H.U.R.T

H.U.R.T
Saatnya Bersenang-Senang



Spanyol, 2019.


"Katakan kalimat terakhirmu, Mr. Sareno," Steve memainkan memainkan pistol di jemarinya, memutar-mutar benda berbahaya itu dengan santai, menatap pria setengah baya di hadapannya dengan ekspresi dingin yang terlihat bengis. Tidak ada rasa iba yang tersisa pada dirinya meski pria yang ia panggil dengan Mr. Sareno sedang babak belur. Dari hidung dan mulut pria itu bercucuran darah segar. Wajah tidak berbentuk lagi, kedua mata Sareno membengkak hingga pupilnya tidak terlihat lagi. Kondisi yang benar-benar mengenaskan.


"Sebelum aku melenyapkanmu." Steve menyeringai. Dengan gerakan santai ia menodongkan pistol tepat di atas kepala Mr. Sareno. Dengan satu gerakan kecil, timah panas mematikan akan menembus kepala pria tersebut. Apa kesalahan pria itu sehingga Steve ingin membunuhnya?


Martin Sareno, pria paling bajingan yang pernah ia temui. Merupakan salah satu komplotan mafia. Segala bisnis kotor dijalankan Sareno. Mulai dari prostitusi di bawah umur, perdagangan manusia, perjudian, penyelundupan dan pendistribusian narkotika.


Kejahatan yang mereka lakukan sudah begitu fatal sehingga para petinggi negara yang memang tulus mengabdikan diri kepada negara dan masyarakat memutuskan untuk melakukan tindakan pemusnahan. Secara khusus para petinggi negara tersebut meminta bantuan kepada mereka.


Delapan tahun sudah, Steve bergabung dalam sebuah organisasi di bawah kepemimpinan Roxi. Ia mendapat pelatihan yang begitu keras selama berbulan-bulan lamanya. Tugas pertama yang ia lakukan sebelum mendapat pelatihan adalah membunuh seorang menteri. Dulu, Steve bertanya-tanya kenapa kasus kematian Augusto Perez tidak gencar diberitakan, ternyata pria itu merupakan salah satu oknum yang berperan besar dalam kejahatan yang merajalela di masyarakat. Dan sekarang, ia adalah incaran dari anak buah dari organisasi yang dipimpin oleh pria itu. Lalu apakah ia gentar? Hei, ia tidak peduli sama sekali. Diburu dan dijadikan sebagai sasaran target memberikan kesenangan tersendiri baginya. Ia akan menemani dan melayani musuh-musuhnya dalam game siapa yang akan mati di tangan siapa. Pada akhirnya, Steve yang akan memenangkan permainan tersebut.


Steve selalu berhasil mengerjakan tugas yang dibebankan kepadanya tanpa celah. Pemuda cupu yang kini menjelma menjadi pemuda rupawan berdarah dingin itu selalu bermain bersih meski menghadapi rintangan yang terberat sekalipun. Bahkan tidak jarang, aparat hukum yang harus ia musnahkan. Meski tuduhan tertuju kepadanya, Steve selalu mampu berkelit, memutar keadaan hingga namanya tetap bersih. Cukup sekali ia merasakan hawa mengerikan dari penjara.


Kecerdikan dan kegesitannya itu membuat Steve diangkat menjadi tangan kanan. Perintahnya adalah mutlak. Terjun dalam dunia kejahatan sesungguhnya tidak ada dalam mimpinya. Namun sekarang, napas kehidupannya seolah terbiasa dengan gelapnya malam dan cucuran darah di mana-mana.


Steve tumbuh menjadi pria yang tidak memiliki empati dan perasaan. Ia menjalani hidupnya seturut dengan arah kehidupan yang menuntunnya. Sampai di mana ia merasa lelah dan menyerah hingga berniat untuk membunuh dirinya sendiri. Menyerah? Sayang, satu kata itu tidak akan muncul di benaknya sampai ia berhasil membalaskan dendamnya pada orang-orang yang berperan menciptakan monster yang hina di dalam dirinya. Nama-nama itu terus ia hafal di dalam benaknya. Bersumpah bahwa ia akan membuat semuanya merasakan apa yang ia sudah ia rasakan.


"Pergilah ke neraka!" Sareno menatapnya dengan penuh amarah dan kebencian. Organinasi yang menaungi Sareno memang selalu bersaing dengan BD, organisasi yang dipimpin oleh Roxi.


