H.U.R.T

H.U.R.T
Kebetulan?



Lexi yang hendak naik ke dalam mobil, melompat kaget mendengar klakson mobil yang menjerit-jerit tidak karuan. Merasa mobilnya parkir di tempat yang benar, terang saja Lexi merasa kesal. Masih dengan memegangi jantung, ia menoleh ke belakang. Protes yang hendak ia layangkan, sudah berada di ujung lidah terpaksa kembali ia telan ke dalam kerongkongannya begitu melihat sosok yang melambai dengan senyum menawan tercetak di wajah yang rupawan. Siapa lagi kalau bukan Steve. Kehadiran pria itu di lahan anggur Percy jelas membuatnya sedikit bingung. Lexi memendarkan pandangan, berpikir positif, barangkali saja Steve memang mempunyai urusan di sana. Namun, yang Lexi lihat hanya mobil mereka yang ada di sana. Mobil yang digunakan Lexi tidak mencolok sama sekali. Mobil terbuka yang biasa digunakan untuk mengangkut anggur. Berbeda dengan Ferrari hitam mengkilap milik pria itu. Gagah seperti pemiliknya. Mobil itu seperti berada di tempat yang tidak sepantasnya. Seperti pesawat yang parkir di taman bermain.


Lexi berbicara pada sopirnya untuk menunggu beberapa saat, kemudia ia berbalik kembali menghadap Steve. Pria itu sudah keluar dari mobil, berjalan mendekatinya. Pun Lexi juga melangkah menuju ke arah pria itu hingga akhirnya mereka sama-sama berhenti.


"Apa yang kau lakukan di sini, Ivarez?" Matanya melirik cepat, menilai penampilan pria itu. "Sepertinya, cakaran Layla tidak memberi efek buruk sama sekali kepadamu." Steve tampak sehat dan bugar mengingat ini baru satu minggu sejak pria itu mendapat stempel perkenalan dari Layla dengan cara yang cukup brutal.


"Aku mengeluarkan uang cukup banyak untuk perawatannya," melepaskan kaca mata hitamnya untuk bisa melihat penampilan Lexi lebih jelas lagi. Kostum orang-orangan sawah yang dikenakannya beberapa saat lalu sudah tidak melekat lagi di tubuhnya. Hanya saja, sepatu boots besar yang dipakai gadis itu cukup mengganggu pandangan Steve. Ia tidak bisa melihat kuku kaki Lexi yang biasa diberi warna cerah. "Aku tidak tahu jika selain pintar mendesain, kau ahli dalam bidang pertanian. Kebun anggurmu cukup luas."


"Jadi, apa yang kau lakukan di sini? Ini jelas bukan suatu kebetulan."


"Aku tersesat."


"Jawaban yang sama saat kau tiba-tiba masuk ke kamarku. Tersesat. Baiklah, silakan kau selamatkan dirimu. Kurasa aku tidak perlu menjelaskan bahwa benda pipih yang kau sebut dengan ponsel bisa menyelamatkanmu. Kau tanya saja kepadanya kemana arah jalan keluar." Lexi segera memutar tubuh, berniat hendak meninggalkan pria itu. Belum sempat ia melangkah, tangannya ditarik hingga tubuhnya kembali berputar dan menabrak tubuh Steve.


"Jika kau ada di sini, kurasa aku tidak membutuhkan bantuan ponselku. Masuk ke mobil." Steve mendorong Lexi agar maju melangkah menuju mobilnya. Pria yang menunggu Lexi segera keluar, menarik Steve dengan kasar hingga langkah mereka terhenti.


Sebelum terjadi keributan, Lexi menghentikan pria itu.


"Aku mengenalnya, Ron. Katakan kepada Ibu dan Ayah, aku ada urusan. Gaji para pekerja akan kukirim sebelum malam tiba. Pergilah."


"Kau mengenalnya?" Ron bertanya untuk memastikan. Pria itu menyorot Steve dengan tatapan waspada juga tidak suka.


"Ya. Dia temanku."


"Baiklah," meski enggan meninggalkan Lexi dengan orang asing, tapi pria itu tidak mempunyai pilihan selain mengikuti perintah gadis itu.


"Aku tidak tahu jika aku adalah temanmu." Steve melirik ke arah Lexi yang sibuk memainkan ponselnya. "Bisakah mau menyimpan ponselmu, aku tidak suka diabaikan."


