
"Aku senang ingatanmu pulih."
Steve akhirnya memecahkan keheningan yang berlangsung lebih dari lima menit. Lima menit terpanjang dalam hidupnya. Steve juga bersyukur, Lexi mengusir Austin dan Beth. Mereka berdua memang perlu bicara tanpa adanya gangguan.
Ia berdiri di sudut ruangan, tepatnya di dekat jendela. Sementara Lexi duduk di tepi ranjang. Ranjang yang menjadi bukti keliaran mereka. Dan kenapa mereka harus kembali ke kamar?Lokasi yang sangat berbahaya menurut Steve.
Ah! Akhirnya ia ingat mengapa mereka kembali ke kamar. Austin menolak diusir. Pria itu bersikeras tetap di sana. Akhirnya Lexi menarik tangan Steve naik ke lantai dua dan mengunci diri mereka di sini, di dalam kamar.
Steve salah tingkah, Lexi tidak merespon ucapannya. Yang dilakukan gadis itu hanya memandangi wajahnya dengan intens. Tidak tahan dengan tatapan yang dilayangkan Lexi, ia segera memalingkan wajah. Menatap ke arah pantai, hanya beberapa detik ia kembali menoleh ke belakang, Lexi masih memandanginya, bersedekap sambil menyilangkan kaki.
"Ehhmm," Steve mengusap tengkuknya. Tahu jika tindakannya itu hanya menunjukkan kegugupannya, pun ia berniat menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku celana, sialnya, ia mengenakan piyama yang tidak memiliki kantong.
"Ka-katakan sesuatu." Astaga, ia merasa terhempas saat mendengar kegugupannya sendiri.
"Seperti yang ku-kukatakan tadi, aku tidak akan meminta maaf."
"Aku tidak mengharapkan maaf darimu."
Refleks, Steve menghembuskan napas lega mendengar Lexi buka suara.
"Lalu, apa yang kau harapkan?"
Lexi kembali bungkam. Sesungguhnya dia juga masih terlalu terkejut dengan semuanya. Kejadian demi kejadian seolah diputar di depan matanya. Bagaimana ia mengalami kecelakaan, ia mengingat semuanya. Matanya melirik ke arah kaca mata juga ponsel yang diletakkan di atas meja. Kemudian menatap Steve dengan helaan napas panjang. Pria itu ternyata sama gilanya dengan dirinya. Gila dalam hal mencinta. Sekarang, apa yang harus mereka lakukan?
Tepatnya apa yang harus ia lakukan? Lexi sadar bahwa Steve tidak akan pernah terganti oleh siapa pun. Bahkan disaat dirinya hilang ingatan, hatinya tetap mengagumi Steve, tetap memuja pria itu. Tapi, dunia punya kenyataan. Dia berstatus istri seseorang.
"Aku harus kembali."
Steve terdiam. Dari awal Steve sudah mempersiapkan hal ini. Dari awal ia sudah memperkirakan hari ini akan datang. Tapi mendengar langsung dari mulut Lexi bahwa gadis itu akan pergi rasanya tetap saja sakit.
"Oh, ya." Memangnya apa lagi yang harus ia katakan. Mereka berdua sama-sama mengerti keadaan dan situasi mereka.
"Aku akan pulang bersama Austin."
"Tentu saja. Kau baik-baik saja? Maksudku, fisikmu. Kepalamu sakit?"
Lexi menggeleng, ia memang tidak merasakan apa-apa selain jantungnya yang bertalu-talu tidak terkendali. Bayangan apa yang mereka lakukan di ranjang membuat tubuhnya terbakar hawa panas.
"Aku baik-baik saja. Maafkan aku."
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena sudah merayumu."
"Tanpa kau rayu aku juga sudah tergoda."
Keduanya kompak berdehem. Topik yang sangat berbahaya. Akhirnya mereka sama-sama menundukkan kepala karena merasa malu.
"Apakah masih ada yang ingin kau katakan? Aku khawatir saudaramu naik dan mendobrak pintu kamar."
Lexi hampir saja tersenyum. Pukulan yang dilayangkan Austin memang tidak main-main.
"Sebaiknya kita turun."
"Ya, kau benar."
Keduanya pun segera turun menemui Austin dan Beth. Austin langsung berdiri begitu melihat kehadiran mereka. Pria itu datang menghampiri, menyorot Steve dari atas ke bawah lalu berfokus pada bagian tubuh di bawah pinggul Steve.
Steve berdecak, ia melewati Austin dan sengaja menyenggol bahu pria itu.
"Nyalimu boleh juga. Bagaimana bisa kau menyembunyikan istri dari seorang pangeran?" Beth menyambutnya dengan sindiran yang sangat manis, sampai-sampai Steve tergoda ingin menendang bokong temannya itu.
"Hentikan kegilaan ini, Dude. Aku sudah menyarankan kau menculiknya sebelum menyandang status istri. Tapi sekarang tindakanmu ini tidak bisa dibenarkan. Kau sudah tidak tertolong. Ck! Menyedihkan."
"Aku tidak sedang meminta tolong," Steve menanggapi dengan malas.
"Ciih!"
"Kau membawa kapal sendiri?"
Beth tidak langsung menjawab. Pria itu sangat mengenal tabiat temannya itu. Steve tidak akan pernah bertanya penuh basa basi. Pasti ada alasan di balik pertanyaan simple yang terdengar sepele itu.