Selama beberapa tahun, klan Sareno selalu berusaha menyabotase pekerjaan dan perusahaan milik anggota klan Roxi. Tidak jarang, kedua klan tersebut sering terlibat perang yang menewaskan beberapa anggota klan Roxi.


Satu bulan yang lalu, Steve menawarkan diri untuk mengambil alih untuk menangani klan Sareno. Pria bajingan itu memporakporandakan klub malam terbesar milik Roxi dengan melakukan penghancuran dan penyerangan secara diam-diam yang mengakibatkan puluhan orang tewas di tempat hingga menciptakan kehebohan. Hal itu dilakukan untuk menjatuhkan martabat Roxi dan mengungkapkan fakta siapa Roxi sebenarnya. Isu ******* pun dituduhkan kepada mereka.


Steve menyelesaikan kekacauan itu secara bertahap tapi dalam rentang waktu yang sangat singkat. Hal pertama yang dilakukannya adalah menangani semua anak buah Sareno hingga yang tersisa adalah Sareno, sang pemimpin, walau Steve yakin di atas Sareno masih ada pemimpin sesungguhnya. Tapi abaikan tentang hal itu untuk sementara, karena yang harus ia lakukan saat ini adalah melenyapkan Sareno.


Steve sengaja menyisakan Sareno paling akhir untuk dibunuh. Memberikan tekanan psikis dan mental kepada pria itu melalui anak buah dan orang kepercayaan Sareno yang disiksa secara membabi buta sebelum dibunuh. Steve menikmati kepanikan, ketakutan yang terpancar dari mimik wajah Sareno.


"Kau mengatakan sesuatu?" Steve meyeringai sinis.


"Ck!" Steve berdecak mendengar deringan ponselnya. Dengan enggan ditariknya pistol tersebut dari atas kepala Sareno. Steve dengan gayanya yang santai mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Melihat nama yang tertera di layar, pun ia menggulir tombol hijau.


"Merindukanku?" Ia membelakangi Sareno, berjalan perlahan tapi tegas, menjauh dari pria itu.


"Tidak ada ucapan, tidak ada..."


"Tapi ada seribu tangkai mawar, sweetheart." Steve menyela ucapan sang kekasih yang menuntut ucapan selamat darinya. Ya, hari ini kekasihnya sedang merayaka ulang tahun yang ke 25. Seorang model cantik yang sedang naik daun. Hubungan mereka sudah terjalin selama enam tahun, tepatnya sejak usianya 19 tahun.


"Astaga! Apa yang harus kulakukan dengan mawar berduri itu, Steve?"


"Menanamnya."


"Big no! Aku tidak ingin melukai jari dan mengotori kuku-ku. Katakan, jam berapa kau datang?"


"Aku akan segera ke sana." Steve mumutuskan sambungan telepon. Pun ia berbalik menghadap Sareno kembali. Malayangkan tatapan menusuk ke arah pria yang sudah tidak berdaya itu. Sayangnya tidak ada belas kasihan di hati Steve saar ini. Amarahnya justru berkobar tatkala Sareno membalas tatapannya tidak kalah tajam dengan ekspresi mengejek.


"Kau pikir dengan membunuhku, masalah ini akan selesai?"


Steve menyunggingkan bibir atasnya, "Sambut aku di neraka, Sareno." Steve berbalik, berjalan meninggalkan Sareno, begitu berada di ambang pintu, Steve mengarahkan pistol tanpa menoleh ke belakang. Menarik pelatuk tanpa sungkan. Tepat sasaran. Peluru menembus kepala Sareno. Dalam hitungan detik, Sareno mati terkapar dengan mata membelalak.


Selesai.


Membunuh Sareno adalah misi terakhirnya. Ia akan dibebestugaskan setelah ini. Selama masa kebebebasannya, ia akan menyusun rencana untuk menghadapi manusia-manusia bajingan lainnya.


Steve melemparkan pistolnya begitu saja lalu menekan tombol yang ada di dekat pintu. Lantai yang menjadi tempat Sareno terbelah. Dalam sekejap mayat Sareno jatuh ke bawah dan detik berikutnya lantai itu kembali bersatu seperti sediakala. Steve keluar dari ruangan gelap yang menjadi ruangan favoritnya. Tempat para mangsanya dieksekusi. Saatnya bersenang-senang.