Lexi mengangkat kepala, dahinya mengernyit mendengar penuturan pria itu. Jika masalah tidak suka, Lexi juga tidak suka dengan cara Steve yang memaksanya naik ke dalam mobil. Dan sekarang ia harus menjawab pesan ayah ibunya karena Ron sudah melapor tentang kepergiannya dengan pria asing.


"Aku juga tidak suka saat kau memaksaku naik ke dalam mobilmu. Tapi aku memilih tidak mengatakannya. Ayah ibuku khawatir karena aku pergi dengan orang asing."


"Beberapa menit lalu kau menyebutku teman."


"Itu karena jika aku menyebutmu musuh, Ron akan memanggil teman-temannya dan kau akan kembali babak belur."


"Kau tidak ingin aku terluka?" bibir pria itu menyungging ke atas. Entah merasa bangga atau sedang menggoda Lexi, hanya Steve yang tahu.


"Aku tidak ingin melihat siapa pun terluka. Jika aku menemukan anjing yang sedang sekarat, aku juga akan menolongnya."


"Tidak adakah perumpamaan binatang lain. Entah kenapa aku merasa kesal saat kau menyebut anjing."


"Kau merasa aku menyamakan dirimu dengan anjing?" Lexi memperjelas, wajah Steve berubah kecut. "Itu berarti perasaanmu dan pemikiranmu yang sedang bermasalah. Omong-omong, kau sepertinya tidak tersesat. Kau jelas tahu arah jalan keluar."


"Bukan hal yang sulit bagiku menemukan arah jalan."


Lexi mendesahh menyadari jika Steve memang sengaja membodohinya. Jelas-jelas pria itu tidak tersesat.


"Jadi ini memang bukan kebetulan. Apa yang kau lakukan di sini?"


"Bagaimana, apa kau sudah merindukanku?"


"Kau mengalihkan topik. Kenapa aku harus merindukanmu?"


"Satu minggu aku tidak menemuimu."


"Ah, aku bahkan tidak menyadarinya."


Steve menoleh ke samping, Lexi juga ternyata sedang menatapnya. Steve kemudian terkekeh dan seperti biasa, Lexi dibuat kagum betapa menawannya pria itu. Dahinya tiba-tiba mengernyit, ia baru menyadari jika senyum itu terasa sangat familiar. Matanya menyipit, mencoba menggali ingatan. Mirip siapa gerangan senyuman itu?


Deg!


Lexi menggeleng, menolak jawaban atas pertanyaannya.


Stevenku tidak ada duanya dan tidak ada tandingannya! Steven yang terbaik.


Lexi menggelengkan kepala, tidak sudi menyamakan kedua pria yang kebetulan juga memiliki nama yang sama. Sialnya, ia tidak tahu jika pria yang ia anggap berbeda memanglah orang yang sama.


"Hais, rinduku tidak berbalas kalau begitu."


"Jangan tersenyum!" Tiba-tiba Lexi membentak. Jangankan Steven, Lexi pun dibuat terkejut mendengar suaranya sendiri. Tidak biasanya ia meninggikan suaranya.


"Kau membuatku kaget."


"Kukatakan jangan tersenyum dan turunkan aku!"


Perubahan mimik wajah Lexi membuatnya sedikit bingung. Gadis itu tampak murung juga kesal. Entah dimana yang lebih mendominasi. Yang jelas, wajah Lexi tidak sedap untuk dipandang.


"Oke. Oke. Aku tidak akan tersenyum. Tapi, aku juga tidak akan menurunkanmu. Entah apa yang salah dengan senyumanku?"


"Sebaiknya kau juga jangan bicara, tutup mulutmu!" Lexi memiringkan kepala, menghadap jendela, menatap keluar. Lagi dan lagi ia merasa seperti sedang mengkhianati Stevennya. Tarikan napasnya yang berat menarik perhatian Steve.


"Kau memikirkan sesuatu?"


"Bagaimana kau tahu?" nada suaranya terdengar lemah, tidak bersemangat. Matanya juga terpejam.


"Dari tarikan napasmu."


"Aku penasaran, sudah berapa banyak wanita yang kau luluhkan dengan perhatian, pengertian juga tingkat kepekaanmu itu."


Steve tergelak, tapi kemudian ia menghentikan tawanya sebelum Lexi kembali menyemprotnya.


"Percaya atau tidak. Radarku hanya berfungsi saat berada di dekatmu. Kau orang pertama."


"Perayu!"


"Ya. Usaha untuk meluluhkan hatimu."


"Daddy dan saudaraku tidak menyukaimu."


"Aku tidak butuh izin mereka. Bersiaplah, aku akan mencuri semuanya, Lexi Stevani Willson."