
"Tidak usah menahan napas, kau ingin mati?" Harry meletakkan kepalanya di sandaran kursi, menengadah menatap langit-langit ruangan. Sebelah tangannya di letakkan di atas dahinya.
"Jeff berkata jika kau akan datang dua hari lagi."
Isabel mengibaskan tangan di depan wajah, mengusir bau alkohol yang menyengat dari tubuh saudaranya itu.
"Aku berubah pikiran. Ibu tidak menyukaiku ada di istana. Aku khawatir jika gula darahnya akan naik lagi jika harus terus menerus melihatku berkeliaran di hadapannya. Dan aku juga tidak ingin Aunty Alena datang menjemputku. Itu hanya akan membuatnya lelah."
Harry mendesaah, ia tidak tahu harus berkomentar apa. Ia menyayangi Isabel, tapi ia juga mengerti perasaan ibunya yang merasa dikhianati dengan kehadiran Isabel. Yang Harry lakukan hanya mengusap kepala adiknya sebagai dukungan.
"Kau minum-minum lagi?"
"Kau datang sendiri?" Harry menjawab pertanyaan adiknya dengan pertanyaan.
"Kau datang?" suara seseorang menginterupsi perbincangan kedua saudara tersebut. Pax dan Alena menghampiri Harry dan Isabel.
Ya, begitu mendarat di bandara, Isabel langsung ke mansion keluarga Willson. Awalnya Isabel menolak, tapi setelah mengetahui Austin tidak ada di rumah, dia pun setuju untuk menginap di sana.
"Sepertinya kau habis berpesta," tidak berapa lama Darren muncul dari arah pintu masuk dan berdiri di belakang Harry. Pria itu habis berolah raga. Sisa-sisa keringat berjatuhan dari helaian rambutnya.
Harry mendongak, "Ya, kira-kira seperti itu. Kepalaku pusing sekali. Kemana Austin?"
Darren mengidikkan bahu, ia ikut bergabung, duduk di sebelah ayahnya.
"Bagaimana hasil pencarianmu?" Pax bertanya, turut prihatin dengan nasib menantunya itu. Baru beberapa jam menikah, sudah ditinggal pergi oleh putrinya.
"Seperti sebelumnya. Nihil. Aku mulai menyerah, maafkan aku." Harry menyuarakan isi hatinya dengan berat hati. Empat bulan ini tenaga dan pikirannya dibantai habis-habisan. Ia mulai lelah dan merasa bahwa yang ia lakukan hanya sia-sia belaka. Harry tidak memiliki keyakinan bahwa Lexi akan ditemukan dalam keadaan hidup dan baik-baik saja.
Terdengar sangat kejam, tapi ia mencoba berpikir realistis. Sebelum Lexi terjun, mobilnya sempat mengalami benturan dengan mobil lain hingga akhirnya terjun ke sungai dengan aliran yang begitu deras dan kedalaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata serta suhunya yang sangat dingin.
Harry merasa jika penantiannya selama empat bulan sudah cukup. Banyak pekerjaan yang sudah terbengkalai. Tugas istana juga ia abaikan, tidak menunjukkan sikap seorang pangeran sama sekali.
Pax bergeming, memandangi Harry dengan mimik tidak terbaca.
Alena mengusap lengan suaminya, merasakan kesedihan yang dirasakan Pax.
"Aku sangat bersedih dengan kejadian ini. Aku juga sangat berkabung, Mr. Willson. Tapi kurasa, sudah saatnya kita ikhlas menerima kenyataan ini."
Pax tersenyum getir, bukan Daddy, bukan juga ayah mertua, tapi Mr. Willson. Harry benar-benar sudah menyerah. Mereka tidak bisa menyalahkan Harry. Pria itu memiliki hak untuk melanjutkan hidup. Haruskah Pax juga merelakan dan mengikhlaskan?
"Kau benar," Pax akhirnya bisa bersuara meski dengan suara tercekat. Pria setengah baya itu menyunggingkan senyum tipis.
"Terima kasih sudah menunggu selama ini, Harry. Terima kasih sudah menunjukkan kepadaku bahwa kau suami yang baik untuk putriku dengan tetap menunggunya selama ini. Aku tahu keputusanmu untuk menyerah juga bukanlah sesuatu yang mudah. Kau hanya berusaha untuk bersikap bijak karena memiliki banyak tanggungjawab di istana. Aku mengerti, Son." Pax mengangguk-anggukkan kepala. "Aku berdoa untuk kebaikanmu," ucapnya dengan bijak.