"Kau cukup pintar kalau begitu. Enyahlah."
Apa dia bilang, Beth sangat mengenal Steve!
"Astaga! Kau yang membuat masalah dalam hidupmu dan kau membuat imbasnya terhadapku."
"Aku sedang tidak ingin menerima tamu."
"Kami akan pulang esok pagi. Di mana kamar yang harus kutempati. Aku butuh istirahat." Austin duduk di sofa, di sebelah Beth.
"Menyingkirlah, biarkan Lexi duduk," perintah Steve pada Beth dengan tatapan kesal.
"Dia bisa duduk, sofa ini cukup luas untuk menampung kami bertiga."
"Dia akan terhimpit. Jangan membantah. Sofa itu milikku dan aku tidak mengizinkan kau duduk di sana."
Austin dan Beth kompak mendengus, menatapnya dengan tatapan mengejek. Ayolah, sikapnya itu memang terlihat menggelikan. Sangat kekanak-kanakan.
"Haruskah aku juga meminta izin kepadamu untuk duduk di sini?" Austin bertanya tanpa melepaskan tatapannya yang mencemooh.
"Harusnya kau memang melakukannya. Aku bukan tuan rumah yang baik." Steve berdiri, menatap tamunya satu persatu lalu ia menghembuskan napas panjang.
"Ada beberapa kamar kosong di lantai dua. Selamat malam," pun ia beranjak, meninggalkan semuanya tanpa menoleh kepada Lexi.
_____
Keesokan paginya, Steve enggan keluar kamar meski Beth sudah berulang kali mengetuk pintu kamarnya. Sepanjang malam ia tidak tertidur, pikirannya melayang, sibuk memikirkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan untuk perpisahan ini.
"Steve, aku tahu kau mendengarku. Kau sungguh tidak ingin mengantar kepergian Austin dan Lexi? Mereka akan segera pergi. Aku akan tinggal di sini meski kau muak."
Steve turun dari ranjang. Lama-lama telinganya berdenging mendengar kicauan Beth yang tidak ada habisnya.
Saat ia membuka pintu, wajah Lexi lah yang ia temukan.
"Hai," gadis itu menyapa sambil tersenyum lebar, tangannya juga melambai.
"Hai," Steve menjawab kaku.
"Sepertinya tidurmu tidak nyenyak."
"Aku tidak bisa memejamkan mata," akunya dengan jujur.
"Aku juga tidak bisa tidur."
Steve menganggukkan kepala, "Ya, aku bisa melihatnya. Ada lingkaran hitam di bawah matamu."
"Aku sudah memikirkan semuanya."
Steve bergeming, tidak menyahut. Ia tidak berani bertanya tentang apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
"Aku harus tetap kembali."
"Kuharap kau berhenti mengkonsumsi obat-obatan itu. Aku juga ingin mengatakan bahwa aku benar-benar bangga padamu, Steven. Kau pria hebat yang luar biasa. Aku sungguh beruntung bisa mengenal dirimu. Kata terima kasih dan juga maaf tidaklah cukup untuk semua pengorbanan dan juga penderitaan yang sudah kau lalui. Untuk itu aku juga tidak akan meminta maaf padamu. Kau tidak membutuhkan hal itu. Sedangkan untuk ucapan terima kasih, kurasa kau juga tidak menginginkan sekedar kata-kata."
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu sebelum aku pergi?" Lexi bertanya karena Steve hanya diam, tidak menanggapi kata-kata Lexi meski gadis itu sudah menjeda selama beberapa detik.
Steve menggeleng, karena jika ia membuka mulut, hal yang ingin ia katakan 'tetaplah di sini bersamaku.'
"Bolehkah aku memelukmu."
Sebelum Steve merespon, Lexi sudah menjatuhkan dirinya ke dalam pelukannya. Steve tidak membalas. Pria itu justru mengepalkan kedua tangannya. Bergumam dalam hati, memberi perintah kepada dirinya agar tidak menyambut pelukan tersebut. Karena jika ia melakukannya, ia tidak akan punya kekuatan untuk melepaskan gadis itu.
"Aku tidak pernah menyesali semuanya. Rasaku masih sama. Tidak berkurang. Aku wanita yang beruntung, karena rasamu juga sama dengan yang kurasa. Aku merasakannya walau terlambat." Lexi mengurai pelukannya, Steve mengerang dalam hati, ingin rasanya menarik gadis itu kembali ke dalam dekapannya.
"Nobita pernah berkata kepada Doraemon, 'setelah aku pergi, kau harus kembali ke tempat asalmu.' Doraemon setuju dan aku pun setuju."
Steve tidak mengerti apa yang dikatakan Lexi. Ia tentu saja tahu siapa Nobita dan Doraemon, hanya saja ia tidak terlalu mengikuti kisah persahabatan keduanya. Masa kecilnya dulu dihabiskan menonton dragonball, ninja hatori, bukan Doraemon. Tapi pertama kalinya dalam hidupnya ia ingin Doraemon itu nyata agar Steve bisa meminjam kantong ajaib kucing tersebut.
"Karena aku setuju dengan apa yang dikatakan Nobita, aku juga akan melakukannya. Sampai jumpa." Lexi mundur perlahan, menjauh dari Steve, kemudian berbalik, menuruni tangga. Lexi benar-benar pergi, kembali ke tempat di mana seharusnya dia berada. Bersama Harry, suaminya.