebahagian prianya dengan memberikan seorang keturunan. Tidak ada yang lebih hebat bagi seorang pria selain sebutan Daddy.


"Kau sangat cantik," suara ayahnya membuyarkan lamunannya tentang bayangan seperti apa kelak anak-anak yang lahirkan untuk Steven. Apakah akan seperti dirinya atau seperti Steve. Ia menginginkan bayi-bayinya mewarisi gen ayah mereka.


"Aku putrimu, tentu saja aku terlihat cantik, Dad."


Pax menggeleng, "Kau terlihat sangat cantik karena hatimu bahagia, karena batinmu memang menginginkan ini."


"Oh, Dad. Aku memang terlalu mencintainya."


"Dan dia lebih mencintaimu." Pax menatap putrinya dengan haru. Kali ini tidak ada kecemasan di hati Pax untuk melepaskan putrinya. Ia percaya pada Steve bahwa Lexi akan aman, nyaman dan bahagia bersamanya. Tidak ada keraguan sedikit pun di hatinya.


"Dia tergila-gila kepadaku, Dad."


Pax menganggukkan kepala, "Siap untuk menemui pria yang akan menjadi suamimu dalam beberapa menit lagi?"


"Siap! Aku tidak sabar hingga membuat hatiku meletup-letup tidak karuan." Lexi menyelipkan tangannya ke lengan ayahnya. Keduanya berjalan keluar dari ruang ganti menuju masa depannya.


Steve yang dari tadi sok cool mendadak merasakan sembelit yang luar biasa begitu melihat Lexi sang gadis pujaan hati memasuki gedung.


Tenggorokannya terasa kering, jantungnya menderu-deru seperti deburan ombak yang sangat besar. Kedua tangannya berkeringat, kakinya seperti jeli, kehilangan kekuatan. Untungnya ia masih bisa berpijak, tidak tumbang sama sekali. Lexi terlihat sangat memukau dengan dress sederhana yang mereka desain sendiri. Gaun putih selutut berlengan panjang.


Semakin jarak mereka terkikis, semakin ia merasakan jantungnya tidak aman.


Darren yang kebetulan duduk di hadapannya, segera berdiri menghampirinya, menyerahkan botol mineral. Steve menerima dan meneguknya dengan rakus.


"Kuharap ikrar yang ingin kau ucapkan tidak ikut tertelan bersama air yang kau minum tadi," ucap pria itu. Entah itu sebuah peringatan atau ejekan, Steve tidak memiliki waktu untuk menanggapinya. Seluruh fokusnya tertuju pada Lexi.


"Ha-Hai..." ia menyapa begitu Lexi dan ayahnya berdiri tepat di hadapannya. Belum apa-apa maniknya sudah berkaca-kaca.


Lain halnya dengan Lexi yang senantiasa menyunggingkan senyum terbaiknya. "Hai.."


"Ka-kau cantik."


"Aku tahu."


"Ti-tidak ingin memujiku?"


"Kau ingin kupuji?"


Steve mengangguk, karena jika ia berbicara kembali, itu hanya akan membuatnya terlihat konyol di depan ayah mertuanya yang sudah menatapnya dengan geli karena kegugupan dan kegaguan yang mendadak datang.


"Kau terlihat sangat hot!"


Baik Steve atau pun Pax, kompak sama-sama tersedak. Pujian yang sangat nakal.


Tidak ingin kenakalan ini berlanjut, Pax sengaja berdehem. Steve akhirnya mengalihkan tatapannya dari Lexi. Ia dan Pax saling menatap untuk beberapa saat hingga akhirnya Pax membuka mulut.


"Hari ini adalah hari aku menyaksikan putri kesayanganku menikahi orang yang dicintainya dalam hidupnya. Mulai sekarang, aku tidak perlu khawatir tentang siapa yang akan merawatnya ketika aku dan istriku tidak bisa melakukannya lagi. Dia menemukanmu, kau mendapatkannya." Ucap Pax seraya menyerahkan tangan Lexi kepada Steve. "Selamat datang di keluarga kami, Nak." tambahnya kemudian.


"Aku..."


"Aku belum selesai bicara," Pax menyela ucapan Steve yang hendak membalas perkataannya.


Steve melipat bibirnya ke dalam, menahan diri agar tidak mendengus kesal.


"Lexi, putri kesayanganku," manik pria tua itu berkaca-kaca. "Tidak ada hal yang paling membahagiakan selain melihatmu bahagia. Jadilah istri yang baik untuk suami. Jadilah pelipur laranya. Meski dia bukan menantu yang baik, tetaplah di sisinya apa pun yang terjadi, dia sudah banyak menderita selama ini. Kau adalah obat baginya."


Lexi menganggukkan kepala, ikut terharu dengan nasehat ayahnya. "Aku akan mencintai suamiku seperti Mom mencintaimu, Dad."


"Aku sangat bahagia untuk kalian berdua," Pax mengembalikan tatapannya pada Steve.


"Ini akan terdengar sangat menggelikan, tapi aku harus tetap mengucapkan sepatah dua kata untukmu." Masih saja Steve bersikap ketus.


"Pertama-tama, terima kasih atas segalanya, untuk mencintai dan merawat wanita cantik di dunia ini. Aku akan memegang tangganya mulai hari ini dan giliranku yang akan melakukan semuanya untuknya," ungkap Steve dengan tegas


"Aku akan menghargainya lebih dari yang bisa kau bayangkan. Kau tidak perlu khawatir tentang kebahagiaannya, karena kau menyerahkan putrimu pada pria yang tepat. Dan aku akan menghormati pria pertama dalam kehidupan istriku, ayah mertua tercinta," sambungnya yang berhasil membuat Pax tersipu malu.


"Kau tidak perlu memaksakan diri memanggilku demikian."


"Aku tidak ingin merusak momen penting untuk acara nanti malam hanya karena aku tidak menghargai dan menghormati pria pertama dalam hidupnya."


"Artinya kau terpaksa."


"Apakah perasaanku terhadapmu begitu penting. Duduklah, hafalanku tentang janji yang akan kuikrarkan bisa buyar jika harus terus memandangi wajahmu, Ayah mertua."


"Entah kenapa sebutan itu terdengar janggal. Selamat untuk kalian berdua. Hiduplah dengan bahagia. Kalian layak mendapatkannya."