_____
Steve dan Zenia ikut bergabung dengan Malvyn dan teman-temannya setelah Steve meminta maaf dengan benar. Mereka berdua juga ikut bermain voli pantai. Zenia terlihat sangat bahagia, ia menyukai Carla dan Belinda. Kedua gadis itu sangat ramah dan aktif, sama seperti Zetta.
"Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita akhiri permainan ini." Ucap Steve seraya menarik Zenia dan membersihkan tangan gadis itu dari pasir yang menempel.
"Ya, aku sudah lapar sekali. Apakah di sini ada makanan cepat saji? Aku bisa mati kelaparan jika harus memasak lagi." Carla berseru dengan mimik benar-benar menahan lapar.
"Di desa ada cafe dengan makanan yang cukup enak. Akan kupesankan meja untuk kalian dan makanlah sebenyak yang kalian inginkan. Aku yang traktir, dan pakai saja mobilku." Steve melempar kuncinya yang langsung ditangkap Malvyn dengan sempurna.
"Dan sebaiknya kita kembali ke rumah, kau juga harus membersihkan tubuhmu."
Zenia mengangguk, "Ini sangat menyenangkan. Aku seperti menemukan teman-teman baru yang mengasyikkan."
"Hm, aku bisa melihat bibirmu tidak berhenti untuk tersenyum. Apa kau juga ingin ke desa?"
Zenia menggeleng, "Kita di rumah saya."
"Aku sepemikiran denganmu. Katakan, apa yang kau inginkan untuk makan malam?"
"Mari kita lihat setelah sampai di rumah."
Steve dan Zenia saling menggenggam tangan menuju rumah Steve. Sampai di rumah, Steve langsung menyediakan air hangat untuk Zenia. Gadis itu juga tidak menggunakan toilet di bawah lagi, melainkan toilet milik Steve yang ada di kamar.
"Aku akan mengeringkan rambutmu nanti, sementara kau mandi, aku akan membuat makan malam untuk kita. Setengah jam, kau hanya diperbolehkan berendam selama setengah jam."
"Kau tidak mandi?"
Steve yang hendak keluar kamar menghentikan langkahnya. "Tentunya aku tidak keberatan jika kita harus berbagi bathtub. Aku bisa menggosok punggungmu dan kau bisa melakukan hal yang sama untukku."
"Mesum!" Zenia langsung berlari masuk ke dalam toilet. "Jangan coba-coba untuk mengintipku, Mr. Percy!"
"Aku tidak akan melakukan apa pun tanpa seizinmu."
Di dalam toilet, Zenia tersipu mendengar jawaban Steve. Gadis itu memainkan jemari kakinya ke lantai, mengetuk-ngetukkannya di sana, persis seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
Tepat setengah jam kemudian, Zenia turun ke lantai bawah, langsung menuju dapur. Zenia kembali tersenyum melihat Steve yang terlihat sangat serius sedang memasak. Pria itu juga mengenakan apron di tubuhnya.
Zenia sengaja berdehem, tapi Steve tidak menoleh ke arahnya.
"Aku memiliki fantasi di dapur."
Zenia menggigit bibirnya saat mendengar seruan pria itu.
"Kau ingin tahu fantasiku?" Steve bertanya, masih memunggunginya.
"Kurasa aku tahu apa fantasimu," Zenia menyahut dengan malu-malu.
"Oh, ya? Lakukanlah, aku menunggu. Sepertinya ini juga fantasimu."
Zenia menggangguk meski Steve tidak menoleh ke arahnya. Perlahan ia melangkahkan kaki polosnya hingga tidak menimbulkan bunyi di lantai kayu.
Tepat di belakang Steve, Zenia menarik napas perlahan. Mati-matian ia berdoa di dalam hati semoga apa yang akan dilakukannya ini juga merupakan fantasi Steve.
Zenia mengulurkan kedua tangannya, lalu melingkarkannya di perut Steve. Ia membenamkan wajah di punggung lebar yang menguarkan aroma sisa-sisa parfum bercampur keringat. Zenia menyukainya.
"Kuharap ini fantasimu agar aku tidak malu," lirih gadis itu dari balik punggung.
Steve tergelak, "Kau sangat mengenalku," Steve mengulurkan tangannya melewati bahunya untuk mengacak gemas kepala Zenia.
"Ini juga fantasiku. Ah, nyamannya. Bisa-bisa aku gila. Bagaimana caranya untuk menghentikan waktu agar tetap seperti ini."